REVIEW The Fault in Our Stars

the fault in our stars

“Tanpa penderitaan, kita tidak bisa mengenal kebahagiaan.” (hlm. 365)

“Kedukaanmu tidak mengubahmu. Kedukaan mengungkapkan dirimu.” (hlm.384)

Hazel Grace Lancaster. Usianya enam belas tahun. Hazel didiagnosis kanker tiroid Stadium IV ketika berusia tiga belas tahun. Sedangkan Augustus Waters berusia tujuh belas tahun. Mendapat sedikit sentuhan osteosarkoma satu setengah tahun yang lalu.

Setiap kali kau membaca buklet, situs web, atau apa saja mengenai kanker, depresi selalu disebutkan di antara efek-efek samping kanker. Tapi, sesungguhnya depresi bukan efek samping kanker. Depresi adalah efek samping sekarat.

“Hazel, kau remaja. Kau bukan anak kecil lagi. kau perlu berteman,keluar rumah, dan bersenang-senang.” (hlm. 14)

“Aku takut dilupakan untuk selamanya.” (hlm. 21)

Ketika didiagnosa menderita kanker, Hazel merasa sangat terpuruk. Dia tidak bersemangat dalam menjalani hidupnya. Dia merasa sia-sia. Sampai tiba ketika dia dipaksa ibunya untuk mengikuti suatu kegiatan kelompok penyemangat kanker. Awalnya ogah-ogahan, bukan makin semangat dalam hidup, Hazel merasa justru jenuh dengan segala keluh kesah penderita kanker lainnya yang bernasib sama dengannya.

“Aku granat. Aku hanya ingin menghindari orang, membaca buku, berpikir, dan berada bersama kalian, karena tidak ada yang bisa kulakukan untuk melukai kalian; kalian sudah terlalu kebal, jadi biarkan saja aku melakukan semua itu, oke? Aku tidak depresi. Aku tidak perlu lebih sering pergi ke luar. Dan, aku tidak bisa menjadi remaja biasa karena aku granat.” (hlm. 136)

Hingga dia bertemu Augustus Waters yang juga mengisi sisa-sisa harinya seperti yang dialaminya. Bedanya, August semangat. Nah, rasa semangat itu menjalari hidup Hazel selanjutnya.

Terkadang hal terburuk dari menderita kanker; bukti fisik penyakit ini memisahkanmu dari semua orang lainnya. Tanpa kenal kompromi, kami adalah orang lain… (hlm. 195)

“Bahkan kanker pun sesungguhnya bukan orang jahat. Kanker hanya ingin hidup.” (hlm. 330)

Kalimat di atas memang #JLEBB banget. Kita yang sehat suka membatasi dengan yang sakit. Kita terkadang merasa harus mengasihani yang sakit. Itu salah. Seorang yang sakit justru merasa semangat jika mereka tidak dibedakan, tidak dikasihani. Mereka hanya ingin sama di mata yang sehat. Hal yang dialami Hazel ini juga pernah dialami almarhumah mama. Meski menderita kanker hampir sepuluh tahun, tidak pernah merasa terlihat sakit. Malah dua bulan sebelum meninggal masih ikut Jambore Nasional di Kiara Payung, Jatinangor. Percayalah, rasa semangat yang sehat akan menjalari ke yang sakit. Semacam sugesti. Jika kita merasa sehat, harus sehat. Jika kita sedang sakit, jangan langsung mengeluh sakit.

