REVIEW Don’t Worry to be a Mommy

dont worry to be a mommy
Mama adalah sahabat saya. Setiap saya menemukan masalah, Mama adalah orang pertama yang saya curhati. Saat saya senang, sedih, kesal, marah, semua saya ceritakan ke Mama.

Mama adalah koki pribadi saya. Biarpun menu yang bisa beliau masak terbatas, saya sama sekali nggak keberatan makan masakan mama terus.

Mama adalah dokter pribadi saya. Walaupun papa saya seorang dokteranak, karena kesibukannya, Mama lebih sering menemani kami saat sakit.

Mama adalah fotografer saya. Setiap momen yang saya lewati selalu tertangkap oleh kamera Mama. Mama memang tidak jago fotografi, tapi beliau jago menangkap momen-momen penting dalam hidup anaknya.

Mama adalah penasihat pribadi saya. Masalah apa pun saya konsultasikan dengan Mama. Kalau saya bingung harus bertindak apa, tinggal tanya Mama yang entah bagaimana caranya selalu punya cara terbaik untuk menyelesaikan berbagai persoalan saya.

Mama adalah supporter sejati saya. Apa pun keinginan saya, Mama selalu jadi pendukung nomor satu.

Mama adalah penghibur pribadi saya. Kapan pun saat saya bersedih, Mama selalu siap menghibur saya. Menceritakan kisah-kisah lucu, mengajak sayaberjalan-jalan, atau siap memberikan kata-kata penghiburan yang selalu berhasil membuat saya tersenyum lagi.

Mama adalah sekretaris saya. Mama selalu rajin menulis jadwal saya supaya bisa disesuaikan dengan jadwalnya.

Mama adalah bodyguard saya. Walaupun badannya nggak besar-besar amat, tapi mama sangat berani melawan orang yang menurutnya merugikan saya. Saya merasa aman sekali kalau ada mama.

Mama adalah guru saya. Bukan hanya guru yang mengajar pelajaran sekolah, tapi juga guru hidup saya. Beliau yang mengajarkan etika, sopan santun dan moral pada saya.

Mama adalah segalanya buat saya. Sama seperti ibu lainnya, mama saya bekerja 24 jam sehari, 7 hari seminggu, 30 hari sebulan, dan 12 bulan dalam setahun. Bahkan saat sepertinya sedang nggak ngapa-ngapain, saya yakin, Mama sedang memikirkan anaknya. Tanpa dibayar pula! (hlm. 72)

Manis sekali yang dialami ikatan antara penulis dengan ibunya. Ketika seorang perempuan menginjak usia dewasa, berarti dia akan ke jenjang selanjutnya; menjadi ibu. Penulis yang merupakan seorang dokter anak, akhirnya juga merasakan apa yang dialami ketika menjadi seorang ibu, mulai dari hamil hingga mengurus sang bayi.

Menjadi dokter tidak hanya membutuhkan otak, tapi yang paling penting di atas segalanya adalah hati. (hlm. 98)

Dokter spesialis anak harus sekolah bertahun-tahun sebelum boleh praktik. Bukan sekedar googling aja untuk nge-diagnosis. (hlm. 38)

Baby Blues Syndrome adalah salah satu bentuk depresi di mana ibu merasa sedih dan galau berkepanjangan setelah melahirkan. Hal ini sangat berhubungan dengan perubahan hormonal ibu yang baru saja melahirkan. Awalnyaibu akan merasa sangat senang, kemudian bercampur dengan rasa sedih sampai depresi. Saat Baby Blues Sydrome ini terjadi, mood ibu akan mudah sekali berubah. Kadang senang untuk sesaat, sedih, gampang tersinggung, bahkan marah.

Dokter juga manusia. Begitu juga dengan yang dialami penulis. Merasakan juga dengan apa yang namanya Baby Blues Sydrome. Mulai dari hiruk pikuk mengasuh bayi hingga dilema bekerja atau mendampingi anaknya full 24 jam.

dont worry to be a mommy 1

“Keputusan yang terbaik diambil Mama belum tentu yang terbaik juga buat kamu. Pikirkan lagi mateng-mateng. Nggak semua orang punya kesempatan berharga seperti kamu untuk menjadi dokter anak. Menjadi dokter itu amanah, bukan pilihan. Dengan menjadi dokter, kamu bukan hanya menolong orang, tapi juga memberi teladan pada Naya. Nggak perlu 24 jam ada di rumah kok untuk bisa dekat dengan anak. It’s not always about quantity, but quality that matters. (hlm.73)

