REVIEW Remember When

Hidup itu seperti roda. Kadang kita ada di atas, kadang kita ada di bawah.

Hidup bagai sekotak cokelat, entah rasa apa yang bakal kita dapetin.

Hidup juga kayak cuaca. Hari ini bisa hujan, besok bisa cerah. Tapi, lo nggak akan punya hujan selamanya, atau kemarau selamanya. Kita butuh pahit dan manis secara bersamaan, sebuah bentuk keseimbangan. (hlm. 41)

MOSES. Ketua OSIS. Nilainya hampir selalu sempurna. Hanya Freya yang bisa menyaingi nilainya. Tipikal serius. Mengalami yang namanya jatuh cinta pada pandangan pertama, atau hanya perasaan suka. Entah apalah. Yang jelas, dia merasakan sesuatu yang berbeda, sesuatu yang belum pernah dirasakan seumur hidupnya. Sesuatu yang selalu Adrian bicarakan, tetapi Moses hanya pura-pura masa bodoh atau sudah mengerti.

GIA. Cantik, kulit kecokelatan dengan rambut ikal yang tegerai sampai punggung. Sekretaris OSIS. Sebenarnya cewek berambut panang dan bertubuh mungil kayak dia kayak gini di sekolah banyak, tetapi nggak tahu kenapa Adrian suka aja ngeliat Gia. Orangnya supel banget, jadi enak diajak ngobrol tentang apa saja. Kalau diledek, selalu bisa ngeledek balik. Bagi Adrian, bersama Gia rasanya sangat menyenangkan.
ADRIAN. Bintang SMU di sekolahnya. Banyak murid perempuan yang suka padanya, menyimpan debaran hati setiap dia lewat. Dia jago basket. Pintar mengambil hati orang. Dan ganteng. Adrian itu contoh orang yang baik sama semua orang, makanya kita nggak bisa bener-bener ngeliat kepribadian asli di balik senyum yang permanen nempel di wajahnya, begitu pendapat Freya tentang Adrian.
FREYA. Tinggi jangkung, berkulit putih pucat tanpa rona merah. Postur tubuhnya agak membungkuk, seolah tinggi tubuh yang ia miliki membuatnya tak nyaman. Memang nggak bisa bisa dibilang sebagai diva sekolah, tetapi dia menarik. Kecantikannya terhalangi oleh poni panjang, rambutnya selalu dipotong rata tanpa model, dan dia terlalu sederhana untuk menjadi pusat perhatian. Freya itu istilahnya, segelas susu putih dalam gelas kaca biasa. Sekilas terlihat sangat biasa, tanpa pernak-pernik, tanpa rasa, tetapi menghanyutkan.
Moses, Gia, Adrian, dan Freya menjalani masa putih abu-abu pada umumnya. Belajar, ikut eskul, dan berinteraksi dengan lingkungan. Memiliki problem masing-masing. Mengalami yang namanya masa-masa jatuh cinta. Kisah yang sederhana bisa menyedot perhatian kita. Selalu khas penulisnya. Menjatuhkan pilihan favorit pada Freya. Yup, Freya ini saya banget #eaaa  :D

“Lo tuh butuh seseorang yang bikin lo ketawa, seseorang yang melengkapi  lo. Bukan kutu buku yang jadwal pacarannya belajar di perpus.” (hlm. 29)

“Pernah nggak sih, lo berharap punya cinta yang lain? Yang meledak-ledak, yang bikin kaki lo lemas, yang bikin jantung nggakkaruan…” (hlm. 31)

Adegan favorit adalah saat Freya menemani Adrian yang baru saja kehilangan ibunya, tewas saat kecelakaan. Bisa merasakan apa yang dirasakan Freya dan Adrian. Kehilangan orang tua memang sebuah kesedihan yang tak bisa diobati dengan apa pun. #PukPukAdrianJugaFreya

“Butuh waktu lama untuk berhenti menyalahkan Tuhan, untuk meyakinkan diri sendiri bahwa ini bukan salah siapa-siapa. Butuh waktu buat kembali percaya kalau gue pantes bahagia.” (hlm. 86)

“Saat itu, gue bilang sama diri sendiri. Nyokap pasti pengen gue tetap kuat dan nggak nangis. Tapi, gue belajar bahwa pada saat-saat seperti ini, lo hanya harus menjadi diri sendiri. Lakukan apa yang mau lo mau, rasain apa yang harus lo rasain. (hlm. 86-87)

Banyak juga sindiran halus dalam novel ini:

  1. Cewek cenderung kasihan atau menghindari cowok yang udah ditolaknya. (hlm. 7)
  2. Hanya ada satu syarat agar bisa populer di sekolah, dan syarat itu adalah: EKSIS
  3. Menunggu nggak jauh lebih baik daripada bengong sendirian. (hlm. 36)
  4. Nggak banyak cewek yang suka lagu punk yang keras dan lebih banyak suara orang teriak bersama tabuhan drum dan petikan listrik gitar. (hlm. 38)
  5. Semua orang punya apresiasi musik yang berbeda. Bukan berarti genre itu jelek, atau sebaliknya. Namanya juga selera. (hlm. 39)
  6. Ada kebanggaan tersendiri saat disebut pintar, tapi betapa inginnya cewek juga dibilang cantik. (hlm. 55)

Beberapa kalimat favorit:

  1. Nggak ada orang yang seratus persen bahagia, nggak ada juga orang yang seratus persen sedih. Hidup itu kan penuh emosi, makanya dalam suatu periode waktu kita bisa ngrasain bebrbagai emosi berbaur jadi satu. Karena itu, kita jadi seimbang. (hlm. 42)
  2. Jangan merendahkan diri sendiri. Kamu bukan seperti apa yang orang lain bilang. Kamu adalah kamu. (hlm. 47)
  3. Kita jadi takut merasa bahagia karena kalau terlalu bahagia, suatu saat semua itu bisa hilang dan menjadikan kita hampa. (hlm. 84)
  4. Hidup ini milik kita, juga bukan milik kita sendiri. (hlm. 85)
  5. Berusaha menahan perasaan tidak lebih berat dari harus mengakuinya. (hlm. 195)
  6. Memaafkan bukan berarti kalah. (hlm. 218)
  7. Karena ada beberapa hal yang lebih baik tidak terucap. (hlm. 226)

Selalu suka tulisan Winna Efendi, begitu juga dengan tulisannya di buku ini yang sebentar lagi akan difilmkan. Buku yang saya baca ini sudah memasuki cetakan kesepuluh, tapi sayang masih banyak typo yang bertebaran:

  1. Da,n — seharusnya dan (hlm. 133)
  2. Llau — seharusnya lalu (hlm. 102)
  3. Ang — seharusnya yang (hlm. 143)
  4. Kit., — seaharusnya kita (hlm. 165)

Keterangan Buku:

Judul                                     : Remember When

Penulis                                 : Winna Efendi

Editor                                    : Samira & Gita Romadhona

Proofreader                       : Christian Simamora

Penata letak                       : Wahyu Suwarni

Desainer sampul              : Dwi Annisa Anindhika

Penerbit                              : GagasMedia

Terbit                                    : 2014 (Cet. 10)

Tebal                                     : 252 hlm.

ISBN                                      : 979-780-487-9

 

Oya, yuk ikutan Winna Efendi’s Book Reading Challenge 2014 di blogku, bakal ada empat pemenang yang akan dipilih😉

https://luckty.wordpress.com/2014/01/04/winna-efendis-book-reading-challenge-2014/

Indonesian Romance Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/01/indonesian-romance-reading-challenge-2014/
Young Adult Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/07/young-adult-reading-challenge-2014/

 

10 thoughts on “REVIEW Remember When

  1. Sukaa juga samaa novel ini;)

    Kebanyakan novelnya winna efendi bertema persahabatan yahb😉

    Byk typo ya? Kok aku ngak tau?#brakkk
    Di AI juga byk typo, pdhl kan ud ctk ulang😦 editornya kurang teliti nii

  2. kebiasaan, pasti nunggu filmnya keluar dulu baru baca novelnya. kayak refrain. aku belum baca ini padahal udah kepincut sejak lama ama novel ini (masih punya hutang baca 2 novel yg baru dibeli hihihi) setelah baca review ini, jadi makin menggebu-gebu keinginan buat baca sebelum filmnya tayang😀

  3. Wah, memang patut novel ini dijadikan rekomendasi dan wishlist buat aku. Ternyata emang keren! Pantes saja difilmkan. Jujur deh, aku suka bahasa-bahasa khas kak Winna Effendi yang simple namun bermakna gitu! Ah pokoknya the best banget dah!

    Dan review kaka yang satu ini, bikin aku tambah nggak sabar buat nonton filmnya. Review yang lengkap! Selalu ngerasa pas deh kalau baca review di blog kaka🙂🙂🙂

  4. Pingback: Daftar Bacaan Tahun 2014 | Luckty Si Pustakawin

  5. Pingback: REVIEW Happily Ever After + GIVEAWAY | Luckty Si Pustakawin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s