..seandainya pun kita bertahan hidup dari kebinasaan matahari, kita tidak akan bertahan hidup untuk selamanya. Ada masa sebelum organisme mengalami kesadaran, dan akan ada masa setelahnya. Jika kau khawatir dilupakan untuk selamanya oleh manusia, aku mendorongmu untuk mengabaikannya saja. Tuhan tahu, itulah yang dilakukan semua orang lainnya.” (hlm. 23)

Orang mati hanya terlihat oleh mata ingatan yang mengerikan dan tak berkelopak. Orang hidup mempertahanka kemampuan untuk mengejutkan dan mengecewakan. Kau tidak boleh memaksakan kehendakmu pada keputusan orang lain,terutama keputusan yang diperoleh dengan penuh pertimbangan. (hlm. 153)

Banyak sekali kalimat favorit:

  1. “Kepedihan menuntut untuk dirasakan.” (hlm. 81)
  2. “Terkadang orang tidak memahami janji yang mereka ucapkan ketika mereka sedang mengucapkannya.” (hlm. 86)
  3. “Semua orang ingin menjalani kehidupan yang luar biasa.” (hlm. 228)
  4. “Satu-satunya kehidupan yang bermakna adalah jika kita hidup untuk sesuatu atau mati untuk sesuatu.” (hlm. 228)
  5. “Keberanian kita akan menjadi senjata rahasia kita.” (hlm. 273)
  6. “Ketidaktahuan adalah ketidakbahagiaan.” (hlm. 295)
  7. “Kalian khawatir mengenai siapa yang akan mengurus kalian seandainya orantua kalian meninggal? Sudah seharusnya, karena mereka akan menjadi makanan cacing jika sudah genap waktunya.” (hlm. 295)

Kisah cinta Hazel dan August ini juga menyentuh, meski hanya sesaat. Kisah sepasang manusia yang sama-sama tidak sempurna justru melengkapi hidup satu sama lain. Ah, sayangnya kisah cinta mereka ada yang dipotong dalam versi terjemahan. Sayang sekali…

“…aku memercayai cinta sejati. Aku tidak percaya semua orang harus mempertahankan mata mereka atau tidak menderita sakit atau apa, tapi semua orang harus punya cinta sejati, dan cinta itu harus bertahan, setidaknya selama kau masih hidup.”(hlm. 105)

“Aku jatuh cinta kepadamu, dan aku tidak mau mengingkari diriku sendiri dari kenikmatan sederhana berkata jujur. Aku jatuh cinta kepadamu, dan aku tahu bahwa cinta hanyalah teriakan ke dalam kekosongan, dan pelupaan abadi tak terhindarkan, dan kita semua sudah ditakdirkan, dan akan ada hari ketika semua upaya kita kembali menjadi debu, dan aku tahu matahari akan menelan satu-satunya bumi yang kita miliki, dan aku jatuh cinta kepadamu.” (hlm. 208)

Kisah perjuangan mereka tidak hanya berkeluh kesah melulu tentang rasa sakit yang mendera mereka masing-masing. Ada salah satu impian Hazel yang ingin sekali diwujudkannya, ia ingin bertemu penulis favoritnya; Peter Van Houten. Buku yang ditulisnya; Kemalangan Luar Biasa sudah berulang kali dibaca oleh Hazel.

Terkadang kau membaca sebuah buku yang anehnya membuatmu sangat bersemangat untuk menyebarkannya, dan kau merasa yakin dunia yang hancur tidak akan pernah bisa disatukan kembali kecuali dan hingga semua hidup membaca buku itu. (hlm. 49)

Lewat kisah Hazel dan August, banyak hikmah yang bisa kita petik. Bahwa seberapa besar kesempatan kita hidup di dunia ini, kita harus bersyukur, menikmatinya, dan mempergunakan dengan sebaik-baiknya setiap hembusan napas yang diberikan Tuhan untuk kita.

“KARENA INI HIDUPKU, MOM. HIDUPKU ADALAH MILIKKU.” (hlm. 188)

“Setiap hari aku bersyukur kepada Tuhan atas kehadiranmu, Nak.” (hlm.338)

Cover versi terjemahan kurang menggigit dibandingkan versi asli. Itu kenapa sosok Hazel digambarkan seperti anak kecil yang unyu? Padahal dia kan sudah remaja, enam belas tahun menginjak usia tujuh belas tahun…. (‘-’ ) (._. ) ( ._.) ( ‘-’) #GagalPaham

Terlepas dari itu, suka sekali dengan novel ini. Meski saya tidak sampai meneteskan air mata hingga menangis tersedu-sedu, novel ini menyentuh sekali. Sangat direkomendasikan.

