REVIEW Cinta. (baca: cinta dengan titik)

   cinta titik

Kenangan adalah benda yang diam (jika ia bisa disebut benda). Tidak bergerak dan menetap seperti guci di sudut rumah yang tidak berpenghuni. Bisu dan angker. Ia menentang hukum waktu yang selalu bergerak. Ia tidak berubah bentuk. Ia terbingkai dan bingkainya ikut abadi selamanya. Ia tidak bisa dihapus. Ia permanen. Melekat seperti roh pada jasad dan jasad pada roh. Tidak seperti kehidupan, ia tidak menginginkan perubahan. Ia tidak bisa berubah. Ia tidak bisa diapa-apakan selain diterima sebagai bagian dari sejarah dan riwayat seseorang. (hlm. 74)

Pepatah lama mengatakan jika pintu yang satu ditutup, pintu yang lain akan dibukakan. Entahlah apa Nessa ingin percaya pada pepatah tersebut atau tidak. Karena ada saat ketika pintu yang ia inginkan telah tertutup, tetapi pintu yang lain tidak kunjung juga dibukakan. Meski ia telah menghabiskan seluruh waktunya untuk menunggu pintu itu. Meski ia telah mengerahkan seluruh tenaganya untuk mencari pintu itu.

Sehingga ia sampai pada suatu kesimpulan sederhana bahwa, pintu yang lain mungkin tidak akan pernah ia temukan, karena pintu itu adalah pintu yang sama dengan yang lama tertutup dan tidak lagi terbuka –pintu hatinya sendiri.

Ia sempat membuka hatinya untuk seseorang, sebelum akhirnya ia mengusir orang itu keluar dari hatinya untuk sebuah alasan. Ketakutan. Sejak kejadian demi kejadian yang tidak mengenakkan berlangsung di dalam hubungan ayah dan ibunya, Nessa tidak bisa lagi melihat cinta dari seorang laki-laki yang murni tanpa melukai. Seakan-akan setiap kali hatinya coba disentuh, ia refleks menolak dan menutup diri seperti kuncup bunga putri malu. Mencegah apa pun untuk masuk.

Kau tahu apa yang lebih menyakitkan daripada sebuah kehilangan? Menyangka bahwa hal itu tidak akan pernah terjadi, tetapi akhirnya tiba-tiba saja itu terjadi padamu. Tanpa pertanda. Tanpa peringatan. Tanpa sebuah aba-aba dan petunjuk bahwa sesaat lagi kau akan ditinggalkan. Oleh orang yang kau cintai. Oleh orang yang kau (kira) juga mencintaimu. Yang selama bertahun-tahun menumbuhkan perasaan cinta kepadamu, bahkan mengajarimu cara mencintai seseorang dengan baik dan menjaga cinta itu. Ditinggalkan oleh orang yang mengajarimu  agar terus bertahan dengan cinta yang kau miliki, dan tak akan pernah meninggalkannya walau bagaimanapun keadaannya. (hlm. 12)

Sebuah peristiwa besar yang mengguncang hidup seseorang bisa sekaligus menggoyahkan prinsip atau cara pandang terhadap sesuatu yang sebelumnya ia pegang dengan kuat. Cara berpikirnya bisa berubah. Apa yang tadinya sudah jelas, tiba-tiba menjadi kabur. Apa yang tadinya tidak perlu dipertanyakan lagi, tiba-tiba menjadi sesuatu yang sangat perlu dipertanyakan. Nessa paham betul perasaan itu karena mengalaminya sendiri.

Setelah ibunya pergi meninggalkan dirinya dan ayahnya untuk lelaki lain, definisi cinta menjadi sebuah pertanyaan besar bagi Nessa. Dia tidak mengerti, apakah cinta yang sudah dimiliki oleh orang lain, masih boleh kita cintai? Apakah cinta yang menjadi milik orang lain, boleh kita ambil? Apakah cinta yang kita berikan kepada seseorang, yang sudah dicintai oleh orang lain, masih bisa disebut cinta? Bukankah itu cinta yang salah? Jika itu yang disebut orang-orang sebagai cinta yang salah, lalu bagaimanakah cinta yang benar itu?

Apa artinya mencintai orang lain yang katanya mencintaimu, tetapi juga mencintai orang yang lain lagi? (hlm. 292)

Bagaimana kita bisa berharap mendapatkan yang lebih baik, jika kita telah mendapatkan yang terbaik? (hlm. 293)

Belajar dari pengalaman pahit kehidupan antara ayah dan ibunya, Nessa sangat berhati-hati dalam hidup, termasuk urusan hati. Saking menutup hatinya rapat-rapat, ayahnya berniat menjodohkannya dengan seseorang yang sama sekali tidak dikenalnya. Endru, namanya.

