[GIVEAWAY] Don’t Worry to be a Mommy

Alhamdulillah diberi kepercayaan lagi buat mengadakan giveaway dengan menggandeng langsung penulisnya. Kali ini dr. Meta Hanindita Nugroho yang akan memberikan langsung bukunya yang berjudul Don’t Worry to be a Mommy. Akan ada tiga pemenang yang akan dipilih.

Mau dapetin buku ini, simak syaratnya:

1. Peserta tinggal di Indonesia

2. Follow akun twitter @lucktygs, @metahanindita dan @Stiletto_Book. Jangan lupa share dengan hestek #GiveawayDontWorryToBeAMommy dan mention via twitter.

3. Follow blog ini, bisa via wordpress atau email.

4. Jawab pertanyaan di kolom komentar di bawah, plus nama, akun twitter, dan kota tinggal. Pertanyaannya adalah bagaimana pendapatmu tentang perempuan berkarier vs ibu rumah tangga? Jawabannya gak pake SARA loh yaaa… ;)

5. Tuliskan komentar tentang REVIEW Don’t Worry to be a Mommy, di link ini:

https://luckty.wordpress.com/2014/01/20/review-dont-worry-to-be-a-mommy/

6. Giveaway ini juga boleh di share via blog, facebook, dan sosmed lainnya. Jangan lupa sertakan hestek #GiveawayDontWorryToBeAMommy yaaa…

Event ini gak pake helikopter, eh Rafflecofter yang ribet itu. Jadi pemenang ditentukan dari segi jawabannya yaaa… ( ‘⌣’)人(‘⌣’ )

#GiveawayDontWorryToBeAMommy ini berlangsung dua minggu saja: 20 Januari – 6 Februari 2014. Pemenang akan diumumkan tanggal 9 Februari 2014. Akan ada TIGA PEMENANG yang dipilih. Hadiah akan langsung dikirimkan oleh penulisnya, dr. Meta Hanindita Nugroho ;)

Silahkan tebar garam mantra dan merapal jampi-jampi buntelan yaaa… ‎(ʃƪ´▽`) (´▽`ʃƪ)!

-@lucktygs-

42 thoughts on “[GIVEAWAY] Don’t Worry to be a Mommy

  1. Nama : Esti Sulistyawan
    Twitter : @estisulistyawan
    Kota :Semarang

    Jawaban :

    Ibu yang berkarir atau ibu yang di rumah menurut saya semata karena pilihan. Bagi ibu yang bekerja, bukan berarti dia lebih mencintai pekerjaan dan mengabaikan keluarga terutama anak-anak. Ada banyak alasan mengapa ibu berkarir di luar rumah, bisa karena alasan finansial, untuk aktualisasi diri, dan bisa juga karena ingin mengamalkan ilmu kepada orang lain.

    Sedangkan bagi ibu yang full sebagai IRT pun, bukan berarti mereka (maaf) bodoh dan tidak memiliki kemampuan, atau yang lebih ekstrem tidak menghargai kemampuan mereka sendiri dengan ‘hanya’ berkarir di rumah.

    Tidak ada yang lebih tinggi mau pun lebih rendah, sekali lagi semua adalah pilihan, dan apa pun pilihannya yang paling penting tetap bisa mengurus keluarga dengan baik, bukan?

  2. Nama : Ririe Khayan
    Twitter : @ririekayan
    Kota :Sleman

    Menurut saya, Ibu yang berkarir ataupun menjadi Ibu yang tidak berkarir di luar rumah, keduanya memiliki kesetaraan peran dan masing-masing tetap menempatkan keluarga dalam skala prioritas pertama.

    Ibu yang memilih untuk berkarir tentu akan tetap berusaha menyeimbangkan waktu dan perhatiannya untuk keberlangsungan keluarganya bisa sebaik mungkin, memanfaatkan kesempatan dan kebersamaan dengan memanage secara quality time.

    Sedangkan bagi ibu yang memilih mendedikasikan waktunya untuk menjadi ibu rumah tangga secara full time, mereka pun menempatkan diri dan aktualitasnya demi mendampingi anak-anaknya secara intensitas waktu yang lebih menyeluruh.

    Baik Ibu yang berkarir maupun ibu yang full di rumah, mereka sama-sama menyadari konsekuensi atas PILIHAN yang dibuatnya. Dan setiap pilihan pasti mengandung resiko tertentu, sepanjang segala resiko dan dampaknya bisa dihandle secara penuh komitment, maka PILIHAN untuk berkariri di luar rumah maupun berkarir di rumah, masing-masing memiliki nilai tanggung jawab yang equal.

  3. Bismillah…
    Ibu berkarir vs ibu rumah tangga. hehe kalau menurutku ibu berumah tangga itu sudah pasti berkarir tetapi ibu berkarir belum tentu ibu rumah tangga.
    Seperti beberapa kasus nih ada juga ibu yang bekerja di luar rumah tapi sulit untuk membangun rumah tangga dengan baik di dalam rumah (indikasi sinetron nih hehe) tapi tidak sedikit juga sih yang berhasil membangun keduanya dengan baik. Kalau kupikir ya mbak di rumah tangga pun kita bisa membangun karir, karir sejati seorang ibu dengan tingkat keberhasilannya masing-masing. nah itu yang kukatakan berkarir ‘betul’nya seorang ibu. Tapi kembali lagi ke pribadi dan alasan masing-masing, tidak ada yang salah mau berkarir atau tidak tetapi yang paling penting tetap menjaga pada posisi dan porsinya.

    Ririn Gustiana di makassar, twitter @ririn_gust

  4. Pendapat saya hidup itukan pilihan,tergantung bagaimana kita memilihnya. Perempuan yg lebih memilih berkarier mungkin karna dia adalah wanita yg superaktif sehingga jika diem sebentar aja tuh ngga bisa makanya dia lebih memeilih utk berkarier sedangkan ibu rumah tangga, mungkin dia menjadi IRT karna dia memang ingin menghabiskan waktunya hanya bersama keluarga nya saja. Sebenarnya tdk ada perbedaan antara mereka krn mereka sama2 wanita dan sbg seorang wanita mereka pun ingin bahagia dengan caranya masing masing.

    Linda Novianty – @cumee22 – Bekasi

  5. Nama : Melinda Deborah
    Twitter : melinda_deborah
    Kota : Lampung

    Menurut saya, keduanya sama baiknya, sama-sama mendedikasikan diri untuk keluarga walaupun dengan cara yang berbeda. Seorang ibu, entah sebagai IRT ataupun wanita karier tetap saja ia adalah seorang ibu, tidak ada bedanya.
    keduanya tetap berperan sebagai seorang ibu yang akan selalu ada untuk keluarganya.
    Seorang wanita karier sesibuk-sibuknya ia bekerja, ia pasti tak akan pernah lupa terhadap keluarga terutama anaknya, ia pasti akan selalu dan selalu memikirkan anak dan keluarga.
    Ibu di mana saja, kapan saja akan tetap menjadi seorang ibu. Apapun profesi seorang ibu, ia akan selalu menjadi pelita dan pelindung.

  6. Nama : Eka Novita
    Twitter : @Kaopixx
    Kota : Pekanbaru – Riau

    Wanita apalagi jika sudah berstatus seorang ibu memang dituntut kuat dan muktitasking. Mau nggak mau ya memang harus dijalani, mengerjakan dan memikirkan urusan yang ada di rumah sekaligus dalam satu waktu. Jelas menjadi ibu sama sekali bukan sebuah pekerjaan yang mudah.

    Perempuan yang berkarier tentu bagus, karena ia mengembangkan potensi yang ia miliki untuk menjadi wanita yang bernilai lebih. Tapi, tetap sesibuk apapun dalam berkarier urusan keluarga, anak-anak, dan rumah tangga adalah prioritas utama.
    Menjadi ibu rumah tangga menghabiskan waktu untuk mengurus keperluan rumah tangga sangat mulia. Ia akan selalu jadi orang yang dianggap no 1, ratu dalam keluarga. Anak-anak dan anggota keluarga pasti sangat nyaman dalam pengasuhan ibu 24 jam.

    Kurasa wanita akan mengalami struggle tersendiri dalam menjalani pilihannya sebagai IRT ataupun wanita karir. Sebagai IRT ia bisa dekat dengan keluarga namun tidak leluasa menyalurkan potensi. Bisa aja sih bekerja dirumah jika memang memiliki bakat dan hobi yang bisa dikerjakan dirumah. Sedangakan menjadi wanita karier, tentu ada kepuasan tersendiri jika ada sesuatu yg diraih dari hasil kerja keras sendiri. Tapi satu sisi ya kurang optimal dalam mengurus keluarga. Semua tergantung pilihan. Bagiku IRT atau wanita karier sama hebatnya !.