“Ketakutan terhadap pelupaan abadi adalah sesuatu yang lain, ketakutan bahwa aku tidak akan bisa memberikan sesutu pun sebagai pengganti hidupku. Jika kau tidak menjalani kehidupan untuk melayani kebaikan yang lebih besar, setidaknya kau harus mati untuk melayani kebaikan yang lebih besar.” (hlm. 227)

“Akan tiba saatnya. Ketika kita semua mati. Kita semua. Akan tiba saatnya ketika tidak ada lagi umat manusia yang tersisa untuk mengingat bahwa manusia pernah ada atau spesies kita pernah melakukan sesuatu. (hlm. 22)

Keterangan Buku:

Judul                            : The Fault in Our Stars

Penulis                          : John Green

Penerjemah                  : Ingrid Dwijani Nimpoeno

Penyunting                    : Prisca Primasari

Proofreader                  : Yunni Yuliana M.

Desainer sampul           : BLUEgarden

Penerbit                        : Qanita

Terbit                           : 2013 (Cet. 2)

Tebal                            : 424 hlm.

ISBN                           : 978-602-9225-58-7

Berikut trailernya:

Dapatkan buku ini di toko buku online Bukupedia

http://www.bukupedia.com/id/book/id-32-98523/novel-fiksi-cerpen/the-fault-in-our-stars.html

 

58 thoughts on “REVIEW The Fault in Our Stars

  1. Suka banget quote pembuka review ini
    “Tanpa penderitaan, kita tidak bisa mengenal kebahagiaan.” .
    Manusia emang gitu harus disentil dulu baru bersyukur
    Aku udah pernah juga sih baca beberapa cerita atau cerpen yang genrenya romantis orang penyakitan #eh . sama” punya penyakit tapi saling menyemangati untuk terus menikmati hidup .. tapi penasaran juga nih ama ceritanya …seromantis apa sih :”D

  2. betul-betul buku yang yang sangat bagus untuk dibaca apalagi kata-kata ini “Satu-satunya kehidupan yang bermakna adalah jika kita hidup untuk sesuatu atau mati untuk sesuatu”memang sangat betul
    salut deh reviewnya juga bagus

  3. Pertama kali liat buku ini di instagram. Makin lama, makin banyak yang sepertinya menikmati buku ini. Cari-cari review buku kesana kemari, saya pikir buku ini berisi cerita klise menye-menye tentang orang yang punya penyakit parah. Setelah melihat review ini, ternyata jauh dari klise. (Karena saya belum baca), Paling tidak dari bahasa sadurannya jauh dari klise.

    Nah, gak tau deh dengan filmnya nanti.

  4. Inspiratif, penuh semangat, dan mengharukan. Mungkin hal-hal itu yang dapat ditangkap dari review Luckty mengenai “TheFault in Our Stars” ini.

    Luckty mampu menyampaikan pesan-pesan yang terdapat dalam buku ini: bahwa seberat apapun kondisi yang dialami dalam hidup, hal itu tidak menjadi alasan untuk seseorang berhenti bersemangat dan bersyukur. Hal ini tersampaikan pula dari kutipan-kutipan yang disertakan Luckty dalam review tersebut.

    Secara keseluruhan, review di atas menarik😀

  5. jleb banget waktu kamu tayangkan “Tanpa penderitaan, kita tidak bisa mengenal kebahagiaan.” pertama kali. jadi mikir .. “iya, ya …”

    terkadang merasa kalau diri ini yg paling menderita, sebab belum baca kisah Hazel Grace Lancaster yg kena kanker tiroid Stadium IV di usianya yg sangat belia. terima kasih udah bagi info tentang buku ini :’)

    Saya jg belum pernah bertemu pasien seperti Augustus Waters yg menderita osteosarkoma. Jadi penasaran seperti apa. Knp kamu jg gak ngasih contoh gimana ttg ciri fisik atau kesakitan yg diderita para penderita kanker? Kalau hanya ditulis “kena kanker” saja orang bisa membayangkan yg jauh atau kurang sesuai dengan keadaan sesungguhnya.

