REVIEW Kujemput Engkau di Sepertiga Malam

“Cukup mudah untuk bersikap menyenangkan, kalau hidup mengalir seperti lagu. Tapi orang yang hebat ialah yang bisa tersenyum, saat semua berantakan. Sebab ujian bagi hati adalah kesulitan, dan kesulitan selalu datang setiap waktu. Dan senyuman yang layak disanjung dunia, adalah senyuman yang bersinar menembus air mata.” (hlm. 40)

Rumah tangga adalah segalanya bermula dan bermuara, tempat berangkat dan pulang, tempat berdiam dan berkisah, bukan hanya fisik, tapi yang hakiki adalah jiwa, batin, hati tiap manusia. Maka rumah tangga harus dikelola dengan baik, dengan keseriusan, sama baik dan sama seriusnya seperti kita yang selalu memampukan diri mengelola usaha, karier, karya, pekerjaan, tugas, dengan berdedikasi tinggi padanya. Sejatinya tak ada satu manusia pun yang berniat berpisah ketika menikah. Tentu, karena rumah tangga berisi dua orang. Begitu juga yang dialami oleh Peggy dan suaminya.

Hidup ini diciptakan berpasang-pasangan, ada siang ada malam, ada perempuan ada laki-laki, ada suka ada duka, semua Allah ciptakan agar memiliki perimbangan. Demikian adilnya, Allah ciptakan kehidupan manusia, termasuk tentang diciptakannya siang dan malam.

Segala yang berpasang-pasangan inilah yang sesungguhnya harus dijadikan sebagai bahan bagi mereka yang berpikir, yaitu manusia diberikan pilihan di dalam hidupnya. Allah beri kemerdekaan manusia untuk menentukan akan hidup seperti apa. Tentu, masing-masing manusia menanggung konsekuensinya di hadapan Allah SWT.

Manusia, sebagai mahluk yang paling sempurna dari mahluk-mahluk lain yang Allah ciptakan, dianugerahi kemampuan untuk berpikir. Dengan pikirnya ini manusia mampu menilai segala sesuatu, termasuk manusia seyogyanya belajar untuk menilai diri sendiri. Proses manusia menilai diri sendiri ini yang sering disebut dengan muhassabbah. Yaitu, keadaan di  mana manusia berkaca pada dirinya sendiri, yang kita kenal dengan introspeksi. Berkaca pada hatinya sendiri.

Melakukan muhassabbah menjadi sangat penting bagi manusia, sebab dalam proses ber-muhassabbah ini manusia akan merenung, berpikir, dan membuat penilaian terhadap dirinya menyangkut prestasinya, yaitu prestasi baik maupun prestasi buruk. Jika manusia melakukannya secara rutin, maka ia akan mampu melihat dirinya di masa lampau, di hari ini, dan akan lebih tahu harus bagaimana di masa depan. Lewat proses ini juga maka manusia akan memahami tentang kesalahan-kesalahan lakunya di hadapan Allah SWT. Maka ber-muhassabbah ini sangat penting guna menjadi sarana manusia bermawas diri dalam beribadah kepada Tuhannya.

Muhassabbah sangat baik untuk dilakukan secara kontinu. Agar manusia selalu memiliki kendali dalam hidupnya. Kendali yang mengarahkan kepada jalan-jalan yang lebih baik dan lebih disukai Allah SWT.

Kapankah waktu paling afdal untuk melakukan? Tentu saja setiap waktu sama baiknya apabila ber-muhassabbah kita dudukkan dalam posisi yang penting. Tetapi, Allah sudah mempergilirkan siang dan malam, karena Allah menuntun manusia untuk membagi dirinya, pada waktu siang bekerja maksimal pada batin, dan menurunkan kerja fisik. Maka pada malam hari ini adalah waktu yang afdal untuk ber-muhassabbah.

Ibadah Tahajud ini memang berat tantangannya. Karena ia dilakukan setelah manusia  terlebih dahulu tidur, maka manusia harus punya niat yang kuat untuk bangun kembali, atau bahkan manusia harus mengatur jam kehidupannya sedemikian rupa agar dapat melakukan ibadah shalat Tahajud di sepertiga malam. Ini juga maknanya mengatur pola hidup.

Dengan menghidupkan kalbu, maka kita bisa bertemu Allah. Lalu kita tak merasa sendiri lagi, karena Allah selalu ada bersama kita. Selalu kita hadirkan. Ketika gerak hidup masih selalu gerak fisik yang utama, yang terjadi adalah ke-aku-an yang tinggi. Karena tak ada keseimbangan antara jasmani dan ruhani. Tak ada waktu bertemu dengan-Nya lalu bermuhassabbah agar diri semakin menyadari ketiadaan di hadapan Allah. Tahajud adalah jalan untuk menghadirkan gerak jiwa. Yang hidup pada diri adalah nilai spiritualitas. Itu akan terpancar pada pikir, laku, sikap, wajah, sehingga keberkahan dan rahmat Allah semoga lebih mudah hadir pada kita.

Bagi umat Islam, baik laki-laki ataupun perempuan, penting untuk membiasakan diri melakukan qiyamul lail, sebab akan meningkatkan kemampuan mawas diri terhadap berbagai tantangan dan ujian dari luar. Mawas diri akan terbentuk jika seseorang terlatih. Karena, apabila manusia sudah terjebak dalam rutinitas dan kesibukannya di dunia, maka dia akan menjadi seperti robot, seperti sudah diprogram, dan programnya tentu lebih banyak yang bersifat keduniawian. Dengan demikian, ia akan kehilangan jiwanya. Tidak lagi melakukan segala sesuatu dengan hati. Hatinya kering.

Lewat buku ini kita akan melihat sisi lain dari kehidupan Peggy yang selama ini belum terkuak, salah satunya adalah saat dirinya diambang perpisahan dengan suaminya dan proses bagaimana dia berubah dari dunia artis yang penuh gemerlap ke jalan Allah. Hal yang dilaluinya tidaklah semudah membalikkan tangan. Banyak hambatan dan rintangan yang harus dilaluinya. Sebuah memoar yang patut diteladani.

Keterangan Buku:

Judul                                     : Kujemput Engkau di Sepertiga Malam

Penulis                                 : Peggy Melati Sukma

Penyunting                         : Tofik Pram

Desain isi                             : Media Sari, Nurhasanah Ridwan

Penata aksara                    : Citrani Elnur, Nurhasanah Ridwan

Desain sampul                   : A.M. Wantoro

Penerbit                              : Noura Books

Terbit                                    : Februari 2014

Tebal                                     : 395 hlm.

ISBN                                      : 978-602-1606-93-3

6 thoughts on “REVIEW Kujemput Engkau di Sepertiga Malam

  1. Ibadah Tahajud itu memang luar biasa ya, aku setuju perlu niat kuat dan mengatur ulang pola hidup keseharian agar kita bisa rutin melaksanakannya. Karena sungguh luar biasa apa yang akan kita dapatkan dengan bertahajud. Alhamdulillah punya anak membuatku sering terbangun di tengah malam, meski lelah tapi hikmahnya jadi bisa sholat tahajud. Semoga malam-malam kita dipenuhi dengan sujud kepada Allah SWT, aamiin🙂
    Thanks for the review jadi pengen baca bukunya, apalagi ini pengalaman pribadi dan kisah nyata dari Peggy M S.

  2. Pingback: Daftar Bacaan Tahun 2014 | Luckty Si Pustakawin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s