REVIEW Pena dan Daun Senja

pena dan daun senja  

Satu per satu hati kita meluruh.

Hatiku aku tahu, tapi hatimu?

Aku tak pernah tahu teman.

Kau sedari dulu tetap misteri, tetap pesona yang membuatku bertahan selama ini,

Dihinggapi rasa sakit dan masih berjuang untukmu. (hlm. 9)

Cintaku hanyalah cinta yang diam.

Aku hanya bisa menikmatimu dari balik jendela, mengagumimu setiap tingkahmu yang manja, berandai-andai kapan kau tersadar aku ada.

Cinta kita hanyalah ilusi.

Dimana teman menjadi status yang pasti, lalu perlahan kita hanyut dalam cerita-cerita yang basi, aku bahkan tak pernah bisa menyentuhmu dengan hati.

Cinta kita menjadi terlalu nyaman. (hlm. 49)

 

Kamu seperti bintang berpijar, yang menghantarkan terang secara wajar, tetapi keindahannya dikejar-kejar.

Maka tetaplah kau menjadi pelita, yang aku pandang tinggi-tinggi diatas sana, yang aku puja seindah-indahnya.

Biarlah engkau temaram dalam peraduan, di angkasa kenangan, dipelukan rembulan.

Yang terlalu indah, selalu tak tergapai. (hlm. 35)

 

Kalimat-kalimat tadi adalah kutipan dari puluhan puisi yang termuat dalam buku ini yang ditulis oleh Rach Chan. Kita tidak hanya disuguhi kalimat-kalimat yang bikin meleleh, tapi ada beberapa selipan ilustrasi yang merepresentasikan isi puisi-puisi tersebut.

pena dan daun senja 1 pena dan daun senja 2 pena dan daun senja 3 pena dan daun senja 4 

Ini yang paling favorit:

pena dan daun senja 5

Apakah itu cita dan cinta?

Jika aku selalu terpaku padamu, tentang orbital yang selalu kau tunjukkan kepadaku, tentang hidup yang kau inginkan selalu, tentang cerita pangeran tampanmu itu.

Apakah itu cita dan cinta?

Jika kita harus memilih salah satunya, jika kita harus berjuang dijalan yang berbeda, jika mungkin saja kita sudah melupakan hati kita berdua.

Apakah itu cita dan cinta?

Jika api cemburu itu membutakanku, dan kata berpisah itu tertutur membuatku membisu, jika jiwa dan hati kita terdisorientasi satu per satu.

Apakah masih ada cinta? Ataukah hanya cita?

Mungkin cintamu adalah cita-citaku? (hlm. 38)

 

Apa yang kau curi dariku?

Otak kiriku? Rasanya logikaku sudah buntu, lalu terenggut oleh rayuan manis dan lengkungan alismu.

Atau mungkin ganglia basal-ku? Sehingga kebiasaanku berpihak padamu,selalu menuruti kemauanmu yang irasional itu.

Ataukah hukum semesta mendukungmu? Sehingga electron dalam tubuhku terkisap, memutar dengan cepat, berganti menelusuri saraf-saraf, dan membutuhkan hasrat.

Ah, aku tak pernah tahu, sihirmu itu bagai mukjizat, rapalan mantramu memikat, hingga imanku goyah sesaat. (hlm. 17)

 

Kita hanyalah setitik senja yang kadang indah lalu surut dengan bermuram durja, dunia bagi masa kecil kita hanyalah mainan fana yang terus membumbung, mengitari angkasa dan membuat kita terlena akan keindahannya…

Impian-impian kita yang selalu kau tuliskan dalam nada suaramu, yang kau isikan dalam gejolak-gejolak jiwamu dan aku amini dengan tatapanku yang tak bersuara itu. (hlm. 94)

Dari segi isi, puisi-puisi yang disajikan menarik. Sayangnya masih banyak ditemukan typo. Oya, tidak adanya identitas buku; seperti kata pengantar, daftar isi, tentang penulis maupun kolasi buku (nama penerbit, tahun terbit, tebal halaman, dll.). Semoga di cetakan berikutnya, kekosongan ini bisa diperbaiki agar mempercantik buku ini.;)

Covernya sepasang dua tangan manusia. Covernya sederhana tapi menarik, sayangnya gambarnya ‘pecah’ mungkin size gambarnya kurang besar. Di setiap akhir puisi, selalu ada kumbang dan kupu-kupu yang bergantian muncul.

pena dan daun senja 6

Jika saja aku benar-benar menjelma menjadi pena, maka setiap hari akan kubuat sketsa, tentang mega, tentang rupa yang kau anggap selalu sama.

Jika pena mampu menulis, maka detikku kian terkikis, menyisir helai wajahmu yang terlalu manis.

Jika pena mampu menulis  notasi nada, saat itulah hatiku bersuara, dan melodi cinta mengalun di dalamya.

Jika pena berganti rupa menjadi daun senja, biarlah dia mengering, lalu tersapu angin, sendiri dan dibiarkan oleh sepi. (hlm. 19)

 

Bila aku membacamu, aku mengamati kosmologi perantauan, yang haus menemukan jalan pulang, pulang kembali ke rumah yang nyaman.

Bila aku membacamu, kutemukan sejumput desir keremangan, yang aku coba untuk terjemahkan.

