REVIEW Be Mine

be mine

Buku ini merupakan novela yang ditulis oleh Sienta Sasika Novel, Monica Anggen, Kezia Evi, Wiadji. Mengambil setting dan gaya kepenulisan yang berbeda, memiliki benang merah yang sama dalam tema yang diangkat; kasih sayang.

In Love With You – Sienta Sasika Novel

“Jangan sampai hal-hal remeh jadi ganggu konsentrasi  belajar.” (hlm. 18)

Kinan tahu betul, Bintang memang selalu menjadi Bintang. Ia dan Bintang sudah berteman dekat sejak duduk di kelas sepuluh. Hebatnya lagi, mereka selalu satu kelas. Mereka sangat dekat, bahkan seantero sekolah mencap mereka sebagai ‘pasangan sepadan’, karena mereka sama-sama pintar. Bintang selalu menjadi peringkat satu, dan Kinan selalu berada di peringkat di bawah peringkat Bintang.

Namun sayangnya, ‘embel-embel’ pasangan itu tidak pernah terwujud. Bintang tidak pernah mengatakan perasaan apa pun kepada Kinan. Sejujurnya, karena kedekatan itu, Kinan mengharapkan lebih dari sekedar bersahabat atau teman belajar. Ia ingin menjadikan Bintang sebagai pacarnya. Tapi apa daya, sekian tahun mereka bersama, tak pernah sekali pun terucap kata-kata yang ia tunggu. Entahlah, apakah Bintang malu untuk mengatakannya atau mungkin ia sedang menyukai cewek lain.

Adalah Sienta dengan peringkat 200-an di sekolahnya. Sienta sudah lama menyukai Bintang. Ia sering menganggap Bintang diam-diam, duduk sambil melukis Bintang yang sedang main basket dari kejauhan. Sudah dari dulu dia mengagumi Bintang, sama seperti gadis-gadis lainnya di sekolah. Hanya saja , Sienta tidak pernah berani mengumpulkan keberaniannya untuk menyatakan perasaannya di hari ulang tahun Bintang.

Rasanya seperti tertusuk  ribuan jarum. Sienta tahu bahwa ia akan ditolak. Tapi ia tidak pernah memprediksi kalau ia akan ditolak mentah-mentah sebelum menyelesaikan pernyataan cintanya. Dan yang lebih menyakitkan lagi, cokelat pembeliannya dikembalikan

Tema ceritanya terlalu mainstream. Kisah cowok cool dan cewek ceroboh. Endingnya gampang ditebak, kisah anak sekolah banget. Sebelumnya, saya sudah pernah membaca novel yang ditulis oleh Sienta Sasika Novel yang berjudul As Sweet as Blackberry. Kisahnya kok sekilas hampir mirip; punya tetangga baru, satu sekolah dan tidak akur. Dan tokoh utamanya pun sama; Bintang dan Sienta. Aduh, penulisnya kok narsis banget ya, kenapa selalu menggunakan namanya sendiri? X)

Jika ini diambil dari cerita yang sama, misalnya dikatakan sekuelnya, kenapa nama sahabat Sienta berbeda? Di As Sweet as Blackberry sahabatnya bernama Agnes, sedangkan di buku ini, sahabatnya bernama Yunna dan Aira.

Oya, ada pengulangan kalimat. Di halaman 37 sudah disebutkan bahwa ibu Bintang meninggal karena paru-paru, kenapa juga Sienta nanya lagi di halaman 57?!? :3

“Kanker payudara. Sudah operasi, tapi sel-sel kankernya sudah menjalar ke paru-paru.” (hlm. 37)

“Mama kena kanker payudara. Udah diangkat dua-duanya, tapi sel kankernya ternyata udah nyebar ke paru-paru dan Mama nggak bisa disembuhin lagi.” (hlm. 57)

Tink for Peter (Pan) – Monica Anggen

Bram tidak bisa membantah. Dan ia pun tidak bisa menjauhkan diri dari perempuan yang berpembawaan lucu dan selalu dikerjai teman-temannya itu. Dari dulu, hingga saat ini, Bram sama sekali tidak bisa mengabaikan kehadiran Tineke.