Suka sekali dengan nasehat yang diberikan mamanya. Saya jadi teringat dengan twit seorang yang meremehkan perempuan yang bekerja. Padahal tidak ada yang salah dengan perempuan yang memilih bekerja atau full di rumah. Semua itu pilihan. Dulu, pas baru-barunya lulus, saya sempat merasakan yang namanya ‘menganggur’ di rumah. Ternyata hidup saya lempeng kayak penggaris. Gak berwarna. Mononton dari pagi sampai malam. Saya sadar, meski saya tipe anak rumahan, tapi bukan yang betah terus-terusan mendekam di rumah. Saya lebih senang ketika bekerja. Berhubung dari awal bekerja sesuai passion, ya enjoy-enjoy aja sama pekerjaan yang dijalani. Saya kagum dengan perempuan yang 24 jam mencurahkan perhatiannya untuk rumah dan rumah. Kagum dengan konsistensi mereka. Jujur, kalo saya nggak betah :p

Motherhood is really a heart work.

Whatever you do with your children, from the bottom of your heart, you always want the best for your children –beyond that what you have enjoyed orexperienced in your own lives. Being a mother is learning about strengths you didn’t know you had and dealing with fears you didn’t know existed. I can say proudly that my greatest blessing is being a mother. (hlm. 74)

Remember, no one can tell you that you’re not a good mother. No one. Motherhood is a heart work and work with heart never fails. (hlm. 65)

For all mothers in the world, please stop arguing about full timemother or working mother. We are all mother. Period. It’s all that matters.(hlm. 84)

Mengurus anak tidak segampang membalikkan tangan. Banyak pengetahuan yang harus diketahui dalam mengurus anak. Penulis menyelipkan seputaran tips-tips ringan tentang ini. Ada juga pengalamannya ketika bertemu dengan banyak macam klien. Yang paling menarik adalah tentang pembahasan ASI yang sekarang ini lagi gembor-gembor bahkkan dijadikan tren.Menarik sekali pas mengulas ini.

Menyusui atau tidak memang merupakan pilihan setiap ibu. Tapi harus diingat bahwa mendapatkan ASI adalah hak semua anak. Sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk memberikan hak anak kita, kan? (hlm. 60)

Beberapa kalimat favorit:

  1. …setiap ibu pasti mempunyai masalah dan pertimbangan sendiri dalam memutuskan suatu hal, yang harus kita yakini, semua ibu ingin yang terbaik untuk anaknya. (hlm. 62)
  2. Di mana pun berada, pikiran ibu selalu ada pada anak-anaknya. (hlm. 83)
  3. Setiap detik yang kita lewati dengan kesehatan, setiap menit yang kita jalani dengan rasa aman, serta hari-hari yang kita lalui bersama keluarga merupakan hal-hal sederhana, berharga dan penting, namun sering terlupakan untuk disyukuri. (hlm. 104)

Covernya manis, perempuan sekali. Dominasi warna pink dan sentuhan hijau. Di atasnya ada jemuran yang merepresentasikan kehidupan penulisnya. Anak dan karir. Jemuran ini juga akan kita temui di tiap halaman bagian bawah. Oya, di setiap pergantian tema dan bab, kita akan menemukan gambar sepatu bayi dan kereta dorong, unyu😀

dont worry to be a mommy 2 dont worry to be a mommy 3 dont worry to be a mommy 4

Selain sibuk menjadi dokter anak, penulis juga aktif sebagai penyiar radio dan presenter televisi lokal. Kalau kita menyimak tulisannya di http://www.metahanindita.com/ cukup produktif, mengulas kesehariannya menjadi dokter anak dan cerita tentang perkembangan anaknya, Naya.

Otak bayi bakal menanam kepercayaan ke ibu dan ini akan terus ada sampai besar nanti. (hlm. 28)

Keterangan Buku:

Judul                : Don’t Worry to be a Mommy

Penulis              : dr. Meta Hanindita

Editor               : Herlina P. Dewi

Desain cover    : NisaImawati Hidayat

Layout isi          : Deeje

Proof reader     : Tikah Kumala

Penerbit            : Stiletto Book

Terbit               : September 2013

Tebal                : 171 hlm.

