REVIEW #Egyptology

egyptology

“Anda Muslim, saya juga Muslim. Kita bersaudara. Saya tidak boleh berprasangka buruk kepada anda.” (hlm. 38)

Mesir bisa dibilang mercusuarnya kawasan Timur Tengah. Terlebih posisinya yang sangat strategis, yaitu di antara Benua Asia dan Afrika serta antara Laut Merah dan Laut Tengah. Strategis juga bukan hanya dalam urusan politik, tetapi juga dalam industri musik. Politik Mesir akan berdampak langsung pada politik Timur Tengah. Artis Timur Tengah yang ingin go internasional, terlebih dahulu harus bisa menaklukkan Kairo. Inilah bukti lain betapa megahnya negeri seribu menara ini.

Dalam sejarahnya, Mesir memang selalu punya peran penting. Selain peradabannya yang paling maju, setidaknya di Timur Tengah, Mesir pun pernah menjadi salah satu pusat peradaban ilmu pengetahuan pada masa-masa kejayaan Islam. Ketika Baghdad runtuh oleh serangan pasukan Mongol, Kairo adalah benteng terakhir pusat ilmu pengetahuan Islam. Banyak ulama yang berhijrah ke negeri ini sehingga membuat kekayaan ilmu pengetahuan Mesir jauh lebih berwarna dan dinamis dibandingkan negara-negara lainnya di Timur Tengah.

Oleh karena itulah, di Mesir bisa kita temukan kaum intelektual dari yang paling kanan, tengah, hingga yang paling kiri sekalipun. Hebatnya, mereka minim sekali berbenturan, apalagi hingga menimbulkan konflik horizontal. Gesekan tajam di antara mereka lebih banyak berlangsung di atas panggung akademik saja.

Meski masih tergolong negara berkembang, Mesir relatif sangat sadar akan potensi yang mereka miliki. Kekayaan sejarah mereka jaga. Potensi Sungai Nil pun serius mereka rawat. Membuat sampah ke sungai adalah salah satu hal yang sangat tabu. Tak ada rumah penduduk yang membelakangi sungai. Sungai adalah halaman depan rumah mereka. Karena seperti yang dikatakan Herodotus, “Nil adalah hadiah bagi Mesir.”

Penulis tinggal di Mesir cukup lama, sekitar enam tahun. Dia menyelesaikan kuliahnya di Program S1 di Universitas Al-Azhar, Kairo. Mengambil Jurusan Dakwah dan Kebudayaan Islam, Fakultas Usluhuddin.

Ada beberapa tulisan pilihan favorit:

  1. Senja di Permukiman Kristen Koptik. Pemukiman ini sudah ada sejak ‘Amr ibn ‘Ash membangun masjid di sana sebagai tanda masuknya Islam ke kawasan Afrika, khususnya ke negeri yang bernama Mesir ini. Pemukiman ini sengaja dibiarkan tetap ada bagi para pemeluk Koptik, sebagaimana kehendak khalifah saat itu, yaitu ‘Umar bin Khattab. Kompleks permukiman ini memang sangat unik. Bangunan-bangunan perkampungannya masih asli, begitu juga dengan penduduknya. Beberapa gereja tua menghiasi kompleks permukiman ini sehingga tampak sangat antik. Salah satunya adalah Hanging Church alias Gereja Gantung yang selalu menjadi objek utama bagi para wisatawan yang datang kemari.
  2.  Dua Minggu di Lautan Buku. Meski angka buta huruf masih ada, di sisi lain masyarakat Mesir memiliki minat baca yang cukup tinggi. Kondisi yang menguntungkan ini didukung pula oleh pemerintahannya yang saat ini tengah mencanangkan program wajib membaca. Program ini langsung di bawah penanganan sang ibu negara, Suzan Mubarak.
  3. Kesaktian Karneh AlAzhar. Kartu mahasiswa biasanya memberi kebanggan tersendiri bagi setiap mahasiswa. Apalagi jika kampus tempatnya belajar adalah kampus bergengsi atau ternama. Ternyata karneh (kartu mahasiswa) Universitas Al-Azhar tidak sekece yang dibayangkan. Kartu tersebut hanya berupa karton yang dipotong persegi, ditulisi identitas umum mahasiswa dan foto ukuran 4 x 6. Foto yang ditempel di kartu itu bukan dengan cara di lem, melainkan dijepret staples. Itu pun di laminating sendiri. Eyaampyuuunnn…masih kalah jauh donk ama kartu perpus yang saya bagikan ke murid-murid unyu; pake kertas foto, berwarna plus laminating sekaligus. GRATIS pula!😀
  4. Telur Asin dan Terasi. Ini adalah pengalaman unik yang penulis alami ketika bekerja sebagai pramusaji di sebuah restoran Indonesia di Kairo. Cerita yang bikin senyum nyengir adalah ketika ada salah satu pembeli yang tertarik dengan terasi. Penulis dengan isengnya mengatakan jika terasi adalah permen khas Indonesia yang tidak ada di Mesir x)

Al-Azhar, Piramida, Sphinx, Nil adalah destinasi utama para pelancong yang datang ke Mesir. Namun, rupanya Mesir tak cuma punya itu. Masih ada banyak piramida selain tiga piramida terbesar di Giza tersebut. Masih banyak masjid bersejarah selain Al-Azhar. Masih ada perpustakaan dan museum bawah laut Alexandria. Ada puncak Sinai. Ada reruntuhan Kuil Karnak, Kuil Luxor, Kompleks Pemakaman Valley of The Kings, Abu Simbel di Selatan, dan masih banyak lagi.

Keterangan Buku:

Judul                                     : #Egyptology

Penulis                                 : Rashid Satari

Penyunting                         : Indradya SP

Proofreader                       : Desty Ilmianti

Desainer sampul              : Dodi Rosadi

Penerbit                              : Qanita

Terbit                                    : Februari 2013

Tebal                                     : 242 hlm.

ISBN                                      : 978-602-7870-05-5

egyptology 1 egyptology 2 egyptology

3 thoughts on “REVIEW #Egyptology

  1. wuih…foto2nya banyak juga ya mbak di situ? mesir mmg penuh misteri deh kyknya. btw, program pemberantasan buta hurufnya msh jln ga ya?

  2. Hm, jadi kangen baca novel yang kaya gitu… Menguak berbagai keajaiban yang wah dari Mesir… Jadi penasaran ><! Gambarnya juga lumayan banyak. Pengen beli…

  3. Pingback: Daftar Bacaan Tahun 2014 | Luckty Si Pustakawin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s