REVIEW Teatrikal Hati

Cinta itu harusnya dikatakan, ditunjukkan, atau bagaimana? Inilah teori yang lebih sulit daripada menghapal resep dan rumitnya angka. (hlm. 30)

Cinta adalah bertanggung jawab. Bertanggung jawab atas nama apa yang telah dipilih dan digapai –untuk dimiliki. (hlm. 44)

Cinta itu adalah keikhlasan dan tak mau membesar-besarkan masalah. (hlm. 49)

Cinta siapakah yang tidak aneh? Cobalah sebutkan kenormalan dalam cinta. Pasti tidak akan ada. Tidak mungkin normal seratus persen. (hlm. 101)

Ada beragam tipikal perempuan, mulai dari perempuan konvensional sampai perempuan modern. Zahra Azkia representasi perempuan modern; mandiri, matang dan cenderung nyaman dengan hidup sendiri. Linda Arum, tipikal perempuan yang mengikuti perintah orang tua dan tidak neko-neko dalam menghadapi hidup. Gwen Saputri adalah jenis perempuan yang mengalami trauma panjang dalam hidupnya yang membentuknya menjadi perempuan pemberontak dan cenderung membenci kaum adam. Sedangkan Setyani merupakan jenis perempuan yang banyak kita temui di jaman emak-emak kita di masa muda dulu; konvensional dan patuh pada semua meski tersiksa lahir dan batin demi keutuhan rumah tangga.

Bukan rahasia lagi, bahwa keputusan seorang artis untuk menutup auratnya, nyaris sama dengan menutup karir di layar mana pun. Profesi lain yang sejenis juga begitu. Zahra memilih hidup dibelakang layar. Selama dua tahun terakhir, Zahra mendedikasikan dirinya sebagai sutradara di Tropical Entertainment (TE). Kemudian, pemilik TE mempercayainya menjadi produser kreatif berbagai proyek film televisi, sinetron dan mini seri mereka. Kemudian dia percaya memegang film dan bosnya berani mengeluarkan uang yang tak sediki untuk digarapnya nanti. Disinilah karir dan hidup Zahra akan berubah.

Jika perempuan normal pasti memiliki mimpi dan harapan tentang indahnya pernikahan, tetapi tidak dengan Gwen. Dia amat benci mendengar atau berbicara tentang pernikahan. Dan efek lainnya, dia juga menjadi tidak hormat dengan mahluk laki-laki. Sesekali memang sinis, tetapi sebagian besar hatinya menyangsikan. Bahwa para lelaki yang menjunjung tinggi logika itu, bisa secara adil menempatkan intuisi mereka. Gwen menuntut lebih, pada lelaki yang menjunjung tinggi logika. Bisakah mereka mencintai kejujuran? Bisakah mereka menghormati wanita, bukan melalui ‘cetakannya’ saja? Dapatkah para lelaki, meluaskan pemahamannya terhadap loyalitas?

Linda tak mengejar finansial, tak mengejar kelas sosial yang selalu mengacu kepada kemegahan penampilan. Dia lebih suka menduplikasi kebersahajaan dan kesederhanaan ibunya. Meskipun bisa tampil mewah sesuai dengan kelas ekonominya, namun lebih suka tampak sederhana. Tetap mengatakan bahwa status dirinya adalah perempuan kampung dari lereng gunung.

Setyani mengalami rasa sakit yang sangat hebat. Kembang desa dan putri seorang guru ngaji yang disegani di kampungnya ternyata hanya dipetik oleh laki-laki yang tidak bertanggung jawab. Terang-terangan bermain perempuan saat istrinya berjuang meregang nyawa untuk melahirkan buah pernikahannya. Setyani tetap diam. Tak ada air mata yang luruh setetes pun. Hatinya kebas, dia sudah kebal dengan rasa sakit itu. Jika dia ditanya apa alasan yang membuatnya mampu bertahan adalah bahwa ia masih terlalu mencintai suaminya itu, meski diperlakukan semena-menan.