  7. Hana Pratiwi
    Twitter : @HanaCuncun
    Kota : Semarang

    Kenapa harus dibuat versus? Wanita itu sebenarnya bisa menjalani keduanya jika saja mau dan sanggup. Wanita karier jangan terlalu tenggelam dngan pekerjaannya dan melupakan hakekatnya sebagai seorang istri yang harus mengurus rumah tangga. Begitu juga sebagai Ibu Rumah Tangga yang cerdas hendaknya tidak melulu menggantungkan hidup dari suami. Ada baiknya jika seorang ibu rumah tangga memiliki penghasilan sendiri.

  8. Jadi ibu rumah tangga atau pun ibu yang berkarier di luar rumah, tetap harus ada porsinya sendiri, buat saya itu pilihan, jadi ga bisa disamain mana yang lebih keren atau tinggi derajatnya dibanding yang lain.

    perempuan memang dikenal multitasking. bisa ngerjain banyak hal dalam satu waktu. yang dibutuhkan perempuan baik yang jadi ibu rumah tangga maupun yang berkarier, tetap mereka butuh dukungan suaminya sepenuhnya. bahwa apapun keputusan untuk memilih jadi salah satu diantara dua pilihan itu, suami akan tetap membantu dan mendukung pilihan sang istri. jadi kalo pas istri ga bisa menjalankan tugas sebagai ibu rumah tangga, misal pas sakit ya, suami bisa bantu gantiin perannya dengan bantu-bantu nyuci, siapin masakan, dll. intinya sih, suami itu partnernya istri, jadi kalo selama suami mendukung, it’s oke buatku.

    Ila Rizky Nidiana – @ila_rizky – Tegal

  9. Nama : Nurin Inayati
    twitter : inayati_nurin
    kota : Lubuk Sikaping – Kab.Pasaman – SumBar

    Ketika ditanya pendapat mengenai ibu rumah tangga dan perempuan berkarier, bagi saya keduanya sama seperti 2 sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Nyatanya ketika dilahirkan sebagai perempuan, maka dengan sendirinya kita diberikan kodrat sebagai ibu rumah tangga, dan mengenai karier itu adalah sebuah pilihan. Pemahaman mengenai karier pun perlu diperjelas, karena IRT pun sejatinya adalah perempuan yang berkarier untuk keluarganya. Menjadi ibu rumah tangga adalah anugerah, kodrat, dan naluri yang akan muncul dengan sendirinya ketika seorang perempuan dihadapkan pada situasi kehidupan rumah tangga, sedangkan perempuan berkarier (wirausaha atau bekerja di luar rumah) adalah perempuan yang mempunyai sisi lebih dimana dapat membagi focus antara urusan tanggung jawab mengurus rumah tangga dan tanggung jawab pekerjaan.
    Sekedar sharing, menjadi IRT bukanlah hal yang mudah, dan IRT tidak hanya mengenai dapur, sumur dan rumah, namun lebih dari itu. Bagaimana menciptakan kenyamanan di rumah, bagaimana menciptakan menu yang sehat dan enak, bagaimana menjadi madrasah bagi anak, dan berbagai tanggung jawab lainnya. Meskipun seorang perempuan berkarier diluar rumah sekali pun, tidak akan bisa lepas dari posisi sebagai ibu rumah tangga. Menjadi seorang perempuan berkarier bukan berarti bahwa semua tugas rumah tangga dapat di alihtugaskan kepada asisten rumah tangga, namun tetap kendali sebagai ibu rumah tangga adalah istri dari suami di rumah tangga tersebut.
    perempuan berkarier (wirausaha atau bekerja di luar rumah) pun tentu mempunyai segenap alasan, yang saya dan teman-teman saya alami, bahwa sebagai perempuan, kami membutuhkan ruang untuk bergaul, mengembangkan kemampuan kami, mengembangkan potensi dan mempunyai karya yang dapat dipergunakan. Tentu pergaulan yang positive ini akan mempengaruhi pola pikir sebagai perempuan. Perempuan yang memiliki pergaulan dan ilmu yang luas, dia dapat mendidik anaknya agar senantiasa mengembangkan diri, mengembangkan potensi dan mendidik anak untuk selalu lebih kreatif dan berinovasi.
    Pada akhirnya, sukses sebagai ibu rumah tangga adalah sebuah keharusan, karena untuk itulah perempuan dilahirkan dengan segala keunggulan, kelembutan, dan nalurinya, sedangkan berkarier (wirausaha atau bekerja di luar rumah) adalah sebuah pilihan, jika memilih menjadi IRT dan berkarier maka ada konsekuensi mengenai waktu,pikiran dan focus yang harus terbagi dengan kesibukan sebagai IRT. Pun menjadi IRT harus tetap kreatif, berinovasi dan mengembangkan diri agar senantiasa menjadi IRT yang cerdas.
    Maaff agak panjang yaaa,,, sukses untuk semua perempuan di dunia,, Salam happy mommy🙂

  10. Perempuan berkarier vs ibu rumah tangga? Menurutku keduanya tidak bisa dibandingkan.

    Perempuan karier adalah ibu rumah tangga jika telah menikah dan punya anak (berkeluarga) dan ibu rumah tangga bisa jadi seorang perempuan karier yang menduduki posisi strategis di sebuah organisasi atau yang berhasil meraih achievement atas passionnya.

    Mungkin yang kamu maksud dengan “ibu rumah tangga” di sini adalah perempuan yang 100% mengurus rumah tangga ya? Yang tinggal di rumah mengurus keluarga (anak-suami-rumah) tanpa income yang dihasilkan sendiri? CMIIW🙂

    Memang, ada anggapan (salah satu yang beranggapan demikian adalah AKU) bahwa pernikahan atau kelahiran anak bisa memangkas (kalau tidak mau dibilang menghabiskan) karier seorang perempuan. Susah payah nyari kerja, diterima, dan kemudian berhasil membangun karier hingga mampu meraih achievement yg luar biasa, eh, pas berumah tangga, rumah lebih kuat memanggilnya pulang. Yang tadinya dandan cantik pakai baju keren, sepatu high heels, make-up keren harus ganti kostum pakai daster dan mengerjakan pekerjaan rumah kayak Upik Abu. Yang tadinya aktif ke mana mana, eh, harus membagi waktu sedemikian rupa. #Stress

    Tapi, disadari atau tidak, semesta mendukung perempuan berkeluarga untuk tetap berkarier, berkarya, bahkan berprestasi. Nggak usah khawatir bakal jadi pengangguran, nggak punya penghasilan sendiri, nggak gaul, bla-bla-bla. Perempuan tetap bisa menjalani passionnya meski harus berbagi waktu antara urusan pribadi dengan keluarga. Tentu saja hal ini belum bisa terjadi pada setiap organisasi yang masih membutuhkan kehadiran fisik karyawan, tetapi asalkan jeli, kenal kemampuan diri sendiri, mengenali passionnya, yakin, tetap ada peluang.

    Bagaimana dengan aku? Aku pengin jadi ibu rumah tangga yang tetap berkarier meski dari rumah. Kenapa? Banyak hal yang mendorong aku untuk mengambil keputusan ini. Bukan semata demi menjadikanku pahlawan keluarga. atau biar disebut setia sama keluarga. Nggak berhenti di situ, tapi ini merupakan sebentuk komitmenku ketika memutuskan untuk menikah.

    Aku pengin bertanggung jawab terhadap keluargaku. Aku ingin membangun bonding antar anggota keluarga. Aku ingin berperan penuh dalam proses tumbuh kembang anak-anakku. Aku ingin membangun relasi sedekat mungkin dengan anak-anak. Menjadi orang pertama yang dilihat ketika mereka bangun tidur. Aku ingin layak dipanggil IBU.

    Persiapannya apa aja?
    1. Mental
    2. Melahap berbagai informasi > pernikahan, pregnancy, health, parenting, dsb.
    3. Belajar membagi waktu
    4. Belajar mengurus rumah tangga > beberes, nyapu, ngepel, masak, nyuci baju, nyetrika, nyuci piring, dll.

