REVIEW Penjaja Cerita Cinta

penjaja penjual cinta

Jika ada sesuatu yang bisa melekat sedemikian pepatnya hingga tak ada seutas detik pun yang sanggup melepaskannya dari denyut jiwa manusia, pastilah itu sebuah kenangan. (hlm. 36)

PENJAJA CERITA CINTA

Bagi Senja, tak ada lagi yang perlu diwakilkan pada kata-kata tentang rindunya pada lelaki yang ditemuinya saat senja. Bahwa ia menunggu selalu dengan mata nyaris tak berkedip di hadapan senja, cukuplah itu menjadi isyarat paling tulus dari sehelai kehidupan kepada alam semesta. Apakah rindu yang terkatakan akan berhasil menyampaikan maksud yang terkandung dalam hatinya? Senja telah lama tidak memedulikan itu. Ya, soal percaya dan tidak percaya bukan lagi menjadi pedulinya, sebab rasa rindu yang sama, yang tak pernah terkikis oleh hujan, gerimis, debur ombak, kerang yang beringsut, siluet perahu nelayan di kejauhan, juga panas menyengat, selalu nyala dengan terang yang sama di kedalaman palung hatinya. Hanya lukisan dikamarnyalah yang mengerti betapa rindu yang dikandung Senja bukanlah rindu yang kuasa dimiliki gadis manapun.

Ya, Senja tahu, sangat tahu, betapa tak ada setitik kuasa pun padanya untuk membendung laju sang waktu yang kini sempurna memisahkannya dari lelaki yang bermata senja itu. Senja mahfum, sebaja apa pun kedua tangannya menyematkan peluk tererat pada lelaki yang bermata senja itu, waktu takkan pernah berkenan mencengkramnya untuk selalu di sini, kembali padanya.

Waktu tetaplah sang waktu, rangkaian keping-keping detik dan detik, yang sangat mudah diabaikan, tetapi tidak saat dalam perpisahan. Senja pun terlipat di antara puzzle detik dan detik perpisahan itu. Sangat tak mudah buat siapa pun, juga buat Senja. Betapa sangat tak sederhana semudah lidah mengukirkan kata yang memfatwakan kesabaran dan ketabahan.

Membaca kisah Senja ini mengingatkan kisah senja yang fenomenal ditulis oleh Seno Gumira Ajidarma. Ada ratusan cerpen yang terinspirasi oleh senja yang dia ciptakan. Yup, senja selalu berkaitan erat dengan menunggu. Senja yang diciptakan Seno adalah kisah cinta antara Sukab dan Alina yang amat sangat melegenda, Saya pernah menulis cerpen tentang istri yang menunggu suaminya ditemukan saat gempa setiap senja, Bernard Batubara dalam kumcernya juga menulis kisah Milana yang menunggu seseorang dengan melukis senja. Dari semua kisah yang bertema senja, belum ada yang mengalahkan tulisan Seno yang selalu bikin meleleh setiap mendeskripsikan senja.

CINTA YANG TAK BERKATA APA-APA

Aku akan lebih suka memilih cinta yang tanpa berkata-kata namun nyata dibanding cinta yang penuh kata tapi tidak nyata. (hlm. 59)

Cerpen ini seperti menyentil cowok-cowok yang hanya mampu memberi cinta. Makan cinta aja gak cukup. Bukan berarti cewek pasti matre. Setuju banget, cinta gak cukup dengan sekedar kata-kata. Apalah guna gombalan menye-menye tapi kalo tiap kencan malah dibayarin ama pihak cewek?!? #eaaa ~~~(/´▽`)/

Cerita paling favorit: 

1.       LENGKING HATI SEORANG IBU YANG DITINGGAL MATI

Kisah hubungan batin antara seorang ibu dan anak pasti menyayat hati. Begitu juga dalam cerpen ini. Mengapa Tuhan menandaskan bahwa surga di bawah telapak kaki ibu? Sebab hanya ibulah yang bisa mencintai dengan sepenuh hidupnya, jiwanya, bukan anak. Sebab hanya ibulah yang mampu merasa kehilangan jika ditinggal pergi anaknya. Sebab hanya ibulah yang mampu memberi maaf atas semua kedurhakaan anaknya. Sebab hanya ibulah yang punya hati seluas samudera untuk semua kebahagiaan anaknya, meski menyakiti hatinya.

“Hei manusia, kau selalu sibuk dengan dunia! Kau lupa wejangan Nabimu, bahwa seumpama dunia seisinya kau berikan pada ibumu, itu pun takkan pernah sanggup menebus sebelah susunya yang telah membesarkanmu…” (hlm. 157 

2.       SI X, SI X, AND GOD

Cerpen yang menjadi penutup kumcer ini dipilih yang paling favorit. Mengandung makna yang cukup menampar kita dalam menjalani hidup. Kita diajak merenungi apa saja yang pernah kita lakukan selama ini. Sudah bermanfaatkah atau sia-sia?

