REVIEW Tetap Saja Kusebut (Dia) Cinta

tetap saja kusebut dia cinta

Mau kubilang lantang… atau kupendam dalam diam. Tetap saja kusebut (dia) cinta

Aihh… #JLEBB sekali kalimat dibelakang sampul buku ini. Siapa yang tidak meleleh saat membacanya. Awalnya saya mengira ini novel ternyata kumcer. Setelah membaca novel sebelumnya, Galaksi Kinanthi: Sekali Mencintai Sudah itu Mati?, saya langsung jatuh hati dengan gaya kepenulisan Tasaro GK. Jadi, saya pun mempunyai ekspetasi yang berlebih terhadap buku ini.

Dibuka dengan cerpen yang berjudul PUISI. Adalah Dokter Smile yang setiap harinya memeriksa pasien bermasalah jantung di berbagai kamar rawat inap. Salah satu pasiennya bernama Ibu Aryati yang sudah lanjut usia. Ibu ini memiliki kerinduan yang sudah terlalu kadaluwarsa untuk disusun dengan ungkapan-ungkapan. Ibu Aryati sudah menceritakan hal ini berkali-kali. Membuat Dokter Smile mengoreksi lagi apa yang terlanjur lama ia yakini. Pada pernikahan-pernikahan lampau, ketika kata cinta bahkan tidak pernah dilisankan begitu rupa, imbasnya mampu mencengkram hati begitu lama.

“Novel percintaan yang diingat orang, kan, temanya selalu kasih tak sampai. Abang terlalu menikmati itu sepertinya. Realitas cinta lebih sering tak seromantis puisi. Abang harus menghadapinya langsung, bukan dengan lirik lagu, puisi, kata-kata yang Abang sebar di website, Facebook, blog.” (hlm. 20)

Kalimat di atas sungguh menampar saya yang hobi baca buku-buku bergenre romance. Begitulah, ketika terlalu sering membaca novel percintaan, jadi kebawa-bawa di dunia nyata, gyahahaha…😀

Cerpen pembuka ini menceritakan tentang menunggu. Tentang kisah menunggu juga menjadi tema dalam cerpen kelima; TETAP SAJA KUSEBUT (DIA) CINTA yang menjadi judul dalam cover ini. Adalah Arumdhati yang usianya tak lagi remaja, dirinya tinggal memiliki sedikit musabab untuk mengalami bahagia. Angaraka. Nama itu berbisik di hati Arumdhati entah sampai kapan. Tidak pernah tergantikan. Selalu menjelma pada setiap gendhing yang didengar  telinga, terkadang muncul dalam kisah yang ia baca. Angaraka. Nama itu sebanding dengan Mars dalam tata surya, seperti halnya nama Arumdhati yang bermakna Venus ada tatanan benda-benda antariksa. Dua nama yang semestinya berpasangan. Tapi tidak seperti pada nyata kehidupan.

Arumdhati tidak pernah betul-betul mengerti yang dia rasakan. Apa namanya ini? Bermula dari sebuah kecupan di dahi pada malam Yadnya Kasada, sewaktu ayah Arumdhati tak menyadari gadis kecilnya hampir terpeleset masuk ke kawah Bromo sementara dirinya berebut ongkek-ongkek persembahan penduduk Tengger. Angaraka, kesatria kecil yang datang dari kaki Gunung Bromo meraih tubuh Arumdhati, mengamankannya dengan hati-hati. Menghadiahinya sebuah kecupan yang maknanya tidak pernah terterangkan. Sampai kini.

Di dunia imajinasi, kisah kasih tak sampai memang lebih melegenda ketimbang kisah yang berakhir bahagia. Sebut saja kisah percintaan Romeo dan Juliet, Layla dan Majnun, Rasus dan Srintil, dan masih banyak lagi. Poin plus dari cerpen ini adalah unsur lokal yang kental.

“Gue nggak pernah lihat elu nangis, Rom.”