ISBN               : 978-602-7572-18-8

37 thoughts on “REVIEW Don’t Worry to be a Mommy

  1. Pingback: [GIVEAWAY] Don’t Worry to be a Mommy | Luckty Si Pustakawin

  2. Buku ini recommended banget ya pastinya untuk para calon ibu seperti saya *kode🙂
    Karena sebagai calon ibu, pasti akan ada kekhawatiran apakah bisa nanti menjadi ibu yang baik bagi anak-anak
    dan kita lebih bisa menghargai ibu kita setelah kita menikah dan memiliki keluarga sendiri🙂

  3. bukunya bagus mbak. tertarik juga pengen baca tentang ‘keputusan’ dan tips-tips menariknya. jadi semakin ingin menghadiahkannya ke teman yang akan menjadi ibu insyaa Allah bulan ini.

    referensi yang baik pula untuk kawan lain calon ibu dan termasuk saya hehe
    terima kasih

  4. Bagi saya pribadi yang saat menikah langsung berinteraksi dengan adanya anak [melanjutkan peran sebagai ibu], buku yang dengan tema to be mommy tentu sangat compatible sebagai kamus mini mesti bagaimana bersikap dan memanage emosi saya dalam berharmonisasi dengan anak-anak.

  5. bener banget tuh kalimat-kalimatnya. Mama adalah segalanya buatku, mama bisa jadi apa dan siapa saja buatku🙂
    mama selalu ada buat aku kapan saja dan di mana saja
    Mama is the best deh pokoknya! I love my Mom

  6. Komentar saya ttg review ini, yang pasti positif ya soalnya review ini tdk mengandung sara justru malah mengajak para pembaca untuk mengetahui buku karya dari seorang dokter dan membacanya. Review ini jg scr tdk langsung supaya menumbuhkan rasa minat membaca bagi para pembaca yg membaca review ini

  7. Kutipan di buku ini bagus sekali, jadi ibu memang bukan pekerjaan yang gampang. Buku ini pasti bermanfaat sekali bagi perempuan. Memberi gambaran bagaimana menjadi seorang ibu menurut kacamata ibu Meta Hanindita. Jelas sekali untuk menjadi ibu yang baik harus dibekali dengan pengetahuan yang cukup. Nggak ada salahnya baca buku ini dan menimbun ilmu dari sekarang untuk persiapan di masa mendatang.

  8. Walau saya belum jadi ibu tapi buku ini seperti sedikit memberikan pengertian seperti apa rasanya jadi ibu nanti. Bukankah wanita itu pada akhirnya akan diberi kesempatan menjadi seorang ibu?
    Bener apa yang ditulis mbak Meta. Dulu teman sekolah suka mengejek dan bikin saya nangis tapi kata-kata ibu yang bilang saya nggak jelek, cuma itu saja bisa langsung membuat kepercayaan diri saya muncul.

  9. sudah kodratnya wanita untuk menjadi seorang ibu. hem, tetapi, bagi yang seorang ibu, melahirkan adalah hal yang menakutkan. yang bisa mempertahurkan dua nyawa, nyawa dirinya dan nyawa bayinya.

    tetapi dengan pengetahuan yang cukup, seperti dalam buku ini. kekhawatiran sebelum hamil dan melahirkan bisa diatasi.

  10. reviewnya menarik, jadi penasaran sama bukunya. kalo mama bisa segalanya, nemenin anak dan mendukung anaknya, pasti buku ini juga berisi tips dan kisah yang bisa diteladani dari penulis. pembaca bisa menangkap hikmah yang ingin disampaikan. apalagi sering juga aku denger kalo baby blues itu paling ditakuti terutama ketika baru dapet anak pertama. dukungan suami harus sepenuhnya mendampingi istrinya melewati masa-masa itu sehingga ga akan jadi masalah

  11. Buku “Don’t Worry to be a Mommy” karya Mbak Meta Hanindita mencoba menjawab kegelisahan kaum perempuan yang akan bertambah perannya, yakni jadi seorang ibu.

    Perempuan masa kini adalah perempuan yang aktif dan mandiri. Keinginan untuk berprestasi di dunia karier begitu menggebu yang membuat dirinya kian bersinar. Namun, apa yang terjadi ketika rumah memanggilnya? Ketika suara mungil anak-anak mengajaknya untuk pulang ke rumah? Resah!

