REVIEW The Vanilla Heart

the vanilla heart

“Kita mungkin harus serius mencari tahu. Ada apa sebenarnya dengan masalah hati manusia? Kenapa cinta bisa menjadi bias? Antara penjajahan, pengabdian, atau penghambaan?” (hlm. 83)

“Aku tidak cukup terluka hingga harus patah hati. Tapi, aku merasa sakit karena dicampakkan, seakan aku tidak pernah berarti baginya.” (hlm. 19)

Apakah waktu bisa menyembuhkan luka? Teorinya, sih, begitu. Namun, Hugo tidak sependapat. Bertahun-tahun dia mencoba melupakan rasa sakit hatinya karena kandasnya hubungan cintanya dengan Farah, tetapi sepertinya tidak berhasil. Itu bukan karena Hugo masih sangat mencintai Farah. Sama sekali bukan itu, melainkan karena perasaan diabaikan dan dicampakkan. Dan, kepahitan itu tidak punah juga.

Hugo tidak pernah membayangkan akan memiliki kekasih lain. Selama bertahun-tahun, hanya Farah yang ada di hatinya. Farah adalah masa depannya. Farah adalah teman berbagi segalanya dalam hidupnya. Hal itu yang dipikirkan Hugo selama tujuh tahun hubungan mereka. Namun, tiba-tiba saja gadis itu memutuskan untuk membatalkan rencana pertunangan mereka. Saat itu juga, secara mendadak semua cinta yang pernah bersemayam kokoh di hati Hugo pun mulai berubah aroma.

Rasa sakit akibat penolakan Farah atas pertunangan mereka masih terasa menusuk-nusuk di tiap tarikan napas Hugo. Rasa sakit itu menciptakan nyeri di tiap inci kulitnya. Hugo pernah berpikir bahwa hidupnya sudah berakhir karena penolakan Farah. Pemikiran Hugo itu tidaklah berlebihan karena baginya, cinta adalah Farah dan Farah adalah cinta.

Akan tetapi, jangan kira Hugo menjadi orang yang patah hati dan tidak lagi hendak bersentuhan dengan yang namanya cinta. Tidak separah dan sedramatis itu. Patah hati mungkin, tetapi tidak lantas membuat Hugo enggan hidup. Hanya saja, Hugo menjadi orang yang mudah curiga pada rasa cinta cinta ditawarkan kaum perempuan.

Hugo memilih untuk menimba ilmu di University of the West of England, atau UWE, Bristol. Universitas ini memiliki beberapa kampus, yaitu Frenchay Campus sebagai kampus utama, Bower Ashton Campus, St Matthias Campus, Glenside Campus, dan Hartpury Campus. Hugo memilih jurusan Business Management. Karena itu, Hugo pun memilih berkuliah di Frenchay.

Selama kuliah, Hugo tinggal di sebuah rumah bergaya Victoria dengan empat orang mahasiswa lainnya, salah satunya adalah Garvin, mahasiswa undergraduate courses asal London yang mengambil Jurusan Computer Science. Lewat Garvin inilah Hugo mengenal vanilla latte dan kemudian hari menyukainya. Saat kali pertama hidungnya mencium aroma vanilla latte yang masih mengepulkan uap di depannya, saat itu juga seluruh saraf Hugo seakan terjaga. Aroma yang khas itu terasa membius sekaligus menggoda.

Sekian tahun kemudian, Hugo menyadari. Hari itu seharusnya menjadi salah satu hari terpenting dalam hidupnya. Minuman vanilla latte di kemudian hari menggeser semua jenis minuman yang menjadi kegemarannya. Pengalaman hari itu bersama Garvin memberinya pemahaman baru.

“Vanilla latte itu bukan sekedar minuman lezat, Hugo. Kalau kamu perhatikan, ada filosofi yang luar biasa di dalam vanila. Kopi, sudah pasti menjanjikan aroma pahit yang khas. Sementara, susu justru sebaliknya. Susu dipenuhi rasa manis dan berlemak. Tetapi, vanilla latte tidak seperti itu. Tidak ada rasa yang dominan di dalam vanilla latte karena ada campuran banyak bahan sekaligus. Minuman ini sangat seimbang, mulai dari komposisi hingga cita rasanya. Cita rasa nikmat vanilla latte itu disebabkan oleh kehadiran vanila. Seperti hidup ini.” (hlm. 33)

Secara ajaib, Hugo mendapati bahwa ada hal penting di luar sakit hati yang tidak jua mereda di dadanya. Seharusnya dia menyadari bahwa hidup ini tidak semestinya bertumpu pada satu hal belaka. Ada banyak poin lain di dunia ini yang butuh konsentrasi dan fokus perhatian yang tidak terbagi.