Sepi tapi bukan berarti tanpa arti. Hidup terkadang seperti harmoni yang selaras dan serasi. Namun terkadang juga menjelma ironi. Itulah kehidupan yang dijalani keempat perempuan tersebut dengan problematikanya masing-masing yang nantinya ada benang merah yang akan menautkan keempatnya.

Sindiran halus dalam novel ini:

  1. Ambisi orangtua, janganlah dicampuradukkan dengan kepolosan bocah-bocah itu. Mereka belum kuat menerima tuntutan kita. (hlm. 244)
  2. Menikah memang bukan hanya 100% jaminan bahagia. Tetapi seharusnya orang-orang merasa takut jika tak berusaha mengikuti sunah Rasul yang satu itu. Seharusnya merasa takut jika tak dianggap umatnya.
  3. Jika pernikahan sudah diniatkan ilallah, fillah dan billah, maka seluruh atribut dunia tak penting. (hlm. 232)

Banyak bertebaran kalimat favorit:

  1. Kadang kekuatan hati bisa hilang seketika, jika kita menghadapi situasi tegang. (hlm. 13)
  2. Siapa yang bisa menjamin kebahagiaan dan kesedihan kalau kita tak pernah mencoba peluang terbaik? (hlm. 25)
  3. Waktu seperti roda yang permukaannya kasar, menggelinding di tempat yang juga tak rata. Terasa lambat dan tak menyenangkan, namun tahu-tahu, sudah terlewat begitu saja. (hlm. 117)
  4. Manusia memang tak pernah puas dengan apa yang sudah dikaruniakan Allah SWT, kepadanya. (hlm. 286)
  5. Janganlah menghalangi cinta dan keyakinan atasnya. Sebab cinta yang benar takkan pernah salah mengisyaratkan pada hatimu. (hlm. 325)

Sangat disayangkan banyak sekali ditemukan typo, tapi yang paling fatal adalah judul di lembaran dalam, harusnya TEATRIKAL HATI malah typo TEATERIKAL HATI :3

Hal yang agak mengganggu selainnya bertebaran typo adalah deskripsi detail tentang mimpi Gwen yang berulang. Cukup membuat jemu, harusnya mimpi berulang tidak usah terlalu detail di setiap mimpi.

Terlepas dari itu, menyukai buku ini yang didominasi jeritan hati perempuan. Cinta, mimpi, obsesi, dedikasi, dan lika-liku perjalanan nurani. Yang bikin mrebes mili adalah bagian dimana suami Setyani menangisi kematiannya. Setelah berpuluh tahun mengalami siksa lahir batin yang ditimpakan oleh suaminya sendiri, Setyani menjadi contoh bahwa perempuan dalam rumah tangga adalah kunci utuhnya sebuah keluarga. Seberat apapun dipikulnya meski dia merasa menderita, hal itu dilakukannya demi anak-anaknya kelak. Yup, perempuan jaman dulu lebih nrimo daripada perempuan masa kini yang terlalu banyak tuntutan. Makanya tak heran sekarang banyak sekali perceraian, yang sebenarnya adalah emosi sesaat tanpa memikirkan anak-anak yang akan menanggung beban hidup kelak.

Keterangan Buku:

Judul                                     : Teatrikal Hati

Penulis                                 : Rantau Anggun & Binta Al Mamba

Penerbit                              : Quanta imprint dari PT. Elex Media Komputindo

Terbit                                    : 2013

Tebal                                     : 342 hlm.

ISBN                                      : 9786020226279

Indonesian Romance Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/01/indonesian-romance-reading-challenge-2014/

New Authors Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/02/new-authors-reading-challenge-2014/

6 thoughts on “REVIEW Teatrikal Hati

  1. terlepas dari kekurangan buku ini, saya sangat terharu dengan cerita perempuan-perempuan hebat di sini.

    bukuguebaca.blogspot.com/2013/11/resensi-novel-teatrikal-hati-cinta.html

  2. Pingback: New Authors Reading Challenge 2014 | Luckty Si Pustakawin

  3. Pingback: Daftar Bacaan Tahun 2014 | Luckty Si Pustakawin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s