    Oiya, pesan moral yg disampaikan buku ini bagus banget ya … Kalau tahu bgmn penderitaan org lain, bnyk org yg akan jauh lbh bersyukur atas apa yg terjadi dg hidupnya.

  6. Jujur saya pengen banget sama novel ini. Udah nyoba nyari versi pdf yang inggris tapi pengen baca terjemahannya.
    Btw kovernya terlalu kekanak-kanakan ya?

    Kalau tidak salah kisah di novel ini hendak dibikin film. Saya sangat menantikan. Cerita melow yang indah.

    Yang jadi Hazel cantik, yang jadi August ganteng bikin sesak napas.

    Ugghh ya….

    Sudah ada trailernya di yutup😀
    Kerennnn<3

    Ucapan thanks saya nggak bakalan habis buat Mbak Luckty karena saya selama ini jadi silent reader😦

  7. Duh kalau masalah kanker saya jadi ingat ada juga kisah nyata dua pasangan yang cowonya ditinggal meninggal cewenya karena kanker mata.
    pasti sih alurnya bakal sedih dan berat
    Pengen baca tapi takut mata sembab dan diledekin orang kantor😦

  8. jika membaca buku bagus saya selalu merasa seperti itu juga
    Terkadang kau membaca sebuah buku yang anehnya membuatmu sangat bersemangat untuk menyebarkannya, dan kau merasa yakin dunia yang hancur tidak akan pernah bisa disatukan kembali kecuali dan hingga semua hidup membaca buku itu. (hlm. 49). jadi pengen baca buku ini

  9. WHOAAA salah satu novel favoritku yang aku baca di 2013. Tulisan milik John Green ini memang menyentuh banget. Jadi makin suka sama beliau (walaupun baru baca TFIOS, Looking For Alaska sama Paper Towns). The cover? Boring! Lebih suka cover ver.US

  10. Kau takkan pernah bisa merasakan kebahagian jika kau tak pernah ditimpa kemalangan. Ada quote seperti itu juga somewhere, agak senada. Buku ini rame banget di Goodreads, aku jadi ingin baca juga… Dari dulu pingiiiinnn banget buku ini… Cuma belum diniatkan beli (bingung, byk inginnya…). Yah, mungkin itu bedanya sekadar “ingin” dengan “niat”. Yg jelas sudah masuk wishlist nih buku🙂

  11. kalau liat cover yang versi indonesia berasa buku anak-anak deh. –” padahal cover versi asli remaja banget. berhubung bukunya mau difilmin, harusnya sih oke. apalagi abis baca resensinya ka luckty. jadi tambah pengin baca.😥 sayang, stock bahasa indonesia udah pada abis. oh, ya. emang bagian yang dipotong di versi terjemahan apaan kak? *penasaran*

  12. Saya justru kepincut buku ini karena cover terjemahannya :))

    Saya rasa saya bisa menduga di mana letak penyensorannya :))

    Baca review kak Luckty, entah kenapa malah bikin pengen baca buku ini lagi :)) Tapi saya tahu, saya tidak akan melakukannya karena buku ini… Jujur, bagi saya membosankan dan biasa saja, heheh. Romensnya juga sama sekali tak menyentuh saya sama sekali, bisa jadi mungkin karena terlalu sedikit, hingga saya merasa kurang dengan chemistry yang terjalin antara dua tokoh utama.