    Part time worker, full time mother😀

    Nama: Ratri
    Akun Twitter: @ratweezia
    Domisili: Yogyakarta

  11. Nama: Ophi
    Akun twitter: @ophiziadah
    Domisili: Ciputat Tangerang Selatan

    ehem Ibu berkarir vs ibu rumah tangga, bukan isu baru tapi setiap kali ini dimunculkan selalu seru dan tergoda untuk ikut urun rembuk. Saya kok agak tidak sreg dengan kata “versus”. Karena sebetulnya memang tidak perlu dibuat dikotomi seperti itu, seperti banyak yang bilang, itu soal pilihan. Dan bukan karena saya adalah Ibu dengan 3 anak yang bekerja, dengan suatu alasan yang mungkin tidak perlu semua orang tahu, tidak berarti saya tidak bisa atau tidak patut dianggap sebagai ibu yang baik. Sebaliknya anggapan bahwa menjadi ibu rumah tangga yang tidak berkarir di luar rumah (karena saat ini banyak IRT yang juga “bekerja” dan berkarir meski dari rumah) adalah Ibu yang tidak mampu mengaktualisasikan diri dst.

    Menjadi IRT bukanlah tugas yang mudah, harus mampu mengerjakan dan/atau memanage semua pekerjaan dan urusan rumah yang tak ada batas jam kerja alias 24 jam. Iya saya kira IRT saat lebih banyak berperan sebagai manager karena mostly untuk tugas-tugas harian didelegasikan pada asisten. Biasanya tugas mengasuh anak yang tak didelegasikan. lebih jempol lagi, kalau tanpa ART. SubhanaAllah benar-benar demanding. Kok tahuu??? iya karena ada saat saat tertentu saya full menghandel semua urusan rumah tangga juga termasuk mengasuh anak. kapan?? saat saya tak punya ART hahaha atau saat mbah uti lagi tak ke rumah. Sabtu minggu dan hari libur pun sering kali saya harus berperan sebagai IRT sepenuhnya. Mudahkah???berat sejujurnya tapi senang dan bahagianya luar biasa bisa full time bersama anak-anak membayar kata “berat”tadi.

    Saya sempat dan sering terfikir untuk berhenti bekerja dengan alasan anak-anak. Bahkan sempat merencanakan pensiun dini atau resign. Tapi saya dan suami saya tahu bahwa saya bukan type yang mau diem saja di rumah tanpa aktifitas lain. Saya sebetulnya type orang rumahan, tp tanpa kegiatan diluar tugas rumah harian dan anak-anak mungkin saya akan mengalami hal-hal yang tak saya inginkan. Bisa rasa bosan, jenuh dan malah berakibat kurang baik bagi anak-anak. jadi kalaupun saya berhenti bekerja dr kantor saat ini, saya tetap punya aktivitas/kegiatan yg bs dikerjakan dari rumah. Pernah mencoba?? iyaaa… tp belum berhasil dan akhirnya sy memilih untuk menjalani yang seharusnya saya jalani saat ini

    Saya lebih memilih untuk menjalani yang terbaik yang saya mampu. Saat bertemu suami (dulu calon) saya sudah bekerja dan bukan tanpa alasan bahwa saya memang harus tetap bekerja setelah berumah tangga dan memiliki anak. Tapi saya selalu percaya selama kita sebagai Ibu berusaha utk tetap menjaga dedikasi kita sebagai Ibu bagi anak-anak. Anak-anak pada saatnya akan paham bahwa ibunya yang berkerja ini bukan karena tak sayang pada mereka. pekerjaan Ibu tak mengurangi sedikitpun cinta kasih dan niat tulus seorang Ibu pada mereka. Sehingga saat di rumah semaksimal mungkin semua kehadiran saya untuk anak-anak persoalan pekerjaan di kantor tak perlu di bawa masuk ke dalam rumah. (kecuali terpaksaa, pun itu tetap dengan izin dan kerelaan anak2). untuk urusan rumah tangga di luar anak-anak, alhamdulillah ada asisten yang bisa kita delegasikan tugas rumah tangga lainnya.

    Saya setuju dengan penulis buku yg dikutip reviewer: Motherhood is really a heart work.
    Dalam aktivitas keseharian saya dimanapun, anak-anak selalu di hati dan di fikiran saya, ikatan yang tak akan terputus hanya karena suatu pilihan.

  12. Nama: Monika Andriyan
    Twitter: @kyka7707
    Kota: Salatiga

    Menjadi perempuan berkarir atau ibu rumah tangga adalah suatu pilihan yg seimbang dan sama-sama mulia. Tidak ada yg bisa membuat yg satu lebih baik daripada yg lainnya.

    Mengapa demikian?

    Ketika seorang perempuan (yg sudah menikah) memutuskan berkarir, dia pasti sudah mempertimbangkan akan keputusannya ini, meninggalkan rumah (untuk sementara waktu) demi kesejahteraan keluarga, demi meraih cita, demi masa depan yg baik untuknya dan untuk keluarga. Pastilah perempuan ini tidak bertindak egois, memikirkan diri sendiri, namun pastinya berkomitmen pd keluarga. Pencapaiannya adalah karir yg baik, aktualisasi diri tercapai dan pendapatan keluarga bertambah yg akan berdampak kesejahteraan keluarga meningkat, pendidikan anak baik.

    Ketika yang dipilihnya adalah menjadi ibu rumah tangga, dia pasti telah berpikir dan berkomitmen memberikan waktunya bagi keluarga dengan berkarya di rumah. Dia bisa memakai ilmu dan kemampuannya untuk membangun keluarga yg sejahtera dan bahagia. Ilmu akademis yg ia terima pasti bisa diterapkan jg dalam keluarganya. Misalkan ia berlatar belakang ilmu hukum, dia bs mendidik keluarganya utk taat hukum dgn baik, atau kalau dia berlatar belakang ilmu ekonomi, dia bisa mengatur keuangan dgn sebaik-baiknya. Pencapaiannya mungkin bukan berupa materi (kecuali bila di rumah ibu rumah tangga jg berpenghasilan) namun mereka bisa memberikan pendampingan langsung pd anak2, mengelola rumah tangga dgn baik, dan bukan tidak mungkin mereka jg bisa membantu meningkatkan pendapatan keluarga dari rumah.

    Jadi, pilihan entah menjadi perempuan berkarir atau ibu rumah tangga adalah pilihan yang sama2 mulia. Tentunya dengan kesadaran untuk berkomitmen penuh atas pilihannya yang berdampak pada dirinya sendiri dan keluarga🙂

  13. Berkarir di rumah atau berkarir di luar bagi saya mempunyai tantangan tersendiri. Sangat tidak mudah meninggalkan anak di rumah apalagi jika tidak mempunyai orang yang bisa cukup dipercaya. Banyak hal jadi pertimbangan, namun bagi sebagian wanita, berkarir di luar tetap menjadi pilihan untuk mengembangkan diri, mengamalkan ilmu, serta mempertahankan eksistensi pergaulan karena kita makhluk sosial. Sebaliknya, tidak mudah pula jika hanya memilih berkarir di rumah. Bukan berarti kita tak memiliki kompetensi, namun hal ini akan jadi pilihan bila kita merasa tidak ada yang bisa mendidik anak sebaik orangtua kandung. Pekerjaan rumah yang bejibun akan sangat menyita tenaga, tanggungjawab yang diemban pun juga besar. Jika saya menikah nanti, saya akan memilih berkarir di rumah sambil mengasuh anak. Saya yakin kasih sayang terbaik sumbernya dari orangtua kandung. Di rumah pun saya masih bisa mengembangkan karir saya sebagai penulis dan pengusaha garmen kecil-kecilan. When there is a will, there is a way. Rumah tangga utuh, rezeki mengalir terus, Insya Allah.

    [Puput Palipuring Tyas, @garbariniku, Gresik]

  14. Taufiq Firdaus A A
    @taufiqfirdausaa
    Bogor

    Bagiku sih, perempuan yang berkarir maupun yang memilih menjadi IRT yang full sama saja. Keduanya sama-sama (ber)aktivitas, mungkin ada yang berkata yang satu menghasilkan uang yang satunya tidak. Padahal, namanya passion itu bukan soal uang belaka. Keduanya tetap ada nilai investasinya. Sebab jadi IRT itu bukan sekadar ongkang-ongkang kaki saja, butuh juga intellek di dalamnya. Hanya saja yang berkarir memang jadi lebih ganda tantangannya, dan karir di sini tidak melulu harus kantoran kok. Berwirausaha, atau ngeblog pun sekarang bisa jadi profesi sampingan yang dapat memberikan tambahan penghasilan. Semuanya itu pilihan, asal yang wajib tidak terlupakan. Wanita karir maupun IRT semuanya bisa jadi Ibu, dan setiap Ibu dapat bekerja bila ia mau dan mampu.🙂

  15. Nama: Ade Delina Putri
    Twitter: @adedelinaputri
    Kota: Bekasi

    Jujur saya pribadi memang lebih kagum dengan ibu rumah tangga. Itu karena ibu saya sendiri, ibu rumah tangga. Sejak kecil kami mendapat perhatian penuh. Segala sesuatunya amat diatur rapi oleh ibu. Ibu pun tak semata-mata di rumah, ibu masih mengaji, kadang berjualan atau ikut seminar-seminar. Ada hal yang sempat membuat saya sedikit ‘tak respect’ dengan perempuan berkarir, saat masih kecil saya punya teman yang ibunya bekerja, ia hampir seperti ‘tak terurus’ dan berbeda dengan anak-anak kebanyakan yang ibunya tak bekerja.

