REVIEW Aku Tahu Kamu Hantu

aku tahu kamu hantu

Orang berhak suka ke orang lain, dan si orang lain itu berhak nggak punya perasaan sama. (hlm. 191)

Kesibukan sebagai dosen bagi ayah adalah nomor satu, keluarga nomor tiga empat. Tak heran mama hengkang dari rumah. Itulah pikiran Olive, atau biasa kerap disapa Liv. Ayah menyangka orang lain, termasuk anak tunggalnya, gampang dibujuk asal dibelikan barang kesukaan.

Di sekolah dihantui, di rumah pun tak aman. Berkemah di mal? Edan. Tapi yang jelas, di mal banyak manusia dan tentunya bukan lokasi favorit bagi mahluk halus.

Liv merunut ulang peristiwa sejak hari ulang tahunnya yang karut-marut. Liv mengingat, sejauh ini mahluk-mahluk itu sekedar menampakkan diri. Tak satu pun yang menyentuh, apalagi menerkam Liv.

Tapi itu sama sekali bukan alasan untuk merasa lega. Chandra, contohnya. Dari cuma mengetuk kaca, sampai mengajak Liv bicara. Liv harus bagaimana? Mustahil melapor pada Pak dan Bu Herdian, orang tua Chandra.

Belum lagi Daniel. Sejak meninggalkan Liv di UKS, ia tidak bisa dihubungi. SMS dari Liv dan komen di Facebook tidak dibalas. Tidak sopan memang jika terus memaksa, pikir Liv, tapi diabaikan seperti ini benar-benar bikin geram.

Tidak bisa begini terus. Kecemasan tanpa batas ini racun bagi kesehatannya, jiwa dan raga. Ia harus menemukan jalan keluar sebelum menjerit-jerit ketakutan di depan umum menjadi kebiasaan barunya.

“Di keluarga Mama, anak sulung yang perempuan mewarisi bakat mengindrai mahluk halus. Anak sulung laki-laki tidak. Bakat ini timbul di usia tujuh belas, seperti yang kamu alami. Nenek dan Mama sama-sama sulung, jadi kami mewarisinya.” (hlm. 57)

“Lambat laun kamu akan terbiasa. Kalau tak dihiraukan mereka bosan sendiri.” (hlm. 59)

Ia punya bakat terpendam yang menyusahkan. Benar, menyusahkan. Bayangkan jika di kelas ada yang menghampiri dirinya, minta diladeni, dan mengamuk jika Liv menolak. Bisakah mahluk-mahluk ini melukai manusia, memukul misalnya? Liv tadi lupa bertanya pada mama. Ya, selama mereka tidak bisa, Liv pun akan berpura-pura mereka tidak ada.

Teori, ia mengeluh, semua cuma teori. Penerapannya tak segampang itu. Dan butuh berapa lama sampai ia terbiasa? Sebulan? Setahun? Sampai ada yang berhasil menyelinap ke kamar tidurnya dan bercokol di sana?

Nggak usah nonton film horor kita juga tahu, muka mahluk halus nggak ada yang cakep. Gilabanget kalo gue mesti tunggu kuntilanak atau apa pun di kamar mandi sekolah menunjukkan mukanya. Gimana kalau tulang hidungnya bolong? Pipinya sobek sampai kelihatan gigi? Atau kulit mukanya terkelupas? (hlm. 32)

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Buku dan benda bisa dicari, tapi teman baik belum tentu ada. Perbandingannya seperti satu di antara seratus. (hlm. 53)
  2. Kadang kita nggak bisa menceritakan masalah, sebab melibatkan orang lain. (hlm. 88)
  3. Hati-hati. Teman bisa punya arti lebih. Ini kan zamannya orang menikah dengan teman, bukan pacar. (hlm. 263)
  4. Nasib buruk kadang bisa menular. Seperti kesialan, nasib baik pun bisa menular. (hlm. 112)

Banyak sindiran halus dalam novel ini:

  1. Namanya ibu-ibu, suka terperangkap di masa lalu, tidak sadar ini zaman internet broadband dan pesawat luar angkasa tanpa awak sudah bisa mendarat di mars. (hlm. 16)
  2. Itulah enaknya jadi orang dewasa. Punya penghasilan sendiri, bisa menata hidup kapan saja. (hlm. 45)
  3. Di zaman internet ini, orang yang menulis catatan harian di buku sudah langka. (hlm. 56)
  4. Mentang-mentang ganteng, pasti di dalamnya juga bagus? (hlm. 117)
  5. Bagi kebanyakan murid, menghadapi kepala sekolah ibarat Superman di depan Kryptonite. (hlm. 141)
  6. Tapi manusia, baik suka begaul atau introvert, tak pantas dilakukan semena-mena. (hlm. 152)
  7. Satu ciri kamar mandi wanita yang berlaku di mana saja adalah keramaiannya yang melebihi kamar mandi pria. (hlm. 156)
  8. Cewek takkan hancur berkeping-keping cuma karena ditolak cowok, seganteng apa pun, sejago apa pun main basketnya. (hlm. 166)

