REVIEW Larasati

 

larasati

Kalau mati dengan berani; kalau hidup dengan berani. Kalau keberanian tidak ada – itulah sebabnya bangsa asing bisa jajah kita. – Pramoedya Ananta Toer

Roman ini merekam dengan elegan golak revolusi Indonesia pascaproklamasi. Tapi bukan dari optik ‘orang-orang besar dan orang tua’, melainkan seorang perempuan. Larasati namanya. Seorang aktris panggung dan bintang film yang cantik. Dari kisah perjalanan perempuan inilah melela sebuah potret keksatriaan kaum muda merebut hak merdeka dari tangan-tangan orang asing.

“Seluruh kedudukan yang enak diambil orang-orang tua. Mereka hanya pandai korupsi…angkatan tua itu sunggu bobrok. Hanya angkatan tua yang korup dan mengajak korup! Angkatan muda membuat revolusi melahirkan sejarah,” tulis Pramoedya.

Ya, Pram dalam romann revolusi ini tidak hanya merekam kisah-kisah heroik kepahlawanan, namun juga lengkap dengan segala kemunafikan kaum revolusioner, keloyoan, omong banyak tapi kosong dari para pemimpin, pengkhianatan, dan sebenggol-benggol kisah percintaan. Dari sepenggalan-sepenggalan Larasati –dari pedalaman (Yogyakarta) ke daerah pendudukan (Jakarta)- terpotret bagaimana manusia-manusia republik memandang revolusi.

Lewat buku ini, sebagaimana karya-karyanya yang lain, Pram ingin mengukuhkan suatu komitmen bahwa revolusi perjuangan apa saja bisa lahir dan mencapai keagungannya kalau setiap pribadi tampil berani; tidak hanya berani melawan semua bentuk kelaliman, tapi juga bisa melawan keangkuhannya sendiri.

Beberapa kalimat favorit:

  1. Di mana pun juga, Kau selalu selamatkan aku, Kau mudahkan perjalananku. Kau gampangkan hidupku. Terima kasih ya, Tuhanku. (hlm. 25)
  2. Kau mengerti sekarang, mengapa kau berpihak pada yang di seberang sana? Karena kau tak pernah mempelajari sejarah. Juga semua mereka yang ikut dari seberanng sana karena sama bodohnya. (hlm. 39)
  3. Hanya revolusi yang menentukan. (hlm. 45)
  4. Bumi revolusi masih luas. Bumi jajahan terlampau sempit. Semua orang penting di bumi penjajahan ini tidak bakal lebih dari kau! Juga kolonelmu sendiri lebih hina dari kau yang paling tinggi kedudukannya. (hlm. 47)
  5. Mengapa dunia ini begini penuh iga manusia busuk? Hanya karena mau hidup lebih sejahtera dari yang lain? Apakah kesejahteraan hidup sama dengan kebusukan buat orang lain? Alangkah sia-sia pendidikan orangtua kalau demikian. Alangkah sia-sia pendidikan agama. Alangkah sia-sia guru dan sekolah-sekolah. (hlm. 48)
  6. Usulkan yang lebih buruk biar kau mendapatkan lebih baik. (hlm. 50)

Jika tahun lalu saya memilih Midah; Si Manis Bergigi Emas untuk posbar BBI bertema perempuan, tahun ini saya kembali menjatuhkan pilihan pada tulisan Pram. Buku ini saya beli beberapa tahun yang lalu, berbarengan dengan Tetralogi Buru yang saya baca demi menunaikan nazar lulus skripsi😀

Sama halnya dengan kisah Midah, lewat tokoh perempuan, Pram menorehkan tentang sejarah Indonesia dari sisi lain, yang tidak kita temui dalam buku pelajaran sejarah di sekolah. Bukunya pun kurang lebih sama tipisnya dengan novel Midah, jadi kita tak perlu waktu lama untuk menghabiskannya.

Kita berharap, sekarang dan nanti bakal ada Larasati-Larasasti lainnya yang mau dan mampu berjuang untuk masa depan Indonesia. Perjuangan itu tidak harus berdarah-darah. Yang masih sekolah, belajar dengan rajin agar kelak menjadi penerus yang berguna juga bisa dikategorikan perjuangan. Bekerja, dalam segi apa pun jika dilakukan dengan sungguh-sungguh pun juga bisa masuk dalam sebuah perjuangan. Perjuangan bisa dimulai dari sini, untuk sekitar, barulah untuk negara dan bangsa.

Keterangan Buku:

Judul                     : Larasati

Penulis                 : Pramoedya Ananta Toer

Penerbit              : Lentera Dipantara

Terbit                    : 2009 (Cet. 4)

Tebal                     : 178 hlm.

ISBN                      : 979-97312-9-5

Indonesian Romance Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/01/indonesian-romance-reading-challenge-2014/

What’s in a Name Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/07/whats-in-a-name-reading-challenge-2014/

3 thoughts on “REVIEW Larasati

  1. entah kenapa kalo liat bukunya Pramoedya Ananta Toer, kesannya ke aku itu “berat”… padahal sih pengen baca, tapi ya itu… agak segan, udah khawatir duluan… khawatir gak suka, sebenernya lebih khawatir gak ngerti :d

    tapi karena beliau salah satu satrawan hebat Indonesia, yang bukunya sudah banyak diterjemahkan ke bahasa Inggris, suatu hari nanti aku akan mencoba memberanikan diri untuk membaca salah satu karya Pramoedya Ananta Toer, dan mudah2an jadi suka…😀

  2. Pingback: Daftar Bacaan Tahun 2014 | Luckty Si Pustakawin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s