    Namun saat dewasa, saya semakin mengerti bahwa tak selamanya semua ibu rumah tangga pandai mengurus rumah tangga, pun dengan semua ibu berkarir tak pandai mengurus rumah tangga. Ada ibu rumah tangga yang semata-mata di rumah, aktivitas monoton, tak bisa memasak dan melupakan anak-anaknya dengan menonton tv atau sibuk dengan tetangga. Lalu ada perempuan berkarir yang justru jauh lebih perhatian terhadap anak, pandai mengatur waktu, So this’s about quality not quantity.

    Ibu rumah tangga atapun berkarir semua pilihan, yang penting ada ridho suami didalamnya. Serta mau terus belajar dan bisa memanfaatkan kekurangan dan kelebihan dalam pilihannya

  16. Nama: prastyo budi
    Twitter: @prastyobudi222
    Kota: Boyolali
    Jujur saya pribadi memang lebih
    kagum dengan ibu rumah tangga.
    Itu karena ibu saya sendiri, ibu
    rumah tangga. Sejak kecil kami
    mendapat perhatian penuh. Segala
    sesuatunya amat diatur rapi oleh
    ibu. Ibu pun tak semata-mata di
    rumah, ibu masih mengaji, kadang
    berjualan atau ikut seminar-
    seminar. Ada hal yang sempat
    membuat saya sedikit ‘tak respect’
    dengan perempuan berkarir, saat
    masih kecil saya punya teman yang
    ibunya bekerja, ia hampir seperti
    ‘tak terurus’ dan berbeda dengan
    anak-anak kebanyakan yang
    ibunya tak bekerja.
    Namun saat dewasa, saya semakin
    mengerti bahwa tak selamanya
    semua ibu rumah tangga pandai
    mengurus rumah tangga, pun
    dengan semua ibu berkarir tak
    pandai mengurus rumah tangga.
    Ada ibu rumah tangga yang
    semata-mata di rumah, aktivitas
    monoton, tak bisa memasak dan
    melupakan anak-anaknya dengan
    menonton tv atau sibuk dengan
    tetangga. Lalu ada perempuan
    berkarir yang justru jauh lebih
    perhatian terhadap anak, pandai
    mengatur waktu, So this’s about
    quality not quantity. dan
    kelebihan dalam pilihannya

  17. Nama: Fenita Gustini
    Akun twitter: @fenitapenot
    Kota Tinggal: Baturaja, OKU, Sum-Sel.

    Menurut saya, menjadi ibu rumah tangga juga adalah karir yang tidak mudah dijalani, butuh perjuangan. Mendedikasikan seluruh waktu dan tenaga, mengutamakan keluarga sampai mengesampingkan diri sendiri. Saya kagum dengan banyak sosok seperti ini

    Tapi, jika yang dimaksud ‘perempuan karir’ adalah mereka yang bekerja dan ikut mencari nafkah. Saya salut pada mereka. Disaat sebagian perempuan lebih memilih menjadi ibu rumah tangga seutuhnya, bahkan rela melepaskan pekerjaan yang bertahun-tahun sejak sebelum menikah, demi mengurus keluarga. Disaat sebagian perempuan lebih memilih ‘nerimo’ berapapun pendapatan suami dan mengaturnya sesuai pengeluaran. Sungguh ‘perempuan karir’ adalah pasti wanita hebat yang masih terus bekerja walaupun sudah menikah, padahal banyak perusahaan yang sungkan menerima karyawan perempuan yang sudah berkeluarga.

    Apalagi bagi yang pandai mengatur waktu dan tenaga untuk karir sekaligus keluarga. Angkat dua jempol untuk mereka. Tapi, mungkinkah ada yang seperti ini?

    Saya malah mau siap-siap ‘resign’ demi mempersiapkan kehamilan, padahal dapat dipastikan akan susah mendapatkan pekerjaan kembali, apalagi setelah punya anak nanti.

    Jadi, kalau ditanya mana salah satu yang saya pilih antara ‘ibu rumah tangga’ dan ‘perempuan karir’? maka jelas saya memilih menjadi ‘ibu rumah tangga’. Karena rezeki bisa datang dari mana saja, pun dalam rezeki yang didapatkan suami karena bekerja seorang diri, disana juga ada bagian istri dan anak-anaknya.

  18. Nama: Yuliza Sachira
    Twitter: @zasachi
    Kota: Binjai

    Sebagai wanita meski saya belum menikah, menurut saya seorang ibu adalah mereka yang mengabdikan dirinya untuk keluarganya. Mulai dari melayani kebutuhan suami dan anak2, merawat dan menjaga mereka, mengasuh anak2, mempersiapkan kebutuhan rumah tangga, dll..dll.. banyak sekali. Ibu memiliki peran yang sangat penting bagi perkembangan anak2nya. Ibu adalah sekolah pertama anak2nya. Selain itu ibu juga adalah partner ayah dalam mengayuh biduk rumah tangga. Peran ibu di sini sebagai pendengar, pemberi solusi, pendukung pekerjaan ayah. Tidak terbayang banyaknya tugas yang harus diemban seorang ibu. Karena itulah, agar bisa fokus dengan segala kewajiban dan tugas2nya seorang ibu sebaiknya mendedikasikan dirinya hanya untuk keluarganya.

    Lalu dengan ibu yang juga berkarir. Saya yakin tugas dan tanggung jawab mereka jauh lebih kompleks. Di satu sisi, mereka harus concern dengan masalah2 di rumah tangga, di sisi lain ada tanggung jawab pekerjaan yang juga menguras energi untuk diselesaikan. Dibagian inilah seorang ibu biasanya keteteran. Tekanan pekerjaan bisa membuat ibu cepat emosi dan melampiaskan kekesalan saat tiba di rumah. Terkadang ada kebutuhan anak2 yang seharusnya bisa diselesaikan oleh ibu, tapi karena kesibukannya dengan pekerjaan kebutuhan anak2 ditangani oleh pengasuh.

    Selalu ada konsekuensi dr pilihan, mau menjadi ibu rumah tangga yang full time atau menjadi ibu rumah tangga sambil berkarir. Meskipun begitu, saya yakin setiap ibu selalu ingin memberikan yang terbaik buat keluarga kecilnya🙂

  19. Nama : Rismayanty Markus
    Twitter : @nanyaanana
    Kota : Polewali Mandar

    Perempuan berkarier VS Ibu rumah tangga? mungkin yang sempat tebersit dibenar kita adalah ‘perempuan berkarier’ itu hebat. karena dia bisa menyeimbangi para lelaki yang memang harus berkarier. lalu ibu rumah tangga? banyak yang menyepelekan posisi yang satu ini. Bahkan terkadang juga kita semua. Sebagian orang menganggap bahwa ibu rumah tangga adalah pekerjaan wanita-wanita yang memang tidak punya niat utnuk berusaha mendapatkan pekerjaan sama sekali dan hanya bergantung pada penghasilan sang suami. tapi tunggu dulu! Mari kita melihat kehidupan para ibu rumah tangga di seluruh dunia. Apakah kehidupan yang mereka jalani gampang? Jawabannya TIDAK! Ibu rumah tangga adalah perempuan-perempuan tangguh. mereka juga berkarier, hanya saja dalam konteks rumah tangga mereka. Ibu rumah tangga yang mengelola urusan keluarganya. Mereka tidak ada bedanya dengan para wanita karier. Pekerjaan ibu rumah tangga justru bisa dibilang lebih berat dari wanita karier. Ibu rumah tangga harus bisa melakukan pekerjaan yang bermacam-macam. Mulai dari jadi koki, ahli keuangan, babysitter, jadi istri yang baik, jadi ibu yang baik, jadi sahabat yang baik, jadi ahli dekorasi, bersih-bersih dan masih banyak lagi.