“Elu juga nggak pernah jatuh cinta? Nggak pernah pacaran?” (hlm. 44)

“Elu cuma manis di awal saja, Rom. Nggak ada perhatiannya sama sekali. Gue kayak pacaran sama patung.” (hlm. 50)

ROMAN PSIKOPAT mengingatkan saya akan masa-masa diklat pra jabatan. Pernah suatu kali seorang widyaiswara memberi pertanyaan yang sama persis dengan cerita di pembukaan cerpen ini. Saya satu-satunya peserta diklat yang berhasil menjawab. Sialnya, yang bisa menjawab adalah ciri-ciri orang psikopat. Glek, hasyem! >.<

“…orang-orang yang mengidentifikasikan dirinya sebagai aktivis, lalu merasa berhak untuk hidup ekslusif. Mereka ini bukan malaikat yang sedang rehat di pelataran bumi. Mereka tetap berpeluang untuk jatuh dan berbuat kesalahan. “ (hlm. 90)

 Orang-orang memang ingin mereka bertindak sebersih malaikat, bukan yang lain. Harus seperti malaikat. Dan, rasa-rasanya aku tidak memiliki sifat seperti malaikat. Meski hanya mendekati sekalipun. (hlm. 109)

Pernah menemui para golongan ekslusif seperti ini?!? Membaca cerpen BUKAN MALAIKAT REHAT yang bersetting Jatinangor ini serasa de javu masa-masa kuliah. Saya menemukan beberapa teman  yang berkategori ini. Sama halnya dengan Sutha, saya dikelilingi orang-orang ekslusif seperti ini. Bedanya, saya tidak terjun langsung ke golongan ini seperti yang dialami Sutha, hanya berteman dengan mereka. Tidak lebih.

“Gue cuma mau bilang, setiap manusia diciptakan dengan beban yang sama. Hak sama, kewajiban sama. Hanya bentuknya yang beda.” (hlm. 200)

Sedangkan cerpen TUHAN NGGAK PERNAH ISENG dan SEPARUH MATI, sama-sama membahas tentang kisah cinta yang tidak seperti kebanyakan orang. Dua cerpen ini disajikan secara objektif dan bijaksana tanpa berat sebelah. Poin plusnya tidak terkesan menghakimi.

Pernah merasakan ini? Jatuh cinta kepada memori. Separuh mati. Perasaan hebat itu orok pikiran semata. Tidak benar-benar… dia. Sekadar fosil yang terjepit di antara sirkuit otak. Sanggup melanjutkan hidup. Bahagia dengan apa yang dipunya, tapi menyumblim pada petang sesudahnya. Padat menjadi uap. Ketika memori menyerang otak. Menyundut bara yang susah dieja. Antara rindu sekarat dan kesadaran bahwa perasaan itu tak akan membawa ke mana-mana. (hlm. 211)

GALERI adalah cerpen yang bikin bulu kuduk berdiri. Mana bacanya malem-malem pula. Gak nyangka kalo ada salah satu cerpen yang beraura mistis! >.<

Membaca cerpen ATARIH langsung teringat penulis Indonesia yang beberapa waktu lalu sempat dihujat oleh seorang blogger. Penulis juga manusia. Tidak selalu benar. Tahu kan siapa yang disebut Atarih dalam cerpen ini?😉

“Pekerjaan seorang penulis itu sebatas menulis saja. Biarkan para kritikus mengambil perannya sebagai pemberi kritik.” (hlm. 230)

Cerpen yang menjadi penutup dalam kumcer ini adalah KAGEM IBUK. Membaca bikin mata berkaca-kaca. Cerita tentang perjuangan seorang ibu selalu mampu meluluhlantakkan hati.

Ketika akhirnya aku menjadi orangtua, kadang ada kekangenan masa kanak-kanak dulu. Masa ketika aku merasa terlindungi. Ada masalah, seberat apa pun itu, aku selalu bisa pulang dan menemukan Ibuk…. (hlm. 252)

Beberapa kalimat favorit dalam kumcer ini:

  1. Cinta itu hanyalah tenaga untuk menjalani hidup, bukan ujung perjalanan yang menjadi tujuan. (hlm. 14)
  2. Mencintai adalah kondisi yang rapuh dan beresiko. Itu hanya akan membuat seseorang lemah dan menjadi bulan-bulanan. (hlm. 47)
  3. Karena hidup adalah pilihan. (hlm. 90)
  4. Kalau mengikuti mainstream sedangkan sejatinya sejatinya tidak nyaman dengan itu, berarti justru terjebak di dalam kotak. (hlm. 133)
  5. Cinta kadang memiliki dimensi yang terbatas pada rasa saja. Kebutuhannya sampai di situ. (hlm. 153)
  6. Hidup masih berjalan. Sedangkan sensasi cinta itu justru terletak pada ketidakbersatuan, ketidakbersamaan. (hlm. 154)
  7. Ketika menjadi mahasiswa, berpikir lurus sesuai teks buku. Kalau sudah masuk di lingkungan nyata, teori buku itu tak ubahnya make up yang tak menentukan penampilan seseorang 100 persen. (hlm. 178)

Suka sekali dengan kumcer ini. Isi ceritanya memang tentang cinta, tapi bukan cinta picisan ala menye-menye. Kisah roman yang bikin meleleh. Cinta dari berbagai sudut pandang. Semuanya memiliki benang yang sama; cinta.

Mata kita akan dimanjakan oleh kertas yang berwarna-warni. Selain covernya yang kece berat, ilustrasi di dalamnya yang merupakan goresan dari Dredha Gora Hadiwijaya pun patut diberikan dua jempol. Wajib dikoleksi!😉

Keterangan Buku:

Judul                                     : Tetap Saja Kusebut (Dia) Cinta

Penulis                                 : Tasaro GK

Penyunting                         : Indradya S.P.

Ilustrasi sampul & Isi       : Dredha Gora Hadiwijaya

Desainer sampul              : Bluergarden

Penerbit                              :  Qanita

Terbit                                    : Mei 2013

Tebal                                     : 264 hlm.

ISBN                                      : 978-602-9225-88-4

Bocoran beberapa ilustrasi keren dalam buku ini:

tetap saja kusebut dia cinta 4tetap saja kusebut dia cinta 3tetap saja kusebut dia cinta 2tetap saja kusebut dia cinta 1

Indonesian Romance Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/01/indonesian-romance-reading-challenge-2014/

Short Stories Reading Challenge 2014 https://luckty.wordpress.com/2014/01/18/short-stories-reading-challenge-2014/

28 thoughts on “REVIEW Tetap Saja Kusebut (Dia) Cinta

  1. baru kali ini saya menemukan blogger yang “Gila Baca”.. kakak, saya boleh curhat tidak ?? terkait bagaimana agar membaca buku handbooks terasa seperti menonton bioskop, atau makan cokelat?? please, bantu saya agar gemar membaca seperti kakak.

  2. Tampaknya saya salah memulai baca karya Tasaro GK melalui karya fantasinya yang… biasa saja. Harusnya saya memulai dari Galaksi Kinanti ya. Kumcer ini tampaknya menjanjikan… sesuatu yang oke punya😀

  3. Saya selalu penasaran sama karya2 Tasaro GK. Baru baca cerita silat Pitaloka-nya & 2 Seri Muhammad LPH-nya saja. Galaksi Kinanti dari dulu belum kesampaian. Ini lagi, ilustrasi gambarnya keren2… Dan… Kalau bicara cinta, diksi2 yang dipakai Kang Tasaro biasanya memang jlebbb, menyayat hati… Yaahh… buku ini nambah daftar wishlistku dong….

  4. reviewnya lengkap banget sampe ilustrasinya juga ditampilkan tapi ada beberapa cuplikan kalimat dari novel yang menurutku nggak perlu soalnya gak nyambung sama pembahasan yang diberikan. ada kalanya cuplikan2 itu bagus untuk memperkuat pembahasan singkat review tapi kalo terlalu banyak bikin pusing yang baca juga hehe….

  5. Tetap saja dia kusebut GURU…. aihhh ini kang Tasaro emang Toubbb deh. Sy sll menemukan karya2nya bernas, cerdas, kuat. Meski tema2nya bs jd klise tp dia mengolahnya dg kecermatan dn ketekunan tingkat dewa. Tentu ditambah kecerdasan dong. Selalu iriiiii dg kualitas karya2 pak guru saya ini…. *nangis nutupin buku sndr*

  6. Pingback: Daftar Bacaan Tahun 2014 | Luckty Si Pustakawin

  7. Pingback: [BOOK KALEIDOSCOPE 2014] Top Five Most Memorable Quotes | Luckty Si Pustakawin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s