    Rasanya tentu campur aduk, antara ingin berbakti dengan keluarga dan terus bergiat di luar rumah karena dengan cara itu eksistensinya diakui, skillnya terasah, passionnya terlakoni, mampu membangun relasi sosial hingga membangun jejaring.

    “Don’t Worry to be a Mommy” hadir untuk membuka mata dan hati mereka yang tengah resah dengan bentuk bercerita seperti seorang sahabat yang tengah berbagi pengalaman. Apalagi, si sahabat ini telah menjalankan perannya sebagai ibu sekaligus berprofesi sebagai dokter. Tentu banyak informasi berharga yang disampaikan.

    Review “Don’t Worry to be a Mommy” nya overall sudah bagus, cukup komplet sehingga calon pembaca buku tersebut mendapat gambaran akan isi buku. Namun, ada beberapa masukan dari saya, yakni:

    1. Keterangan Buku sebaiknya diletakkan di awal, agar pembaca tahu identitas buku terlebih dulu sebelum membaca reviewnya,

    2. Ada hal yg kurang nyambung.

    a. Manis sekali yang dialami ikatan antara penulis dengan ibunya. >> Manis sekali yang dialami [?] ikatan antara penulis dengan ibunya.

    b. Dokter spesialis anak harus sekolah bertahun-tahun sebelum boleh praktik. Bukan sekedar googling aja untuk nge-diagnosis. (hlm. 38)

    ——- > missing, nggak nyambung: di atas bahas tentang DSA, di bawanya bahas baby blues

    Baby Blues Syndrome adalah salah satu bentuk depresi di mana ibu merasa sedih dan galau berkepanjangan setelah melahirkan.

    c. Dokter juga manusia. Begitu juga dengan yang dialami penulis.
    ——-> missing, ada yang nggak nyambung
    “Keputusan yang terbaik diambil Mama belum tentu yang terbaik juga buat kamu. […]

    3. Di atasnya ada jemuran yang merepresentasikan kehidupan penulisnya. […] >> jemuran representasi kehidupan penulisnya?

    Bisa dijelaskan?

    Nama: Ratri
    Akun Twitter: @ratweezia
    Domisili: Yogyakarta

  12. Membaca bagian awal review dan menghubungkannya dengan judul buku, saya sempat berfikir bahwa buku ini ada cenderung pada Ibu Rumah Tangga sebagai pilihan terbaik para Ibu. Tapi kemudian kutipan dari Buku tersebut merupakan pengantar dari latar belakang penulis memandang sosok Ibunya. Sayangnya kemudian review ini meloncat pada pengalaman kejadian yang dihadapi penulis buku saat memilih profesinya sebagai dokter anak dihadapkan dengan posisinya sebagai Ibu seperti baby blues syndrom. dan paragraf berikutnya kemudian meloncat pada pilihan pereview atas bagian bagian yang mengesankan dari buku. Agak sedikit membingungkan. pereview juga menulis keterangan buku di bagian akhir. sah-sah saja, namun saya cenderung lebih suka ditempatkan di bagian awal sebagai general description dari buku, sebetulnya itu soal selera saja.

    Diluar soal alur dari Review, Pereview dengan cerdas memilih bagian -bagian yang mengesankan dan menarik dari buku ini dan kemudian diulas dengan sudut pandang dan bahasa penuturannya sendiri, Menegaskan hal-hal yang ingin disampaikan penulis dalam bukunya dengan analisa pereview. Yang pada intinya ingin menyeimbangkan antara dua kubu ibu berkarir vs ibu rumah tangga. tema ini bukan hal yang baru, tetapi ketika buku ini justru berangkat dari pengalaman pribadi penulis, maka suasana bathin yang tertuang dalam buku ini menjadi nilai tambah tersendiri.

    Terimakasih.

  13. Speechless…

    Itulah kenapa aku sayang ibu, tak bisa berhenti mencintainya…

    dan TAK BOLEH BERHENTI!

