REVIEW The Mocha Eyes

the mocha eyes

Hidup itu ada pada secangkir moka. Suka dan tidak suka harus bergabung menjadi satu. Enak dan tidak enak harus diaduk menjadi satu karena enak tidak akan terasa enak, kalau tidak ada perbandingan tidak enak. (hlm. 172)

Perasaan manusia itu seperti cangkir, setiap saat diisi dengan berbagai macam hal. Kamu tidak akan merasakan bahagia, jika kamu membiarkan cangkirmu diisi penuh dengan sesuatu yang rasanya pahit. Rasa cangkirmu itu berdasarkan apa yang kamu pilih! (hlm. 77)

Di dunia ini tidak ada yang kebetulan, yang ada hanya pilihan. Aku dulu seumpama kopi dan dirimu cokelat. Dan biarkan cinta ini menyatu seperti moka karena tidak ada cinta yang serbasempurna dan tidak ada cinta yang selalu merana. (hlm. 245)

Muara pernah berpikir alangkah indahnya mempunyai hidup yang sempurna. Menurutnya, beberapa sahabatnya menjalani kehidupan mereka tanpa beban. Tentu pemikiran ini tidak sejalan dengan teori Johari Window yang menyatakan bahwa ada rahasia dari setiap sudut seseorang yang hanya diketahui oleh pemiliknya.

Menurut ibunya, kecemburuan hanya sebentuk ketidakpuasan akan hidup. Setumpuk rasa cemburu itu kerap kali hadir di kepala sebagian wanita. Wanita lebih mudah cemburu dalam hal apa pun yang dimiliki sahabatnya. Sementara, laki-laki biasanya hanya akan cemburu melihat lelaki lain yang memiliki karier yang gemilang, kekayaan yang bertumpuk, dan kendaraan yang bagus. Itu juga menurut pendapat ibunya, yang kemudian dibuktikannya dengan pengamatannya sendiri.

Hidupnya saat ini seperti dihadapkan pada sebuah kecemburuan. Namun, tidak seperti penilaian ibunya, dia tidak cemburu pada status sahabat-sahabatnya yang mulai menikah atau memiliki pekerjaan yang hebat, lebih tepatnya dia benci dengan jalan hidupnya sendiri yang melenceng dari apa yang direncanakan. Bahkan, hal yang paling disesalinya sampai saat ini adalah hati dan pikirannya belum bisa memaafkan sesuatu yang berada di luar kontrolnya.

Ada sesuatu yang berada di luar kontrolmu, jadi jangan terlalu menaruh sebuah harapan terlalu tinggi. Apalagi ketika tidak sesuai dengan harapan, kamu akan setengah mati belajar untuk tetap waras. (hlm. 23)

Kalau kebahagiaan ada pada masa lalu, ia hanya menjadi sesuatu yang mampu dikenang, tetapi tidak bisa dirasakan. Sebaliknya, kalau kebahagiaan itu ada pada masa depan, bahagia itu hanya sebuah kebohongan. (hlm. 83)

Bagaimana kita bisa memotivasi diri kita untuk bekerja lebih giat, untuk mencari ide lebih tepat dan kreatif, kalau kita berhenti pada masa lalu? Bahkan, sikap tidak memaafkan masa lalu bisa menjadi akumulasi terhambatnya langkah kita hari ini. (hlm. 105)

Terkadang masa lalu yang kelam akan menimbulkan rasa trauma yang mendalam, bahkan bertahun-tahun lamanya. Begitu juga dengan Muara atau biasa dipanggil Ara yang dulunya ramah dan periang ini berubah drastis akibat masa lalunya. Dia menjadi pemurung dan pesimis dalam hidup.

Hari-harinya dilalui tanpa senyum. Hidupnya datar. Kuliahnya pun harus cuti. Pekerjaan yang kerap kali berganti. Kisah cintanya pun runyam. Hingga suatu hari dia bertemu seseorang yang akan mengubahnya perlahan.

Sangat bersimpati sekali dengan tokoh Ara ini. Bagaimana perjuangannya untuk berubah dan keluar dari masa lalunya yang suram. Dia harus berubah, tidak hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk orang-orang disekeliling yang menyayanginya. Gak kebayang kalo jadi Ara bakal bisa hidup normal seperti biasa.