“Waktu yang panjang itu memberi banyak sekali pelajaran dan pemahaman bagiku.” (hlm. 54)

“Tidak ada lagi yang tersisa dari masa lalu untuk bisa dijadikan pegangan dalam membangun masa depan. Apakah itu sulit untuk dimengerti?” (hlm. 96)

Ibarat bahasa jaman sekarang, Hugo mulai move on. Ibarat kopi, dan beralih menyukai vanilla latte. Seperti itulah rasanya kepada Farah memudar dan kemudian jatuh cinta pada Dominique, perempuan yang baru dikenalnya. Dominique seperti vanilla latte bagi Hugo, sesuatu yang baru untuknya.

“Aku juga penggemar vanila, terutama vanilla latte.”

“Kalau aku pemuja es krim vanila. Dan, sus ber-topping mirip pasir.”

“Red choux vanilla creme?”

Akhirnya, ada satu persamaan di antara mereka; vanila. (hlm. 124)

Banyak sekali kalimat favorit:

  1. Patah hatinya sebentar, tetapi perasaan sakit karena dicampakkan itu yang sepertinya sulit untuk segera sembuh. (hlm. 23)
  2. Luka karena cinta tidak selalu harus disembukan oleh cinta pula. (hlm. 37)
  3. Harga diri sebagai lelaki kadang jauh lebih terluka ketika perasaannya mulai diusik. (hlm. 23)
  4. Patah hati bukan berarti bebas memaki orang sejagat. (hlm. 47)
  5. Perasaan cinta itu tidak bisa dipaksakan. Hal yang perlu kamu lakukan adalah mengikuti kata hati dan perasaanmu. (hlm. 81)
  6. Tidak semua karena masalah cinta harus segera disembuhkan dengan cinta baru pula. (hlm. 97)
  7. Tidak ada masalah yang tidak bisa diatasi. (hlm. 173)
  8. Bukankah seharusnya cinta itu datang dari kedua pihak? (hlm. 191)
  9. Dalam hidup ini, kita harus memilih. Kita tidak bisa memiliki semuanya sekaligus. (hlm. 249)
  10. Kalau kamu memang menyukainya, tunjukkan dengan tindakan. Waktu terus berlalu, kita tidak pernah tahu apa yang terjadi di masa depan. Manfaatkan setiap detik yang kamu punya.” (hlm. 129)

Ada yang agak mengganjal, dijelaskan pada halaman 142 bahwa Dominique suka semua makanan, kecuali ikan. Tapi di halaman 147, disebutkan bahwa Dominique bersama dua temannya; Inggrid dan Kyoko memesan piza ber-topping ikan tuna yang sangat lezat. Nah, sebenarnya Dominique ini suka ikan atau tidak?!? @_@

Membaca kisah Hugo dan Dominique ini seperti menikmati vanilla latte. Bukan kopi, bukan susu. Tidak terlalu pahit dan tidak juga terlalu manis. Seperti itu jugalah dengan yang namanya hidup. Semuanya bercampur dengan takaran hidup yang sudah digariskan oleh Sang Kuasa.

“Menunggumu untuk berapa lama? Kamu sendiri bahkan tidak yakin kapan ingin menikah. Aku tidakmau kamu menyia-nyiakan waktumu untuk menjalani hubungan yang entah kemana muaranya. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Dan inilah caraku membuktikan perasaanku.” (hlm. 237)

Keterangan Buku:

Judul                                     : The Vanilla Heart

Penulis                                 : Indah Hanaco

Penyunting                         : Laurensia Nita

Perancang sampul           : Fahmi Ilmansyah

Pemeriksa aksara             : Yusnida & Fitriana

Penata aksara                    : Endah Aditya & Dwi Fajar W.

Ilustrasi isi                           : Endah Aditya

Penerbit                              : Bentang Pustaka

Terbit                                    : Juni 2013

ISBN                                      : 978-602-7888-47-0

Indonesian Romance Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/01/indonesian-romance-reading-challenge-2014/

9 thoughts on “REVIEW The Vanilla Heart

  1. enggak tau kenapa saya kurang suka dengan gaya bahasa mbak indah hanaco ya.. makanya belum nambah koleksinya. heheh

  2. Kemaren aku baca review the strawberry surprise, dan sekarang the vanilla heart. Hmm, apa ini sejenis novel 4 musim mbak?? o.o
    Awal baca review, aku kira si Garvin cewek pengganti Farah, tapi kok namanya bukan cewek sekali. Di ujung review ternyata ada nama cewek akhirnya, si Dominique >.< hihihi
    Ehh, es krim itu pembatas bukunya ya mbak?? :O Bikin ngiler ihh :3
    Nice review mbak😉

    • ini novel seri Flavor Love, ada beberapa. Tapi tidak bersambung, berdiri sendiri, tiap novel punya tema yang berbeda :))

  3. Pingback: Daftar Bacaan Tahun 2014 | Luckty Si Pustakawin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s