REVIEW Magdalena

magdalena

Cinta adalah bentangan sejarah yang terus dikenang dan dipikirkan serta dikisahkan.

Semua orang tua tentu ingin masa depan anaknya bahagia; jika perlu dipakai rumus: masa kecil bahagia, remaja dimanja, dewasa kaya raya, tua sejahtera dan mati masuk surga. Ideal memang. Namun persoalannya, apakah arti kebahagiaan dan siapakah yang dapat merasakan kebahagiaan? Juga apa tolak ukur bahagia? Semua bsurd. Dan karena jawaban dan pertanyaan-pertanyaan itu sifatnya pribadi, tak terukur, maka orang tua cenderung mengambil jalan pintas, ukuran minimal kebahagiaan adalah jaminan hidup maupun jaminan materi.

Sudah banyak kisah-kisah di dunia ini yang mejelaskan ketidak-jelasan cinta. Sudah beribu-ribu bangsa menahan detak nafasnya untuk menunggu kehadiran cinta. Namun sayang tidak semua dari manusia di dunia ini yang memiliki cinta. Cinta telah tercerabut dari hati rejim otoriter, kaum kapitalis-feodalis, dan kebanyakan politisi. Di hati mereka tidak ada cinta, hingga gemar menumpahkan darah, memakan bangkai manusia, menghisap tenaga manusia dengan upah rendah, mempolitisir dan mengeksploitir jiwa-jiwa manusia hanya demi ambisi, kekuasaan dan status.

Padahal cinta memusuhi ambisi, melawan kekuasaan, dan tidak peduli dengan status. Cinta adalah semangat keabadian yang tumbuh dan terus bertahan dari geerasi ke generasi, dari masa lampau, kini dan mendatang.

Dan novel ini juga menceritakan kisah cinta dua anak manusia, yang masih terbelenggu dalam kezaliman adat. Cinta yang harus kalah dengan pertanyaan “Apa yang ia miliki?” atau “Dia tidak sepadan dengan kita.” Sebenarnya Magdalena, nama gadis yang dipakai menjadi judul buku ini, adalah gadis yang lugu, jujur dan memiliki cinta yang tulus, namun ketika sentuhan-sentuhan ‘dunia luar’ mulai meninabobokkan dirinya, ia jengah, gamang, dan tidak sabar dalam proses penyesuaian diri. Seperti dalam kisah-kisah klasik, seseorang yang mampu bertahan dengan kediriannya, tahu dan sadar akan potensi dirinya, akan menuai keberhasilan di kemudian hari. Sedang orang yang tidak memiliki identitas diri, mudah terkena oleh rayuan maupun bujukan, akan menyesal nanti.

Cinta Magdalena pada Stevan harus berakhir dengan tragis, gara-gara orang tua dan lingkungannya tidak menginjinkan ia berhubungan dengan lelaki yang menurut anggapan mereka tidak memiliki ‘masa depan’. Namun, ternyata masa depan tidak bisa selalu direncanakan. Masa depan terkadang muncul secara tiba-tiba dan menuntut manusia untuk menggapai sukses.

Novel tragedi ini pertama kali ditulis oleh Alphonse Karr. Dan mungkin Alphonse Karr harus berterima kasih pada Mustafa Lutfi El Manfalutfi, sastrawan Mesir yang tidak bisa berbahasa Prancis ini. Karena karyanya, Sous les Tilleus yang berbahasa Prancis ini disadur oleh Mustafa Lutfi El Manfalutfi ke dalam bahasa Arab dengan judul Al Madulin. Dan ternyata karya ini menjadi terkenal bukan hanya di negeri Arab, tapi sampai ke Indonesia.

Di Indonesia buku ini menjadi terkenal berkaitan dengan novel “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” karya Hamka, dituduh sebagai plagiat buku Al Majludin karya Al Manfalutfi. Walaupun sebenarnya tuduhan itu tidak terlepas dari konteks politik saat itu. Polemik itu sendiri bermula dari tulisan di majalah ‘Bintang Timoer’, tahun 1962, kemudian diikuti berbagai media lain. Hamka yang dikenal sebagai sastrawan dan ulama muslim terkemuka, dianggap ancaman oleh kelompok yang berhaluan komunis. Dengan berbagai upaya kelompok komunis ingin mendiskreditkan tokoh-tokoh muslim, terutama Hamka.

Berhubung buku ini beraroma yang sangat kental, bahasanya pun mendayu-dayu. Kisah Magdalena dan Stevan ini sebelas dua belas dengan kisah-kisah tragis sebelumnya; Layla dan Majnun, Romeo dan Juliet, ataupun Sam Pek  dan Eng Tay. Mereka hanya bisa merasakan kehadiran cinta, meminum manisnya anggur cinta, namun mereka tidak sanggup berbicara apa-apa tentang cinta.

Keterangan Buku:

Judul                     : Magdalena

Judul asli              : Al Majdulin

Penulis                 : Mustafa Lutfi El Manfalutfi

Editor                    : Shaleh Gisymar

Desain cover & isi: Narto Anjala

Penerbit              : NUUN

Terbit                    : April 2008

Tebal                     : 456 hlm.

ISBN                      :978-979-17834-0-8

Indonesian Romance Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/01/indonesian-romance-reading-challenge-2014/

Young Adult Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/07/young-adult-reading-challenge-2014/

New Authors Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/02/new-authors-reading-challenge-2014/

What’s in a Name Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/07/whats-in-a-name-reading-challenge-2014/

3 thoughts on “REVIEW Magdalena

  1. Pingback: New Authors Reading Challenge 2014 | Luckty Si Pustakawin

  2. Aku belum pernah membaca buku ini dan aku baru tahu informasi soal tuduhan plagiat itu.

    Jaman dulu, mengapa banyak yg menceritakan tentang tragedi cinta ya?

    BTW aku suka dengan dituliskannya “sejarah” terbitnya novel ini🙂

  3. Pingback: Daftar Bacaan Tahun 2014 | Luckty Si Pustakawin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s