REVIEW Inkdeath

INKDEATH

Buku-buku mengundang untuk dibaca

Terpajang di rak-rak buku.

Dermaga bagi jembatan yang akan membawa

Ke negeri dongeng. (hlm. 15)

Fenoglio sudah bersumpah tidak akan pernah lagi merangkai kata, tak peduli betapa mengundangnya lembaran perkamen kosong yang diletakkan Rosenquartz di atas mejanya setiap malam. Ia tidak akan pernah mau menulis sepatah kata pun lagi –kecuali kata-kata yang dicurinya dari orang lain serta perkataan kering tak berjiwa yang ditorehkannya di atas kertas atau perkamen untuk membuat surat wasiat, perjanjian jual beli, dan hal-hal semacam itu. Masa untuk kata-kataber jiwa sudah berakhir. Kata-kata hanyalah monster penghisap darah yang penuh tipu daya dan suka membunuh, hitam bagaikan tinta dan tidak mendatangkan apa-apa selain kesialan. Ia tidak akan membantu kata-kata melakukannya lagi, tidakakan.

Dan saat membalik-balik halaman buku-buku tua kita terkadang menemukan

Kalimat dogmatis suram yang digarisbawahi.

Dulu kau pernah berada di sini, namun pada waktu yang terlupakan. (hlm.153)

Entah sudah berapa banyak cerita yang dibaca Elinor yang tokoh utamanya jatuh sakit pada suatu saat karena merasa sangat tidak bahagia. Selama ini ia selalu menganggapnya sebagai ide yang sangat romantis, tapi hanya ada dalam buku-buku. Semua tokoh utama itu, baik pria maupun wanita, tiba-tiba saja terpuruk hanya karena cinta yang bertepuk sebelah tangan atau merindukan sesuatu yang telah hilang. Selama ini Elinor sangat menikmati penderitaan mereka. Bagaimanapun, itulah yang kauinginkan saat membaca buku; pergulatan batin yang tidak pernah kaurasakan sendiri, kepedihan yang bisa kautinggalkan hanya dengan menutup buku kalau ceritanya menjadi terlalu menyakitkan. Kematian dan kehancuran bisa tergambar begitu nyata dengan kata-kata yang tepat, dan kau bisa meninggalkan semua itu kapan saja kau mau, tanpa beban dan tanpa risiko apa-apa terhadap dirimu.

Elinor sangat menikmati penderitaan yang dibacanya dalam buku, tapi tidak pernah mengira bahwa dalam kehidupan nyata, kehidupannya yang selama bertahun-tahun selalu suram dan tidak diwarnai banyak kejadian, kepedihan semacam itu dapat merasuki hatinya.

Bila ia merasa berat sekali bangun di pagi hari, bila jantungnya semakin sering berdegup lemah tanpa alasan yang jelas, seolah-olah sudah letih berdetak secara teratur. Elinor mulai bertanya-tanya sendiri apakah jatuh sakit karena rindu setengah mati ternyata benar-benar ada dan bukan omong kosong belaka. Bukankah ia merasa, jauh di dalam hatinya, bahwa kerinduannya benar-benar meresap habis kekuatan dan selera makannya, bahkan kecintaannya terhadap buku? Rindu.

Darius menyarankan untuk pergi menghadiri lelang buku-buku langka, atau mengunjungi toko-toko buku terkenal yang sudah lama tidak ia datangi. Lelaki itu bahkan menyusun daftar buku yang belum ada di perpustakaannya, daftar yang pasti akan membuat Elinor girang setengah mati andai ia mendapatkannya setahun lalu. Tapi sekarang matanya hanya menyapu judul-judul yang tertera di sana dengan sedikit ketertarikan, seperti sedang membaca daftar belanja produk pembersih. Ke mana perginya kecintaan pada buku dan jilid yang berharga, pada kata-kata yang tercetak di atas perkamen dan kertas? Ia rindu getaran hati yang dulu ia rasakan begitu melihat buku-bukunya, kebutuhan untuk membelai punggung-punggung dengan lembut, membukanya, dan terhanyut dalam keasyikan membaca. Tapi tiba-tiba saja, hatinya seolah tidak bisa lagi menikmati atau merasakan apa-apa, seolah-olah kepedihan telah melumpuhkan perasaannya, kecuali rasa rindu kepada Meggie dan kedua orangtuanya. Karena sekarang Elinor juga memahamihal ini; kerinduan pada buku ternyata tidak ada apa-apanya dibandingkan perasaanmu terhadap manusia. Buku menceritakan kepadamu tentang perasaan itu. Buku berbicara tentang cinta, dan sungguh menyenangkan mendengar cerita-cerita cinta, tapi buku bukanlah pengganti cinta itu sendiri. Buku tidak bisa menciumnya seperti Meggie, tidak bisa memeluknya seperti Resa, tidak bisa tertawa seperti Mortimer. Buku-buku yang malang, Elinor yang malang.

