REVIEW Cafe Stories

cafe stories

Katakan, adakah yang lebih berharga dari kenangan? Manusia rela melakukan apa saja demi mengalami kenangan manis. Maka izinkan kujumput sebisaku sebait kenangan tentangmu. Yang pernah memenuhiku dengan rindu dan pilu. Yang membuatku merasa berarti walau aku tak pernah memilikimu. (hlm. 7)

Adalah Hiro yang menyimpan kenangannya bersama Lana. Selama bertahun-tahun dia menyimpan perasaannya pada gadis itu. Ya, hanya mampu dia tanam dalam hati perasaan itu. Ketika dia berusaha melupakan Lana, datanglah Alex. Perempuan manis ini adalah kliennya yang berprofesi sebagai penulis anak-anak. Dia menawarkan kolaborasi dengan Hiro yang mahir dalam urusan ilustrasi.

“Aneh ya. Penulis cerita anak, tapi nggak bisa ngadepin anak-anak. Kayaknya, misteri itu cuma Tuhan yang tahu jawabannya.” (hlm. 49)

Di dekat Alex biasanya laki-laki tak sekadar melirik, tapi berusaha membuatnya tertarik. Saat kakinya mengetuk lantai ruangan, saat itu juga jaring-jaring tak tampak menyeret paksa setiap mata untuk melihatnya, memperhatikan geraknya. Bukan karena Alex menyebar feromon atau dandanannya yang direkayasa untuk menjaring perhatian. Tapi lebih karena Alex terlihat sangat nyaman dengan dirinya sendiri. Dunianya adalah di mana pun dia berada. Maka di mana pun itu, Alex menjelma sebagai kutub magnet meskipun kadang dia tidak menyadarinya. Seperti lebah ratu. Seperti tonggak mercusuar.

Tapi Hiro lain. Tak pernah ada yang berlebihan dalam pertemuan mereka. Hiro tak selalu menatapnya saat bicara dan lebih sering menunduk tanpa berkesan mengacuhkan atau menganggapnya alpa. Sikap tubuhnya berada dalam jarak yang tsepat. Tidak terlalu dekat sehingga membuat Alex jengah, juga tidak terlalu menjauh. Hiro yang selalu meminta maaf ketika tanpa sengaja kulitnya menyentuh bagian tubuh Alex meski bukan bagian yang istimewa, seperti jari mereka bersentuhan saat sama-sama mengambil pensil yang jatuh, atau lengan Hiro menempel lengannya ketika menunjukkan portofolio yang menarik, atau punggung Hiro menyenggol pundaknya ketika Alex sengaja mencuri keharuman dari wangi samponya.

Hiro bukan orang yang mudah berkata tidak. Akan sulit baginya mengecewakan orang walau hanya dengan menggeleng. Dan masalah perasaan, tentu bukan hal yang mudah untuk ditampik. Hiro menimbang-nimbang. Berkeras menemukan titik temu yang melegakan bagi perasaan Alex dan perasaannya sendiri.

Berapa kali harusnya seseorang melakukan sesuatu untuk cinta? Tak ada hitungannya, kurasa, jika kau yakin bahwa cinta tak bersyarat. Ah, aku begitu malu mengatakannya. Padahal aku tak pernah berbuat apa-apa untukmu. (hlm. 74)

Ketika Hiro berusaha move on dan ingin memulai kehidupan baru, Lana datang kembali tiba-tiba dalam kehidupannya. Hati Hiro terombang-ambing. Manakah yang harus dipilih Hiro?

Aku selalu bertanya, setelah itu lalu apa? Setelah aku menemukanmu, lalu apa yang akan kulakukan? Orang bilang, setelah cinta, datang kewajiban dan tanggung jawab. Kewajiban untuk menjaga, melindungi, mengayomi, memelihara. Banyak sekali. Semuanya rumit dan tak semuanya aku bisa pahami.

Yang aku tahu, cinta adalah sesuatu yang maha. Seluruh kerumitan, segala kerunyaman masih terlalu sederhana untuk sebuah cinta.