    ^^

    Ibuku adalah pemilik doa paling mujarab selain Tuhan dan suami…

    *****

    Kadang aku suka ngintip kesini buat belajar nge-review…

    Makasih mbak Luckty…

    *****

    Review-nya keren kok (ini pendapatku sebagai newbie pereview)…

    Bagian-bagian yang berkesan yang diulas, dan ini membuatku penasaran dengan buku ini…

  14. Bagian awal hampir membuat saya menitikkan air mata, “Kok kayak ibuku banget”.

    Diluar teknik kepenulisan, review ini SUKSES membuat saya kepingin sekali punya bukunya. Rasanya buku ini menjadi buku wajib bagi ibu ataupun calon ibu (seperti saya hehe). Belajar bagaimana menjadi ibu, persiapannya sampai solusi-solusinya. Aaa mudah-mudahan kesampean punya buku ini ^_^

  15. Kalo dari reviewnya, sepertinya buku ini menarik bgt karena berisi pengalaman pribadi penulisnya. Bahasa yang dipake penulis juga lebih ringan seperti yang mbak luckty kutip di awal2 review. Recommended bgt lah gak cuma buat wanita yg sedang menunggu kelahiran bayinya tp juga semua org yang pengen tau apa2 aja yang dialami wanita saat mengandung.

    @zasachi

  16. Preview nya menarik! Jd pingin baca bukunya!! 🙂
    Meski sdh jd ibu 2 anak, pernah bekerja diluar rumah, dan skrg sdg menjalani ‘training’ menjadi full time mom di rumah (hehehe…) saya pikir membaca buku ini secara menyeluruh bisa menambahkan pengetahuan yang sangat penting buat saya, khususnya.
    Saya yakin bukunya cocok buat siapa saja yg mau belajar jd orang tua..baik mereka yg masih blm menikah atau mereka yg sudah menikah. Karena jadi orang tua tidak ada sekolah dan batasan kemahirannya.

  17. Wah, ulasan yang menarik. Saya jadi tertarik ingin baca bukunya juga…🙂. Selain manfaat dari cerita & tips-tipsnya, kelihatannya buku ini didesain dengan imut & lucu seperti bayi, jadi tambah menarik & gemes😀. Saya juga harus siap-siap nih, hehe. Harus mulai persiapan ilmu buat menghadapi moment nervous jadi ibu ini kelak.

    Dan, ah. Saya jadi kangen ibu juga…^^’

  18. ibu rumah tangga bisa lebih banyak mengetahui perkembangan anak seperti bisa telungkup, berjalan, memanggil kata ibu, deket sama anak, dll. ibu rumah tangga full mengurus rumah & buah hati.sedangkan ibu pekerja bisa bertemu bercengkrama dgn buah hatinya disaat weekend dgn full mengurus buah hati seperti menyuapi makan, mandiin, tidurI buah hati, berjalan ketaman/ kebun binatang,menemani nonton kartun bersama suami.ibu adalah tugas mulia, karena dengan beliau tempat belajar dasar dirumah : sikap, agama, kasih sayang, berbagi suka & duka sebelum menempuh pendidikan sekolah tentang hingga akhir melihat senyum bahagia meliat buah hati sukses

  19. Membaca halaman demi halaman buku ini membuat saya terperangkap dalam kisah seru penulisnya. Pada bab-bab awal, ketika penulis berkisah tentang masa-masa kehamilannya, emosi saya naik turun mengikuti larik demi larik yang terangkum menjadi kisah yang begitu mendebarkan.

    Buku ini rekomended untuk calon mom dan new mom yang ingin mendapatkan informasi seputar kehamilan, persalinan, sekaligus motherhood being. Kelebihan buku ini adalah ketika membacanya, seperti tengah mendengar seorang sahabat meremind ingatannya untuk berbagi kebaikan dan pengalaman berharga, lengkap dengan tips. Dan untungnya, ketika penulis menggunakan istilah medis, penulis tak lupa untuk mencantumkan pengertian singkatnya. Lagi-lagi, dalam bahasa yang mudah dipahami oleh pembaca yang datang dari kalangan non medis.

  20. Yang pertama saya mau kasih komentar untuk penulisan review ini.
    1. Ada baiknya kalau biodata buku dan cover utamanya diletakkan dibagian paling atas sebelum penulis review menuliskan review-nya, sehingga pembaca bisa tahu lebih dekat buku di-review.
    2. Ada satu kalimat yang ketinggalan spasi. > Walaupun papa saya seorang dokteranak, karena kesibukannya… Pada kata dokteranak tidak menggunakan spasi ya.
    3 Pada bagian awal tidak konsisten pada saat menggunakan kata “Mama” ada yang menggunakan huruf kapital ada yang tidak, padahal untuk menunjukkan fungsi yang sama.
    Itu aja sih😀
    4. Nah, pada bagian ini ni, kok saya rasa rada dipaksain buat nyambung deh. Ya, walaupun sebenarnya dibuka dengan paragraf baru.
    >> Dokter spesialis anak harus sekolah bertahun-tahun sebelum boleh praktik. Bukan sekedar googling aja untuk nge-diagnosis. (hlm. 38)
    Setelah kalimat ini berakhir, dibuka lagi dengan pembahasan Baby Blues Syndrome.

