REVIEW The Secret Letters of the Monk Who Sold His Ferrari

the secret letters of the monk

Yang paling menyedihkan adalah, seringkali itulah yang kita pahami tentang diri kita. Kita lebih sering menjalani kehidupan tetangga kita, bukan kehidupan kita sendiri. (hlm. 46)

Adalah Jonathan yang tak pernah melewatkan waktu bersama Annisha, mantan istrinya dan anak mereka, Adam, terlalu tenggelam dalam pekerjaan, terlalu sibuk dengan hidupnya sendiri untuk menjadi bagian dari hidup mereka.

Tak ada yang lebih buruk daripada terlambat masuk sekolah, ketika semua orang sudah berada di dalam kelas dan lagu kebangsaan menggelegar di sepanjang lorong. Plus tidak punya bekal makan siang. (hlm. 2)

Pekerjaannya malah menjadi sumber stress dan frustasi berkepanjangan. Istrinya yang hebat meninggalkannya. Semua tabungan yang dikumpulkan dengan kerja keras berkurang akibat perceraian. Bahkan, kebahagiaan yang dirasakan bersama anaknya, Adam mulai digerogoti oleh perasaan bersalah. Dia hanya bisa bertemu anaknya di akhir pekan dan saat itupun dia menjadi ayah yang payah. Mungkin satu tindakan gila seperti perjalanan ini bisa menimbulkanl ebih banyak penderitaan ketimbang yang disebabkan oleh semua keputusan bijaksananya?

Pamannya, Julian Mantle yang seorang biksu, mengutusnya untuk melakukan sebuah ekspedisi ke belahan dunia. Perjalanan pertama dimulai dari Istanbul, di sana bakal bertemu Ahmet Demir. Ketika dia bertemu seorang gadis Osaka yang bernama Ayame dia belajar bagaimana memahami tradisi budaya lain. Ayame menuturkan bahwa Bagi orang Jepang, bagian penting dari keramah tamahan adalah menjaga gelas tamu mereka selalu penuh, tapi mengisi gelas sendiri dianggap tidak sopan. Jadi, seseorang harus menunggu orang lain melihat kalau gelas kita kosong dan menunggu orang lain untuk mengisinya.

Arti penting dari etika, tata karma, dan peraturan adalah untuk mempermudah kita berinteraksi satu sama lain. Kesepakatan perilaku membuat kita nyaman; itu cara kita menghormati satu sama lain. Semua itu tentang cara kita membentuk perasaan satu sama lain. Perilaku sehari-hari kita mewakili keyakinan terdalam kita. Aihhh…jadi keinget mata kuliah Komunikasi Antara Budaya😀

Dari semua orang yang ditemui Jonathan dalam perjalanannya ke berbagai tempat, cerita favorit adalah bagian saat Jonathan bertemu Lluis, yang dulunya seorang manajer hotel termuda di kotanya memilih menjalani hidup sebagai supir taksi. Dalam pandangannya, pekerjaan adalah kendaraan untuk lebih mengenali bakat kita, mengungkapkan lebih banyak potensi kita, dan memberi manfaat pada sesama manusia.

Tidak ada pekerjaan ramah di dunia ini. Semua pekerjaana dalah kesempatan untuk mengekspresikan bakat personal, menciptakan seni kita,dan menyadari keunggulan yang ditakdirkan untuk kita. Kita harus bekerja seperti Picasso melukis; dengan pengabdian, gairah, energi, dan keunggulan. Dengan cara ini, produktivitas kita bukan hanya menjadi sumber inspirasi bagi orang lain, melainkan juga menimbulkan pengaruh –membuat perbedaan dalam kehidupan di sekeliling kita. Salah satu rahasia terbesar untuk hidup yang dijalani dengan indah adalah melakukan pekerjaan yang berarti. Dan berusaha menguasainya semaksimal mungkin sehingga orang lain tak dapat mengalihkan pandangan darimu.

Banyak kalimatt favorit dalam buku ini:

  1. Dan memburu perempuan cantik tidak ada apa-apanya dibanding mengejar kebahagiaan sejati. (hlm. 18)
  2. Tidak setiap hari kau bisa menyelamatkan hidup seseorang. (hlm. 29)
  3. Betapa rumitnya segala hal. Betapa keadaan seringkali tidak seperti yang terlihat. (hlm. 45)
  4. Sebagian besar pemahaman kita tentang orang lain hanya berkutat di permukaan. (hlm. 46)
  5. Itulah sebabnya bukan ide yang baik untuk terburu-buru menilai berbagai hal. Butuh waktu lama untuk benar-benar mengenal tempat, orang, bahkan diri kita sendiri. (hlm. 52)
  6. Jangan pernah takut membuat kesalahan. Begitulah cara kita belajar. (hlm. 67)
  7. Setiap mimpi besar berawal dari impian kecil. (hlm. 132)
  8. Tindakan paling kecil sekalipun selalu lebih baik daripada niat paling ambisius. Dan hasil selalu berbicara lebih lantang daripada kata-kata. (hlm. 135)

Tidak hanya itu, di setiap perjalanan kita akan menemukan hikmah di setiap tempat. Jonathan akan menemukan sebuah pesan di setiap azimat dan surat-surat yang harus dikumpulkan untuk pamannya, Julian.

Di akhir cerita, kita bisa menemukan bahwa betapa sederhana sebenarnya tujuan kita hidup di dunia ini. Kita akan menemukannya di halaman241. Buku ini cocok bagi yang mengalami kegalauan hidup seperti kisah Jonathan.

