REVIEW Simply Love

simply love

“Cintai pasangan kita dengan kadar yang cukup, maka dia tak akan membuatmu mabuk, dan tak akan juga membuatmu merasa kering. Cinta yang seperti itu akan membuat pasanganmu lebih beruntung memilikimu. Cinta yang akan menopang semua mimpi kalian dan menguatkan kala kalian lemah. Tuhan akan memberkati cinta yang wajar seperti itu, sebab Dia pun tak lagi merasa cemburu pada kalian, dan malah akan dengan senang menuntun kalian.” (hlm. 183)

Adalah Marijke –seperti nama salah satu putri kerajaan Belanda. Karena namanya agak susah diingat dan dilafalkan bagi lidah kebanyakan orang Indonesia, dia sering dipanggil Keke. Betul, Keke adalah keturunan Belanda dari ibunya. Keke tergolong dari golongan berada, maka tak heran jika urusan mencuci baju diserahkan kepada pembantu.

Sementara Willem Adiwarman Saleh tipikal serius, kutu buku, dan calon ilmuwan, rupanya mulai merasakan ketertarikan terhadap Keke, si lincah namun lembut dari Arsitektur. Wim yang pendiam dan lebih suka mendengarkan celoteh Keke yang ramai dan ekspresif.

Hingga pertemanan mereka berlanjut menuju gerbang pernikahan. Dan sinilah baru dimulai kehidupan dua insan manusia yang telah melebur menjadi satu melalui ikatan suci. Apakah sebuah pernikahan akan segera berubah menjadi bentuk penjajahan?

“Lah, kamu enak, kerja di luar. Aku? Masak seluruh sisa hidupku hanya dihabiskan di sisi suami dan anakku saja? Kalau gitu, ngapain aku sekolah tinggi-tinggi gini?”

“Seorang ibu yang berpendidikan akan lebih baik dalam mengarahkan anaknya. Lebih berwawasan. Lebih bisa menjawab pertanyaan anak-anaknya.” (hlm.31)

“Aku butuh teman. Bukan hanya beres-beres rumah, masak, mencuci, menyapu, mengepel, menyetrika dan serangkaian kerjaan Upik Abu lainnya yang membuatku semakin seperti Mbok Ikah ketimbang Princess Keke.” (hlm. 39)

Keke merasa seperti masuk ke sebuah gua. Di sana berisi semua tugas dan kewajibannya sebagai istri dan ibu. Bangun pagi, menyiapkan ini dan itu bagi suami dan anak-anak, meski sudah ada pembantu sekali pun. Sebab suaminya tak pernah mau makan masakan pembantu walaupun hanya telur dadar. Setelah suaminya pergi ke kantor, Keke segera beralih fungsi menjadi nanny, merangkap tukang dongeng, sesekali jadi kuda, dan kemudian berubah jadi ibu tiri yang galak karena demikian lelahnya.

Anak-anaknya sukses mengubah rumahnya yang tadinya rapi menjadi sebuah daycare yang penuh dengan mainan anak-anak di setiap sudutnya. Mereka tidur hanya jam di mana Keke sudah terkapar tanpa tenaga. Itu pun hanya sebentar, untuk kemudian –dengan energi yang sama besarnya dengan tadi- mereka kembali mengeksplorasi semua sudut rumah hingga halaman.

Sepulang Wim dari kantor, kerjaannya bertambah dengan melayani kebutuhannya kembali, termasuk menyiapkan air hangat untuk mandinya. Selepas makan malam, tugasnya belum lagi berakhir. Anak-anak telah menantinya untuk mendongeng bagi mereka. Dan yang namanya mendongeng, tentu harus pakai peragaan.

Setelah itu, giliran Wim yang harus diperhatikan. Dari minta dipijiti hingga minta tolong untuk membantunya menerjemahkan beberapa text book berbahasa Jerman.

