REVIEW Geek in High Heels

Cinta itu cukup ditunggu. Tidak perlu dicari. Ketika datang orang dan waktu yang tepat, dia akan ada, dan kamu akan menemukannya. Seperti cinta itu yang juga akan menemukanmu. (hlm. 9)

Athaya, 27 tahun. Web designer, pekerjaan yang didominasi kaum adam. Di usia matang seperti perempuan seusianya, teror terbesar dalam hidup adalah ketika ditanya tentang jodoh. Ditambah lagi, Athaya ini memiliki tante (yang seperti tante-tante pada umumnya yang mulutnya lebih pedas dari cabe rawit) yang amat super kepo tentang masalah PEKERJAAN dan JODOH.

“Makanya jangan sibuk kerja mulu. Lupa deh tuh sama yang lain.” (hlm. 43)

“Gue cinta kerjaan gue yang ini. Gue juga nggak akan mempermasalahkan kalau dianggap geek.” (hlm. 26)

“Kenapa nggak kerja kantoran aja sih? Kan sayang kamu udah kuliah mahal-mahal..” (hlm. 98)

“Tapi saya memang melakukannya karena senang. Bukan karena tidak punya hal lain untuk dikerjakan.” (hlm. 127)

Athaya pun menyadari kalau sekarang dia jomblo bukan karena tidak ada yang menyukai. Mereka memilih. Atau lebih tepatnya: mereka ingin menemukan orang yang mencintai dan dicintai. Memang kedengarannya sangat sulit, tapi bukan tidak mungkin sama sekali. Daripada menikah tapi harus melewati hari-hari tidak menyenangkan dengan orang yang tidak dicintai? Kan lebih baik menunda sampai menemukan orang yang tepat. #TossDuluAmaAthaya ( ‘⌣’)人(‘⌣’ )

Pernah mengalami masalah seperti Athaya? Saya pernah, sering malah. Bedanya, jika Athaya selalu menghindarinya, saya malah lempeng aja. Tiap ditanya kapan nikah, cuma nyengir doank. Dijawab belum pengen, malah dikira nggak normal, gyahahaha… ~~~(/´▽`)/

“Ditanyain macem-macem sama tante-tantemu? Yang penting, Papa nggak pernah tanya, kan? Papa nggak mempermasalahkan itu loh.” (hlm. 111)

“Yang penting jangan sampai males kalau kumpul-kumpul keluarga.” (hlm. 112)

Beberapa bulan yang lalu, Athaya sangat ingin dilamar cowok. Dia ingin merasakan deg-degan dan antusias ketika seorang cowok menyatakan ingin menikahinya. Tapi ketika saat itu benar-benar datang, dia malah merasa hampa dan aneh. Hampa karena dia sendiri tidak paham dengan perasaannya sendiri.

“Lo pilih cowok yang emang cinta ama lo. Bukan yang sekedar suka doang. Kalau emang ada dua cowok yang cinta sama lo, lo harus pilih yang cintanya paling besar. Masalah lo cinta ama dia atau nggak, itu bisa diatur. Kalau kita dicintai, kita bisa bales mencintai mereka. Daripada ngejar-ngejar cowok yang nggak cinta sama lo dan bikin lo sakit hati.” (hlm. 151)

“Lo cinta salah satunya. Lo tahu yang mana. Lo juga tahu bakal menyakiti yang mana. Jadi, mending lo jujur aja.” (hlm. 189)

Ketika cinta datang, tidak hanya satu yang menghampirinya, malah dua. Manakah yang akan dipilih Athaya; Ibra yang mapan dan perhatian yang selalu mengiriminya kue-kue enak nan menggiurkan atau Kelana si cuek penulis yang bukunya berlabel best seller?!? ƪ(˘⌣˘)┐ƪ(˘⌣˘)ʃ┌(˘⌣˘)ʃ

Banyak kalimat favorit dalam novel ini:

  1. Semua yang terjadi di dunia ini kadang memang sering tidak masuk akal. (hlm. 28)
  2. Hidup memang berat. Apalagi buat para single. Tapi buat yang double, beratnya juga double.” (hlm. 36)
  3. Omongan cowok zaman sekarang memang harus dicek kebenarannya lebih dari 7X (hlm. 63)
  4. Kadang ada yang lebih penting dijadikan bahan pertimbangan selain cinta. Komitmen. (hlm. 153)

