REVIEW Shopaholic No More

Mom, Dad, aku berjanji. Aku pasti bisa jadi anak baik! (hlm. 72)

“…tidak usah takut. Percaya saja!” (hlm. 78)

Adalah Zelda, murid kelas 8-S di Marbens Junior High School. Zelda dikenal sebagai anak paling populer di sekolahnya. Zelda juga banyak ditaksir oleh anak-anak kelas basket.

Zelda berasal dari keluarga berada. Segala keinginannya pasti terpenuhi, termasuk urusan gila belanjanya. Zelda terkena sindrom shopaholic. Bayangkan, hanya untuk persiapan pergi ke pesta ulang tahun temannya, dia dengan santai mengeluarkan kartu debitnya untuk berbelanja sebesar dua juta lima ratus rupiah. Bo, anak SMP belanjanya gilingan juga Zelda ini. Gaji eyke sebulan aja gak nyampe segitu.. (‘⌣’┐) (┌’⌣’)┌ (‘⌣’┐) (┌’⌣’)┌ #KalahAmaAnakSMP

Apa shopaholic itu? Diambil dari http://psycholovelygirls.blogspot.com, shopaholic berasal dari kata shop yang artinya belanja dan aholic yang artinya suatu ketergantungan yang disadari ataupun tidak. Menurut Oxford Expans (Rizka, 2008) dikemukakan bahwa shopaholic adalah seseorang yang tidak mampu menahan keinginannya untuk berbelanja dan berbelanja sehingga menghabiskan begitu banyak waktu dan uang untuk berbelanja meskipun barang-barang yang dibelinya tidak selalu ia butuhkan.

Perlu diketahui bahwa tidak semua orang yang suka berbelanja atau pergi ke mall dapat dikatakan shopaholic. Menurut Klinik Servo (2007), seseorang dapat dikatakan mengalami shopaholic jika menunjukkan gejala-gejala sebagai berikut:

  1. Suka menghabiskan uang untuk membeli barang yang tidak dimiliki meskipun barang tersebut tidak selalu berguna bagi dirinya.
  2. Merasa puas pada saat dirinya dapat membeli apa saja yang diinginkannya, namun setelah selesai berbelanja maka dirinya merasa bersalah dan tertekan dengan apa yang telah dilakukannya.
  3. Pada saat merasa stres, maka akan selalu berbelanja untuk meredakan stresnya tersebut. Memiliki banyak barang-barang seperti baju, sepatu atau barang-barang elektronik, dll yang tidak terhitung jumlahnya, namun tidak pernah digunakan.
  4. Selalu tidak mampu mengontrol diri ketika berbelanja. Merasa terganggu dengan kebiasaan belanja yang dilakukannya. Tetap tidak mampu menahan diri untuk berbelanja meskipun dirinya sedang bingung memikirkan hutang-hutangnya.
  5. Sering berbohong pada orang lain tentang uang yang telah dihabiskannya.

Suatu hari, kehidupannya berubah seratus delapan puluh derajat. Mom and Dad mengalami kecelakaan hebat yang merenggut nyawa mereka. Zelda menangis. Dia benar-benar terpukul atas kecelakaan yang menimpa kedua orangtuanya. Namun, Zelda berusaha tenang karena tidak mungkin Zelda terus menangis dan kecewa, walaupun Zelda ingin melakukannya. Toh, menangis tidak membuat orangtua Zelda hidup lagi.

Zelda kemudian tinggal bersama bibinya yang memiliki sebuah kafe. Papan bertuliskan ‘Take Deany’ terpampang dengan apik di depan kafe. Papan itu berwarna cokelat dengan tulisannya yang berwana-warni. Huruf ‘T’ dari ‘Take’ dan ‘D’ dari ‘Deany’ pun sudah dimodifikasi sehingga terlihat semakin keren. Cat dindingnya berwarna hijau tua. Ada juga beberapa bagian dinding yang warnanya putih. Jadi, tercipta nuansa hijau dan putih di kafe itu. Pintu dan jendelanya terbuat dari kaca. Kaca tersebut dikelilingi kayu yang kuat. Zelda bekerja sebagai pelayan di kafe tersebut. Yup, Zelda turun derajat. Julia and the gank kerap mengejek dan menghinanya.

“Tak apalah aku bekerja sebagai pelayan, toh Bibi Jannie tetap mengurusku dengan baik.” (hlm. 39)

Zelda tidak tahu harus bagaimana. Kalau tidak bekerja di kafe Take Deany, dia pasti akan kena marah, dan merepotkan Bibi Jannie. Kalau tetap bekerja di kafe, Julia pasti akan datang ke kafe itu bolak-balik untuk mengejek Zelda.

Zelda dibuat pusing oleh dua hal tersebut. Tentu dia harus memilih. Dia tidak bisa seenaknya mundur begitu saja atau akan menyesal. Jujur saja, Zelda tidak suka kalau dianggap pecundang.

“Aku akan terus bekerja di Take Deany. Aku ingin menambah uang saku melalui gajiku. Dan, setelah itu biarkan Julia and the gank mengejekku sepuasnya. Aku akan melayani ejekan mereka.” (hlm. 61)

Pesan moral dari buku ini adalah kita tidak bisa menebak kehidupan kita selanjutnya. Hidup itu bagai roda yang berputar. Kadang di atas, kadang di bawah. Kadang senang, kadang susah. Semua akan terlewati jika kita mampu melewati semuanya. Tuhan pasti menyiapkan kado terindah atas perbuatan kita.

Covernya yang unyu sangat merepresentasikan kehidupan Zelda sebagai shopaholic; pegang hape dan dompet serta banyak tas belanjaan yang mengelilinginya. Cuma ada satu yang agak mengganggu. Ketidakkonsistenan dalam pemanggilan orangtua Zelda. Di awal-awal disebut ayah ibu, selanjutnya sampai akhir disebut Mom and Dad.

Terlepas dari itu, menyukai buku unyu ini yang merupakan bagian dari serial Penulis Cilik Punya Karya. Yup, penulisnya masih unyu banget. Buku ini ditulis oleh dua orang. Pertama bernama Safa yang sebelumnya sudah menelurkan buku Friends, Friends, Friends. Sedangkan penulis kedua bernama Nadya yang sudah menelurkan beberapa buku; Fotografer Cilik, Delizioso!, Koki Keliling, dan Peri Detektif.

Keterangan Buku:

Judul                                     : Shopaholic No More

Penulis                                 : Safa dan Nadya

Penyunting                         : Gita Lovusa

Penyelaras aksara            : Novia Fajriani, Lian Kagura

Penata aksara                    : Nurhasanah Ridwan

Perancang sampul           : LazyMonkey Studio

Penggambar ilustrasi isi : JJ Wind

Penerbit                              : Noura Books

Terbit                                    : Januari 2014

Tebal                                     : 112 hlm.

ISBN                                      : 978-602-1606-78-0

New Authors Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/02/new-authors-reading-challenge-2014/

Young Adult Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/07/young-adult-reading-challenge-2014/

2 thoughts on “REVIEW Shopaholic No More

  1. Pingback: New Authors Reading Challenge 2014 | Luckty Si Pustakawin

  2. Pingback: Daftar Bacaan Tahun 2014 | Luckty Si Pustakawin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s