    *kabur ah, sebelum dilemparin buku sama fansnya Om Green😆

  13. Aku udah ngerti lama banget buku ini x’) apalagi di website2 online shop modelan p+, opentroley, dll
    awalnya aku ngira kalo buku ini standart lah ya setelah ngeliat bukunya mr Green yg lain juga biasa aja, ditunjang dengan covernya yg ngga bagus2 amat :’|

    Tapi setelah temen2ku banyak yg beli dan especially baca review dari sini,
    daku jadi ingin sekali memikinya *plak

  14. seandainya pun kita bertahan hidup dari kebinasaan matahari, kita tidak akan bertahan hidup untuk selamanya. Ada masa sebelum organisme mengalami kesadaran, dan akan ada masa setelahnya. Jika kau khawatir dilupakan untuk selamanya oleh manusia, aku mendorongmu untuk mengabaikannya saja. Tuhan tahu, itulah yang dilakukan semua orang lainnya.” (hlm. 23)

    Orang mati hanya terlihat oleh mata ingatan yang mengerikan dan tak berkelopak. Orang hidup mempertahanka kemampuan untuk mengejutkan dan mengecewakan. Kau tidak boleh memaksakan kehendakmu pada keputusan orang lain,terutama keputusan yang diperoleh dengan penuh pertimbangan. (hlm. 153)

    kalaupun bisa nge-bold tulisan di komentar, semua quote diatas akan saya bold. tapi sayangnya nggak bisa.😦 jadi penasaran kan, sama bukunya.. hadeeh >.<

  15. aku doong baca buku ini mewek pas bagian August ngadain acara pra-pemakamannya (dasar Gus sableeng!) surat eulogi dari Isaac dan Hazel bikin aku terisak-isak (padahal aku jarang (ngaku) nangis looh. oh ya pasti juga gak sabar pengin liat filmnya gimana ya..semoga sampai di sini tak terlalu lama

  16. Duh baca reviewnya aja udah berkaca-kaca, apalagi baca bukunya pasti mewek abissss😦
    Saya selalu simpati dengan kisah penderita kanker. Terlebih mereka yang bertahun berjuang dan berdamai bersama penyakitnya. Harapan untuk terus bersama orang yang dicinta sangat saya rasakan saat membaca review ini. Benar-benar menyentuh dan tulus. Remaja yang seharusnya bisa menikmati masa mudanya harus berkutat dengan kemo, jarum, terapi, rumah sakit, bla bla.. Saya bisa merasakan kedekatan emosional dengan tokoh-tokoh dalam novel ini dari deskripsi review ini. Good job!

  17. Pingback: New Authors Reading Challenge Progress (Jan-Feb) | Luckty Si Pustakawin

  18. aku udah beli yesssss! nunggu sebulan buat cetak ulang demi buku ini dan akhirnya dapet. bersyukur dapetnya cover film, selain bisa liatin August sepuasnya, cover yg lama agak aneh. terlalu anak-anak padahal cover aslinya itu keren. dibaca sambil dengerin soundtrack-soundtracknya deh apalagi ada ed sheeran😀

  19. Aku enggak tau kalo mbak Lucky review ini. Kalo udah, mungkin dulu udah tak ubek-ubek mbak. Soale, banyak yang ngomong buku ini bagus. Beberapa review dari temen BBI banyak yang bilang bagus. Yah, ntar mungkin aku mau baca ya mbak setelah mood baca melodrama ku muncul lagi😀

  20. wah, quotes nya itu lho mbak, bikin haru aja. reviewnya panjang mbak aku suka daripada sinopsis di bukunya yang pendek itu. ah jadi penasaran banget dan pengen punya inii. duh baca reviewnya aja udah terharu begini apalagi baca bukunya😦

  21. Pingback: Wishful Wednesday #54: Buku-buku John Green | Luckty Si Pustakawin

  22. Pingback: Daftar Bacaan Tahun 2014 | Luckty Si Pustakawin

  23. Pingback: [BOOK KALEIDOSCOPE 2014] Top Five Book Boy Friends | Luckty Si Pustakawin

  24. Pingback: [BOOK KALEIDOSCOPE 2014] Top Five Most Favorite Books | Luckty Si Pustakawin

  25. Pingback: GIVEAWAY The Fault in Our Stars | Luckty Si Pustakawin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s