REVIEW Guru Gokil Murid Unyu

guru gokil

“Guru medioker kerjanya ngomong. Guru senior kerjanya mendemonstrasikan kewibawaan. Guru terpuji kerjanya menjelaskan perkara rumit dengan cara simpel. Guru hebat kerjanya menginspirasi.” (hlm. 3)

“Guru dan murid semestinya jadi knowledge bulider. Tidak sekedar knowledge provider dan knowledge acquisitor.” (hlm. 13)

Guru yang memiliki tujuan hidup tidak sekadar menumpang hidup, mencari nafkah, dan mencari kenyamanan. Guru yang berani mengatasi ketakutan, mengambil risiko, keluar dari zona nyaman, dan selalu menuntut diri lebih.

Guru yang berperilaku terpuji bukanlah guru yang kerap seenaknya sendiri. Guru yang dihargai karena menghargai muridnya. Guru yang merasa bahagia ketika berhasil mengantarkan kebahagiaan bagi para muridnya.

Murid bisa melupakan apa saja yang diajarkan maupun dilakukan gurunya. Namun, murid akan selalu mengingat dan mengenang apa saja yang membuat hati mereka tersentuh. Masalah utama guru bukan sekadar kurikulum dan strategi pengajaran, melainkan semangat. Murid tidak akan mengingat materi pembelajaran, tetapi merekam inspirasi yang tersirat dari sang guru.

Masalah utama guru bukan lagi soal kesejahteraan, melainkan spirit dan keteladanan. Banyak guru yang sudah memiliki sertifikat pendidik dan memperoleh tunjangan. Kendati demikian, perubahan yang dialami oleh sebagian besar guru, baru sebatas bergeser dari mediocre teacher menjadi superior teacher. Dari guru yang kerjanya sepanjang hari ngomong di depan kelas akan menjadi guru yang kerjanya mendemonstrasikan kewibawaan dihadapan murid.

Facilitator centered learning. Pusat kegiatan belajar mengajar guru medioker adalah guru itu sendiri, bukan si murid. Kurikulum disajikan tanpa pengolahan. Proses pembelajaran tidak mempertimbangkan kecerdasan murid. Murid yang harus menyesuaikan dengan gaya mengajar guru. Bukan guru yang menyesuaikan gaya mengajarnya dengan gaya belajar murid. Guru medioker berkarakter intruksional, kerjanya hanya menyuapi murid. Murid dididik menjadi bermental pecundang.

Guru superior, sepanjang hari, dari tahun ke tahun, kerjanya memperagakan otoritas dan kewibawaan. Pusat kegiatan belajar-mengajar juga guru, bukan murid. Guru tipe killer ini selalu minta diperhatikan murid, bukannya malah memperhatikan murid. Murid dididik menjadi pengecut dan penakut.

Guru terpuji mengajarkan materi rumit dengan cara sederhana. Guru yang membuat murid ngeh dan mudeng, to simplify complex things. Administrasi pengajarannya bagus. Pusat kegiatan belajar-mengajar masih gurunya sendiri. Walau tindakannya terpuji, guru tipe ini masih terpengaruh materialisme kurikulum. Murid dididik menjadi orang pintar.

Guru yang hebat, menginspirasi murid. Ia sadar sepenuhnya punya satu mulut dan dua telinga. Itu sebabnya, guru tipe ini berusaha menjadi pendengar yang baik dan tidak obral bualan di kelas sepanjang waktu. Guru hebat sedikit memberi intruksi : participant centered learning. Pusat kegiatan belajar-mengajar adalah murid, bukan guru. Kurikulum diolah dan disajikan sesuai kebutuhan murid. Guru hebat mendidik murid menjadi manusia bermental driver dan winner.

Tunjangan sertifikasi belum mengubah guru menjadi good teacher, apalagi great teacher. Amat sedikit guru yang bisa menjelaskan materi ajar rumit dengan cara sederhana sehingga murid tidak kebingungan. Belum banyak guru inspiratif yang kerjanya bukan sekadar mengajar, melainkan benar-benar mendidik. Guru hebat yang paham bahwa pekerjaan utamanya menginspirasi murid.

Pada zaman digital, anak-anak muda disebut alay –anak layangan. Generasi galau alias ababil, anak baru labil. Generasi bermental speed boat yang gemar berlari kencang di atas permukaan arus dangkal. Guru inspiratif, seperti kapal selam, membawa murid bergerak perlahan di kedalaman makna.