  20. Saya yakin, setiap orang tua pasti akan selalu berkata kepada anak gadisnya, “Nak, jika kamu sudah menikah nanti, jadilah Ibu Rumah Tangga yang Baik.” dan mereka bukan berkata, “Nak, nanti jika sudah menikah nanti jangan jadi Ibu Rumah Tangga Yang Berkarier ya.”

    Jadi, menurut saya pribadi berkarier ataupun tidak itu bukan menjadi sebuah masalah. Sebab, Asalkan perhatian, tanggung jawab serta kasih sayang untuk diri sendiri, suami dan anak tidak terbagi.

    Berkarier ataupun menjadi Ibu rumah tangga penuh kembali lagi pada pilihan. Saya yakin bahwa semua IRT (Baik yang berkarier ataupun tidak) itu adalah orang-orang hebat yang cerdas namun mungkin yang membedakan adalah apakah semua itu tersalurkan lewat karier atau tidak.

    Tapi beberapa kali ditemukan ada wanita yang sukses dalam kariernya tapi justru memutuskan untuk menjadi Ibu Rumah Tangga saja karena memang bagian daripada “panggilan jiwa”.

    Ibu rumah tangga yang berkarier ataupun tidak yang terpenting adalah selalu berusaha menjadi IBU yang sederhana namun luar biasa untuk keluarga.🙂

    Mita Oktavia
    @Oktaviamithaa
    Bogor, Jawa Barat

  21. Nama: Fenny Ferawati
    Twitter: @fennyferawati

    Jawaban:
    “Ibu, mengapa dulu ibu tidak menjaga ku sendiri ketika kecil. Ibu memilih bekerja. Tidak inginkan ibu melihat aku dan kakak tumbuh?”

    Si ibu tersenyum lalu berkata, “Apakah dengan ibu bekerja kamu dan kakak merasakan kekurangan? Apa rasa sayang ibu setiap harinya kurang?”

    Si anak tersenyum dan menggeleng.

    Si ibu tersebut adalah salah satu guru Fenny ketika di SMA. Menjadi seorang guru itu berarti beliau berkarir di luar rumah.

    Bisa jadi si anak telah membaca profil ibu Ainun atau ibu-ibu yang lain yang memilih bekerja dari rumah dan mampu mengantarkan anak-anaknya mencapai sesuatu yang dibilang KESUKSESAN.

    Mencerna apa yang di sampaikan si Ibu, Fenny menarik kesimpulan bahwa tidak lah salah memilih menjadi ibu Rumah Tangga atau ibu Karir. Sii Ibu yang notabene seorang guru dan berkarir di luar rumah tetap bisa mendampingi si anak hingga dewasa dan mapan, sosok ibu yang lain yang berkarir dirumah juga bisa.

    Disisi lain, ada banyak pula wanita karir maupun ibu rumah tangga yang tidak bisa mendidik anak. Jadi yang terpenting adalah bagaimana menjadi IBU yang mendidik anak sepenuh hati🙂

  22. Pingback: Wanita Karir VS Ibu Rumah Tangga | Jejaring Miss Fenny

  23. Pingback: Jejaring Miss Fenny

  24. Nama: Euis Sri Nurhasanah
    Twitter: @EuisSriNur
    Kota: Bandung

    Menurut saya,perempuan memiliki energi menakjubkan untuk menjalani karir di dalam sekaligus di luar rumah tangga. Kalaupun sebagian perempuan ada yang murni berperan dalam rumah saja, & ada yang multi-peran di luar rumah juga, maka kedua-duanya tak bisa dinilai mana yang lebih baik. Ukuran mana yang terbaik tak bisa di-judge oleh hal-hal yang kasat mata semata. Sebab, baik-buruknya perempuan menjalani peran itu ukurannya sudah kompleks, melibatkan hati. Ketika dia menghayati dan menjalani perannya sebagai ibu rumah tangga sepenuh hati, maka perempuan itu akan melakukan yang terbaik. Ketika dia melakukan yang terbaik sebagai istri & ibu, maka itulah ukuran yang lebih baik, bahkan jika yang terlihat mungkin tidak perfect. Sebab seiring waktu, dia yang sepenuh hati & memberikan yang terbaik maka akan terus belajar untuk lebih baik terus & terus. Asalkan dia bisa menjadi yang terbaik sebagai istri & ibu itu, saya percaya ketika dia membagi waktunya untuk karir di luar rumah pun maka dia takkan lalai dari tanggung jawabnya di rumah. Dengan begitu dia bisa lebih “keren” lagi, plus-plus.

    Urusan hati ini juga bicara passion & cita-cita perempuan itu sendiri. Masing-masing orang punya preferensi berbeda tentang menjadi ibu rumah tangga saja ataukah ingin berkarir di luar rumah juga. Memadamkan sama sekali impian perempuan karena alasan rumah tangga, saya kira tidak baik dampaknya. Perempuan terkungkung dalam keterpaksaan akan sulit menjalani perannya dengan sepenuh hati. Lagipula, itu sama saja memangkas potensi seseorang. Meski begitu, tentu melihat keadaan, kondisi rumah tangga, anak-anak, dsb mengikuti impian sepenuhnya takkan mudah. Karena itu, perlu ada kompromi & berdiskusi dengan suami, bagaimana yang terbaik sesuai kondisi-kondisi itu. Semuanya harus dipikirkan & direnungi dengan kepala dingin, & dibicarakan bersama dengan suami.

    Jadi menurut saya, yang terbaik adalah perempuan yang terbaik bagi keluarganya plus bisa bermanfaat bagi orang lain (lingkungan) juga. “Bermanfaat bagi orang lain” ini banyak caranya, tak harus dengan bekerja di kantor. Dan karena ibu adalah madrasah pertama bagi anak, saya berpendapat bahwa perempuan harus memprioritaskan mendidik anak & membimbingnya sejak dini. Saya cenderung berpendapat lebih baik menunda impian-impian lain dulu sekiranya itu bakal mengorbankan pendidikan anak pada usia dini. Anak adalah generasi penerus yang sangat penting pendidikannya di rumah. Ketika kita mencurahkan waktu & tenaga untuk mendidik anak, sesungguhnya kita tak sedang memangkas impian-impian kita. Kita justru sedang menanam & memupuk impian-impian terbaik baru, sambil tetap merawat impian lama tentunya. Sekiranya usia anak sudah cukup untuk “agak dilepas” ke didikan orang lain, kita bisa meneruskan mengejar impian-impian yang tertunda itu🙂.

  25. Nama : Koko Komarudin
    Twitter: @Kokocalem
    Kota Bandung

    Menurut saya wanita karier itu wanita yang mendedikasikan hasil dari kariernya untuk keluarganya, tuntutan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. sedangkan ibu rumah tangga adalah ibu yang menghabiskan waktunya hanya untuk mengurus anak dan keluarganya.

  26. Anis Antika
    Twitter: @AntikaAnis
    Surabaya

    Ibu rumah tangga vs wanita karier

    Kalau saya pribadi, setelah menikah saya ingin tetap berkarier. Tapi tetap harus jadi Ibu rumah tangga yang baik. Masak, membersihkan rumah, mengurus suami dan anak. Kerja kan ada batas waktunya, pasti bisa membagi waktu kok. Intinya, bisa kok menjadi Ibu rumah tangga sekaligus wanita karir. Jangan mengorbankan salah satunya.

  27. Nama: Evi Sudarwanto
    Twitter: @evisept_
    Kota: Palembang

    Sebenarnya antara perempuan berkarier vs ibu rumah tangga itu sama-sama memiliki keunggulan dan kekurangan yang mempunyai keterkaitan satu sama lainnya.

    Untuk perempuan berkarier, di zaman yang serba maju ini, tentu perempuan berkarier memiliki nilai lebih di mata suami maupun anak-anaknya sendiri. Selain bisa “membantu” untuk memenuhi kebutuhan keluarga, layaknya suami yang berperan sebagai kepala rumah tangga. Oh, ya, saya sedikit menekankan dalam kata “membantu,” menurut saya boleh-boleh saja, bahkan sangat bagus jika perempuan memiliki karier yang tinggi dengan penghasilan yang tinggi pula, tapi jangan sampai, peran pemimpin dalam suatu keluarga tergantikan oleh “misalnya” perempuan yang kariernya lebih tinggi dari suami.
    Lalu, perempuan berkarier juga sudah pasti memiliki ilmu yang lebih jauh dalam menjaga anak-anak dan suaminya.

