REVIEW Inkspell

INKSPELL

Aku memimpikan buku yang tak terbatas,

Buku yang tak berjilid,

Halaman-halamannya berserakan dalam kelimpahan

Di setiap barisnya tergambar cakrawala baru

Surga-surga baru dibukakan;

Negeri-negeri baru, jiwa-jiwa baru. (hlm. 552)

Meggie menamainya Tintenwelt –Dunia Tinta, tempat yang disebut Mo dengan nada menghina sementara ibunya kadang mengucapkan nama itu penuh dengan kerinduan.Tintenwelt, nama yang diambil dari judul buku yang menceritakan tempat itu; Tintenherz. Buku itu telah hilang namun ingatan ibunya masih begitu hidup seolah belum satu hari pun berlalu sejak dia terakhir kali berada di sana –dalam dunia yang terbuat dari kertas dan tinta hitam, tempat para peri dan para raja, peri air, peri api, dan pohon-pohon yang menjulang seakan meraih langit.

Tak terhitung jumlah siang dan malam yang dilewatkan Meggie sambil duduk di samping Resa dan menuliskan kisah-kisah yang dituturkan lewat jemari ibunya. Suara Resa tertinggal di Tintenwelt, sehingga dia harus menggunakan pensil dan kertas atau kedua tangannya untuk bercerita kepada putrinya tentang tahun-tahun itu –tahun-tahun ajaib penuh penderitaan. Kadang dia juga menggambar sendiri benda-benda dan mahluk-mahluk yang dilihat matanya, namun tak dapat dilukis lagi oleh lidahnya.

Awalnya, Mo sendiri yang menjilid catatan-catatan Meggie yang menyimpan kenangan Resa, setiap jilid lebih indah dari jilid sebelumnya. Namun, suatu ketika Meggie menyadari bahwa Mo menatap cemas ke arahnya saat dia mendapati Meggie membolak-balik catatan itu, tenggelam dalam gambar-gambar dan kata-kata. Tentu saja, Meggie dapat mengerti kekhawatiran Mo, bagaimana pun juga Mo pernah mengalami penderitaan selama bertahun-tahun karena istrinya menghilang ke dalam dunia dari huruf dan kertas itu. Bagaimana mungkin dia bisa menerima kenyataan bahwa putrinya sendiri malah tidak dapat berhenti membayangkan dunia itu? Ya, Meggie dapat memahami perasaan Mo, tapi ia tidak dapat memenuhi permintaan Mo –menutup buku-buku catatan itu dan melupakan Tintenweltuntuk sementara.

Kenapa buku yang dibaca berkali-kali sepertinya jadi lebih tebal? Seakan ada sesuatu yang tertinggal di antara halaman buku setiap kali kita menyentuhnya. Perasaan-perasaan, pikiran-pikiran, suara-suara, aroma-aroma. Dan kalau bertahun-tahun kemudian kau membuka halaman-halaman itu lagi, kau akan menemukan dirimu di dalamnya, kau yang sedikit lebih muda, sedikit berbeda, seolah buku itu mengabadikanmu seperti bunga yang diawetkan, asing sekaligus akrab. (hlm. 60)

Di Tintenwelt tidak ada buku yang dicetak. Di sini setiap buku adalah hasil tulisan tangan manusia, sehingga harganya sangat mahal dan hanya parabangsawan yang dapat membelinya. Orang biasa hanya menimbun kata-kata di kepala masing-masing atau mendengar apa yang keluar dari bibir para seniman pengelana.

Waktu adalah kuda yang berlari di dalam hati, kuda

Tanpa ksatria di tengah jalan pada suatu malam.

Akal duduk terdiam, dengan seksama, mendengarnya berlalu. (hlm. 225)

Meggie kembali berpetualang ke dunia ajaib. Kali ini tidak hanya bersama ayah dan ibunya, ada Fenoglio si penulis kisah Inkheart yang juga terperosok ke dunia cerita yang ditulisnya sendiri. Nantinya, Meggie akan bertemu dengan Farid. Seperti ababil pada umumnya, Meggie mulai merasakan getar-getar cinta #MendadakRossa #eaaa (‾▽‾)♥(‾⌣‾)

Jika di buku pertama kita tersihir dengan koleksi buku milik Elinor, Bibi Ibunya Meggie. Nah, di buku tokoh unik menurut saya adalah Orpheus. Dia membaca seperti membiarkan makanan kesukaannya meleleh ke dalam mulut, menikmatinya, serakah ingin mendengar bunyi dari kata-kata, mutiara yang meleleh di lidah, kata-kata bagai benih yang memunculkan kehidupan.