Kau tidak membaca sebuah buku secara utuh tanpa menyepi sendirian. Namun melalui kesendirian ini, kau akan terlibat secara intim dengan orang-orang yang tidak akan pernah bisa kautemui bila kau tidak membaca buku, apakah karena mereka sudah sejak berabad-abad lalu meninggal, atau karena mereka berbicara dalam bahasa yang tidak kau mengerti. Dan, walaupun begitu,mereka menjadi teman-teman terdekatmu, penasihatmu yang paling bijaksana, penyihir yang menghipnotismu, kekasih yang sejak dulu kuimpikan. (hlm. 410)

Dulu Elinor merasa dengan memiliki ribuan banyak buku, dia bakal bahagia selamanya. Ternyata dia salah. Ketika Meggie dan kedua orangtuanya terjebak (kembali) dalam dunia buku, Elinor merasa kesepian. Dia merindukan dengan hangatnya sebuah kekeluargaan setelah tinggal bersama Meggie dan kedua orangtuanya. Akankah mereka bisa kembali?!?

Sungguh novel yang amat luar biasa. Dari tiga seri yang sudah dibaca, ketiganya memberikan kepuasan masing-masing. Ada banyak hikmah yang bisa petik dari kehidupan Meggie dan buku-bukunya.

Beberapa kalimat favorit:

  1. Dunia ini melahirkan kekacauan seperti telaga melahirkan orang-orang kerdil. (hlm. 110)
  2. Adakah perasaan yang lebih kau mengerti? Kehilangan orang-orang yang kausayangi dan merindukan mereka –memang begitulah adanya hidupmu. (hlm. 325)

Beberapa kalimat berhubungan dengan buku:

  1. Karakter-karakter itu memiliki kehidupan dan logika mereka sendiri, dan kau harus bertindak sesuai dengannya. (hlm. 447)
  2. “Kalau kau begitu mencintai sebuah buku hingga membacanya lagi dan lagi, tahukah apa yang kau harapkan? Kau ingin masuk ke buku itu.” (hlm. 36)
  3. “Bungkus buku itu dengan kain kalau sedang tidak kau baca. Malam hari udaranya lembap.” (hlm. 131)

Keterangan Buku:

Judul                : Inkdeath

Penulis              : Cornelia Funke

Alih bahasa       : Monica D. Chresnayani

Editor               : Barokah Ruziati

Penerbit            : PT. Gramedia Pustaka Utama

Terbit               : Desember 2012

Tebal                : 728 hlm.

ISBN               : 978-979-22-8968-8

24 thoughts on “REVIEW Inkdeath

  1. Pingback: Book Kaleidoscope 2013: Top Five Most Favorite Books | Luckty Si Pustakawin

  2. Jadi semakin tak sabar pengen baca serial ini >.<

    Sebenarnya bisa saja baca ebooknya, tapi… buku-bukuini kan buku-buku yang layak dikoleksi .__.

  3. Aaaaakkkk…jadinya totalnya ada tiga novel nih? Dan Luckty sampai bilang ini adalah buku yang luar biasa. Makin mupeng. Tapi kalau tebel gini pasti harganya nggak murce yah, hiks…
    Mau dong tetanggaan sama Luckty biar bisa sering minjem bukunya, hahah…😀

  4. Pingback: GagasMedia #TerusBergegas #KadoUntukBlogger | Luckty Si Pustakawin

  5. Pingback: [BLOGTOUR] REVIEW The Girl on Paper | Luckty Si Pustakawin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s