    Nah, tapi, ada beberapa hal juga yang mesti diperhatikan dari perempuan berkarier, dengan ilmu yang dipunya terkadang sampai membuatnya terlena. Ada beberapa kasus yang tentu sering kita jumpai, seperti seorang ibu rumah tangga yang congkak dan semena-mena pada suami karena penghasilannya lebih tinggi, ada juga yang tidak bisa membagi waktu untuk anaknya, sampai sama sekali tak sempat untuk sekadar melihat anak mengambar atau belajar menghitung, kemudian tak heran juga bahkan ada seorang istri yang sampai sama sekali tidak pernah menyenggol dapur karena sangking sibuknya.

    Bagaimana dengan ibu rumah tangga?
    Jangan salah, di zaman canggih seperti sekarang, tak heran juga bahwa ada beberapa perempuan yang sengaja ingin menjadi ibu rumah tangga, dengan sepenuhnya mengabdikan kasih sayang dan cintanya pada suami dan anak-anak. Ya, bukan berarti perempuan berkarier tidak mengabdikan kasih sayang dan cintanya, tapi hanya beda porsi saja.

    Seperti yang kita tahu, seorang ibu rumah tangga akan lebih memfokuskan diri untuk menjaga dan mendidik anak-anaknya, hingga terkadang memang terlihat perbedaan yang jelas antara anak-anak didikan ibu rumah tangga tok, dengan perempuan berkarier. Tapi inilah, sayangnya seorang ibu rumah tangga hanya bisa memangku tangan, menunggu uang dari suami dan hal itu tentunya sedikit membatasi kemauan-kemauan yang tidak mustahil tumbuh dari seorang ibu rumah tangga, seperti ingin membeli pakaian atau mainan anak. Beda hal dengan perempuan berkarier.yang bisa mengeluarkan uangnya sendiri.

    Kemudian, proses pembelajaran anak-anak yang hanya sesekali ditemani oleh ibu yang sibuk tentu berbeda dengan anak-anak yang selalu dibimbing setiap saat. Betul, kan?
    Dan menurut saya, antara perempuan yang berkarier dan ibu rumah tangga sebenarnya akan sama-sama menghasilkan anak-anak yang cerdas. “Tentu” jika mereka mengoptimalkan waktu berbagi bersama anak-anaknya.

    Mungkin itu saja, ya. Dan di akhir, saya mau menuliskan dua kalimat untuk yang membaca.

    Sehebat apapun seorang wanita, jangan pernah melupakan suami dan anak, karena tanpanya kau bukan apa-apa. Hidup perempuan berkarier!!!

    Sebagaimana kau memang diciptakan untuk selalu mendampingi suami dan anak-anak, tetaplah jangan pernah melupakan untuk terus belajar, karena anak-anak dan suami tidak akan menjadi orang yang hebat jika kau tak mampu menyalurkan ilmu untuk mereka. Ya, sekalipun ilmu kasih sayang saja. Hidup ibu rumah tangga!!!

  28. Nama: Winta Hari Arsitowati
    Twitter: @wintarsitowati
    Kota: Surabaya

    Jika ditinjau dari arti literalnya, perbedaan antara wanita yang berkarier dengan ibu rumah tangga terletak pada pilihan hidup masing-masing. Wanita yang berkarir adalah wanita yang memilih untuk bekerja dan tetap mengembangkan kariernya, sekalipun telah menikah dan memiliki anak. Sementara itu, ibu rumah tangga adalah wanita yang setelah menikah memilih untuk sepenuhnya mengabdikan diri untuk mengurus rumah tangga dan membesarkan anak-anaknya.

    Tidak ada yang lebih benar atau salah di antara keduanya. Seorang wanita karier pun bisa menjadi ibu yang baik bagi anak-anak dan istri yang baik untuk suami jika ia tetap memperhatikan keluarganya dan menyeimbangkan antara karier dan kepentingan keluarga. Hal yang perlu diingat adalah bagaimanapun tingginya pendidikan dan kedudukan seorang wanita dalam kariernya, ia harus tetap menjadi istri yang menghormati suaminya. Ia juga harus tetap memperhatikan tumbuh kembang anak-anaknya, sehingga sesibuk apapun ia dalam dunia kerja, hubungan dengan suami dan anak-anak tetap terjaga.

    Bukan berarti bahwa ibu rumah tangga memiliki kedudukan yang kalah dengan wanita karier. Bukan hal yang mudah untuk menjadi seorang ibu rumah tangga. Seorang wanita harus mencurahkan seluruh waktu dan tenaganya untuk mengurus rumah dan keluarganya. Dengan demikian, tugas sebagai ibu rumah tangga juga tidak gampang. Diperlukan pengorbanan yang besar untuk mengurus rumah, anak-anak dan suami. Dan itu semua dilakukan seorang ibu rumah tangga dengan ikhlas, tanpa mengharap balasan apapun. Menjadi ibu rumah tangga bukan berarti memiliki pendidikan dan wawasan yang kurang. Justru seorang ibu rumah tangga harus memiliki wawasan yang luas demi kepentingan anak-anaknya. Dengan memiliki pendidikan dan wawasan luas, seorang ibu rumah tangga akan akan mengetahui apa yang baik dan buruk untuk anak-anak. Dengan demikian, ia akan berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk keluarga.

    Esensi terpenting dari wanita karier dan ibu rumah tangga adalah mereka sama-sama berusaha untuk melakukan yang terbaik dalam bidangnya. Seorang wanita karier akan bekerja keras dalam pekerjaannya. Tidak sedikit dari wanita yang memilih untuk bekerja agar dapat membantu perekonomian keluarga. Tentunya wanita karier harus mengetahui proporsi yang tepat antara karier dan keluarga. Ibu rumah tangga pun berusaha melakukan yang terbaik untuk keluarganya. Namun, bukan berarti ibu rumah tangga tidak bisa menjadi orang yang berguna untuk orang lain. Dengan ketrampilan yang dimiliki, ibu rumah tangga pun bisa berbagi pada masyarakat di lingkungan sekitar dan menjadi orang berguna.

    Akhir kata, bagaimanapun kedudukan seorang wanita, apakah ia wanita karier atau ibu rumah tangga, yang paling diperlukan adalah ketulusan dan cinta kasihnya untuk keluarga. Jika seorang wanita memiliki dua hal itu, niscaya ia dapat menjadi seorang wanita dan ibu yang baik bagi keluarganya.

    Semangat untuk wanita-wanita Indonesia! Semoga kita bisa menjadi wanita dan ibu yang bermanfaat bagi keluarga dan masyarakat🙂

  29. Nama : Faidah
    Twiitter : @AidhaZhuki
    Kota : Makassar, Sulawesi Selatan

    Perempuan Berkarir vs Ibu Rumah Tangga

    Tema yang satu ini sudah berulang kali di kupas tuntas pada beberapa forum yang peduli terhadap peranan seorang perempuan, yang notabene selalu disangkut pautkan dengan persamaan gendre antara pihak laki-laki dan perempuan itu sendiri. Tak dapat dipungkiri, memang begitulah fakta membuktikan. Dari masa ke masa sebagian besar kaum perempuan tak rela dirinya terlalu dibatasi ruang geraknya. Mereka sangat menjunjung harkat martabatnya ditengah era modern. Walaupun saya sendiri belum menikah, belum berkeluarga, kurang lebihnya saya sudah merasakan betapa mulianya seorang ibu rumah tangga ketimbang perempuan berkarir pada sebuah kantor perusahaan. Saya yakin semua perempuan menyadari akan hal ini. Status hanya kerja di rumah, bersih-bersih rumah, mengurus anak dan suami, mulai dari pagi hingga pagi hari lagi non stop. Seringkali dilihat sebelah mata, enteng, dan tak bernilai bagi pihak luar yang tak pernah memahami apatah lagi merasakan beratnya menjadi ibu rumah tangga sejati.

    Masyarakat justru telah dibutakan dengan penampilan menarik dari seorang perempuan berkarir yang rapi dan lengkap memakai jas kantor sambil menenteng laptop. Keren memang. Tapi tidakkah kita tahu, bahwa perempuan semacam itu jauh berada dibawah jasa-saja para ibu rumah tangga yang kesehariannya memakai baju daster.
    Bukan berarti saya berkomentar secara sepihak, tapi inilah pandangan masyarakat kita yang sedikit keliru dan terkecoh dengan kulit luar seseorang saja.