Banyak sekali bertebaran kalimat favorit:

  1. Laki-laki yang hanya berani menguntit dari jauh dan mengirim pesan diam-diam biasanya laki-laki aneh yang tidak percaya diri. (hlm. 29)
  2. Seorang pengecut hanya akan membual sebanyak mungkin. (hlm. 40)
  3. Kadang-kadang ketika orang-orang mengatakan hal-hal yang jahat dan tidak bijaksana, yang terbaik adalah sedikit menutup telinga, berhenti menyimak, dan bukannya balas membentak dalam kemarahan atau ketidaksabaran. (hlm. 45)
  4. Setiap manusia di dunia ini pernah mengalami hal-hal yang membuat jatuh. Tetapi, itu hanya proses untuk mendapatkan kebahagiaan. (hlm. 64)
  5. Kalau semua hal di dunia ini enggak bisa dipercayai, setidaknya kita harus percaya pada satu hal, diri sendiri. (hlm. 65)
  6. Ketika satu ujian datang, maka ada dua kebahagiaan setelahnya. (hlm. 66)
  7. Hati itu tidak boleh dicuri karena kamu pemilik satu-satunya. Hati itu hanya boleh diisi satu, bukan dicuri. Kalau kamu membiarkan ada seseorang yang mencurinya, semua yang tampak di depan matamu hanya patung, bukan manusia. (hlm. 71)
  8. Hal yang paling tidak menyenangkan sedunia adalah ketika harus berhadapan dengan hal-hal yang tidak disukai. (hlm. 157)
  9. Perubahan tidak mungkin bisa dilakukan oleh orang lain, tetapi harus dari dirimu sendiri, apa pun perubahan itu. (hlm. 171)
  10.  Memangnya jatuh cinta bisa dipesan dan tahu kapan bakal jatuhnya? (hlm. 178)
  11. Ini perkara hatiku, bukan hatimu. Beri kesempatan pada hatimu untuk tidak terbebani dengan hatimu. (hlm. 183)
  12. Cinta memang kombinasi aneh dan tidak terduga, antara pengertian dan ketidakmengertian. (hlm. 215)

Suka ama filosofi rokok dari Ibunya Muara:

“Batang rokokmu itu lebih mirip jari tengahmu yang tiba-tiba punya kembaran, tetapi menyala, panas, dan lama-lama bisa membunuhmu.” (hlm. 97)

Membaca novel ini seperti disuguhi secangkir moka. Ada rasa pahit, ada juga rasa manis. Begitulah dengan hidup. Hidup tidak melulu pahit dan juga tidak melulu manis. Hidup itu terlalu sederhana jika digambarkan dengan satu rasa saja. Cokelat dan kopi sepertinya paduan yang pas untuk menggambarkan hidup. Kedua rasa itu berimbang di kehidupan setiap orang. Percayalah, dalam setiap penciptaan sedih juga disiapkan penciptaan bahagia, hanya persoalan menunggu waktu saja.

Kalau kamu mengandaikan hidupmu sebagai kopi yang pahit, sekalipun ada hari yang manis, kamu akan tetap merasa pahit. Begitu juga bagiku, hidupku itu seperti coklat yang gurih. Maka, sekalipun ada yang pahit, aku akan mencoba menetralisasi. Kalau kamu terlalu sulit untuk memahami maka aku akan memberikan jembatan ini… cangkir yang menghubungkan dua hal ini, kopi dan cokelat untuk menjadi moka. Dua cangkir ini hanya untuk menggambarkan hidup secara lebih realistis meski membingungkan, ada pahit dan ada gurih. Hidup ini secangkir moka! (hlm. 139)

Keterangan Buku:

Judul                                     : The Mocha Eyes

Penulis                                 : Aida M.A

Penyunting                         : Laurensia Nita

Perancang sampul           : Bara Uma Birru

Pemeriksa aksara             : Titis A. K., Mia F. Kusuma

Penata aksara                    : BASBAK_Binangkit

Penerbit                              : Bentang

Terbit                                    : Mei 2013

Tebal                                     : 250 hlm.

ISBN                                      : 978-602-7888-32-6

Indonesian Romance Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/01/indonesian-romance-reading-challenge-2014/

New Authors Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/02/new-authors-reading-challenge-2014/

6 thoughts on “REVIEW The Mocha Eyes

  1. Pingback: New Authors Reading Challenge 2014 | Luckty Si Pustakawin

  2. Pingback: Daftar Bacaan Tahun 2014 | Luckty Si Pustakawin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s