REVIEW Cado-cado 3: Susahnya Jadi Dokter Muda

cado cado 2

“Pertama masuk kedokteran, kalian humanis. Idealis-lah, ceritanya. Lalu pas ko-ass, kalian oportunis, yang penting lulus. Udah jadi dokter, kalian kapitalis.” (hlm. 130)

Selain gelandangan, kayaknya cuma ada dua profesi yang sering nyicipin gimana rasanya tidur malam di meja; hansip dan ko-ass.

Badan rasanya pegel-pegel nggak karuan, karena kalo tidur di meja, hanya ada dua opsi; kaki atau kepala yang menggantung keluar dari ujung meja. Kalo nekat kaki dan kepala menggantung bersamaan, siap-siap saja sampai wisuda jalannya kayang.

Itu adalah salah satu pengalaman penulis saat menjalani ko-ass ilmu penyakit dalam. Seperti seri sebelumnya, buku ini renyah.

Ilmu bedah adalah ilmu yang bukan hanya harus kuat di teori, namun juga skill dan ketahanan fisik. Bayangin aja, proses pembedahan itu sering kali berlangsung sangat lama, bisa sampai berjam-jam. Dan selama itu pula dokter bedah harus berdiri dengan penuh konsentrasi. Tangannya juga harus stabil. Salah sedikit bisa fatal akibatnya. Lebih dari separuh karier dokter bedah, ya dihabiskan dengan berkutat di kamar bedah.

Nah, pengalaman ko-ass bedah dalam buku ini menjadi pilihan favorit saya. Ada pelajaran hidup yang bisa kita ambil dalam kisah ini.

Banyak kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Ide jelek lebih baik daripada nggak ada ide sama sekali. (hlm. 6)
  2. Kita sebagai kawan harus saling tolong menolong. (hlm. 9)
  3. Kita nggak bakalan tau apa yang terjadi pada kita besok, lusa atau bulan depan. (hlm. 33)
  4. Belajar yang baik. Jangan sampai ngecewain mereka, apalagi nyakitin. (hlm. 131)
  5. Kita memang jangan percaya kalo penguji killer itu benar-benar killer, asal kita benar-benar siap untuk ujian. Makin killer seorang penguji, justru kita makin giat belajar. (hlm. 131)
  6. Terkadang mendapat penguji yang baik juga menyesatkan. Kita jadi lupa diri dan sepele dengan bahan yang akan diujiankan. (hlm. 135)
  7. Ilmu medis itu tak sempurna, tapi kita dituntut tak boleh salah sedikit pun. Bukan berarti kau pintar kau tak bisa salah. (hlm. 176)
  8. Guru yang terbaik adalah pengalaman. Tapi lebih baik lagi kalo pengalaman orang lain. (hlm. 176)

Banyak juga sindiran halus dalam buku ini:

  1. Mahasisiwi kedokteran biasanya udah tamat dokter baru dibolehi nikah sama orangtuanya. (hlm. 20)
  2. Semakin tinggi sasak rambut seorang ibu pejabat, akan semakin disegani. (hlm. 36)
  3. Ko-ass, nabimu memang disuruh-suruh melulu. (hlm. 55)
  4. Siapa suruh milih suami dokter kalo nggak mau ditinggalin? (hlm. 63)
  5. Di sinilah mulai terasa betapa terikatnya menjadi dokter. Di saat keluargamu ingin mengajakmu liburan, jadwal jaga menghantuimu. (hlm. 100)

Ada juga selipan pengetahuan yang didapat dari buku ini:

  1. Memang sperma hanya bertahan nggak lama di luar rahim manusia. (hlm. 5)
  2. Tindakan punksi pelura, yaitu pengambilan cairan dari lapisan pembungkus paru atau pleura dengan cara disedot dengan jarum yang dimasukkan dari sela iga dan disambungkan ke selang infus. (hlm. 160)

Dunia per-senior-an pun juga kita temukan dalam buku ini:

  1. Dokter yang killer memang dibutuhkan oleh mahasiswa kedokteran yang kadang saking capeknya ngurus pasien akan jadi malas belajar kalo nggak sekali-kali dicambuk. (hlm. 44)
  2. Job description ko-ass itu suka nggak jelas. Kadang disuruh manggil pasien, kadang disuruh ngelap keringet dokter yang sedang mengoperasi, kadang disuruh nari ular kalo dokter pembimbingnya sedang bosan, dan lain sebagainya. (hlm. 83)
  3. Kalau kamu memasuki dunia ko-ass, maka bersiaplah untuk menerima jadwal jaga rumah sakit yang dibuat oleh seniormu. Baca dan hafalkan baik-baik jadwalmu. (hlm. 99)
  4. Para ko-ass biasanya memutar otak untuk mencari-cari alasan yang tepat agar bisa tukeran jadwal jaga. (hlm. 101)
  5. Ketika mengetahui kalo yang menguji kamu adalah dokter killer, teman-temanmu biasanya akan mengelus iba pundakmu. Perasaanmu sendiri mungkin diibaratkan kayak tumbal yang akan dilembarkan ke kawah gunung. (hlm. 119)
  6. Jangan pernah senyum cengar-cengir di hadapan dokter killer. Buat ekspresi setegang mungkin. Mereka suka itu. (hlm. 128)
  7. Suster-suster senior, kadang hampir sama berkuasanya dengan para dokter. Bayangkan kalo suster-suster menolak bekerja sama dengan kamu. Kamu bisa mati kelimpunga selama ko-ass. (hlm. 164)

Ada selipan tips menjenguk pasien di rumah sakit:

  1. Jangan menjenguk orang sakit tapi yang makan kue dan buah-buahannya malah kamu sendiri.
  2. Jangan menjenguk orang sakit tapi ujung-ujungnya nawarin MLM atau asuransi ke keluarganya.
  3. Jangan menjenguk orang sakit dan bercerita mengenai penyakit orang lain. (hlm. 169)

Setelah membaca seri yang pertama, saya malah langsung lompat baca yang ketiga. Soalnya buku yang kedua nggak nemu nih :’)

Sama seperti sebelumnya, kita akan diajak menelusuri pengalaman penulisnya selama menjalani masa-masa ko-ass yang penuh cerita dan tantangan yang berliku.

Suka seperti buku sebelumnya, kualitas isinya pun masih terjaga seperti buku yang pertama. Sangat rekomendasi untuk yang lagi cari buku bacaan ringan dan menyegarkan!😀

Keterangan Buku:

Judul                                     : Cado-cado 3: Susahnya Jadi Dokter Muda

Penulis                                 : Herdiriva Hamzah

Editor                                    : Syafial Rustama

Proofreader                       : Resita Wahyu Febiratri

Penata letak                       : Gita Mariana

Desainer sampul              : Adriano Rudiman

Ilustrasi                                                : Freddy Napitupulu

Penerbit                              : Bukune

Terbit                                    : 2012

ISBN                                      : 602-220-079-2

One thought on “REVIEW Cado-cado 3: Susahnya Jadi Dokter Muda

  1. Pingback: Daftar Bacaan Tahun 2014 | Luckty Si Pustakawin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s