REVIEW Once Upon a Time in Korea

   once upon in korea

Tak ada salahnya mencoba semua kemungkinan. Karena dengan mencoba kita mendapatkan jawaban yang akurat bukan hanya sekedar terkaan atau menebak-nebak. (hlm. 22)

Menenun cerita dan merajutnya dengan benang emas kehidupan. Akan menjadi kisah yang tak habis ditelan waktu. Indah, manis walau ada debu menutup luka. Semuanya akan tersimpan rapi dalam kantung hati. Hingga terangkatnya jiwa kita.

Hidup hanyalah rangkaian perputaran bumi, di atasnya ada berkotak-kotak rasa. Rasa yang sesuai dengan ingin kita maupun rasa yang sama sekali tak pernah terlintas dalam benak kita. Tulisan ini adalah rangkaian cerita dari ratusan cerita lainnya yang masih bertumpuk dalam hati. Rajutan kata yang terjahwantahkan adalah saksi biksu dari sebuah perjalanan singkat di Negeri Ginseng, Korea Selatan.

Adalah penulis bersama sahabatnya yang baru saja lulus kuliah, hendak melanjutkan kuliah lagi ke negeri lagi. Korea pilihan mereka. Saban hari mereka berusaha memasukkan data diri ke semua daftar beasiswa. Semuanya sudah mereka kerjakan. Bahkan sampai nodong langsung ke profesor juga sudah. Hingga beberapa bulan kemudian, perjuangan mereka membuahkan hasil. Mereka di terima di Kyung Hee University.

Ini dia penampakan kampusnya, hasil dari googling:

once upon in korea 1
Selain kampusnya yang kece badai itu, saya juga kepincut ama Masjid Itaewon dan Islamic Book Center yang dideskripsikan dalam buku ini:

once upon in korea 2

once upon in korea 3
Tanyalah nurani, gaul macam apa yang kita inginkan? Gaul di antara rombongan bule-bule berbadan tegap dan berwajah ganteng? Atau menjadi orang paling gaul di surga-Nya? Semuanya adalah pilihan hidup. Dan Korea menyediakan semua fasilitas itu. Korean menjual tiket-tiket ini secara gratis. Tiket menuju kehidupan glamor, tiket menuju surga, atau tiket menuju neraka dengan level yang berbeda? Semuanya lengkap dan gratis. (hlm. 227)

Dalam menjalani proses komunikasi antar budaya pasti akan mengalami suatu perbedaan budaya. Penulis mengalami yang namanya culture shock atau gegar budaya. Dalam buku Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar-nya Deddy Mulyana (Maaakkk…buku kuliah semester satu :p), Larry A. Samovar mengemukakan enam unsur budaya yang secara langsung mempengaruhi persepsi kita ketika berkomunikasi dengan orang lain dari budaya lain, yakni:

  1. Kepercayaan, nilai, dan sikap
  2. Pandangan dunia
  3. Organisasi Sosial
  4. Tabiat manusia
  5. Orientasi Kegiatan
  6. Persepsi tentang diri dan orang lain

Beberapa gegar budaya yang dihadapi penulis:

  1. Jika biasanya kami tidak pernah membawa botol kosong ke mana pun kami pergi, mulai sekarang untuk mengantisipasi toilet tak berair ini kami harus membawa botol kosong ke mana pun. Kalau malas, ya mau tidak mau harus merogoh kocek seribu won tiap kali mau buang air. (hlm. 26)
  2. Teman-teman yang beragama Islam, sudah biasa menggunakan tangga darurat untuk tempat shalat. Meski kadang hanya beralaskan koran atau bahkan jaket yang mereka kenakan, tidak membuat niat mereka ciut untuk menemui Sang Kekasih Hati. (hlm. 37)
  3. Aku dan mungkin teman-teman berkerudung lainnya merasa terganggu. Sang pemandang bahkan sampai harus memutar badannya mengikuti arah gerak kami, saking anehnya kami mereka di mata mereka. Dipandangi lekat-lekat hingga membuat risih, seperti itulah yang kami rasakan pada awalnya. (hlm. 45)

Begitu juga dengan urusan makanan:

  1.  Sepertinya Mbah Google juga bosan dan sudah sampai pada taraf kejenuhan tingkat dewa karena aku selalu menanyakan “aneka masakan telur, menu telur, egg recipes, etc. (hlm. 68)
  2.  Beras Thailand pemberian Shany ini cukup membantu, serta pas dengan lidah dan dompet mahasiswa. Teksturnya memang berbeda dengan beras Korea atau China yang bulat dan sangat pulen. Beras Thailand lebih mirip beras di Indonesia yang biasa digunakan oleh para penjual nasi goreng. (hlm. 73)
  3.  Kita masih bisa makan ikan, udang, cumi dan rangkaian seafood lainnya yang bisa dijumpai di setiap swalayan atau pasar. Meskipun terkadang banyak pemandangan yang tidak mengenakkan saat di pasar. (hlm. 72)
  4.  “Igonen dwaeji gogi isseoyo?”, kata-kata ini harus ditanyakan sebelum memutuskan makanan apa yang akan dipesan. Kalimat tersebut artinya “Ini, ada babinya tidak?” Atau cukup bilang “Cheoneun dwaeji gogi anmogoyo” yang maksudnya mau memberitahukan kalau “Aku tidak makan daging babi”. Mau tidak mau, kami pun mencatat kalimat sakti itu di ponsel. Jadi, kapan pun dan di mana pun kami kesulitan, tinggal lihat contekan saja. (hlm. 57)

