REVIEW Malaikat Jatuh

malaikat jatuh

“Selamat datang di Negeri Debu. Negeri tempat mahluk tak bertubuh dan tak berupa. Di sini kamu bersahabat dengan siapa saja. Hidup berdentam penuh gairah. Ada keriangan yang meluap-luap tanpa tepi. Lupakan segala yang ada di atasmu, turunlah kemari, dan jadilah bagian dari komunitas ini. Di sini waktu bukanlah sang penguasa. Begitu juga ruang. Kamu akan selamanya menjadi muda pada malam, siang, dan senja. Mari, jangan ragu. Selipkan kakimu. Dorong tubuhmu perlahan-lahan. Hati-hati kepalamu, Sayang. Jangan sampai terbentur.” (hlm. 66)

Negeri Debu ternyata sangat menyenangkan. Di sana penuh dengan mahluk-mahluk halus berwarna-warni. Mereka senang menenun debu menjadi deretan benang-benang halus berwarna keperakan yang jatuh memancarkan kilat cahaya. Debu-debu itu dijadikan alat untuk bermain-main, dijadikan alat untuk bermusik, dan dijadikan alat untuk berayun-ayun malas. Belum pernah Lucinda melihat debu seindah debu di Negeri Debu. Ibu selalu membenci debu. Di mana-mana debu selalu diberantas. Debu membuat alerginya kambuh, kata Ibu dulu. Debu juga akan membuat sinus Lucinda semakin parah dan akhirnya harus mengunjungi dokter. Dokter spesialis anak mahal. Ibu tidak sanggup membawa Lucinda berkonsultasi tentang kondisi medisnya ke dokter spesialis anak.

Memang Lucinda hanya bocah cilik yang ingusnya masih berlelehan di hidung akibat penyakit sinus yang dideritanya. Sinus yang seharusnya dijaga dan dirawat dengan baik oleh Ibu agar tidak kambuh. Sinus yang seharusnya ditangani oleh dokter spesialis anak yang kompeten, bukan oleh tabib tak jelas yang berpraktik di ujung gang kampung yang rumahnya tergenang air saat hujan. Sinus yang seharusnya dapat sembuh jika saja debu-debu di rumah reyot Ibu dapat diberantas.

Sejak usia enam tahun, Lucinda telah tahu sesuatu tentang ibunya. Tiap malam Ibu keluar rumah. Katanya mencari uang untuk makan dan sekolah Lucinda, walaupun sudah sebulan Lucinda tidak sekolah karena Ibu belum sanggup melunasi utang biaya seragam dan buku. Lucinda menunggu Ibu dengan sabar di ranjang reyot mereka. Tengah malam Ibu terkadang pulang. Jika Ibu pulang, Lucinda pura-pura tidur, mengkhayal ibu akan memeluknya dan membisikkan kata-kata penuh kejutan. Tapi boro-boro sentuhan sayang, Ibu hanya menggeser Lucinda ke samping, membopongnya turun dari ranjang. Lucinda diletakkan di bawah ranjang sementara Ibu memanjat ranjang miliki mereka berdua bersama seseorang lagi yang sosoknya selalu berbeda-beda tiap malam.

Membaca cerpen Negeri Debu ini mengingatkan beberapa cerpen yang pernah saya baca, sama-sama mengangkat tema antara ibu yang (terpaksa) menjadi perempuan malam dengan anak perempuan yang menjadi saksi mata kehidupan kotor ibunya.

Saya langsung teringat cerpen Pelajarang Mengarang (dimuat di harian Kompas, 5 Januari 1992. Terpilih sebagai Cerpen Pilihan Kompas 1993) yang ditulis Seno Gumira Ajidarma. Dikisahkan tentang Sandra yang sedang bingung tentang apa yang harus ditulisnya untuk mengerjakan tugas pelajaran mengarang tentang sosok ibu. Simak penggalan kalimat ini: Wanita itu barangkali mengira, karena masih tidur maka Sandra tak akan pernah mendengar suara lenguhnya yang panjang maupun yang pendek di atas ranjang. Wanita itu juga tak mengira bahwa Sandra masih terbangun ketika dirinya terkapar tanpa daya dan lelaki yang memeluknya sudah mendengkur keras sekali. Wanita itu tak mendengar lagi ketika dikolong ranjang Sandra berbisik tertahan-tahan “Mama, mama …” dan pipinya basah oleh air mata.