    Lalu yang kedua tentang keseluruhan review.
    Setelah saya membaca review ini, saya ngerasa penulis review sedang memberikan buku yang utuh pada saya dengan judul “Don’t Worry to be a Mommy” sehingga mampu menyedot saya untuk terus membacanya sampai akhir. Dari bagaimana penjelasan covernya, pembatas-pembatas bagian di tiap cerita yang ada sepatu anak sama dorongan bayi. Unyu nggak sih?! T.T ah, jadi ngebelet pingin punya anak. *abaikan*

    Dan ternyata buku satu ini cocok banget buat saya yang mau menikah *ya kira-kira tiga tahun lagi XD”
    Dari review yang saya baca, buku ini kayaknya penuh quotes yang aduhai deh ya. Sebagaimana piawainya penulis menyuguhkan kata-kata cinta untuk anaknya yang bernama Naya. Selain quotes tentu ada pula tips-tips untuk seorang ibu.
    Aduh, udah ah, dari review ini udah kebayang dengan jelas kalau “CALON IBU” dan “IBU-IBU” wajib punya buku ini. Eits! Tapi “CALON BAPAK” atau “BAPAK-BAPAK” juga mesti punya, sebagai kado untuk “CALON IBU DAN IBU-IBU” yang mempersiapkan diri untuk menjadi ibu yang hebat.

  21. Yang pertama saya akan sedikit mengomentari tentang penulisan review.
    1. Untuk biodata buku, ada baiknya diletakkan dibagian atas, sebelum me-review, bukan dibagian akhir. Sehingga pembaca lebih dekat dengan buku yang di-review.
    2. Walaupun papa saya seorang dokteranak, karena kesibukannya… < kurang spasi
    3. Tidak konsistennya dalam penggunaan kata "Mama" < Pada paragraf-paragraf awal, ada yang menggunakan huruf kapital, ada yang nggak.
    4. Mengurus anak tidak segampang membalikkan tangan. < Membalik tangan atau membalik telapak tangan? Gimana caranya membalik tangan?
    5. Dokter spesialis anak harus sekolah bertahun-tahun sebelum boleh praktik. Bukan sekedar googling aja untuk nge-diagnosis. (hlm. 38) Setelah kalimat ini lansung ngebahas Baby Blues Syndrome. Agak nggak nyambung, sih, ya walaupun menggunakan paragraf baru.

    Yang kedua, tentang keseluruhan review.
    Tadi saya udah ngepost komentar yang pertama, tapi kok nggak ada ya? -_-
    Yaudahlah, lupakan aja.

    Dari review ini, saya ngerasa disuguhkan buku utuh oleh penulis review. Dari cover yang diceritakan sampai pembatas adegan tiap cerita; sepatu anak kecil dan dorongan bayi. Lucu banget kan, ya?! T.T jadi pingin punya anak.

    Danmenurut saya penulis review sukses untuk meringkas buku ini. Penulis review berhasil menyedot saya untuk terus-terusan membaca review-nya sampai akhir. Dan, voila! Buku dengan judul "Don't Worry to be a Mommy" berhasil banget menarik perhatian saya. Begitu banyak quotes yang disuguhkan oleh penulis, sebagaimana piawainya penulis merangkai kata cinta untuk anaknya, Naya.
    Tentu selain quotes, ada juga tips-tips untuk mommy-mommy yang kece di luar sana dalam mempersiapkan diri sebagai mommy yang hebat.

    Udah ah, dari review ini udah tergambar dengan jelas, bahwa buku "Don't Worry to be a Mommy" wajib dimiliki oleh "CALON IBU" dan "IBU-IBU" untuk menyambut gelar sebagai ibu yang hebat. Eits! Tapi, untuk "CALON BAPAK" dan "BAPAK-BAPAK" wajib juga punya nih buku, sebagai kado untuk "CALON IBU" dan "IBU-IBU" yang setia mendampingi kalian.

