REVIEW Galila

galila

Hidup, sepahit apa pun harus tetap punya mimpi. Setiap orang harus punya sesuatu untuk dia kejar setiap hari. Masalah akhirnya mencapai atau tidak, itu urusan nanti. Itu prinsip hidup. (hlm. 295)

Dialah pahlawan di era digital ini. Bintang reality show yang membuktikan bahwa mimpi bisa diraih. Bahwa keberuntungan hidup kadang tidak lebih dari sekedar kertas undian dalam kemasan sabun cuci. Nama Galila melejit dalam sekejap. From Zero to Hero, demikian headline salah satu surat kabar terbesar di Indonesia menyebutnya. Namanya segera menjadi fenomena. Dialah bukti berjalan dari cita-cita perempuan dari pulau-pulau yanh jauh –yang bisa jadi nyata.

Saat itulah dia berkenalan dengan Magda. Hidup Galila dengan segera berubah. Seperti batu bertemu ketapel. Galila baru saja menemukan ketapel yang membumbungkan namanya jatuh ke angkasa. Tidak butuh waktu lama bagi Galila untuk bertransformasi. Bagaikan karet busa, dia menyerap semua ilmu di sekitarnya. Belajar teknik vokal yang baik. Belajar berdandan dan berbusana yang pantas. Belajar tata cara pergaulan. Dan, tentu saja belajar menghargai dirinya dengan mahal. Kepiawaian Magda telah mengubah gadis kampung pesisir menjadi salah satu diva muda dengan tarif yang bisa membuat siapa saja membelakkan mata. Dalam hitungan minggu, album perdanya sukses terjual seratus ribu kopi dan langsung mengantarkannya menjadi salah satu pendatang baru yang harus diperhitungkan di dunia hiburan.

Dalam hidup, ada begitu banyak cara untuk mengenal dan menjadi akrab dengan seseorang. Ada yang melalui perpanjang tangan orang lain, ada yang diawali dengan benturan tanpa segaja di suatu keramaian. Ada yang melalui komentar iseng dalam jejaring sosial. Ada yang melalui proses panjang dan berbelit-belit. Namun ada juga yang sekilat satu kedipan mata.

Galila merasa dirinya sedang melangkah di atas awan. Begitu ringan. Setelah bergelut cukup lama dengan kesendirian, dia menyadari bahwa berpasangan bisa jadi begitu menyenangkan. Mungkin ini yang disebut bahagia. Mungkin itu sebabnya Tuhan menciptakan Adan dan Hawa berpasangan, karena tidak ada yang lebih menusuki hati daripada merasa sepi sendiri di tengah ramai yang mengelilingi.

“Aku cuma mau bilang kamu adalah sebentuk kebahagiaan yang selama ini aku cari dan akan terus aku perjuangkan. Kebahagiaan adalah cita-cita.” (hlm. 162)

“Aku tidak pernah menginginkan hal sebesar aku menginginkan hubungan kita. Dan rasanya memang aku tidak pernah berjuang untuk apa pun juga dalam hidupku. Aku membiarkan orang mematok hal-hal yang harus kulakukan, apa-apa yang harus kuraih, atau yang terpaksa harus aku korbankan.” (hlm. 181)

“Ini hidupku. Aku berhak menentukan apa yang aku mau. Aku ini manusia dengan kehendak bebas, bukan invenstasi tak bernyawa yang bisa diatur-atur begitu saja.” (hlm. 79)

Perkenalannya dengan Eddie seharusnya berjalan lancar. Tapi kenyataannya tidak. Eddie yang berasal dari Batak memiliki keluarga yang kuat dengan asal-asulnya. Hana, ibu Eddie adalah representasi emak-emak berduit yang tidak ingin anaknya lepas ke pelukan perempuan yang bukan pilihannya. Baginya, beda suku adalah haram bagi keturunannya. Saya jadi teringat seorang teman yang diatur hidupnya sedari kecil. Mulai dari kacamata yang dia pakai, sekolah mana yang harus dia tuju, jurusan apa yang dia pilih saat kuliah (yang akhirnya dia justru tidak kuliah) sampai suaminya yang (harus) sesama suku adalah pilihan ibunya. Pada dasarnya, semua suku pasti menginginkan anaknya menikah dengan yang sesuku. Batak dengan Batak. Sunda dengan Sunda. Minang dengan Minang. Jawa dengan Jawa. Padahal apa salahnya menikah dengan beda suku? Justru menambah keragaman keturunan. Jangan nggak percaya, saking bergitu heterogennya keluarga saya, ada sepupu yang menikah dengan keturunan Papua loh. Dan mereka baik-baik saja, bahagia sampai sekarang😀

Banyak sindiran halus dalam novel ini:

  1. Semakin jarang seorang penyanyi muncul di TV, semakin diujung pula posisi sekaligus urutan tunggu untuk dirias. (hlm. 12)
  2. Bila kesan pertama sudah gagal, jangan harap nara sumber mau bersikap santai dan terbuka. (hlm. 19)
  3. Apa sih pentingnya berfoto bersama seorang idola? Apakah sebuah foto bisa begitu menginspirasi? (hlm. 42)
  4. Perempuan mana pun rasanya akan tersanjung bila menerima perlakuan manis. (hlm. 44)
  5. Semangat pemerataan pembangunan yang berkelanjutan, hanyalah slogan. Yang digembor-gemborkan setiap beberapa tahun sekali, saat musim kampanye tiba. (hlm. 49)
  6. Setiap orang seharusnya pernah membuat kesalahan masa muda, setidaknya sekali dalam hidupnya. Kalau nggak, mereka nggak akan pernah merasakan bahwa mereka pernah hidup. (hlm. 55)
  7. Pria bisa begitu saja menghilang. Tanpa pesan. Dan mereka tidak butuh alasan untuk melakukan hal itu. Melupakan bahwa ada yang menunggu mereka dengan gelisah di luar sana. (hlm. 62)
  8. Kenapa sih buat cari pasangan harus dipaksa-paksa? Apa mereka tidak tahu bagaimana rasanya dijodohkan itu? (hlm. 70)
  9. Kenapa harus memilih? Bukankah tidak memilih juga merupakan suatu pilihan? (hlm. 71)
  10. Kok tega sih, nulis nama pacar-pacar mereka di pohon? Mereka sadar nggak sih usia pohon bahkan lebih tua dari usia mereka? (hlm. 99)
  11. Fokus berkarya saja. Beri sedikit-sedikit apa yang mereka mau, agar mereka tetap ingat denganmu. Tapi jangan umbar semuanya. Dengan begitu apa pun yang kamu keluarkan selalu dicari dan dinanti. (hlm. 185)

Banyak kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Kesuksesan adalah kombinasi bakat, kerja keras, jejaring, serta insting bagus dalam bebrbisnis. (hlm. 37)
  2. Tuhan sosok yang progresif. Dia tidak diam dan bertambah tua menunggu periode hidup kita habis atau duduk menunggu kita di kekalan. Dia selalu punya ide untuk hidupmu dan hidupku. (hlm. 87)
  3. Bukankah cinta selalu bisa mengalahkan semua, termasuk kekhawatiran dan ketakutan? Termasuk juga potongan-potongan kenangan masa lalu yang begitu ingin dilupakan. (hlm. 89)
  4. Ada kalanya telinga manusia perlu dibuai dengan kata-kata semanis madu untuk menguatkan hatinya. (hlm. 101)
  5. Cinta tidak mengenal kadaluwarsa. (hlm. 109)
  6. Bila salah pilih jodoh, seumur hidup kau tinggal dalam duka dan penyesalan. (hlm. 112)
  7. Dalam keadaan kepepet, manusia memang kadang bisa berpikir lebih terang dan kreatif. (hlm. 139)
  8. Kebahagiaan juga menyangkut urusan spiritual. Tidak melulu ke atas, tapi juga ke samping. Hubungan dengan Pencipta dan sesama. (hlm. 160)
  9. Kebahagiaan itu bukan sesuatu yang statis. Dia harus dicari dan ditemukan terus menerus. Diusahakan. Diperjuangkan. Komitmen. (hlm. 161)
  10. Cinta memang tidak pernah mencari perkara mudah dan sederhana. (hlm. 211)
  11. Saat masih muda, kamu harus berani melakukan satu hal gila yang akan membuatmu mengingatnya sampai kamu tua nanti. Itu akan menjadi pengingat bahwa kamu pernah hidup. (hlm. 292)

Tema perjodohan memang tema yang lumayan banyak dibahas. Mulai dari unsur bibit, bebet, dan bobotnya adalah yang selalu paling banyak diungkit. Namun yang membuat novel ini tampak berbeda dari perjodohan lainnya adalah adanya unsur budaya yang dijabarkan yang cukup kental. Betapa nama belakang mempengaruhi nasib hidup seseorang. Ada banyak hal alasan kenapa manusia bisa terjebak dalam dunia perjodohan.

Selain itu, ada selipan sejarah Indonesia. Tentang kerusuhan Ambon yang pernah melanda Indonesia beberapa tahun silam yang seakan sudah tergerus waktu, padahal menyisakan duka yang mendalam bagi yang mengalaminya.

Penulisnya memasukkan unsur budaya Batak dan Ambon tentunya tidak terlepas dari darah yang mengalir dari orangtuanya. Ayahnya berdarah Ambon, sedangkan ibunya berdarah Batak. Penulis berhasil meraciknya menjadi sebuah novel modern yang kental dengan budaya lokal.

Sayang ada beberapa typo yang ditemukan seperti pada ‘un-tuknya’ seharusnya ‘untuknya’ pada halaman 62 dan ‘tegah’ seharusnya ‘tengah’ pada halaman 91.

Hal yang menarik ketika membeli buku ini adalah dari covernya yang unik ditambah warna favorit saya; biru yang begitu mendominasi. Kemudian nama besar Jessica Huwae. Semenjak membaca Skenario Remang-Remang, langsung jatuh cinta dengan gaya kepenulisannya. Jadi penasaran ama buku pertamanya; soulmate.com😉

Keterangan Buku:

Judul                     : Galila

Penulis                 : Jessica Huwae

Ilustrator             : Riesma Pawestri

Editor                    : Rosi L. Simamora

Penerbit              : Gramedia Pustaka Utama

Terbit                    : Maret 2014

Tebal                     : 336 hlm.

ISBN                      : 978-602-03-0210-2

Indonesian Romance Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/01/indonesian-romance-reading-challenge-2014/

What’s in a Name Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/07/whats-in-a-name-reading-challenge-2014/

6 thoughts on “REVIEW Galila

  1. Pingback: Daftar Bacaan Tahun 2014 | Luckty Si Pustakawin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s