REVIEW Guru, Hidupmu Hanya untuk Kami

“Segala masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih. Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus kau alami sepanjang hidupmu itu sudah dikadar oleh Tuhan, sesuai untuk dirimu. Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak kurang dan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia pun demikian. Tidak ada satu pun manusia, walaupun dia seorang nabi, yang bebas dari penderitaan dan masalah. Rasa ‘asin’ dari penderitaan yang dialami itu sangat tergantung dari besarnya ‘qalbu’ (hati) yang menampungnya. Jadi, supaya tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas. Jadikan qalbu dalam dadamu itu jadi sebesar danau.” (hlm. 28-29)

Dulu di zaman Belanda, guru tidak hanya berkewajiban mengajar tetapi juga mendidik. Sekarang ini tanggung jawab guru hanya sebatas mengajar. Mengajar dan mendidik sangatlah berbeda. Mengajar itu menyampaikan informasi atau pengetahuan, jadi siapa saja bisa mengajar.

Sedangkan mendidik tidak semua orang bisa melakukannya. Sebab mendidik bukan hanya meyampaikan pengetahuan tetapi juga membuat anak bisa berkembang menjadi orang baik dan berkembang sesuai potensi yang dimilikinya.

Banyak sekolah sekarang yang guru-gurunyahanya tahu mengajar. Guru tidak mau lagi berpikir bagaimana membuat anak-anak tumbuh berkembang sesuai potensinya dan memiliki karakter. Tapi semua ini bukan semata kesalahan guru. Kebijakan pemerintah sendiri juga cenderung membatasi peran guru hanya sebatas mengajar.

Pemerintah menghapus pendidikan untuk guru (SPG) dan membuat program sertifikasi guru. Dengan program sertifikasi ini tampaknya pemerintah hendak menggarisbawahi peran guru sebatas mengajar dan bukan mendidik. Padahal dengan sistem SPG dulu, guru-guru dididik untuk menjadi pengajar sekaligus pendidik.

Kita mengenal dua jenis guru, yaitu guru kurikulum dan guru inspiratif. Yang pertama, sangat patuh pada kurikulum dan merasa berdosa bila tidak bisa mentransfer seluruh isi buku yang ditugaskan. Ia mengajarkan sesuatu yang standar. Guru kurikulum mewakili 99 persen populasi guru di seluruh Indonesia.

Guru inspiratif jumlahnya sangat terbatas, populasinya kurang dari 1 persen. Ia bukan guru yang mengerjar kurikulum, melainkan yang mengajak murid-muridnya berpikir kreatif. Ia mengajak murid-muridnya melihat sesuatu dari luar, mengubahnya di dalam, lalu membawa kembali ke luar, kalau guru kurikulum melahirkan manajer-manajer andal, guru inspiratif melahirkan pemimpin baru yang berani menghancurkan kebiasaan-kebiasaan lama.

Kita memerlukan dua-duanya seperti kita memadukan validitas internal (yang dijaga oleh guru kurikulum) dengan validitas eksternal (yang dikuasai guru inspiratif) dalam penjelajahan ilmu pengetahuan. Keberadaan guru inspiratif akan sangat menentukan berapa lama suatu bangsa mampu keluar dari krisis. Semakin dibatasi, akan semakin lama dan semakin sulit suatu bangsa keluar dari kegelapan.

Karya besar berkat besutan tangan dan pikiran guru-guru inspiratif yang gelisah dan melihat perlunya kreativitas. Ia memperbaiki hal-hal yang dipercaya banyak orang yang tidak bisa diperbaiki, dan menghubungkan hal-hal yang tidak terhubung.

Meski belum begitu menonjol dalam masyarakat kita, peranan guru-guru inspiratif ini sangat dibutuhkan. Terlebih anggaran pendidikan kita masih sangat terbatas, dan lulusan-lulusannya banyakyang tidak bisa bekerja sesuai dengan bidang studi yang ditempuhnya. Kita tidak bisa mendiamkan lahirnya generasi yang patuh kurikulum, pintar secara akademis, tahu kebenaran internal, tapi kurangnya kreatif mendulang kesempatan dan buta kebenaran secara eksternal.

Ada dua masalah yang perlu kita renungkan di sini. Pertama, guru kurikulum seharusnya tidak hanya membentuk kompetensi, tetapi juga harus memiliki kesamaan dengan guru inspiratif, yaitu membentuk bukan hanya satu atau kelompok orang melainkan ribuan orang.

Guru sebutan profesi yang biasa terdengar dan datar saja. Namun menjadi guru, bukanlah pekerjaan mudah. Di dalamnya, dituntut pengabdian, dan juga ketekunan. Harus ada pula kesabaran, dan welas asih dalam menyampaikan pelajaran. Sebab, sejatinya, guru bukan hanya mendidik, tapi juga mengajarkan. Hanya orang-orang tertentu saja yang mampu menjalankannya.

Buku ini merupakan kumpulan tulisan tentang suka duka menjadi guru. Dari sekian banyak tulisan, ada dua yang menjadi favorit; Kado 5 Buah Bacang yang bikin mrebes mili melihat perjuangan seorang murid yang ingin memberikan hadiah untuk gurunya dan Guru Pejuang di Desa Transmigran yang semangat juangnya sungguh luar biasa dan patut ditiru.

Keterangan Buku:

Judul                     : Guru, Hidupmu Hanya Untuk Kami

Penulis                 : Eidelweis Almira

Cover designer : Moehammad Oesman

Laoyout                                : Kiki Feroz

Editor                    : Budi Darmawan

Penerbit              : Zettu

Terbit                    : 2013

Tebal                     : 190 hlm.

ISBN                      : 978-602-7735-49-1

Short Stories Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/18/short-stories-reading-challenge-2014/

4 thoughts on “REVIEW Guru, Hidupmu Hanya untuk Kami

  1. Guru itu citranya sudah berubah, bukan pahlawan tanpa tanda jasa. Tapi guru itu pengejar kemapanan di lingkaran yang disebut pegawai sipil. Tadiak semua begitu, tapi kenyataannya lebih banyak yang begitu.

  2. Pingback: Daftar Bacaan Tahun 2014 | Luckty Si Pustakawin

  3. Setelah baca ini, sukses membuatku untuk memasukkan buku ini ke dalam wishlist🙂 semoga bisa cepat beliiii n dibaca… gak cuman masuk wishlist ato masuk ke timbunan… Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s