    Semoga para perempuan di Indonesia lebih menghargai waktu yang tersedia, Selalu setia dtengah-tengah keluarga kecilnya. Siap dalam suka dan duka disamping para sahabatnya.
    Karena kita semua terlahir dari rahim seorang perempuan, Ibu Rumah Tangga.🙂

    ** Mohon maaf bila ada kata yang tak berkenan di hati **

  30. Nama: Susi Ernawati
    Twitter = @susierna
    Kota: Jepara
    Semua wanita akan sampai di titik menikah. Apakah ia akan mengambil peran penuh sebagai ibu rumah tangga atau memilih bekerja, semua tergantung kesepakatan bersama suami.
    Menjadi Ibu rumah tangga atau ibu bekerja adalah pilihan untuk wanita yang sudah menikah. Pilihan yang manapun, menurut saya sah-sah saja. tak perlu ada kontra mana yang benar dan mana yang salah.
    Saya sendiri meyakini, menjadi ibu rumah tangga adalah karier dunia akherat wanita. Karier yang dibayar mahal oleh Allah dengan limpahan pahala dan kebahagiaan. Saya merasa sangat bahagia menjadi ibu rumah tangga. Menjadi ibu rumah tangga adalah jihad.
    Lalu bagaimana dengan wanita bekerja? Siti Khadijah (istri Rasulullah) sendiri adalah seorang wiraswasta. jadi tak salah jika wanita bekerja. Wanita bekerja juga ikut membantu ekonomi keluarga. termasuk jihad juga. lalu versusnya apa?
    Saya melihat banyak ibu rumah tangga yang lupa diri. saya sering merasa prihatin karena ibu bekerja tak pandai menyiasati tugasnya sebagai ibu. Tugas ibu adalah mengasuh anak. Menurut pendapat saya, ibu bekerja seharusnya mendelegasikan tugas pengasuhan anak pada asisten rumah tangga yang baik, yang berpendidikan dan berprilaku baik. Bukan asal ada asisten rumah tangga anak. eman-eman sekali. Saya termasuk ibu yang berpendapat, jika saya sarjana, minimal pengasuh anak saya selama bekerja adalah lulusan diploma (sedikit di bawah saya). mempekerjakan asisten rumah tangga lulusan diploma tentu saja tak murah. solusinya adalah mencari penitipan anak yang pengasuhnya adalah para guru TK. mereka sudah terbukti menjadi pengasuh anak yang baik dan anak akan menjadi anak yang aktif bersosialisasi karena dititipkan bersama teman-teman lain.
    Ibu rumah tangga vs ibu bekerja? Dua-duanya harus tetap bisa menjadi pengasuh utama anak yang baik. jika kurang baik, delegasikan pada yang lebih baik. sepakat?

  31. sudah follow akun semuanya . follow blog by email : kontak.sari@gmail.com .

    share twitter : https://twitter.com/MentionSari/status/429562922327486464

    komen review : https://luckty.wordpress.com/2014/01/20/review-dont-worry-to-be-a-mommy/#comment-6603

    pendapatku sih perempuan karier atau ibu rumah tangga memiliki tanggung jawab masing – masing. Sebelum memutuskan apakah menjadi perempuan karier atau ibu rumah tangga, lebih baik dipikirkan matang – matang sebelum ambil keputusan, dan bisa juga dengan rembug (musyawarah) dengan suami, agar setiap keputusan yang diambil tidak menyesal kemudian hari.

    karena aku dibesarkan oleh seorang ibu yang merupakan perempuan karier, memiliki berbagai pertimbangan untuk memilih sebagai perempuan karier daripada ibu rumah tangga. Karena, memang saat itu dalam kondisi ekonomi yang terbatas, maka, tindakan ibu yang memilih sebagai perempuan karier dikarenakan untuk meningkatkan ekonomi keluarga, jarak antara aku dan kakakku juga cukup dekat, dan tidak dipungkiri pengeluaran juga semakin banyak. Ibu memilih sebagai perempuan karier juga didukung oleh Bapak, tentu saja Ibu tidak meninggalkan kewajibannya untuk membuatkan aku sarapan, menemani aku buat PR dan lain – lain. Mungkin, banyak yang memilih menjadi perempuan karier karena memang faktor ekonomi. Tidak ada orangtua yang ingin menelantarkan anaknya, selalu berusaha agar anaknya dapat hidup lebih layak.

    Sedangkan Kakak perempuanku yang sekarang telah menikah sangat kontras sekali dengan Ibuku. Kakakku memilih untuk menjadi Ibu rumah tangga karena memang suaminya yang menyuruhnya agar fokus menjadi Ibu rumah tangga. Suaminya juga merasa mampu untuk membiayai kedua anaknya. Menjadi Ibu rumah tangga agar selalu bisa memperhatikan tumbuh dan berkembang si buah hati.

    Jadi, perempuan karier maupun Ibu rumah tangga terletak pada pilihan setiap individu, peran suami juga sangat penting apakah seorang istri boleh menjadi perempuan karier atau Ibu rumah tangga. Sejatinya, Seorang Suami adalah Imam dalam keluarga. pilihan yang dipilih oleh seorang istri harus mendapatkan ijin dari suami.

  32. Nama: Desi Namora
    Twitter : @namoradesi
    Kota : Bogor

    Pendapat saya tentang perempuan berkarier VS ibu rumah tangga

    Menjadi seorang perempuan dan ibu merupakan suatu anugerah dari Sang Pencipta. Dilahirkan sebagai seorang perempuan atau menjadi seorang ibu bukanlah pilihan. Anugerah tanggungjawab dari Tuhan. Anugerah untuk bertanggungjawab atas sebuah amanah dititipkannya buah hati. Dan cerita memainkan peran selanjutnya inilah yang menjadi sebuah pilihan, untuk menjadi seorang perempuan berkarier atau menjadi ibu rumah tangga.
    Memilih untuk menjadi seorang perempuan yang mengembangkan karier adalah sah- sah saja. Perempuan berkarier tidak hanya memiliki tanggungjawab di dunia kerjanya saja, tetapi ia juga harus memiliki tanggungjawab atas peran utamanya dan tanggungjawabnya di rumah baik sebagai istri ataupun sebagai ibu. Jadi, seorang perempuan berkarier harus mempunyai kekuatan ekstra n double triple untuk tetap bisa menyelesaikan setiap bentuk amanah yang merupakan paket lengkap dalam hidupnya.

    Sedangkan menjadi ibu rumah tangga, juga merupakan pilihan peran yang tak bisa dipandang sebelah mata. Menjadi full time mommy menyita 24 jam waktu yang dimilikinya. Bertanggungjawab di rumah untuk mengurus pekerjaan rumah, mendampingi perkembangan anak sedari kecil hingga dewasa memikul tanggungjawab sebagai seorang istri serta berada di rumah merupakan pilihan yang tak biasa saat ini. Terlebih bagi ibu yang sudah berkarier sebelumnya dan kemudian memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga, merupakan keputusan dengan penuh kesadaran untuk meninggalkan dunia kerja yang sudah digelutinya.

    Bagi saya, menjadi seorang perempuan berkarier ataupun ibu rumah tangga merupakan pilihan yang mempunyai bentuk tanggungjawab yang sama, yaitu bertanggungjawab dengan keluarganya. Rumahtangga yang dibentuk dari awal pernikahan merupakan sebuah keluarga dimana ada pihak istri dan tentunya suami yang memikul tanggungjawab untuk keluarganya. Dibalik cerita perempuan berkarier dan ibu rumahtangga, peran suami tetap dibutuhkan sebagai bentuk tanggungjawab pemimpin keluarga. Keluarga yang baik dan seimbang membutuhkan kerjasama yang baik antara masing-masing pihak, baik suami dan istri. Terlebih bagi seorang ibu yang single parent, dukungan dan kerjasama keluarga besar merupakan hal yang sangat berarti.
    Baik perempuan berkarier dan ibu rumahtangga idealnya mampu bertanggungjawab atas setiap amanah yang sudah dititipkan kepadanya.

  33. Nama: Yanti
    Twitter : @626yan
    Kota : Surabaya

    menurut pendapat saya tentang perempuan berkarier VS ibu rumah tangga, keduanya sama-sama memiliki kelebihan dan kekurangan.

    Menjadi perempuan berkarir itu juga baik, salah satunya dapat membantu suami secara finansial, membuat seorang perempuan itu menjadi mandiri. Dalam hal ini secara tidak langsung membuat anak mereka juga akan mandiri karena si anak (dilatih) akan terbiasa melakukan apapun sendiri. Tapi disisi lain membuat anak sedikit kekurangan kasih sayang jika kedua ortu sama-sama sibuk. Tp hal ini bisa diatasi dengan memaksimalkan – menjadikan waktu bersama anak (ketika tidak sedang bekerja) menjadi waktu yang berkualitas.