“Yang pas itu kayak gimana, tho? Yang kayak pom bensin, pasti pas?” (hlm. 24)

“Memangnya ini zaman apa, Siti Nurbaya?” (hlm. 26)

“Menikah saja, pakai deadline.” (hlm. 49)

“Hati-hati kalau bercanda. Nanti tidak ada yang menyeriusimu. (hlm. 58)

“Kalau sudah cocok dan kamu suka dengan orangnya, untuk apa menunggu lebih lama lagi. Lebih cepat, kan, lebih baik. Bukan begitu?” (hlm. 143)

“Kalau aku menunggu terus sampai ada yang benar-benar pas, aku tidak akan pernah menikah. Kamu yang membuat pasaanganmu menjadi pas denganmu, bukan hanya menunggu.” (hlm. 114)

Setiap orang memiliki sisi yang tidak pernah ia perlihatkan. Ada yang berkata bahwa manusia itu sesungguhnya seperti kristal, memiliki banyak fragmen yang tidak sekaligus bisa dilihat dalam satu waktu. Dan saat ini, Nessa sudah melihat fragmen baru dalam diri Endru.

Secara fisik dan materi, Endru memang sosok yang sempurna. Tapi dia bukan tipe Nessa. Dia malah terpikat oleh Demas yang mampu meluluhkan lantakkan hatinya. Tapi cinta tidak semudah itu. Demas ternyata milik orang lain, bahkan sudah bertunangan. Manakah yang akan dipilih Nessa?

“Jangan merebut kebahagiaan orang lain, Nak. Carilah kebahagiaanmu sendiri. (hlm. 240)

Siapa di dunia ini yang bisa mengendalikan hati? Tidak ada. Tidak mungkin ada. (hlm. 254)

Awalnya, saya pun meleleh seperti Nessa melihat Demas, tapi pas cerita bergulir rasanya pengen kepruk Demas ini. Masak iya meninggalkan tunangannya, Ivon yang baik-baik saja dengan mudahnya berpaling ke perempuan lain?!? :3

Lewat novel ini, kita bisa melihat cinta segitiga tidak hanya dari segi dua insan manusia yang sedang memadu kasih, tapi juga dari pihak ketiga. Entah mengapa orang yang tepat selalu datang pada waktu yang tidak tepat. Terkadang pihak ketiga tidak selalu salah.

Banyak sekali kalimat favorit:

  1. Cinta sejati. Walau yang cinta cuma di satu sisi, tetap saja setia. (hlm. 10)
  2. Tuhan menciptakan otak manusia begitu mudah melupakan hal yang indah, tetapi begitu sulit untuk sedikit saja melupakan masalah. (hlm. 15)
  3. Bukankah hal yang indah lebih layak untuk diingat daripada hal yang membuat hati berkarat? (hlm. 15)
  4. Betapa hal kecil yang dilakukan seseorang bisa memberikan dampak yang besar bagi orang lain. (hlm. 67)
  5. Salah satu hal paling percuma yang pernah dilakukan manusia adalah mencoba berlari dari kenangannya sendiri. (hlm. 73)
  6. Haruskah genap untuk menjadi lengkap? Mengapa ganjil tidak bisa memenuhi? (hlm. 98)
  7. Kata-kata yang indah tidak selamanya berasal dari perasaan bahagia. (hlm. 146)
  8. Terkadang, tidak ada pilihan lain untuk menghindar dari rindu yang menyakitkan, selain menjauh dan perlahan melupakan. (hlm. 163)
  9. Tidak semua hal memiliki alasan. Kalaupun ada, tidak semua alasan dapat dijelaskan dengan mudah. Tidak dapat dijelaskan, mungkin karena alasan tersebut terlalu absurd dan tidak masuk akal. Atau memang karena alasan tersebut tidak pernah ada. (hlm. 171)
  10. Hal yang tersulit untuk dilakukan, bahkan mungkin mustahil, adalah mencoba membohongi perasaan sendiri. (hlm. 189)
  11. Betapa beratnya jujur dan mengungkapkan kebenaran. Sebab mereka adalah hal-halyang pahit. Dan tidak semua orang menyukai kepahitan. (hlm. 280)
  12. Jarak tidak selalu buruk, ia memberi waktu dan kesempatan kepada kita untuk berpikir ulang. (hlm. 302)
  13. Terkadang, cemburu menjadi hal yang sangat misterius. Ia datang pada waktu yang salah dan hubungan yang keliru. (hlm. 131)

Dibandingkan Kata Hati, novel yang ditulis Bara sebelumnya, novel ini nampak lebih matang baik dari segi isi maupun gaya kepenulisannya. Covernynya pun juara, ditambah adanya selipan-selipan ilustrasi yang merepresentasikan tempat-tempat di novel ini. Ada aura Jogjanya. Plus ada potongan-potongan puisi yang tidak menye-menye.