Dan sejak saat itu, Keke sudah tak lagi eksis. Dia kini sudah nyaris sempurna bermetamorfosis menjadi Nyonya Willem Saleh. Bu Willem, begitulah ibu-ibu kompleks memanggilnya, meski Keke tetap merasa risih dengan panggian itu. Bagaimana pun, Keke tidak terbiasa dipanggil dengan nama yang sejatinya bukan identitas lahirnya. Tapi, begitulah. Dalam sistem sosial yang umum di masyarakat kita, seorang perempuan yang sudah menikah umumnya dipanggil dengan nama suaminya, atau dengan nama anaknya.

Bukan, bukan Keke tak bangga menjadi istri dan ibu. Apalagi menjadi istri seorang yang hebat seperti Wim, dan menjadi ibu dari anak-anaknya. Keke bersyukur untuk itu. Dan, terlepas dari semua itu, juga dari sifat suaminya yang tertutup, gila kerja, dan posesif, Keke teramat mencintainya. Pada hati suaminyalah terdapat rumah hati Keke.

Keke mencintainya dengan semua kapasitas cinta yang dimiliki. Keke hanya ingin suaminya pulang hanya padanya, tempat di mana dia mencurahkan semua keinginan dan perasaannya. Tempat suaminya menemukan semua yang dicari, semua yang dia perlukan untuk menjadi seseorang di luar sana. Tempat dan menemukan cintanya dan rumah hatinya di mana dia bisa melepas semua lelahnya.

Keke tahu  Wim setia dan berusaha untuk itu. Tapi, dan masih punya gua yang tak bisa dimasuki kapan Keke mau. Wim kadang tetap menjadi sosok yang asing buatnya, sementara di sisi lain, Keke yang hanya manusia biasa ini juga sering lelah.

“Ruang buat diriku bukan berarti aku ingin kerja di luar kayak Manda dan yang lainnya. Meski kadang aku juga iri dengan dunia mereka yang dinamis. Ketemu kasus dengan murid ini, besok ada kasus lain lagi…”

“Tapi, itu rentan memicu stres.”

“Tapi, ilmu yang mereka dapat di bangku kuliah jadi terpakai, Wim.Tidak sia-sia dimakan usia. Lagi pula, kalau stress mah, bukan hanya di kantor atau di sekolah, di rumah kadang juga bisa lebih stres.” (hlm. 86)

Makin banyak anak, makin susah rasanya buat sekadar ngopi di luar. Apalagi buat ngobrol-ngobrol santai. (hlm. 94)

Kisah Keke ini merupakan representasi para perempuan yang sedang menjalani kehidupan rumah tangga pada umumnya. Kebebasan tak lagi sama. Apalagi punya suami tipikal Wim yang terkesan otoriter dan merasa di atas segalanya. Bahkan urusan potong rambut pun musti izin suaminya, ebuset…

“Aku pemimpin di rumah ini. Aku berhak menentukan apa pun di rumah ini, termasuk apa yang harusnya dilakukan istriku.” (hlm. 110)

“Apa pun yang kamu pikir, harusnya kamu minta izin dulu padaku. Aku suamimu, Keke. Aku… kecewa padamu.” (hlm. 72)

“Kalau baru soal rambut saja kamu sudah begini, bagaimana soal yang lain? Soal pendidikan anak, misalnya. Aku pemimpin di rumah kita. Tak ada satu hal pun yang luput dari izinku di rumah ini.” (hlm. 74)

Keke bukanlah tipikal emak-emak sosialita yang hanya menghabiskan harta suami dan memamerkan koleksitas atau sepatu dengan harga selangit. Bukan, bukan seperti itu. Keke hanya butuh ruang untuk dirinya tanpa bermaksud mengabaikan kewajibannya melayani suami sekaligus mengurusi anak-anaknya yang bejibun. Istilah mungkin semacam ‘Me Time’.