Pembawaan Tineke yang selalu ceria, ramah dan menyenangkan, selalu saja berhasil menarik dirinya untuk terus dekat dengan perempuan itu. Pernah ia berusaha menjauhkan diri dari Tineke, ia akan kembali merindukan suara tawa dan tubuh gemuk Tineke yang berguncang lucu setiap kali perempuan itu tertawa.

Bram tersenyum setiap kali mengingat nama perempuan itu. Namun, detik berikutnya ia terdiam. Ia merasa bagai seorang pengecut yang ketakutan sendiri akan suatu hal yang ia habiskan bersama Tineke, tapi sekali pun ia sanggup mengungkapkan perasaan cintanya pada perempuan itu.

Bram malu mengakui perasaannya. Ia tidak memiliki keberanian untuk menghadapi anggapan teman-temannya tentang perasaannya pada Tineke. Bram memiliki wajah yang tampan dan tubuh atletis karena ia adalah atlet basket yang memiliki banyak penggemar. Ia juga pemain basket yang bisa melakukan slam dunk yang tak terkalahkan.

Apa jadinya dirinya kalau sampai diketahui berpacaran denga Tineke yang mendapat julukan ‘Si Karung Beras’? Membayangkan saja, Bram rasanya ingin mati berdiri.

Tineke bukanlah Tinkerbell. Tineke tidak cantk. Tineke juga bukan sahabat Peter. Perempuan itu hanyalah seseorang yang baru dikenalnya tanpa sengaja. Peter tahu kalau Tineke tidak bisa disamakan dengan Tinkerbell yang ada dalam buku cerita kesayangannya. Tineke tidak semanis Tinkerbell. Perempuan itu terlalu sering membuat huru-hara dan menimbulkan kekacauan dalam hidupnya dan juga dalam hatinya. Tinkerbell di buku ceritanya imut-imut, mungil, dan menggemaskan. Sedangkan Tineke benar-benar amit-amit, superbesar, dan menggelikan.

“Tapi kenapa perempuan itu terus saja ada di kepalaku seperti hantu yang gentayangan?” (hlm. 125)

Setiap manusia memiliki jiwa kanak-kanak dalam dirinya meski usianya bukan kanak-kanak lagi. Kita juga pernah mendengar kasus Michael Jackson yang terobsesi dengan Peter Pan. Seperti dikutip dari http://abcnews.go.com; Sullivan said Jackson long saw himself as a real-life Peter Pan, and his insistence on this make-believe role became so sincere that he had plastic surgery to copy the appearance of actor Bobby Driscoll’s “Peter Pan’s nose.”

Ada beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Jakarta memang selalu macet. Kalau niat, kamu kan bisa berangkat lebih awal. (hlm. 89)
  2. Ini cuma kisah dongeng. Mana ada dongeng yang bisa menjadi kenyataan? (hlm. 90)
  3. Apa susahya mengatakan suka pada seseorang yang memang disukai? (hlm. 91)
  4. Bukankah hidup itu harus selalu bersyukur? (hlm. 96)
  5. Bukankah seorang teman harus membantu temannya yang kesusahan? (hlm. 121)
  6. Cinta yang benar adalah cinta yang membangun dan membiarkan orang yang dicintai bertumbuh dan berkembang bersama-sama menjadi pribadi yang lebih baik. (hlm. 155)
  7. Apakah ada cinta yang membuat orang yang dicintai merasa malu, kecewa, dan sakit hati? (hlm. 155)
  8. Lari dari masalah bukanlah cara terbaik untuk menyelesaikan masalah. (hlm. 155)
  9. Cinta haruslah ditunjukkan dalam rangkaian kata, dan juga dalam bentuk tindakan. Kita tidak bisa mencintai seseorang dengan diam-diam. Tapi menunjukkan cinta secara berlebihan juga hanya akan menjadi tindakan yang sangat menyebalkan bagi orang yang kita cintai. (hlm. 159)
  10. Mencintai seseorang adalah menerima orang itu tanpa syarat, tanpa menuntut, tanpa niatan untuk mengubah orang itu sesuai dengan kemauan kita. (hlm. 159)

Ada beberapa yang agak ganjil:

  1. Ketika Peter sedang berada di perpustakaan, Tineke dengan santainya duduk di sebelahnya. Tanpa memedulikan Peter, perempuan itu mengeluarkan sebungkus keripik singkong dan memakankeripikitu sambil membaca buku di hadapannya. (hlmm. 112) – oke, perpus sekolah tempat saya bekerja memperbolehkan murid-murid membawa makanan dan minuman ringan. Tapi, Peter dan Tineke ini kan anak kuliahan, pertanyaannya adalah perpustakaan kampus mana yang memperbolehkan mahasiswanya membawa makanan masuk ke dalam perpustakaan?😀
  2. Antara Tineke dan Bram & Peter kan beda jurusan, bahkan beda fakultas. Tapi kenapa sering banget mereka ketemu, seakan-akan satu sekolahan? Biasanya sih jarak antar fakultas itu ibarat beda sekolah. Beda lingkungan, beda pergaulan, dan segan juga sembarang masuk ke fakultas lain meski tidak kelihatan mana mahasiswa di fakultas itu atau bukan. Seperti adegan di halaman 99 dan 114 yang seolah-olah mereka satu jurusan yang selalu sering bareng.
  3. “Nanti kita beli yang baru ya, Nak. Sekarang kamu tidur dulu.” (hlm. 136) – masak iya anak kuliahan merajuk dan diiming-imingi bak anak SD?!? X)

Yang saya suka dari cerita ini adalah pemilihan tokoh utama yang tidak biasa, bukan sosok yang sempurna. Lewat cerita Tineke ini kita bisa melihat bahwa orang baik tidak selalu berwujud sempurna. Meski kisahnya cenderung absurd, tapi dari ketiga cerita yang disuguhkan, saya menjatuhkan pilihan favorit pada tulisan Monica Anggen ini.

Second Love – Kezia Evi Wiadji

Memang inilah yang selalu terjadi, jika segala sesuatu terasa menyenangkan dan membahagiakan, waktu berjalan lebih cepat. Itulah yang dirasakan baik Jimmy maupun Tiara. Sama-sama single parent, sama-sama ditinggal mati pasangannya saat masih muda. Hati mereka sama-sama kosong, perlahan mulai saling mengisi kekosongan itu. Ternyata tidak semudah kenyataan.

Kisah Jimmy dan Tiara ini mengingatkan tulisan saya beberapa tahun silam saat masih labil; Apakah bila di ruang hati ada yang baru, akan melupakan ruang-ruang yang lama?? Apakah sudah tidak berarti lagi ruang-ruang yang lain, meskipun ruang-ruang itu kecil?? Di dalam hati tidak hanya terdapat satu ruang, ruang yang sudah terisi tidak mungkin bisa digantikan yang baru, ruang akan tetap ada dan selalu di hatiku hanya untukmu lah ruang yang paling luas…

Begitulah kira-kira tulisan saya jaman ababil, memang tidak mudah menemukan kehadiran orang baru dalam kehidupan kita. Tidak mudah juga melupakan yang pernah lama singgah dalam kehidupan kita. Jika di cerita sebelumnya seputaran kisah remaja masa sekolah, kemudian yang kedua tentang pergulatan batin di fase perkuliahan, di cerita yang menjadi penutup ini kisahnya lebih dewasa dibandingkan dua kisah sebelumnyayang disugukan. Lebih ke filosofi hidup seseorang dalam menentukan pasangan hidupnya, bukan sekedar pacaran abal-abal ala abege.

Dibandingkan desain covernya, saya lebih suka ilustrasi-ilustrasi dalam bukunya; dua cangkir kopi, pohon cinta, kupu-kupu, pohon anggur yang merambat dan lain-lain.

Keterangan Buku:

Judul                                     : Be Mine

Penulis                                 : Sienta Sasika Novel, Monica Anggen, Kezia Evi Wiadji

Penyunting                         : Fatimah Azzahrah

Desain sampul                   : Mahar Mega

Penata letak                       : Dini

Pemeriksa aksara             : Tika Yuitaningrum

Penerbit                              : CAKRAWALA

Terbit                                    : 2014

ISBN                                      : 979-383-234-7

WP_20140403_007

WP_20140424_004

WP_20140409_017

WP_20140328_002

Indonesian Romance Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/01/indonesian-romance-reading-challenge-2014/

Young Adult Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/07/young-adult-reading-challenge-2014/

New Authors Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/02/new-authors-reading-challenge-2014/

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Review Novel Be Mine

5 thoughts on “REVIEW Be Mine

  1. Pingback: Daftar Bacaan Tahun 2014 | Luckty Si Pustakawin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s