Benarkah? (hlm. 110)

Beberapa kalimat favorit:

  1. “Selalu ada kemungkinan yang kadang kita tak bisa terka. Terjunlah untuk tahu maka kau akan siap menghadapi.” (hlm. 114)
  2. “Kadang kita berharap mesin waktu bukan sekadar scince fiction. Supaya kita bisa numpang sebentar, menghapus hal-hal menyakitkan, menghilangkan kenangan yang nggak perlu ada. Memperbaiki kesalahan atau sekedar melihat diri kita di masa lalu. Mengingat kalau kita pernah jadi sosok kecil yang tak tahu hal lain selain main dan senang-senang.” (hlm. 123)
  3. “Bagiku, tak perlu ada mesin waktu. Kita cuma perlu mimpi dan buat garis batas untuk mengejarnya, maka kita akan terbang, jauh, sejauh kita suka.” (hlm. 125)
  4. Kemana kita pergi, tidak penting lagi. Tinggallah bersamaku. (hlm. 135)
  5. Bukankah, selamanya perempuan adalah mahluk pengabdi? Mereka melakukan apa saja demi hal yang dicintainya. Memikirkan dirinya sebagai peran antagonis yang menunggangi kelemahan itu. (hlm. 155)
  6. Semua perbuatan baik akan ada batasnya. Kau sudah janji, kan? (hlm. 174)
  7. Kadang sulit bersikap normal di depan orang yang terlanjur menganggapmu hebat, walau bersikap dibuat-buat, malah akan membuatmu kelihatan bodoh. (hlm. 86)

Dari beberapa tokoh yang ada, saya menjatuhkan pilihan pada Alex. Dia perempuan loh, bukan laki-laki, hehehe.. namanya ambigu, kayak nama saya yang kerap dikira laki… x) Novel ini merupakan ‘Naskah Unggulan Lomba Penulisan Romance Qanita’. Ukuran bukunya mungil, jadi bisa dibawa kemana-mana. Covernya manis. Sesuai representasi isinya; berawal dari sebuah pertemuan di kafe yang mengubah kehidupan seseorang. Cuma kurang greget aja pas bagian kasus Lana. Masak sebegitu mudahnya menyerah :3

Keterangan Buku:

Judul                                     : Cafe Stories

Penulis                                 : Nalaa

Desainer sampul              : Agung Wulandana

Desainer isi                         : Nono

Penyunting                         : HP Melati

Proofreader                       : Endang S. Nugraha

Penerbit                              : Qanita

Terbit                                    : Juli 2013

Tebal                                     : 182 hlm.

ISBN                                      : 978-602-9225-94-5

Indonesian Romance Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/01/indonesian-romance-reading-challenge-2014/

New Authors Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/02/new-authors-reading-challenge-2014/

19 thoughts on “REVIEW Cafe Stories

  1. sepertinya menarik nih baca resensinya. Sayang, novel ini bisa dibilang mahal untuk ukurannya yang mungil. Jadi belum ada niatan beli. Tapi baca resensi Mba, sedikit menjawab rasa penasaranku..

  2. salam kenal kak, aku pengguna baru blog.
    baca review kakak jadi penasaran pengen baca novelnya. tokoh Hiro nya menarik. Di dunia nyata rasanya jarang nemu karakter yang kayak Hiro

  3. seneng banget sama kalimat iniiiiiii. “Kadang kita berharap mesin waktu bukan sekadar scince fiction. Supaya kita bisa numpang sebentar, menghapus hal-hal menyakitkan, menghilangkan kenangan yang nggak perlu ada. Memperbaiki kesalahan atau sekedar melihat diri kita di masa lalu. Mengingat kalau kita pernah jadi sosok kecil yang tak tahu hal lain selain main dan senang-senang.”

  4. wah jadi penasaran, akhirnya yang dipilih siapa ya?🙂
    oia kak, ada yang salah ketik ni pada kalimat “Sikap tubuhnya berada dalam jarak yang tsepat”🙂

  5. Paling suka kata-kata yang ini “Bagiku, tak perlu ada mesin waktu. Kita cuma perlu mimpi dan buat garis batas untuk mengejarnya, maka kita akan terbang, jauh, sejauh kita suka”. Kaya ada magis-magis gitu ngga kak, ceritanya?😀

  6. Pingback: New Authors Reading Challenge Progress (Jan-Feb) | Luckty Si Pustakawin

  7. Pingback: Daftar Bacaan Tahun 2014 | Luckty Si Pustakawin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s