Kemudian Agus Noor ‘melanjutkan’ dan menuangkan tulisannya dalam Pemetik Air Mata di kumpulan cerpen Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia. Tertulis dalam kalimat ini: Dulu, saat ia seusia Bita, Sandra selalu berpura-pura tertidur ketika ada laki-laki keluar-masuk rumahnya. Apakah Bita kini juga pura-pura tak mendengar suara mobil itu pergi?

Satu lagi, dalam kumpulan cerpen Mata Air Airmata Kumari yang ditulis Yudhi Herwibowo ada cerpen Dua Mata Perak mengisahkan pergolakan batin antara sosok ‘Aku’ sebagai ibu dengan anak sematang wayangnya, Aritha. Kedua mata perak itu seakan menusukku, melihat ketelanjanganku. Bahkan aku merasa mata itu juga menembus pintu kamarku, melihat laki-laki yang sedang bertelanjang menantiku di pembaringan (hal.131).

Sebenarnya ada lagi cerpen yang mengangkat tema serupa. Kalo nggak salah di kumcer Antologi Cinta yang diterbitkan oleh Klub Buku. Sayangnya buku tersebut sedang dipinjam, jadi saya tidak bisa mengeceknya. Seingat saya ada cerpen yang juga mengulas hubungan ibu yang berprofesi sebagai ‘perempuan malam’ dan anak perempuannya.

Kumpulan cerpen Malaikat Jatuh ini adalah tulisan pertama Clara Ng yang saya baca. Dulu belinya atas rekomendasi bapak-bapak yang merupakan salah satu pedagang yang buka lapak menjual buku-buku di Palasari. Semenjak itu, saya jatuh hati dengan gaya kepenulisan Clara Ng dan mulai berburu buku-bukunya.

Cinta ibu kepada anak dan cinta anak kepada ibu, inilah bahan dasar kumpulan cerpen Malaikat Jatuh. Karena cinta semacam ini akan menjadi biasa-biasa saja manakala tidak ada dramatisasinya, maka dramatisasi menjadi penting dalam kumpulan cerpen ini.

Dramatisasi menjadi menyenangkan, manakala cinta ibu kepada anak dan cinta anak kepada ibu tidak menyenangkan. Maka, hubungan antara ibu dan anak benar-benar tidak menyenangkan, karena hubungan yang seharusnya wajar diganjal oleh serangkaian kematian yang tidak wajar. Bahwa manusia akhirnya mati, ya, tentu saja, tapi kalau kematian ini sekadar kematian, dramatisasi yang menyebabkan kumpulan cerpen ini menyenangkan menjadi tidak menyenangkan, karena, toh akhirnya manusia akan mati pula.

Keterangan Buku:        

Judul                    : Malaikat Jatuh

Penulis                 : Clara Ng

Editor                    : Hetih Rusli

Penerbit              : Gramedia Pustaka Utama

Terbit                    : Agustus 2088

Tebal                     : 176 hlm.

ISBN                      : 978-979-22-3935-5

Clara Ng Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/01/clara-ng-reading-challenge-2014/

Indonesian Romance Reading Challenge 2014 https://luckty.wordpress.com/2014/01/01/indonesian-romance-reading-challenge-2014/

Short Stories Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/18/short-stories-reading-challenge-2014/

Young Adult Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/07/young-adult-reading-challenge-2014/

2014 TBBR Pile – A Reading Challenge

https://luckty.wordpress.com/2014/01/02/2014-tbbr-pile-a-reading-challenge/

25 thoughts on “REVIEW Malaikat Jatuh

  1. entah kenapa…. saya tidak begitu menyukai cerita di mana tokohynya adalah perempuan nakal atau pekerja seks. saya pikir itu merendahkan martabat perempuan… ya mungkin ada sisi perjuangannya… tapi apa harus yang seperrti itu yah yang diangkat…. ah…. nggak ngerti

  2. Oh, plis, paragraf terakhir sukses bikin dahi saya mengkerut:

    ‘Dramatisasi menjadi menyenangkan, manakala cinta ibu kepada anak dan cinta anak kepada ibu tidak menyenangkan. Maka, hubungan antara ibu dan anak benar-benar tidak menyenangkan, karena hubungan yang seharusnya wajar diganjal oleh serangkaian kematian yang tidak wajar. Bahwa manusia akhirnya mati, ya, tentu saja, tapi kalau kematian ini sekadar kematian, dramatisasi yang menyebabkan kumpulan cerpen ini menyenangkan menjadi tidak menyenangkan, karena, toh akhirnya manusia akan mati pula.’

    Apakah ini kata-kata yang kamu kutip atau bener-bener hasil tangan-mu, Luckty?