Seperti buku yang pertama, suka banget ramuan fantasi yang ditulis oleh Cornelia Funke. Meski memiliki jumlah halaman yang tergolong buku bantal, buku ini wajib dibaca. Uwowww…jadi gak sabar pengen baca seri yang selanjutnya; Inkdeath ~(ˆ▽ˆ~) ~(ˆ▽ˆ)~ (~ˆ▽ˆ)~

Beberapa kalimat favorit:

  1. Ada yang bilang, kita masih bisa melihat orang-orang yang kita cintai bahkan setelah mereka mati. Mereka bilang jiwa orang yang kita cintai akan mendatangi kita di malam hari atau setidaknya dalam mimpi, kerinduan kita akan memanggil mereka kembali, meskipun hanya sesaat. (hlm. 102)
  2. Kalian memiliki hati yang membimbing kalian agar tidak melakukan hal-hal buruk. Aku hidup tanpa hati, karena itulah aku harus bersungguh-sungguh mengawasi diriku sendiri. (hlm. 131)
  3. Pembalasan dendam adalah hidangan yang paling enak jika dinikmati dalam keadaan dingin. (hlm. 179)
  4. Kau tidak pernah keluar dalam keadaan seperti kau masuk. (hlm. 545)

Beberapa kalimat yang berhubungan dengan buku:

  1. Manusia bisa menemukan teman-teman baru di antara halaman-halaman. (hlm. 15)
  2. Kalau terlalu banyak kata baru tidak akan terjadi apa pun atau malah terjadi sesuatu yang sama sekali tidak diinginkan. (hlm. 16)
  3. Huruf tinggallah huruf, mereka tidak membentuk gambar atau kalimat apa pun. (hlm. 93)
  4. Setiap buku memiliki jiwa. Jiwa orang yang telah menulisnya serta jiwa mereka yang telah membaca dan menikmatinya dan memimpikannya. (hlm. 108)
  5. Adakah buku yang musnah hanya karena penulisnya mati? (hlm. 125)
  6. Setiap kali aku membuka sebuah buku, satu jiwa terbangun. (hlm. 240)
  7. Yang kubutuhkan hanya selembar kertas serta alat tulis, dan aku akan mengguncang dunia. (hlm. 255)
  8. Setiap buku punya tempatnya sendiri. (hlm. 303)
  9. Buku bukan benda rapuh atau hiasan. Buku ya buku. Yang paling penting adalah isinya, dan isi buku tidak akan tumpah bila kau menumpuknya menjadi satu. (hlm. 303)
  10. Ingatan yang paling kuat lebih lemah daripada tinta yang paling pucat. (hlm. 374)

Keterangan Buku:

Judul                : Inkspell

Penulis              : Cornelia Funke

Alih bahasa       : Dinyah Latuconsina & Monica D. Chresnayani

Editor               : Barokah Ruziati

Penerbit            : Gramedia Pustaka Utama

Terbit               : Juni 2012

Tebal                : 680 hlm.

ISBN               : 978-979-22-8426-3

22 thoughts on “REVIEW Inkspell

  1. Pingback: Book Kaleidoscope 2013: Top Five Most Favorite Books | Luckty Si Pustakawin

  2. suka banget sama ni kalimat ”Kalian memiliki hati yang membimbing kalian agar tidak melakukan hal-hal buruk. Aku hidup tanpa hati, karena itulah aku harus bersungguh-sungguh mengawasi diriku sendiri. (hlm. 131)” :3

    makasih lho mbak udah bagi2 reviewnya😀

  3. “Setiap kali aku membuka sebuah buku, satu jiwa terbangun. (hlm. 240)”

    nice quotes! setuju banget sama yang satu ini. buku itu ibarat sebuah makanan,kalo makanan itu bergizi efeknya ke tubuh kita akan mambuat tubuh sehat,pintar dan energic.namun sebaliknya kalo makanan itu ‘banyak bahan pengawet’ maka efek ke tubuh kita bakal bikin tubuh ‘rusak’ begitu pula dengan buku,buku yang berinformasi ‘positif’ akan menambah wawasan kita,namun apabila buku itu ‘negatif’ maka akan membawa kita kepada kecenderungan yang buruk.

  4. Aaaaaa!! ternyata ada lanjutannya u,u mau bacaaa ( ._.)

    “Setiap buku memiliki jiwa. Jiwa orang yang telah menulisnya serta jiwa mereka yang telah membaca dan menikmatinya dan memimpikannya. (hlm. 108)”
    quotesnyaa badaaaaiii😀 buku keren yang sepertinya mesti kudu banget dibaca, apalagi covernya yang kece lah pokoknya !!😀

    Untuk review no comment lah buat mbak luckty yang keren abis🙂

    Terus mereview dengan baik untuk mbak luckty (^^)9 semangat ’45 hehe ikutan #GiveawayPustakawin Hope me luck🙂 ini review ke => *8

  5. Kenapa buku yang dibaca berkali-kali sepertinya jadi lebih tebal? Seakan ada sesuatu yang tertinggal di antara halaman buku setiap kali kita menyentuhnya. Perasaan-perasaan, pikiran-pikiran, suara-suara, aroma-aroma. Dan kalau bertahun-tahun kemudian kau membuka halaman-halaman itu lagi, kau akan menemukan dirimu di dalamnya, kau yang sedikit lebih muda, sedikit berbeda, seolah buku itu mengabadikanmu seperti bunga yang diawetkan, asing sekaligus akrab.

    renyah banget gaya penulis memaparkannya. hadeeh jadi penasaran nih >,<

  6. “Ingatan yang paling kuat lebih lemah daripada tinta yang paling pucat.”
    Suka banget sama yang ini…
    Jadi penasaran sama bukunya…

  7. Pingback: GagasMedia #TerusBergegas #KadoUntukBlogger | Luckty Si Pustakawin

  8. Pingback: [BLOGTOUR] REVIEW The Girl on Paper | Luckty Si Pustakawin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s