cinta titik 1 cinta titik 2

Saya menjatuhkan puisi favorit yang berjudul “Pada Paragraf yang Begitu Singkat” di halaman 107. Puisi ini bikin meleleh jauh sebelum baca buku ini. Saya pernah mendengar souncloudnya Mbak Jia yang sedang membacakan puisi Bara ini: https://soundcloud.com/jiaeffendie/pada-paragraf-yang-begitu

cinta titik 3

Keterangan Buku:

Judul                     : Cinta. (baca: cinta dengan titik)

Penulis                 : Bernard Batubara

Editor                    : Widyawati Oktavia

Proofreader       : Elly Afriani

Penata letak       : Wahyu Suwarni & Irene Yunita

Ilustrator isi        : Lia Natalia

Desainer sampul: Gita Mariana

Penerbit              : Bukune

Terbit                    : 2013

Tebal                     : 318 hlm.

ISBN                      : 602-220-109-8

cinta titik 4

Indonesian Romance Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/01/indonesian-romance-reading-challenge-2014/

22 thoughts on “REVIEW Cinta. (baca: cinta dengan titik)

  1. Iya, covernya menarik, warna gelap yang kesannya malah jauh dari romance… mungkin karena penulisnya cowok kali ya…😀

    Wah, nge-fans nih sama beliau, Bernard Batubara… Suka sama tulisannya…

  2. Quote-quote nya bagus….
    Cover nya juga bagus…
    Dan pas baca puisi di gambar tadi, langsung klepek-klepek pengin beli buku ini…

  3. “Kalau aku menunggu terus sampai ada yang benar-benar pas, aku tidak akan pernah menikah. Kamu yang membuat pasaanganmu menjadi pas denganmu, bukan hanya menunggu.” (hlm. 114) Jlebbbb…. Hehe…

    Saya juga acungi jempol buat puisi cinta yang memakai metafora menyusun narasi itu… Ilustrasinya juga menarik. *Kok banyak yang menarik dari review Mbak Luckty ini? duh… Banyak yang belum kubaca…

  4. Kenangan adalah benda yang diam (jika ia bisa disebut benda). Tidak bergerak dan menetap seperti guci di sudut rumah yang tidak berpenghuni. Bisu dan angker. Ia menentang hukum waktu yang selalu bergerak. Ia tidak berubah bentuk. Ia terbingkai dan bingkainya ikut abadi selamanya. Ia tidak bisa dihapus. Ia permanen. Melekat seperti roh pada jasad dan jasad pada roh. Tidak seperti kehidupan, ia tidak menginginkan perubahan. Ia tidak bisa berubah. Ia tidak bisa diapa-apakan selain diterima sebagai bagian dari sejarah dan riwayat seseorang. (hlm. 74)

    pembuka review yang kereen kak…
    Ceritanya juga baguuuus, apalagi puisinya.. aduh,,, ngena banget🙂

    Suka sama gambar jogjanya…🙂

  5. tergoda beli buku ini karena apalagi kalau bukan karena twit-twitnya bara (jadinya PO pulaa). yang saya suka dari novel ini: buat saya, bara berhasil menyuguhkan cerita tentang perselingkuhan dengan menggunakan sudut pandang orang ketiga (yang dijadikan selingkuhan) dan membuat pembaca memiliki sudut pandang lain (tidak melulu dari peselingkuh atau yang diselingkuhin). di sini juga bara sukses menjadi perempuan “Nessa” (karena tokoh utamanya perempuan) dan tokoh Nessa dipaparkan dengan pas, tidak berlebihan.

  6. Wow…wow…speechless, ini Bara emang jago ya memilih diksi. Tema klise ini jd pwerful di tangannya. Gk menye2. Dan…itu quotes ttg cinta sejati….hahaha bnyk pembaca yg sepakat kyknya. Termasuk sy :))

  7. Mbak, keren banget foto-fotonya. Jadi saya bisa intip-intip isi buku ini. Hehe.. Cerita cinta memang dari zaman Nabi Adam sampai sekarang tak pernah habis ya. Penulis buku paling suka mengeksplor tema cinta seperti juga novel ini. Suka dengan kutipan kalimat yang disukai mbak dari novel ini. Sip markosip😀

  8. Pingback: Wishful Wednesday #47: Surat Untuk Ruth | Luckty Si Pustakawin

  9. Pingback: Daftar Bacaan Tahun 2014 | Luckty Si Pustakawin

  10. Pingback: [BOOK KALEIDOSCOPE 2014] Top Five Best Book Covers | Luckty Si Pustakawin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s