    Kalau "CALON IBU" dan "IBU-IBU"-nya hebat, siapa yang bangga? Ya, "CALON BAPAK" dan "BAPAK-BAPAK"

  22. Nama: Winta Hari Arsitowati
    Twitter: @wintarsitowati
    Kota Surabaya

    Membaca review buku “Don’t Worry to be a Mommy” di atas menimbulkan perasaan campur aduk dalam hati saya: excited mengikuti pengalaman Meta Hanindita, sang penulis buku, menjadi seorang dokter sekaligus ibu bagi anaknya, sekaligus senang dan terharu melihat kedekatan Meta dengan ibunya. Banyak pembelajaran yang dapat diambil dari buku ini, yang semuanya tertuang dalam review di atas.

    Usaha Meta untuk menjadi seorang ibu yang baik bagi Naya, anak perempuannya, dan dokter anak yang profesional tergambar jelas dari review di atas. Walaupun telah menjadi istri dan memiliki seorang anak, Meta tetap mempertahankan profesinya sebagai dokter anak. Namun hal itu tak menyurutkan perhatian Meta pada Naya. Hal ini menunjukkan bahwa menjadi seorang ibu bukan berarti harus meninggalkan profesi yang sedang kita jalani. Seperti halnya kutipan yang diambil penulis review dari buku Meta bahwa untuk menjadi seorang Ibu bukan berarti harus selalu 24 jam berada di sisi anak-anak. It’s not always about quantity, but quality that matters.

    Kedekatan hubungan Meta dan sang ibu juga dipaparkan oleh penulis review dengan apik. Dari pemaparan penulis, ditunjukkan bahwa bagaimanapun kondisi seorang wanita, apakah dia sudah bekerja, menikah atau menjadi seorang ibu, ia akan tetap menjadi anak yang disayangi ibunya. Hal itu menandakan bahwa kedekatan antara ibu dan anak sangat penting. Dengan komunikasi yang lancar antara ibu dan anak, seorang anak tak akan canggung untuk menceritakan segala sesuatu dan meminta saran pada sang ibu. Dari situ, seorang ibu juga bisa menjadi panutan bagi anaknya. Namun bukan berarti seorang anak harus selalu mengikuti “jejak” ibunya. Ketika sang anak sudah cukup dewasa, seorang ibu juga harus memberi keleluasaan bagi anak untuk memilih jalannya sendiri. Hal ini pula yang digambarkan penulis review dalam tulisannya mengenai buku “Don’t Worry to be a Mommy”. Buku ini sangat layak untuk dibaca, tidak hanya oleh para ibu, namun juga untuk para wanita yang siap menikah agar mereka mendapat wawasan untuk menjadi seorang ibu yang baik nantinya.

    Secara keseluruhan, review di atas cukup menarik. Penulis review mampu mengantarkan pembaca dalam pengalaman Meta menjadi seorang Ibu dan wanita karier. Pembaca juga terbawa oleh kisah Meta dan Ibunya yang tetap menjaga hubungan ibu-anak dengan baik. Penulis mengemas review dengan kata-kata yang menarik dan mudah dimengerti. Dengan demikian pembaca dapat mengerti betapa pentingnya menjadi seorang anak, wanita, dan ibu yang baik. Untuk menjadi ibu yang baik memang tidak mudah, namun jika mau belajar dan dengan ikhlas menjalani peran sebagai anak, istri, dan seorang ibu, seorang wanita pasti bisa menjadi ibu yang baik bagi anak kita.nanti. So, Don’t Worry to be A Mommy, guys!🙂

  23. Pokoknya … Mama juga segalanya bagi saya :’) Kisah ttg Ibu memang tidak ada habisnya ya. Buku apapun yg membahasnya, pasti membuat hati ini teringat pd segala jasanya.

    Banyak juga loh penderita Baby Blues Syndrome, kebanyakan para ibu muda. Baiknya membeli buku ini sebelum melahirkan agar bisa antisipasi bila masalah ini terjadi.

    Bener banget, sindrom tersebut bisa membuat ibu malas meneteki, “Menyusui atau tidak memang merupakan pilihan setiap ibu. Tapi harus diingat bahwa mendapatkan ASI adalah hak semua anak. Sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk memberikan hak anak kita, kan?”