    Mengenai buku ‘Malaikat Jatuh’ karya Clara Ng ini, sungguh menarik. Saya harap bisa memilikinya, aamiin…🙂

  3. Saya memang penyuka buku namun sekalipun saya belum pernah baca karya Clara Ng.
    Nampaknya bagus, bahasa yang digunakan di review di atas bagus sekali🙂

    Saya sungguh suka gaya penulisan review mbak Lucty. Berharap saya bisa menulis review sebaik itu, hehe🙂
    Nice rev, for nice book😀

  4. Wah, ini bukunya Clara Ng? nggak kayak tulisan-tulisan yang sebelumnya yah kayaknya temanya? Kalo baca review-nya Luckty, jd inget, tiap ada cerita yg menggambarkan perempuan yg jd pekerja seks, jd mikir segitu parahkah keadaan di negeri ini sampai banyak banget perempuan yg menjalankan hal itu demi menghidupi dirinya. Sedih😥

  5. What a great book!
    Hmm tema yang diangkat sebenarnya tergolong biasa, yaitu seorang ibu dan anaknya. Namun dramatisasi dalam cerita ini seperti yang kk katakan telah berhasil membuat buku ini menyihir pembacanya.
    Hmm penggalan-penggalan dari cerpen yang kk kutip di beberapa koran yang temanya hampir serupa dengan cerpen ini, berhasil membuat saya sebagai pembaca review kk merasa penasaran dengan buku ini.
    Saya ingin tahu apa itu Negeri Debu…

  6. Aku baru sekali baca karya Clara Ng yaitu Pintu Harmonika.
    Oh ternyata buku itu kumpulan cerpen ya?
    Tapi kok aku jadinya ragu2 untuk beli bukunya ya… soalnya cerita yang negeri debu itu nyesek banget.
    Hah… kalau baca cerita spt itu aku terus kepikiran tentang ‘nasib’ anak dalam cerita itu. Walau aku tahu itu sekedar cerita tapi… kan di luar sana banyak anak2 yg mungkin juga mengalami hal spt itu.
    Aku lebih suka cerita yang ‘manis’ yang tak membuatku jadi merasa sedih dan prihatin.
    BTW reveiwnya oke banget… apalagi ada ‘perbandingan’ kisah tentang negeri debu itu.

  7. Ibu itu akan melakukan apa saja untuk membahagiakan anaknya, walau terkadang cara yang dilakukan itu salah.
    Melihat kutipan-kutipan dari review ini saya yakin buku malaikat jatuh ini bukan sekedar buku biasa.
    Ibu yang dianggap malaikat juga bisa jatuh ke titik keterpurukan dan melakukan hal yang tidak ingin dia lakukan tapi tetap harus dilakukan. Saya jadi sadar kasih sayang seorang ibu itu memang tiada batas. Hanya membaca beberapa paragraf dari review kamu membuat saya menitikkan air mata dan saja jadi ingat ibu saya di rumah.

  8. saya kenal Clara Ng dari buku anak2 yang saya belikan untuk anak saya, dari situ jadi tahu selain menulis buku anak , dia juga menulis novel dewasa. Clara ng memiliki ke khasna dibanding penulsi anak lain, dari tema dan diksi nya, saya suka seri bagaibumi berhenti berputar. well, saya baru tahu ada buku ini malaikat jatuh ini🙂 *wishlist*

  9. tema yang bagus diangkat jd pengen baca. selain itu penulisan reviewx lucty selalu bikin orang penasaran sama isi keseluruhan bukunya. top
    tapi disetiap review jarang diberikan sisi kekurangan dari bukunya, jadi yang dijabarkan hanya kelebihan buku tanpa ada perbandingan tentang sisi negatif dari buku tadi.
    terus me-review yaa…

  10. tema yang bagus diangkat jd pengen baca. selain itu penulisan reviewx lucty selalu bikin orang penasaran sama isi keseluruhan bukunya. top

    tapi disetiap review jarang diberikan sisi kekurangan dari bukunya, jadi yang dijabarkan hanya kelebihan buku tanpa ada perbandingan tentang sisi negatif dari buku tadi.
    terus me-review buku-buku yaa…

  11. “Di sini waktu bukanlah sang penguasa.” yesss!! setuju banget sama quote ini. tapi kenyataannya mala berkebalikan ._.

    udah terpikat sama judulnya duluan “Malaikat Jatuh” heuheu jadi pengen lihat gimana wajah malaikat itu. akankah seperti …… >.< duhhh

  12. Pingback: Daftar Bacaan Tahun 2014 | Luckty Si Pustakawin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s