Anak-anak zaman sekarang mengalami tantangan, berkaitan dengan pelajaran sekolah yang membebani. Mereka juga menghadapi longsoran wibawa nilai-nilai dan runtuhnya norma-norma sosial dalam pergaulan yang membingungkan. Orangtua mengalami tantangan mendidik anak di tengah kecanduan gadget yang meracuni. Guru gokil itu guru hebat (great teacher) yang mampu menginspirasi muridnya menjadi unyu.

Unyu berarti cerdas. Generasi yang tidak hanya galau melulu, tetapi bisa mengatasi persoalan di tengah ‘mabuk internet’ dan kepungan tayangan televisi yang tidak mendidik. Inti kecerdasan (keunyuan) adalah kemampuan memecahkan masalah.

Tulisan Pak J. Sumardianta ini sungguh menampar saat membacanya. Meski saya bukan guru, saya bekerja di sekolah, merasa punya tanggung jawab dengan masa depan murid-murid unyu. Yup, saya menyebut para peserta didik bukan dengan sebutan siswa, pelajar, ataupun anak-anak, tapi menyebut mereka murid-murid unyu. Jadi, setiap hari pun bergaulnya dengan murid-murid unyu. #Serasa17Melulu #Abaikan

Sampai bacaan yang saya review sejak bekerja di sekolah pun kebanyakan bertema remaja/ teenlit biar kalo ditanya mereka saya sebagai pustakawan nggak terkesan gaptek nan cupu. Nggak lucu juga kan kalo ada murid nanya sebuah novel, minta rekomendasi isinya terus saya nggak bisa ngasih pencerahan ke mereka ~~~(/´▽`)/

Ternyata mereview itu juga tugas seorang guru loh. Pas baca profil penulisnya dengan sub judul ‘Berkah Guru Kecanduan’ pun (lagi-lagi) menampar saya. Kualitas baca saya amat jauh di bawah kemampuan membaca Pak J. Sumardianta yang super ini. Sudah ratusan buku yang diresensi beliau dan dimuat di media massa. Bagi beliau, membaca banyak buku dan meresensinya merupakan salah satu upaya membiarkan diri terbimbing oleh nilai dan visi.

Dari pengalaman tersebut, beliau menyadari bahwa menjadi seorang peresensi buku bukan perkara mudah. Haruslah melalui proses panjang dan berliku. Tidak banyak orang yang sabar menjalani proses tersebut. Banyak kawannya yang frustasi saat tulisan mereka tak kunjung dimuat, lalu berusaha ‘memotong proses’ dengan meminta alamat surel redaktur, lalu mengirim langsung ke redaktur agar dimuat. Hasilnya? Tulisan mereka dikembalikan terus. Motivasinya agar dimuat bukan belajar. Mindset seperti ini seharusnya yang harus diubah para peresensi ayam sayur itu, jelasnya. Maaakkk..ketampar lagi. Jangan-jangan saya juga termasuk golongan peresensi ayam sayur ( ʃ⌣ƪ)

Pokoknya nggak mau spoiler terlalu jauh. Buku ini direkomendasikan banget terutama buat para tenaga pendidik sekarang yang pada kenyataanya ketika sertifikasi belum/ tidak keluar ternyata sangat mempengaruhi mood seorang guru dalam proses belajar mengajar. Sudah hilang ungkapan pahlawan tanpa tanda jasa. Antara miris dan sedih melihat kenyataan itu di depan mata ┐(´_`”)┌

Semangat merupakan masalah paling penting di tempat kerja, bukan soal strategi dan taktik. Rendahnya semangat dan produktivitas kerja itu masalah paradigma, bukan perilaku.

Keterangan Buku:

Judul                                     : Guru Gokil Murid Unyu

Penulis                                 : J. Sumardianta

Penyunting                         : Nurjannah Intan

Perancang sampul           : Gamaliel Budiharga

Ilustrasi sampul                 : Wulang Unyu

Pemeriksa aksara             : Pritameani

Penata aksara                    : Gamaliel Budiharga & Adfina Fahd

Penerbit                              : Bentang

Terbit                                    : Juli 2013 (Cetakan Ketiga)

Tebal                                     : 306 hlm.

ISBN                                      : 978-602-7888-13-5

7 thoughts on “REVIEW Guru Gokil Murid Unyu

  1. Wah…. Aku yang jadi murid baca tulisan di atas malah bengong, bener banget itu. Guru yang hebat adalah guru yang menginspirasi muridnya. Itu semua fakta bahkan kalau guru sedang menjelaskan, hari itu ingat, hari selanjutnya udah lupa. Tapi untuk cerita-cerita yang menginspirasi sampai minggu depan masih ingat. Setuju deh pokoknya…

  2. Pingback: Daftar Bacaan Tahun 2014 | Luckty Si Pustakawin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s