Mudah sekali mendapatkan makanan halal. Hanya butuh kesediaan kita untuk rajin memasak. Tidak bisa masak? Tekonologi akan menolong kita dengan banyak resep yang dapat dengan mudah diunduh melalui internet. Lantas alasan apalagi? Susah mendapatkan ayam atau daging halal? Tinggal telepon, pesanan pun akan sampai. Memang sih, harganya sedikit lebih mahal. (hlm. 74)

Saya jadi teringat Anes, adik kelas jaman sekolah yang pernah kuliah di Jepang. Dia juga masak sendiri. Katanya, beda jauh pengeluaran kalo makan masak sendiri ama kalo jajan di luar. Terlebih lagi, makanan yang dibuat sendiri dijamin halal.

Dari semua pengalaman yang diceritakan, saya paling suka dengan BAB Sonsaengnim. Penulis mendapatkan kesempatan untuk mengajar di sekolah. Tepatnya di sebuah taman kanak-kanak. Menarik perhatian anak kecil di depan kelas gampang-gampang susah. Mereka rata-rata berumur sekitar empat hingga enam tahun. Usia yang cukup muda dan sudah pasti ingin bermain dan sulit untuk berkonsentrasi dalam waktu yang sama.

Sebulan pertama menghabiskan waktu dengan anak-anak kecil memang lebih mengasyikkan dibandingkan harus berkutat dengan komputer, buku, dan tugas. Apalagi kalau permainan ini juga bisa menambah lembar demi lembar won di kantong kami. (hlm. 242)

Ceritanya mengalir. Hambatan-hambatan yang dilalui tergolong masih aman. Tidak menemukan sesuatu yang memilukan atau bikin deg-degan. Terlepas itu, buat yang tertarik sekolah atau kuliah di Negeri Ginseng, buku ini cocok sekali menjadi paduannya. Kita jadi mengenal bagaimana budaya di sana😉

Keterangan Buku:

Judul                                     : Once Upon a Time in Korea

Penulis                                 : Elvira Fidelia

Penyunting                         : Azzura Dayana

Penyelaras aksara            : Nurul M. Janna

Desain sampul                   : Heavenly Illusioniz

Foto                                       : Sarah Louise Atulba dkk.

Penerbit                              : Noura Books

Terbit                                    : November 2013

Tebal                                     : 264 hlm.

ISBN                                      : 978-602-1606-09-4

18 thoughts on “REVIEW Once Upon a Time in Korea

  1. Wah, pengin baca buku ini >< Rasanya menarik ya untuk baca-baca buku seperti ini, note that popularitas Korea cukup tinggi hehe~ keren juga (?) pengarangnya bisa kuliah di Kyunghee yang katanya banyak artisnya juga yang kuliah di sana O O. Terus, sepertinya memang keberadaan orang berjilbab di negeri asing seperti itu masih bisa terasa asing ya bagi warganya? Meskipun di promosi pendidikan yang sempet saya ikuti, pihak beasiswa Korselnya bilang bahwa sebenarnya pihak univ Korsel biasanya senang menerima mahasiswa yang seperti itu, berjilbab dll karena untuk menunjukkan "keragaman"~

    Terima kasih untuk reviewnya kak,
    Khairisa R. P
    http://krprimawestri.blogspot.com

  2. Terimakasih review nya kak
    Novel yang inspiratif, kereeen…🙂 Jadi pengen baca, gimana susah senengnya belajar di negeri orang..🙂

  3. Ini warna baru dari budaya Korea yang juga mewabah di Indonesia, bahkan sampai ke tulisan-tulisan alias novel yang dibikin mirip bahkan sama dengan jalan cerita drama-drama Korea kebanyakan, tentang cinta…

    Yang ini, keren nih. Tentang perjuangan mahasiswa Indonesia beradaptasi di Korea…

    Bikin penasaran…

    Quotes-nya jleb semua…

  4. Sukaaa. Ini buku ttg travelling k Korea yg unik. Sisi seorg muslimah menyiasati kondisi di sana diulas detil. Bab yg dia ngajar itu juga menyentuh dn menginspirasi. Ayo tambahi bintang utk buku ini….

  5. cerita yang berbau agamis lagi, kali ini di negara favorit saya, yakni Korea.
    Saya punya keinginan sampe sekarang kalau saya harus bisa menapakkan kaki saya di lantai masjid tersebut.

    kak quotes-nya mana???? aku seneng deh bacain list quotes yang di bikin kaka

  6. Sukaaaa, pengen lebih mengenal Korea…. Selama ini aku masih terlalu fokus di entertainment-nya. Emm, apalagi pariwisatanya.

  7. Pingback: Daftar Bacaan Tahun 2014 | Luckty Si Pustakawin

  8. Subhanallah..daebak!^^ recomended bgtt buat di baca *mskipun ktinggalan jaman haha^^ btw Kyuhyun Super Junior juga kuliah di Kyunghee University…^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s