Setiap manusia, khususnya perempuan, pasti punya sesuatu yang dikoleksinya, bahkan terkesan addict. Athaya hobi mengoleksi sepatu. Dengan membeli sepatu baru, mood-nya akan membaik secara dratis. Meskipun saya bukan pengoleksi sepatu, saya bisa merasakan apa yang Athaya lakukan. Prinsipnya sih, selama barang yang kita beli itu hasil jernih payah keringat sendiri –bukan hasil morotin orang lain- dan berdampak positif sih nggak masalah. Saya juga begitu kok, tiap beli buku baru –padahal buku yang ditimbun belum terbaca masih menggunung- tidak pernah merasa bersalah. Anggap saja investasi bagi diri sendiri #DitibanRakBuku ~~~(/´▽`)/

Athaya memiliki lemari sepatu dengan pintu kaca di samping lemari bajunya. Di sana ada puluhan pasang high heels aneka warna. Ketika sedih melanda, Athaya akan berdiam diri di depan lemari sepatu itu, membuka pintunya dan memandangi sepatu-sepatunya cukup lama. Setelah itu bisa dipastikan, perasaan dan mood Athaya akan menjadi lebih baik:

  1. “Lo tahu nggak, setiap kali gue nyium bau sepatu baru, gue ngerasa seperti memulai hidup baru. Selama sepatu yang sexy masih diproduksi, selama itu hidup gue bakal indah. Long live and prosper, Christian Louboutine” (hlm. 38)
  2. Kilat sepatu cowok itu mengingatkannya pada salah satu penggorengan mamanya. Sepatu itu membuatnya ngeri. Dia memandang cowok itu sekali lagi. Sekarang wajahnya menjadi terlihat sangat mengerikan, semengerikan sepatunya. (hlm. 45-46)
  3. Sepatu bagus cuma buat terapi gue. Bukan buat cari cowok. It’s guility pleasure. (hlm. 87)
  4. Gampang kalau mau nyari lo mah. Tinggal jongkok, terus lihat aja sepatu siapa yang heel-nya paling tinggi. (hlm. 137)

Setiap perempuan biasanya memiliki nama tengah GENGSI. Begitu juga dengan Athaya #TossDuluAmaAthaya ( ‘⌣’)人(‘⌣’ )

  1. Dia tampak berpikir beberapa lama sampai akhirnya dia mengambil ponselnya lagi dan mengetik beberapa kalimat yang menunjukkan bahwa dia sangat menikmati membaca novel karya Kelana sampai sejauh ini. Athaya membaca ulang isi SMS-nya sampai dia merasa cukup puas dan baru mengirimkannya. (hlm. 81)
  2. Athaya ingin sekali mengirimkan SMS, tapi setelah mempertimbangkan banyak hal –termasuk gengsi- dia pun membatalkan rencana itu. Athaya tidak ingin terlalu genit dan desperate. (hlm. 78)

Yang agak membingungkan adalah Kelana ini sering banget launching buku. Sehebat-hebatnya penulis yang bukunya berlabel best seller, gak mungkin juga hanya dalam beberapa bulan launching buku ampe lebih dari tiga kali. Kalo bedah buku mungkin masih masuk akal😀

Suka ama jalan ceritanya. Selalu khas terbitan Stiletto Book; perempuan dan problematikanya. Ditunggu karya Mbak Octa NH yang berikutnya😉

Keterangan Buku:

Judul                     : Geek in High Heels

Penulis                 : Octa NH

Editor                    : Herlina P. Dewi

Proof Reader     : Tikah Kumala

Desain cover      : Nisa Imawati Hidayat

Layout isi             : Deeje

Penerbit              : Stiletto Book

Terbit                    : Desember 2013

ISBN                      : 978-602-7572-20-1

Ayo,  tebak nama kue-kue ini yang sering dikirimkan Ibra untuk Athaya?!? (‘⌣’┐) (┌’⌣’)┌ (‘⌣’┐) (┌’⌣’)┌

Indonesian Romance Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/01/indonesian-romance-reading-challenge-2014/

New Authors Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/02/new-authors-reading-challenge-2014/

8 thoughts on “REVIEW Geek in High Heels

  1. Pingback: New Authors Reading Challenge 2014 | Luckty Si Pustakawin

  2. Pingback: Daftar Bacaan Tahun 2014 | Luckty Si Pustakawin

  3. Pingback: [LOMBA BLOG] Book Addict is the New Sexy: Virus Membaca | Luckty Si Pustakawin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s