REVIEW Lost

lost

Kita satu keluarga. Kalau ada yang retak, sebaiknya ditambal, bukan dibiarkan sampai retaknya melebar dan jadi pecah. (hlm. 184)

Pindah ke apartemen baru, Ilustre Casa bukan ide Maura, walau harus diakui lokasinya strategis. Lebih dekat ke sekolahnya sekaligus Tea & Pages, kafe merangkap toko buku tempat abangnya, Ryan, menanam modal.

Ryan memutuskan pindah gara-gara apartemen lama mereka terlibat sengketa kepemilikan tanah. Tadinya ia tak peduli, sampai sengketa itu dikabarkan media.

Sejak papi meninggal dan mami dipindahtugaskan ke Inggris, Ryan memang terbiasa bekerja keras demi menghidupi dirinya dan Maura. Pekerjaan utamanya sebagai manajer girlbad White Juliet mengharuskan ia sibuk di jam-jam tak tentu. Dan Maura sudah terbiasa dengan kesendirian jika Ryan tidak ada.

Maura dan Ryan menghuni di unit 603. 602 ada orangnya, 601 penghuninya belum datang. Penghuni 603 sebelum mereka, pindah sekitar dua minggu sebelum mereka pindah ke apartemen tersebut.

Semenjak pindah ke apartemen baru, Maura merasakan hal-hal ganjil dalam hidupnya dan tak bisa diceritakannya pada siapa pun. Dia tidak mau dianggap tidak waras. Belum lagi masalah di sekolah dan urusan cowok; mantannya, Adri masih sering menghubunginya untuk balikan. Ah, masalah ababil masa kini memang berat-berat x)

Salahkah ia menolak Adri untuk kedua kali? Terbuai senyuman cowok itu dan ingin selalu melihatnya, sah-sah saja. Tapi setelah putus, Maura mengerti mengapa ia sanggup begitu tegas. Ia tak pernah sungguh-sungguh menyukai Adri sebagai pribadi. Kebanggan karena dipilih Adri pun sudah sirna. Di lain pihak, tak mustahil Adri sungguh-sungguh menyukainya. Dia lebih berat ke gengnya daripada pacar, tukas nurani Maura. Di mata Adri, Maura baru diingat bila orang lain sedang tak bisa diajak jalan, dan baru boleh dibawa bila orang lain mengizinkan.

Di duni ini ada beberapa tatar, atau realitas yang berbeda. Dunia yang kita diami sehari-hari, tempat kita tidur, makan, sekolah, itu cuma salah satu tatar. Biar gampang, coba bayangkan semua tatar ini sebagai beberapa kotak. Ada sebagian yang sejajar satu sama lain, ada yang saling bertumpuk. Ada tatar yang didiami mahluk bukan manusia. Kadang antara dua tatar saling bersinggungan, bahkan melebur jadi satu. (hlm. 114)

Di apartemen, Maura pikir tidak akan punya teman sebaya. Ternyata penghuni unit 601 seorang cowok yang seumuran dengannya. Julian,namanya. Meski dingin dan jutek, akhirnya Maura punya teman yang bisa membagi permasalahannya terutama akan hal-hal yang tidak bisa semua orang menerimanya dengan akal sehat; beberapa penampakan yang kerap menghinggapinya.

Menurut Julian, ia sudah tahu tatar sejak kecil dari kakek. Kata kakek, bakat ini sering melewati satu generasi, maka papanya tidak memilikinya. Selama ini, Julian sendiri tidak bermasalah dengan berbagai tatar lain, yang ia tahu tidak mengasyikkan maupun aman. Sampai Wina dan Erik meninggal.

Tidak semua orang bisa menerima kenyataan jika diberi kelebihan melihat sesuatu yang tak terlihat dan belum tentu dimiliki kebanyakan manusia pada umumnya. Kita akan melihat hal-hal yang tak terduga. Dan yang lebih mencemaskan adalah jika diganggu dan hanya kita yang tahu cara jalan mereka bisa ‘pulang’ dengan tenang.

Banyak kalimat favorit dalam novel ini:

  1. Bila cinta tak ada, lebih baik berterung terang, daripada memendamnya sehingga menciptakan luka. (hlm. 124)
  2. Asal giat mengasah kemampuan, tak ada yang mustahil. (hlm. 144)
  3. Ada kalanya orang butuh waktu menyendiri tanpa kewajiban menjelaskannya pada siapa-siapa. (hlm. 209)
  4. Menanggung kesedihan tanpa bisa mengeluarkannya itu berat sekali. (hlm. 213)
  5. Perasaan yang kuat bisa menciptakan kekuatan yang sama besar. (hlm. 214)
  6. Kadang kejujuran bukan saja lebih baik, tapi juga jauh lebih praktis. (hlm. 227)
  7. Bila berada bersama orang yang kau sukai, segala yang remeh-temeh mudah menciptakan bahagia. (hlm. 292)
  8. Cuaca terang tapi tidak panas. Bagaikan mimpi indah dengan mata terbuka. (hlm. 292)

Banyak juga sindiran halus dalam novel ini:

  1. Ada ya, bapak-bapak yang cuek melihat anak perempuan susah payah membuka pintu berat. (hlm. 6)
  2. Penghuni apartemen sih, urusannya masing-masing. (hlm. 8)
  3. Bak kerumunan ayam digebrak sapu, anak-anak bertemperasan ke bangku masing-masing. (hlm. 23)
  4. Penghuni apartemen tidak saling mencampuri urusan. (hlm. 36)
  5. Jadi artis bukan sekadar berpose manis di depan kamera dan penggemar. Harus digembleng latihan fisik terus-menerus. (hlm. 79)
  6. Nggak kebayang jadi artis mesti makan beras merah supaya tetap langsing. (hlm. 80)
  7. Memang ada jenis orang yang wajib ditolak mentah-mentah, tiga kali kalau perlu, baru paham. (hlm. 82)
  8. Kalau kedua belah pihak sama-sama salah, saling memaafkan justru lebih gampang. (hlm. 87)
  9. Orang dewasa sering kurang percaya bila anak seusianya bilang perlu bicara serius. (hlm. 94)
  10. Penampilan nggak masalah. Yang penting orang harus rajin dan berguna. (hlm. 110)
  11. Orang dewasa umumnya tak hirau akan identitas anak-anak, kecuali yang sedang mengobrol dengan anak mereka. (hlm. 137)
  12. Girlband dilarang punya pacar selama terikat dengan label rekaman. Tujuannya menjaga citra mereka sebagai idola yang semata-mata milik penggemar. (hlm. 165)

Glek, banyak juga adegan yang bikin merinding disko:

  1. Ia mundur ke arah belakang, dan perempuan itu menegakkan bahu. Dalam kesunyian kamar, derak tulang yang mengiringi tiap gerakannya senyaring letusan pistol. Krek. Bahu kanan. Krek. Bahu kiri. Lalu perempuan itu pelan-pelan menolehkan kepala. (hlm. 190)
  2. Tutup bak sampah menggelinding turun tangga sampai terbanting dan berhenti di lantai lima. Julian merapatkan punggung ke pintu ketika sebuah tangan terjulur dari dalam bak sampah; tangan yang kurus, mungil, kukunya putih. Tangan anak usia dua atau tiga tahun. (hlm. 224)
  3. Helai-helai rambut di lantai mulai beterbangan ke arah Julian, padahal tak ada angin di lorong. Julian menghujamkan kunci unitnya ke lubang kunci, memutarnya dan mendorong pintu. Baru saja ia akan membanting pintu, dilihatnya lorong kembali terang. Kedua sosok itu lenyap, begitu pula helai-helai rambut di lantai. (hlm. 248)
  4. Ia menoleh kemeja dapur. Nadiya duduk di pinggir meja dengan kaki terjuntai. Tungkainya coreng-moreng oleh lumpur dan darah. Rambutnya terurai menutupi wajah yang tertunduk. Sebagian rambut itu rontok, tercerabut dari kepalanya. (hlm. 304)

Seperti di novel sebelumnya yang ditulis Eve Shi, lumayan sering ada adegan di perpustakaan. Begitu juga dalam novel ini. Salah satu adegan di perpustakaan:

Di perpustakaan hanya ada satu pustakawati, Bu April, dan seorang cowok yang keluar begitu Zita datang. Zita menghampiri rak paling pojok dan memilah-milah buku di deretan tengah. Ditariknya sebuah buku bersampul lecek, lalu didorongnya lagi ke tempat semula. (hlm. 149)

Inilah adalah novel kedua karya Eve Shi yang saya baca, memiliki tema yang sama dengan novel sebelumnya; penampakan-penampakan dan juga tentang keluarga. Sejak membaca dua karya Eve Shi berturut-turut selama seminggu jadi susah move on buat baca buku yang lain, ceritanya kebayang-bayang melulu nih x)

Keterangan Buku:

Penulis                 : Eve Shi

Editor                    : Alit Tisna Palupi

Proofreader       : Jurnali Ariadinata

Penata letak       : Gita Ramayudha

Desain cover      : Jumanta

Penerbit              : GagasMedia

Terbit                    : 2014

Tebal                     : 310 hlm.

ISBN                      : 979-780-698-7

Indonesian Romance Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/01/indonesian-romance-reading-challenge-2014/

Young Adult Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/07/young-adult-reading-challenge-2014/

Dapatkan buku ini di toko buku online Bukupedia

http://www.bukupedia.com/id/book/id-32-81763/novel-fiksi-cerpen/lost.html

12 thoughts on “REVIEW Lost

  1. Salam kenal, mbak Luckty.
    Iseng-iseng blogwalking siang ini, saya mampir ke blognya mbak Luckty, walaupun bukan kali pertama, karena kalo gak salah dulu saya pernah mampir jg smp bisa mengambil kesimpulan bahwa mbak Luckty ini alumni SMAN1 Metro, ya? Kalo saya gak salah ngambil kesimpupan, berarti kita satu almamater. Hehe.

    By the way, mbak Luckty rajin baca buku dan rajin nulis review-nya. Gimana sih caranya bagi waktu antara kerjaan, baca buku, dan nulis reviewnya. Boleh dong dishare ke saya.🙂
    Terima kasih banyak loh mbak.

    Regards,

    Fitri🙂

  2. Pingback: REVIEW Unforgiven | Luckty Si Pustakawin

  3. Pingback: Daftar Bacaan Tahun 2014 | Luckty Si Pustakawin

  4. Pingback: [BLOGTOUR] REVIEW The Bond | Luckty Si Pustakawin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s