    Kalau menjadi ibu rumah tangga, itu juga bagus. Ibu akan bisa lebih baik dalam mengurus rumah tangga, dan lebih memiliki waktu banyak mengurus anak.

  34. Nama : Reni Judhanto
    Twitter : @ReniJudhanto
    Kota : Madiun

    Menjadi perempuan berkarier atau ibu rumah tangga itu adalah pilihan. Keduanya tak ada yang lebih baik ataupun lebih buruk. Apapun pilihan itu semua mengandung konsekuensi masing-masing.

    Perempuan berkarier (di luar rumah) harus tetap menjalankan tugas dan fungsinya sebagai ibu dan istri. Membimbing dan mendidik anak-anak serta melayani suami tetap tak boleh dilupakan dan ‘dikalahkan’ oleh pekerjaan di luar rumah. Suami yang mengijinkan istri untuk berkarier (di luar rumah) tentu saja harus ikhlas jika istri tak dapat mendampingi anak-anaknya 100%. Namun, disisi lain menjadi perempuan mandiri (tanpa mengecilkan peran suami tentunya) akan membuat perempuan tetap mampu berdiri tegak jika suatu saat terjadi hal-hal yang tidak dikehendaki. Perempuan yang berkariet (di luar rumah) tentu saja akan lebih memiliki banyak wawasan daripada ibu rumah tangga biasa yang tidak ingin mengembangkan diri dan hanya puas dengan keadaannya saat itu.

    Sementara perempuan yang memilih menjadi ibu rumah tangga juga harus siap dengan konseskuensinya. Rutinitas kegiatan sehari-hari bisa jadi memicu perasaan jenuh, itu sebabnya mereka harus mampu menciptakan kegiatan2 yang bisa mengalihkan perasaan jenuh mereka (ngeblog salah satu pilihan yang tepat kayaknya). Bukan berarti tak bekerja di luar rumah membuat ibu rumah tangga tak mampu mengaktualisasikan diri. Dengan perkembangan teknologi dewasa ini perempuan mampu untuk mengaktualisasikan diri dimanapun berada. Segi positif ibu rumah tangga adalah dia bisa mendampingi anak-anak secara penuh dan mempunyai waktu lebih banyak untuk melayani suami. Bagi Ibu rumah tangga yang tidak memiliki semangat maju dan tak ingin mengembangkan diri maka dia akan jauh tertinggal dari suami dan anaknya, sehingga bisa jadi akan menjadi sosok yang membosankan. Itu sebabnya, meski hanya menjadi ibu rumah tangga mereka dituntut untuk tetap memperluas wasasan dan mengembangkan diri.

  35. nama: Eka Wahyuni
    Twitter: @ekabyan
    Kota: Yogyakarta

    perempuan berkarir vs ibu rumah tangga
    bagi saya perempuan berkair sekaligus menjadi ibu rumah tangga adalah pilihan cerdas yang harus kita pilih saat ini, dua kriteria tersebut bukanlah dua perbedaan yang saling bertentangan atau baik dan buruk atau boleh dan tidak, melainkan dua hal tersebut merupakan sesuatu hal yang saling berhubungan, ibu rumah ytangga yang identik dengan mengurus rumah dan anak tidak serta merta tidak dapat dilakukan oleh perempuan berkarie meskipun porsi atau dosisnya berbeda, bagi saya untuk era sekarang justru dituntut bisa menjadi ibu rumahtangga sekaligus menjadi permepuan berkarier karena keduanya bisa saling mendukung dalam menentukan masa depan tumbuh kembanga anak maupun masa depan hubungan antara suami dan istri, bagi ibu rumahtangga yang mungkin tidak ada kesempatan berkarier sebaiknya tetap meluaskan pengetahuhannya dengan membuka peluang bagi pemenuhan kebutuhan informasi yang banyak didapat oleh perempuan berkarier, yang banyak manfaatnya untuk memperlancar prosesnya dalam memanaj rumah tangganya, pun bagi perempuan berkarie juga harus bisa membagi waktu sedemikian rupa sehingga urusan karier bisa digunakan untuk memfasilitasi tumbuh kembang anak juga harus bisa memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk dapat tetap berfungsi sebagai ibu rumah tangga. artinya sebagai ibu rumah tangga harus selalu berusaha jadi ibu rumah tangga yang cerdas bagi anak-anak dan suami dan bagi permepuan berkarier selain menigkatkan kualitasnya dalam berkarier juga harus bisa menyeimbangkan fungsinya di keluarga sehingga akan tercapi keluarga yang sakinah mawadah warahmah.

  36. Nama : Sri Darmawati
    Akun Twitter : @Eyiaz_AB
    Kota : Mataram

    Perempuan berkarier vs Rumah Tangga :
    Memilih menjadi wanita karier atau fokus padarumah tangga saja merupakan pilihan yang sama-sama bijak. Wanita berkarier menunjukkan sifat dan sikap sebagai wanita yang mandiri dalam hal finansial. Wanita-wanita karier biasanya memiliki visi dan misi dan pemikiran yang jauh ke depan mengenai rencana-rencana masa depan agar bagaimana mendapatkan hidup yang matang. Adapun wanita / ibu rumah tangga juga tak kalh mulia. Wanita yang memutuskan menjadi ibu rumah tangga merupakan wanita yang memiliki cinta kasih yang besar dan rela berkorban. Biasanya, membangun rumah tangga yang kokoh dengan anak-anak atau generasi yang kuat adalah visinya, misinya yaitu dengan mengurus dan mengabdikan diri untuk keutuhan rumah tangga. senantiasa menguatkan suami dan menyediakan segala keperluannya, mengurus anak-anaknya. Wanita mulia. Keduanya sama-sama memiliki sisi posotif yang besar.

    Komentar terhadap review Don’t Worry to be a Mommy :
    Review ini sangat bermanfaat bagi pembaca. Mengulas isi buku serta kelebihan-kelebihan buku. akan tetapi, review ini tidak mengulas kekurangan buku. Buku yang bagus tentu mempunyai sisi kurangnya juga. Ulasan tentang sisi kurang suatu buku dapat menjadi masukan bagi penulis. Kritik adalah salah satu pembangun untuk menyempurnakan ^_^

  37. Nama : Fardelyn Hacky
    Twitter : @fardelynhacky1
    Kota :Banda Aceh

    Jawaban :

    Sekalipun perempuan telah dijamin nafkahnya oleh suaminya jika sudah menikah atau oleh orangtua/wali jika belum menikah, bukan berarti Islam tidak membolehkan perempuan bekerja untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Islam membolehkan perempuan memiliki harta dan penghasilan sendiri. Bahkan perempuan pun boleh berusaha mengembangkan hartanya agar semakin bertambah. Sebagaimana Allah Swt berfirman : “… Bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan dan bagi wanita (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan” (Qs An Nisa 32).

    Setiap perempuan tentu berharga, apapun latar belakangnya, bekerja di rumah atau di luar rumah.

    Perjuangan perempuan yang bekerja di luar rumah tentu lebih berat dibandingkan dengan perempuan yang bekerja di rumah. Sepulang bekerja harus melakukan banyak pekerjaan yang sama seperti pekerjaan perempuan yang berbisnis atau bekerja di rumah, dalam waktu yang singkat karena pulang sudah sore. Selain itu, mereka berusaha tetap menjaga kualitas hubungan dengan suami dan anak-anak, mengajari mereka jika bertanya ini itu tentang pelajaran sekolah, meski kelelahan fisik tak bisa ditampik. Demi menjaga kualitas dan harmoni cinta, kelelahan disingkirkan. Tentu ini bukan hal mudah. Dan untuk perempuan yang mampu melakukan hal ini, sungguh perjuangannya tak kalah mulia dibanding perempuan yang bekerja di rumah saja. Maka, pilihan menjadi perempuan yang bekerja di luar rumah atau di rumah saja, ada pada perempuan, tentu saja dengan dukungan dari keluarga terdekat dan suami, dengan berbagai konsekuensinya. Tidak bisa dibandingkan mana yang lebih baik atau lebih buruk. Mana yang superior atau inferior. Keduanya sama-sama memiliki nilai ibadah, asal dilakukan semata karena ingin mencari ridho Allah. Insya Alllah.

  38. Pingback: [LOMBA BLOG] Book Addict is the New Sexy: Virus Membaca | Luckty Si Pustakawin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s