“Bunda berharap Keke tidak menenggelamkan potensi Keke. Namun, Keke juga tetap terus memprioritaskan rumah dan keluarga.” (hlm. 41)

Beberapa kalimat favorit:

1.      Sebab, teori kadang tak selalubisa dipratekkan secara ideal, bukan? (hlm. 128)

2.       Betapa perjalanan hidup bisa mengubah banyak hal dari seseorang. (hlm.134)

3.       Belajarlah berdamai dengan takdir. (hlm. 141)

4.       “Kadang laki-laki memang menyebalkan. Kadang memang kayaknya begitu.Tapi, mungkin nanti kalau kamu jatuh cinta pada seorang laki-laki, kamu bahkanbisa menolerirnya pada batas yang dulu kamu pikir nggak sanggup.” (hlm. 45)

5.       Dan harusnya, kita tak menambah masalah dengan menjadikan hal-hal kecilmenjadi sebesar gajah. (hlm. 82)

6.      Cinta memang memiliki energi yangluar biasa untuk mewujudkan semua mimpi dan angan berdua. (hlm. 207)

Suka sekali dengan Ibunya Wim yang sangat bijaksana tanpa terkesan menggurui:

1.      “Sejak awal pernikahan kamumenginginkan seorang istri yang membaktikan hidupnya bagi kamu dan anak-anak kalian.Betul. Tapi zaman sudah berubah. Seorang perempuan yang cerdas dan berpikiranmaju, tentu tidak hanya ingin hidupnya berguna bagi suami dan anak-anaknya. Diaperlu memperluas ladang pengabdiannya.” (hlm. 156)

2.      “Dia juga manusia biasa, yangpunya keinginan dan harapan. Meski kamu tidak bisa mewujudkan semuanya, tapipaling tidak, kamu bisa memahaminya dan memberi sedikit ruang dan waktuuntuknya. Cinta itu bukan memaksakan kehendak, apalagi tanpa kompromi. Kamukayak nguber-nguber  dia buat mengabdi padamu.Sementara cinta itu hakikatnya memberi dan menerima. Sudahkah kamu memberisedikit apa yang dia inginkan?” (hlm. 163-164)

Selalu suka dengan gaya menulisnya Mbak Ifa Avianty, terutama yang bertema keluarga atau rumah tangga. Kita diajak menyelami permasalahan yang memang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Novel ini suka covernya yang ungu manis, tampak perempuan sekali. Cuma agak geregetan aja dengan lirik lagu yang ditampilkan lumayan memakan porsi halaman, coba dibuat hanya sepotong-sepotong saja tanpa ditampilkan full satu lagu.

“Kalian tidak lagi obyektif memandang pasangan kalian, kalian seperti menjadikan pasangan kaian Tuhan kecil di hati. Dan itu berbahaya. Selain tidak disukai Tuhan, kalian juga akan sulit melangkah lebih maju lagi kalau kalian merasa dibelenggu perasaan kalian yang kuat itu. Pihak yang merasa dominan selalu ingin menguasai, sementara –tertutup oleh rasa cinta- pihak yang satunya akan cenderung menekan dirinya hanya agar tetap mendapat cinta pasangannya, atau malah untuk sekadar tetap bisa mencintainya sebesar dia mau. Cinta yang obsesif.” (hlm. 182)

Keterangan Buku:

Judul                                : Simply Love

Penulis                             : Ifa Avianty

Penyunting                        : Beby Haryanti Dewi dan Miranda Harian

Penyelaras aksara             : Nurhadiansyah dan Nunung Wiyati

Penata aksara                   : Alia Fazrillah

Desain sampul                   : igGrafis

Penerbit                            : Noura Books

Terbit                                : Desember 2012

Tebal                                : 216 hlm.

