REVIEW Merajut Rahmat Cinta

merajut rahmat cinta

“Jagalah cinta itu untuk menyempurnakan kemualiaanmu di sisi-Nya. Jodoh itu pasti datang, karena Tuhan telah mencatatnya sejak kita dilahirkan. Dan, ketika jodoh itu datang, berilah cintamu sepenuhnya.” (hlm. 105)

Muhammad Fatih Fauzan. Tuhan telah memanggil orang-orang yang paling ia cintai; ayah, ibu dan adiknya secara bersamaan. Hamba-hamba teladan itu kini telah menghadap Tuhan, meninggalkannya sendirian tanpa pesan, kecuali apa yang sudah mereka tanam di hatinya. Bekal yang membuatnya selalu ingin bercengkerama dengan Tuhan. Orangtua Fatih telah membekalinya dengan iman untuk menghadapi segala angkara dan kezaliman dalam kehidupan. Telah mereka tanamkan prinsip-prinsip itu jauh dari dasar hatinya. Dan, itu sungguh merupakan warisan paling berharga bagi Fatih. Dia yakin masih memiliki kekuatan. Kekuatan yang mengakar di relung jiwanya. Dihatinya telah tersemai benih-benih iman. Benih itu menumbuhkan kepercayaan bahwa setiap takdir memiliki hikmah bagi hamba-hamba-Nya yang beriman. Tuhan sangat Maha Mengetahui kadar keimanan dan kesabaran yang dimiliki hamba-Nya.

Selalu ada alasan di balik semua peristiwa. (hlm. 79)

Tak sedikit di antara pemuda setempat yang mengagumi kecantikan putri Kiai Syamsul, terutama Tazkiya. Kesantunan dan kesederhanaan Tazkiya menghadirkan rasa istimewa dalam hati banyak pemuda. Namun, tak seorang pun berani mengungkapkannya. Bagi mereka, mengagumi dari jauh sudah cukup, tanpa harus mendekati, apalagi memiliki. Karena di mata pemuda-pemuda itu, Tazkiya adalah mutiara yang harus dijaga kemuliaannya dan takkan mungkin dapat disentuh.

Semuanya serbamungkin. Tidak ada yang tidak mungkin untuk cinta. Dia datang tak diundang, pulang pun siapa yang antar. (hlm. 28)

Sejak kecil Shilvi hanya tinggal dengan papinya yang selalu menyayanginya. Perangai papinya berubah sejak dia kelas 3 SMA. Sering marah-marah dan tak jarang menamparnya. Bahkan sering mengurungnya di dalam kamar sepanjang malam. Peristiwa demi peristiwa dilaluinya. Semuanya pahit. Sampai dia terperosok ke dunia hitam.

Novel ini sebagian ber-setting Raudhatul Muhtadin, salah satu pesantren tua di Cipare, Serang. Maka, tak heran jika novel ini kuat dengan aroma religi. Sudah lama saya gak baca novel-novel bertema religi ini. Kenapa? Waktu kuliah saya ambil Ayat-ayat Cinta (AAC) ntuk objek penelitian skripsi. Jadilah sudah amat sangat book hangover dengan tema seperti ini. Yup, dibalik kesuksesan AAC, banyak sekali buku-buku yang mengekor kesuksesannya dengan kombinasi; agama, cita-cita, cinta segitiga, dan…errr…poligami. Dengan tokoh utama yang sempurna hampir tanpa celah.

Ada adegan sinetron:

Ia pungut kertas-kertas dan beberapa buku yang berserakan. Gadis itu pun membantu. Pada kertas terakhir, tangan keduanya bersentuhan. Fatih kembali beristigfar sembari menarik cepat tangannya. (hlm. 35) — Errrr… gak ada adegan lainkah yang sudah ratusan kali ada di novel-novel romance sebelumnya?

Hal yang paling cukup membingungkan adalah Fatih yang (dipaksa) menikahi Tazkiya demi menyelamatkan pondok pesantren yang dimiliki Kiai Syamsul, Abinya Tazkiya. Padahal Tazkiya adalah anak bungsu. Jika mau menggantikan posisi abinya di pesantren, yang cocok seharusnya suami dari anak yang lebih tua; Aini. Apalagi calon suami Aini, Fadhil merupakan putra tunggal K.H. Lukman Hakim, pengasuh Pondok Pesantren Al-Hakimiyah Pandeglang. Ditambah lagi Fadhil ini kuliah S-2 di UIN Jakarta. Secara ilmu dan pengalaman, tentu Fatih kalah jauh dibandingkan dengan Fadhil ini. Kenapa bukan Fadhil saja yang diamanahi memegang kendali Pondok Pesantren Raudhatul Muhtadin?!? Padahal jelas-jelas Fadhil akan menikahi Aini, putri Kiai Syamsul.