Banyak kalimat favorit bertebaran dalam buku ini:

  1. Waktu hanyalah kesemuan. Tak patut bagi kita untuk menjadikan waktu sebagai ukuran kesungguhan. (hlm. 18)
  2. Kadangkala pasrah meski terpaksa tanpa ampun layak dijadikan pilihan untuk sedikit meredakan gemuruh badai di dalam dada. (hlm. 21)
  3. Cinta terdalam tidaklah menghasratkan pengorbanan, tetapi pengabdian. (hlm. 33)
  4. Cewek juara banget jorokin cowok ke sudut-sudut terjal ‘rasa bersalah’, untuk kemudian merasa senang bahagia, lalu punya senjata untuk di kemudian hari kembali mengangkat masalah lama, yang intinya adalah untuk ‘kemenangan dia’. (hlm. 51)
  5. Cinta tidak hanya serpihan ludah yang menempias dari lisan, tetapi adalah tentang kepedulian dan perhatian yang tertumpahkan tanpa henti sepanjang masa. (hlm. 53)
  6. Cinta hanyalah soal habit, kondisi yang terbiasakan, bukan dari kepingan hati yang terangaki begitu dalam. (hlm. 56)

PR banget nih buat penerbitnya. Selalu menemukan typo dalam setiap bukunya yang terbit. Begitu juga dengan buku ini:

  1. Seseoang (hlm. 29) — seseorang
  2. Ketidakkonsistenan menyebutkan sapaan di cerita Love is Ketek. Kadang ‘aku’, kadang juga menggunakan ‘gue’.
  3. Perasaaku (hlm. 58) — perasaanku
  4. Kurang tanda petik di paragraf terakhir ketiga dari bawah pada halaman 66

Oya, pas baca buku ini, di cover tidak tertulis nama sang penulis justru akun twitter. Saya jadi teringat tulisan Irwan Bajang diblognya yang membahas fenomena para penulis yang lebih memprioritaskan akun twitter dibandingkan nama asli:

Identitasmu kau hapus. Namamu menjadi nama baru dengan a siput (@) di depannya. @namakuini @namakuitu. Popularitasmu, nama akunmu, kau pakai, penerbitmu pakai untuk  identitas barumu. Kau kehilangan nama pemberian ayah-ibu, nama sesungguhnya yang jauh direncanakan mereka sebelum malam pertama yang tergesa.

http://irwanbajang.com/2014/01/hei-penulis-akun-twittermu-bukan-nama-penamu/

Penulisnya memiliki nama asli Edi Mulyono, dan memiliki nama pena Edi AH Iyubeno. Namanya dimasukkan dalam Angkatan Sastra 2000. Perlu diacungi jempol gerakannya di dunia literasi. Maka, tahun 2013, beliau dianugerahi sebagai salah satu Pegiat Sastra di Yogyakarta oleh Balai Bahasa Yogyakarta. Sejak tahun 2001, beliau merintis sebuah publishing, yang kini dikenal dengan nama Diva Press yang menelurkan banyak sekali penulis-penulis muda. Sering-seringlah mampir ke blognya di http://akhilesislion.blogspot.com yang gemar sekali mengadakan proyek-proyek menulis.

Keterangan Buku:

Judul                     : Penjaja Cerita Cinta

Penulis                 : @edi_akhiles

Tata sampul        : Aan

Tata isi                  : Fitri Raharjo

Pracetak              : Antini, Dwi, Wardi

Penerbit              : Diva Press

Terbit                    : Desember 2013

Tebal                     : 192 hlm.

ISBN                      : 978-602-255-397-7

Indonesian Romance Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/01/indonesian-romance-reading-challenge-2014/

New Authors Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/02/new-authors-reading-challenge-2014/

9 thoughts on “REVIEW Penjaja Cerita Cinta

  1. hehehe, saya ketawa baca resensinya. membahas masalah typo, mbak Luck juga ada typonya…

    Ibuyalah = mungkin maksudnya Ibunyalah..

    Saya enggak tau kenapa kurang suka sama kumcer.. mungkin karena ceritanya biasanya enggak tuntas. Pernah sih beli bukunya Tere Liye.. itu pun sekedar ingin tahu aja…

    Mungkin lain kali deh saya coba lagi buku jenis begini

    • gyahahaha…akunya juga typo ya, maklum nulisnya malem-malem pas mati listrik, cuma ditemani cahaya dari hape… makasih ya koreksinya…😀

    • gak semua nyastra kok, Mbak, Ini kumcernya paket komplit; ada yang gaya sastra, ada juga ada yang berbahasa ‘lo-gue’😀

  2. Pingback: Daftar Bacaan Tahun 2014 | Luckty Si Pustakawin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s