    Tapi … tidak semuanya bisa menikmati buku semacam ini. Banyak yg merasa buku ini ‘berat’. Mungkin kamu perlu menambah rentang usia pembaca atau spesifikasi yg lebih lagi dalam keterangan buku2 yg kamu review. Saran saja sih.

  24. Subhanallah,

    Saya tidak tau harus berkata apa tentang seorang mama.
    Saya hanya mau minta maaf sebesar-besarnya pada mama jika selama ini telah menyakiti perasaan mama baik dari sikap mau pun ucapan yang buruk. Saya takut, karena saya juga seorang perempuan, suatu saat nanti akan menjadi seorang mama juga dari anak-anakku kelak.

    Buku bacaan yang sangat menginspirasi, Dok. Semoga berkah ya amin.🙂

  25. kenal Mbak Meta dari SMP , waktu mbak Meta masih jadi penyiar radio. Eh sekarang udah punya anak dan punya buku tentang parenting.. sering dengerin talkshow tentang bukunya di radio surabaya. huwaaa emang penting bgt bagaimana menghadapi baby blues. serem juga sih baby blues itu gimana😦

  26. resensinya bikin ngiler banget ama bukunya, buat saya yang belum nikah memang ada satu dua kekhawatiran jika suatu saat dianugerahi Tuhan untuk menjadi seorang mommy, entahlah kenapa.🙂.
    Menjadi seorang ibu memang tak mudah, tapi dari sekian ibu2 yang saya tanyakan bagaimana menjadi seorang ibu, lebih dominan senengnya, lebih banyak ibu yang senang dan merasa sempurna menjadi seorang perempuan karena telah dianugerahi titipan anak dan suami. Meski kekhawatiran itu selalu ada, namun menjadi ibu adalah cita-cita tertinggi yang ingin dikabulkan sang Pencipta. semoga kelak ada masa Tuhan memberi anugerah kepada saya untuk diberi gelar menjadi seorang ibu. dan buku ini Don’t worry to be a mommy bisa menjadi buku acuan bagi perempuan2 lainnya yang belum menjadi mommy, sehingga kekhawatiran itu bisa menemukan penawarnya.🙂

  27. Salah satu buku favorit nih, meskipun uda punya anak dan insyaAllah mau punya yang kedua. Soalnya dulu sempet punya kegalauan yg sama dgn si penulis. Dan dibuku ini juga ada berbagai tips dari penulis yang berguna banget buat saya.
    “…Mama adalah segalanya buat saya. Sama seperti ibu lainnya, mama saya bekerja 24 jam sehari, 7 hari seminggu, 30 hari sebulan, dan 12 bulan dalam setahun. Bahkan saat sepertinya sedang nggak ngapa-ngapain, saya yakin, Mama sedang memikirkan anaknya. Tanpa dibayar pula!” (hlm. 72)
    —>>>> betul sekali!!! ^_^

  28. Setelah membaca review di atas aku mendapat kesan bahwa buku itu sangat menarik.
    Membaca kisah tentang semua yang dilakukan dan dirasakan seorang ibu memang akan mampu membangkitkan rasa kagum, rasa bangga sekaligus rasa syukur kita terhadap ibu kita masing-masing.

    Pengen banget baca buku ini.😀

  29. sesek rasanya dada ini membaca semua hal diatas..sebagian saya rasakan sendiri dilemanya harus bekerja shift sedangkan anak dirumah (harus dititipkan ke utinya setiap saya jaga) menangis karena masih kangen digendong, disuapi atau sekedar ditemani nonton TV..profesi dokter memang mulia karena didalamnya jg ada amanah..dan saya juga yakin sekali dibalik semua kegalauan ini pasti ada hal indah yang bisa saya berikan kepada mereka anak2 saya yang telah merelakan sebagian masa tumbuh kembangnya terlewati oleh bunda tercintanya. buku itu sepertinya ingin sekali saya punyai..meskipun nanti tidak berkesempatan mendapat yg free (#baca:menang giveawway) saya tertarik untuk dapat memilikinya, insyaallah…

  30. wow..resensinya panajng juga ya. Tapi cukup membuat saya penasaran akan buku ini. Soalnya sudah pernah baca resensi buku ini di beebrapa blog, jadi saya berpikir tentu buku ini menarik. Pasti akan sangat bermanfaat untuk seorng ibu seperti saya.

  31. Pingback: Daftar Bacaan Tahun 2014 | Luckty Si Pustakawin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s