Kutu Buku Versus The Geek Athaya

geek vs me

“Books are a uniquely portable magic.” – Stephen King

Buku adalah jendela dunia. Pepatah lama itu bagi sebagian orang pasti terdengar klise. Tapi bagi saya, pepatah itu abadi. Ternyata saya bukan satu-satunya yang beranggapan seperti itu. Di jaman digitalisasi seperti sekarang ini, masih banyak orang yang mencintai buku fisik. Buku yang bisa dipeluk, dibawa kemana saja, dengan aroma yang khas dan bisa dibawa tidur. #EfekJomblo ~~~(/´▽`)/

Tidak hanya sekali dua kali saya ditegur karena penampilan saya yang apa adanya. Saya bisa tahan beberapa bulan tidak membeli baju baru, tapi sebulan saja tidak membeli buku, sepertinya hidup ini ada yang kurang. Seperti sayur tanpa garam, hambar rasanya. ( ʃ⌣ƪ)

Sejak jaman sekolah, saya habiskan sebagian besar uang jajan untuk membeli majalah. Beranjak kuliah, kebiasaan itu makin menggurita, apalagi saya kuliah Jurusan Ilmu Informasi dan Perpustakaan. Sangat dipastikan bersentuhan erat dengan DUNIA INFORMASI dan PERPUSTAKAAN. Dan juga BUKU.

Makanya tidak heran jika saya seringkali dianggap aneh karena berbeda ‘selera’ dengan teman-teman kebanyakan. Herannya, baik jaman sekolah maupun kuliah, teman-teman yang suka geleng-geleng melihat kelakuan saya yang suka kalap membeli buku, mereka juga senang meminjam buku yang saya punya. Kebalikannya, mana mungkin saya pinjam baju, tas atau sepatu mereka yang selalu mengikuti tren fashion..😀

Kalau ada uang sedikit, saya beli buku. Kalau masih ada sisanya, saya beli makanan dan pakaian. –Desiderius Erasmus-

Apakah ketidakwarasan saya terhadap buku-buku mengalahkan si Geek, Athaya yang tergila-gila dengan sepatu si tokoh utama dalam novel Geek in High Heel karya Octa NH?!? (‘⌣’┐) (┌’⌣’)┌ (‘⌣’┐) (┌’⌣’)┌

2014 adalah tahun keempat saya bekerja di perpustakaan sekolah. Saya merasa passion saya tersalurkan di sini. Waktu awal-awal perpustakaannya masih kayak gudang, saya ampe rela-relain bawa buku-buku dari rumah. Melihat aura bahagia mereka membaca buku itu rasanya seperti surga dunia… ƪ(♥▿♥)ʃƪ(♥▿♥)ʃƪ(♥▿♥)ʃ

Ini cerita selama bekerja di perpustakaan sekolah

1. Label Pustakawan 2013 Part 2

2. Label Pustakawan 2013 Part 1

3. Label Pustakawan 2012

4. Label Pustakawan 2011

One day I will fall in love with someone who will love reading as much as I do and we will have a floor to ceiling library. #eaaa ~~~(/´▽`)/

Tulisan ini dibuat untuk mengikuti Writing Contest “Me Versus The Geek Athaya” yang diselenggarakan oleh Stiletto Book

19 thoughts on “Kutu Buku Versus The Geek Athaya

  1. ” Saya bisa tahan beberapa bulan tidak membeli baju baru, tapi sebulan saja tidak membeli buku, sepertinya hidup ini ada yang kurang.” setuju banget, mba hihi

    Gluck! semoga menang ya🙂

  2. wah, mbaa keren banget, sampe itu anak-anaknya main ke rumah😀 . jadi pas awal-awal itu mba yang ‘modif’ perpus sekolah biar rame dengan buku2?

    semoga menang ya mba!

  3. Wahh kakak orang metro?? udah lama suka baca post2 blog kakak tapi baru ngeh kalo orang metro juga pas baca link2 label pustakawannya hahaha
    Salam kenal kak, saya siswa SMA Metro juga, seru banget keliatannya perpustakaan smanda beda banget sama perpustakaan sekolah saya😦
    kapan2 boleh dong yaa main ke rumahnya hehe ohiya semoga menang writing contestnya!😀

  4. Saya juga suka beli buku, meskipun saya nggak yakin kalo saya kutu buku😀 Selain lebih sering beli buku dibanding baju, ada satu gejala aneh yang saya alami. Saya woles aja kalo baju saya kusut atau lusuh, tapi bisa bete abis kalo liat buku saya lecek. Aneh -_-

    • Dulu aku juga bete tiap ada yang pinjem jadi lecek, tapi semenjak jadi pustakawan punya prinsip; lebih baik buku lecek banyak yang baca daripada buku rapi manis di rak tapi termakan rayap😀

  5. Haloooo….😀

    Saya juga suka kalo ada di perpustakaan. Pernah ke Perpustakaan Nasional di Jakarta? Di lantai 3-nya, ruang baca, itu jendelanya kaca dan gedeee … banget. Bangku-bangkunya nyaman dan mejanya gede juga. Kalo kita ada di sana sekitar jam 4 sebelum perpustakaan tutup, dan kalo lagi beruntung, bisa liat matahari yang mulai turun. Saya sukaaa banget ke PN cuma buat duduk-duduk di situ doang. Seandainya tutup lebih malem, mungkin bisa ngeliat matahari terbenam yang bagus banget di Jakarta.

    Salam kenal. ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s