Sebuah cerita sebaiknya hanya diceritakan saat pendengarnya siap untuk mendengar. (hlm. 18)

Keterangan Buku:

Judul                : The Secret Letters of the Monk Who Sold His Ferrari

Penulis              : Robin Sharma

Penerjemah      : Barokah Ruziati

Editor               : Selviya Hanna

Layouter           : Ida

Cover designer: Windy Febrianti

Proofreader      : DwiAriyani

Illustrator          : Windy Febriyanti

Penerbit            : MIC Publishing

Terbit               : November 2013

Tebal                : 268 hlm.

ISBN               : 978-602-8482-84-4

Beberapa bocoran azimat dan surat yang harus dikumpulkan Jonathan:

the letter secret of the monk 1 the letter secret of the monk 2 the letter secret of the monk 3 the letter secret of the monk 4 the letter secret of the monk 5 the letter secret of the monk 6
2014 TBBR Pile – A Reading Challenge

https://luckty.wordpress.com/2014/01/02/2014-tbbr-pile-a-reading-challenge/

 

New Authors Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/02/new-authors-reading-challenge-2014/

 

22 thoughts on “REVIEW The Secret Letters of the Monk Who Sold His Ferrari

  1. Tindakan paling kecil sekalipun selalu lebih baik daripada niat paling ambisius. Dan hasil selalu berbicara lebih lantang daripada kata-kata. (hlm. 135) —> seperti quota dalam sebuah film yang saya tonton… mungkin judulnya remember me. yang intinya…. tidak penting berapa banyak kebaikan yang ada di dunia ini, yang terpenting adalah bahwa kita adalah salah satu dari pembuat kebaikan itu…. sekecil apa pun. dan dunia tidak akan melupakan sidik jari para pelaku kebaikan tersebut.

  2. Terdengar simple memang, tapi kalau dijiwai secara mendalam, sebenarnya setiap buku ada makna khusus tersendiri. Suka sama ceritanya, ada banyak tempat yang dikunjungi, dan banyak pula yang hal baru diketahui

  3. Jangan pernah takut membuat kesalahan. Begitulah cara kita belajar. (hlm. 67) *jleb kata-kata ini ngena banget..
    Review yang kk buat sudah sangat ckup untuk menggambarkan kisah yang ada dalam buku ini. Saya jad ingin menikmati bagaimana lika-liku perjalanan yang dilalui Jonathan, saya ingin memetik hikmah di baliknya. Ya, semoga saya punya cukup dana untuk bisa memiliki buku ini! \(^,^)/ hehe

  4. Tindakan paling kecil sekalipun selalu lebih baik daripada niat paling ambisius. Dan hasil selalu berbicara lebih lantang daripada kata-kata. (hlm. 135)
    —>>> setuju banget..
    Wah, review yg ditulis Luckty selalu menggambarkan kalau setiap buku pasti punya tujuan khusus kenapa ditulis… ^_^

  5. Dari membaca deskripsinya saja saya sudah tau ini akan menjadi buku dengan banyak manfaat bagi kehidupan kita didalamnya.
    Melihat Jonathan saya jadi melihat refleksi diri saya sendiri yang sibuk kerja sehingga banyak melewatkan waktu bersama ibu & ayah saya😦
    Sepertinya saya harus membaca buku ini agar hidup saya lebih mempunyai tujuan
    Thanks untuk reviewnya

  6. Mbak Luckty, awalnya saya kira ini buku yg udah lama saya idamkan. Ternyata bukan, meski mirip & masih satu seri Julian Mantle karya Robin Sharma. Buku yg saya cari judulnya The Monk Who Sold His Ferrari (saja). Ceritanya saya mengenal karya2 Robin Sharma dari pajangan obralan di Gramedia. Yang sudah saya baca baru 2 buku, yaitu Leadership Wisdom & Family Wisdom (bener gak yah judulnya), pokoknya subtitle (maksudnya judul kecilnya :D) semua from The Monk Who Sold His Ferrari. Semuanya terbitan BIP tapi. Alhasil saya jadi pengen baca The Monk itu yg berkisah tentang Julian Mantle sendiri & asal-usulnya dia jadi biksu & bertualang ke Gunung Everest, terus belajar kebijakan dari guru biksunya.

    Buku2 Robin Sharma setipe yah, meski selp-help tapi menarik karena dibawakan lewat cerita (tipikal kisah orang2 sibuk workaholic sampe melupakan apa itu bahagia). Anyway buku ini juga menarik. Jadi ingin baca juga…🙂

  7. Di akhir cerita, kita bisa menemukan bahwa betapa sederhana sebenarnya tujuan kita hidup di dunia ini. Kita akan menemukannya di halaman241. Buku ini cocok bagi yang mengalami kegalauan hidup seperti kisah Jonathan.

    yakin, penasaran kakak jepretin halaman itu dums terus dipajang di postingan ini :3 ekekek~ *maunya

  8. Wah mbak, detail banget reviewnya (apalagi ada bocoran ajimat2nya). Saya suka dengan karya Robin Sharma apalagi The Secret Letter of The Monk Who Sold His Ferrari. Selain mengenai motivasi, kita diajak berpikir dengan kasus yang dialami Jonathan. Lebih banyak ke introspeksi dan kontempelasi dalam menghadapi permasalahan hidup. Materi memang perlu tapi jangan sampai keluarga jadi berantakan karena materi.

    Review yang menarik dan membuat penasaran :p

  9. Pingback: New Authors Reading Challenge Progress (Jan-Feb) | Luckty Si Pustakawin

  10. ahh.. sangkain ini sama dengan the monk who sold his ferrari hanya saja dicetak ulang dengan cover dan judul yang beda, ga taunya lain buku ya😄 tapi pas baca pengarangnya adalah robin sharma.. berasa familiar ama namanya😀 jadi pengen baca buku yang ini😉

  11. Pingback: Daftar Bacaan Tahun 2014 | Luckty Si Pustakawin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s