ISBN                                 : 978-602-9498-33-2

Indonesian Romance Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/01/indonesian-romance-reading-challenge-2014/

24 thoughts on “REVIEW Simply Love

  1. Penasaran endingnya kayak gimana…

    Ini cocok banget dibaca para perempuan ya…
    Yang jarang terjun kedapur, hayu ah mulai memasuki nya, kenali satu-satu…

    Aku sering bilang, ‘Dapur adalah kekuasaanku dan aku Ratu disana’…
    🙂

  2. nice review! ^^ emang bener sih kalo perempuan mau sekolah setinggi apapun ujung-ujungnya ke dapur lagi. tapi bukan berarti kita gak bisa mengamalkan ilmu yang kita dapet, kan ada anak kita sebagai penerus. makanya aku setuju banget sama kalimat ini, “Seorang ibu yang berpendidikan akan lebih baik dalam mengarahkan anaknya. Lebih berwawasan. Lebih bisa menjawab pertanyaan anak-anaknya.” (hlm.31)

    kalo mau nikah emang harus sudah siap lahir batin ya, bukan cuma siap dari segi umur aja😀

  3. Keke tahu Wim setia dan berusaha untuk itu. Tapi, dan masih punya gua yang tak bisa dimasuki kapan Keke mau. Wim kadang tetap menjadi sosok yang asing buatnya, sementara di sisi lain, Keke yang hanya manusia biasa ini juga sering lelah.

    setiap orang, lelaki atau perempuan, punya sebuah rahasia. itu artinya ada sesuatu yang tidak mungkin disampaikan kepada orang lain, sebab kalau sudah diketahui oleh orang lain, itu artinya bukan rahasia lagi namanya.

    sepertinya kondisi demikian masih tetap berlaku dalam hubungan rumah tangga. suami – istri tidak harus berbagi semua hal. apalagi tentang masa lalu. bisa jadi jika semuanya dibagi, termasuk masa lalu, yang ada bukan lagi ketenangan, tetapi kekhawatiran dan was-was. jika sudah begitu, kebahagiaan bisa berkurang bahkan hilang.

    Sebab, teori kadang tak selalubisa dipratekkan secara ideal, bukan? (hlm. 128)

    teori dan kenyataan adalah dua hal yang berbeda. dalam teori segala variable sudah ditentukan. dalam kenyataan, variable nggak bisa ditentukan sama persis seperti dalam sebuah teori. masalah yang sama secra teori sudah bisa diselesaikan, nyatanya tidak berhasil untuk semua orang. karena orangnya beda, lingkungannya beda, hatinya beda, pikirannya juga beda. jadi ya emang nggak gampang.

    sebuah solusi bisa mengatasi sebuah masalah untuk sebuah rumah tangga, tetapi belum solusi yang sama itu cocok dengan rumah tangga yang lain. penghuninya kan udah beda

    Betapa perjalanan hidup bisa mengubah banyak hal dari seseorang. (hlm.134)

    yap. pengalaman ada guru yang paling berharga. dari pengalaman itu seseorang bisa berubah, mulai cara berpikir, bersikap, dan lain-lain. sejatinya, pengalam harus bisa membuat seseorang berubah menjadi sosok yang lebih baik.

    Belajarlah berdamai dengan takdir. (hlm. 141)

    teringat sebuah nasihat. kalau nasi sudah jadi bubur ya jangan dibuang… cobalah lengkapi bubur itu dengan yang lain agar bisa dinikmati dan disantap dengan nikmat.

  4. Simply Love, buku dengan tema sederhana namun memiliki isi yang sarat makna. Luckty mampu membuktikan bahwa dengan tema yang sederhana pun, sebuah karya mampu membawa pesan moral yang berguna. Novel ini mengangkat kisah cinta seperti pada umumnya novel metropop lainnya. Namun melalui review dan kutipan-kutipan dari novel ini, kita dapat belajar bahwa hidup berumah tangga tak sesimpel yang dikira. Butuh kesiapan dan pengertian satu sama lain. Acungan jempol untuk Luckty yang mampu membuat review yang menarik!

  5. Pingback: Daftar Bacaan Tahun 2014 | Luckty Si Pustakawin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s