Bila aku membacamu, kuharap engkau tahu, aku terlalu larut mencintaimu.(hlm. 26)

Berharap semoga penulisnya kembali menelurkan puisi-puisi yang makin ciamik untuk menyemarakkan sastra Indonesia yang kian pudar di mata generasi muda. Tetap berkarya dan semangat memajukan budaya literasi Indonesia yaa…;)

Biarkan aku padamkan sejenak, lentera yang menyinari kita berdua.

Biar saja kita dalam kegelapan. Biar saja kisah kita sedikit saja melenyap.

Biar saja kita menemukan momentum dimana vektor kita berada.

Biar saja kebahagiaan merangkak dan menyapa.

Biar saja aku memilikimu…sedikit saja. (hlm. 37)

Keterangan Buku:

Judul               : Pena & Daun Senja

Penulis             : Chara Perdana

Penerbit           : Nulisbuku

Tebal               : 140 hlm.

Indonesian Romance Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/01/indonesian-romance-reading-challenge-2014/

23 thoughts on “REVIEW Pena dan Daun Senja

  1. saya suka membuat puisi. sebelum membuat tulisan dalam bentuk prosa entah itu cerpen, FF, atau jenis lainnya, puisi adalah bentuk tulisan yang pertama kali saya buat. sayangnya, saya selalu terikat dengan rima dan jumlah baris mungkin karena saya lebih menyukai puisi lama dibanding puisi baru😀

    jadi saya kemungkinan sulit buat puisi-puisi seperti di atas. kata-kata yang panjang dalam satu baris atau bait. salut buat sang penulis.

    penerbitnya nulisbuku…. nulisbuku.com? jadi ingat kalau ada beberapa buku saya diterbitkan di sana😀

    *malah promo*

  2. manis bangeeeet >.< puisi dg ilustrasinya bisa bikin suasanan jd sendu nan menggetaran jiwa :')

    goresannya unik2 ya. ada yg rapi, ada yg kayak gambar anak TK, tapi bagus2 bangeeet🙂 Sebagus kata2 puitis ini, "Jika pena mampu menulis, maka detikku kian terkikis, menyisir helai wajahmu yang terlalu manis."

    sayang banget yaaa penerbit2 mayor jarang ada yg mau nerbitin kumpulan puisi, padahal sebenarnya isinya juga bagus dan kalau promonya jg bagus bakal banyak yg pengen punya buku ini …

    • wah, aku juga gak paham mendalam tentang makna puisi, mungkin bisa jadi kumbang dan kupu-kupu perlambang cinta dan cita-cita yaa… :))

  3. Sweet…

    Tapi aku kurang menyukai puisi, karena nggak bisa bikin…😀

    Menurutku, bikin puisi itu sulit. Makanya aku selalu terperangah, terpesona dan kagum sama para penulis puisi yang mampu membuat pembaca mengerti dengan maksud tulisan-nya.

    Semoga nanti aku bisa baca buku ini, tapi kalo beli? nggak janji…

  4. Kalau baca semua review-nya Luckty, semua buku jadinya bagus yah😀
    Kaget juga didalam buku ini ada sketsa-sketsanya. Dan yag lebih bikin kaget lagi, gambarnya nggak bagus semua (ups, hahah :D)
    Jd rajin mantengin review-nya Luckty nih ^_^

    • buku bagus aja banyak banget yang belum dibaca, gak sanggup kalo mencaci maki buku jelek, mending ditimbun aja buku kayak gtu… :))

  5. Wah sketsa yang alakadarnya hehe, tapi tidak membuat keunikan dalam buku ini hilang. Saya suka puisi, itu sebabnya saya kuliah di jurusan Sastra Indonesia😀 hehe. *curhat*
    Hmm tapi..cover buku ini tidak terlalu menarik, jadi tidak ada niat untuk membelinya hehe😦 *peace

  6. Eh ini buku kumpulan puisi…?
    Wah keren bangett… puisi2nya aku suka banget tuh.
    Aku suka puisi (walau tak pinter buat puisi) namun sayangnya susah menemukan buku puisi ya?
    Makin menarik karena di dalamnya ada ilustrasinya.
    Jadi penasaran nih.
    BTW… untuk buku kumpulan puisi ternyata tebal juga ya bukunya. Apa karena banyak ilustrasinya di dalamnya?

  7. Jika saja aku benar-benar menjelma menjadi pena, maka setiap hari akan kubuat sketsa, tentang mega, tentang rupa yang kau anggap selalu sama.

    duhduhduuuuh kalau aku dikirim kata2 kayak gitu, udah pingsan nih, dan nunggu dia beneran jadi pena😀

  8. reviewnya bagus sudah dicantumkan lengkap kelebihan dan kekurangan buku, cuman contoh puisi yang dicantumkan disini menurutku terlalu banyak sedangkan penjelasan reviewnya terlalu sedikit. untuk orang yang kurang suka puisi seperti saya jadi bikin males bacanya hehe…. tp overall bagus reviewnya…

  9. Kamu seperti bintang berpijar, yang menghantarkan terang secara wajar, tetapi keindahannya dikejar-kejar.

    Maka tetaplah kau menjadi pelita, yang aku pandang tinggi-tinggi diatas sana, yang aku puja seindah-indahnya.

    Biarlah engkau temaram dalam peraduan, di angkasa kenangan, dipelukan rembulan.

    Yang terlalu indah, selalu tak tergapai

    puisinya langsung bikin melting. padahal cuma kutipan. gimana lengkapnya coba? bagusnya review ini keterlaluan kak luckty! >..<

  10. Pingback: Daftar Bacaan Tahun 2014 | Luckty Si Pustakawin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s