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. “Berapa banyak orang kaya di negeri ini yang mengalami tekanan batin, dikejar harta dan jabatan yang tak berhenti menimbulkan masalah. Sebaiknya, banyak orang miskin tetap bisa mendapatkan kebahagiaan di tengah kekurangan dan memiliki lebih banyak waktu untuk bercengkrama dengan Tuhan.” (hlm. 9)
  2.  “Dunia terhampar laksana sajadah. Sajadah itu akan dilipat kembali oleh pemilik-Nya pada suatu masa. Mengapa kita terbuai oleh kenikmatan-kenikmatan semu?” (hlm. 68)
  3. “Dalam kelebihan dan kekurangan, terselip ujian dan amanat Tuhan. Keduanya menjanjikan kebahagiaan bila disyukuri dan dimanfaatkan dengan baik karena kebahagiaan tidak dapat dilihat semata dari wujud yang tampak di mata, tapi juga ada di hati.” (hlm. 9)
  4. Allah telah menetapkan kada-Nya untuk kita. Dan, salah satu dari kada itu telah menjadi kadar. Apa lagi yang bisa kita perbuat? Rasa takut itu hanya kepada Allah, bukan kepada yang lain. (hlm. 140)
  5. Harapan itu pasti ada. Teruslah berdoa. Pasrahkan semua kepada Allah. (hlm. 209)

Kalimat paling favorit:

Ibu adalah sekolah. Ibu adalah lembaga pendidikan pertama. Ibulah yang membekali anak sikap, watak, kepribadian, akhlak, iman, dan pemahaman bahwa dunia ini berkerikil, dan kerikilnya dapat sering membuat si anak terjatuh. Ibu yang baik akan mempersiapkan anaknya menghadapi kerikil-kerikil itu agar ketajamannya tak membuat cedera hidup di dunia, apalagi cedera di akhirat kelak.

Terlepas dari itu, suka ama covernya yang manis unyu gitu. Banyak hikmah yang kita ambil dari kehidupan Fatih. Pepatah lama mengatakan, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Cobaan dan pengalaman pahit yang dirasakan Fatih berbuah manis pada ujungnya. Intinya, jangan pernah mengeluh dan merasa putus asa ketika badai kehidupan menerpa.

“Setiap ada kesulitan, pasti Allah menyelipkan kemudahan di dalamnya. Allah tak pernah memberi ujian kepada seorang hamba bila di mata-Nya hamba itu takkan kuat memikulnya.” (hlm. 45)

Keterangan Buku:

Judul                                     : Merajut Rahmat Cinta

Penulis                                 : Hasyim El-Hanan

Penyunting                         : Yudith Listiandri

Perancang sampul           : Inttan & Yusnida NA

Penata aksara                    : Endah Aditya

Penerbit                              : Bunyan – Bentang Pustaka

Terbit                                    : 2013

Tebal                                     : 258 hlm.

ISBN                                      : 978-602-7888-59-3

Indonesian Romance Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/01/indonesian-romance-reading-challenge-2014/

New Authors Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/02/new-authors-reading-challenge-2014/

2014 TBBR Pile – A Reading Challenge

https://luckty.wordpress.com/2014/01/02/2014-tbbr-pile-a-reading-challenge/

10 thoughts on “REVIEW Merajut Rahmat Cinta

  1. Kutipan kata2 bersayap eh berhikmahnya banyak. Selalu tercerahkan dg buku2 spt ini. Sederhana tp berbekas. Sayang tema ceritanya klise dn penulisnya tampaknya tdk membuat yg klise itu jd lbh menarik. Sinetron pula…. ada yg terasa tdk logis pula y ttg kedudukan Tazkiya d pesantren itu. Seharusnya yg sulung yg disiapkan utk kader pemimpin pesantren. Oh sayang sekaliii😥

  2. orang tua memang tidak bisa menemani sang anak selamanya. bekal utama memang harus dipersiapakan sedini mungkin agar sia anak itu bisa siap menghadapi ‘keganasan’ dunia.

    fungsi ibu, sebagai madrasah memang nyata fungsinya. tak hanya di dalam cerita fiksi, tapi juga di kejadian nyata.

  3. Intinya “Setiap kesulitan pasti ada kemudahan.”
    Wah, kaka mengungkap sepenggal paragraf saja, udah bikin saya penasaran setengah mati. Aku jarang banget baca novel yang berunsur agama.

    Saya sering bertanya-tanya, kalo baca review orang termasuk kaka. Penggunaan bahasa baku itu diwajibkan nggak sih dalam menulis review pas di bagian opini reviewer?

  4. Pingback: New Authors Reading Challenge Progress (Jan-Feb) | Luckty Si Pustakawin

  5. Assalamu’alaik Mbak Luckty. Terima kasih sudah me-review MRC. Semoga bermanfaat dan menambah ladang ibadah bagi kita. Jika Allah berkenan “Sorban Cinta Sang Kiai” (novel kedua dari MRC) terbit nanti, insya Allah saya siapkan untuk Mbak. Salam silaturrahim untuk semua pencinta sastra islam…
    Wassalam
    Hasyim El-Hanan

  6. Pingback: Daftar Bacaan Tahun 2014 | Luckty Si Pustakawin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s