Glek, ini dia beberapa kutipan adegan yang bikin merinding disko:

  1. Bukan berkhayal, desis sebuah suara di relung benak Liv. Tadi benar ada sosok lain di cermin, persis di antara kamu dan dinding. Rambutnya sepundak, terurai, pakaiannya putih panjang. Ia menghadap ke dinding, supaya kamu tidak melihat wajahnya… (hlm. 4)
  2. Liv hanya bisa menatap dengan kengerian tak terperi. Pandangannya seperti terkunci ke sosok itu. Ia melihat tangan anak laki-laki itu terjuntai lemah, lebam oleh bekas pukulan. Lebam yang sama juga melingkari lehernya. Rambut di belakang kepala cowok itu lengket ke kulit, seolah basah. Basah oleh apa, Liv takut menerka. (hlm. 40)

Dibutuhkan waktu beberapa bulan untuk menimbun buku ini dan akhirnya punya keberanian juga untuk membacanya meski pake acara deg-degan. Mana ini ceritanya bersetting sekolah pula. Padahal saya suka pulang sore, dan sekolah sudah keadaan sepi, hanya ada segelintir murid unyu yang masih berseliweran di area sekolah. Glek! >.<

 Feel merinding diskonya udah dapet banget dari kalimat pertama yang bersetting toilet cewek di sekolah. Di sekolah tempat saya bekerja, toilet cewek juga konon ada penunggunya sampai sekarang. Makanya ada satu yang kosong, dan itu sudah bertahun-tahun sejarahnya. Sampai sekarang pun, mana ada murid unyu cewek yang berani ke toilet sendirian x)

Yang bikin kampret banget adalah setiap pergantian BAB ada ilustrasi seram-seram yang bikin ngagetin. Dan ilustrasi-ilustrasi itu sebenarnya merupakan representasi penghuni yang masih belum bisa tenang. Dan hanya Liv yang bisa menolongnya.

Novel ini sebenarnya tidak hanya mengangkat kisah hantu-hantu yang ‘dilihat’ oleh Liv, tapi sebenarnya ada tema lain dengan pesan moral yang disampaikan; bullying dan keluarga. Broken home sebenarnya tidak hanya dialami Liz saja dalam novel ini, ada Daniel dan Kenita yang sebenarnya kisah mereka juga nggak kalah miris. Zaman sekarang, anak-anak di bangku sekolah banyak yang mengalami masalah berat di rumahnya. Saya juga mendapati banyak juga murid-murid yang broken home. Pembelajaran, sebenarnya ketika orang tua bercerai, anaklah yang menanggung imbasnya.

Keterangan Buku:

Judul                                                     : Aku Tahu Kamu Hantu

Penulis                                                 : Eve Shi

Editor                                                    : Alit Tisna Palupi

Proofreader                                       : Jia Effendie

Penata letak                                       : Landi A. Handwiko

Desain & ilustrasi sampul              : Levina Lesmana

Ilustrasi isi                                           : Tyo

Penerbit                                              : GagasMedia

Terbit                                                    : 2013

Tebal                                                     : 269 hlm.

ISBN                                                      : 979-780-652-9

Indonesian Romance Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/01/indonesian-romance-reading-challenge-2014/

New Authors Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/02/new-authors-reading-challenge-2014/

Young Adult Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/07/young-adult-reading-challenge-2014/

11 thoughts on “REVIEW Aku Tahu Kamu Hantu

  1. Hiii… kalau liat dari covernya nggak terlalu ngeri, TAPI waktu baca reviewnya, OMG gila merinding banget!!! begitu aku baca kalimat yg ini ” Bukan berkhayal, desis sebuah suara di relung benak Liv. Tadi benar ada sosok lain di cermin, persis di antara kamu dan dinding. Rambutnya sepundak, terurai, pakaiannya putih panjang. Ia menghadap ke dinding, supaya kamu tidak melihat wajahnya…”
    WAAA!!! jadi kebayang bayang. ( bulu kuduk berdiri )

  2. Pingback: [WRAP UP] New Authors Reading Challenge 2014 | Luckty Si Pustakawin

  3. Pingback: REVIEW Unforgiven | Luckty Si Pustakawin

  4. Pingback: Daftar Bacaan Tahun 2014 | Luckty Si Pustakawin

  5. Pingback: [BLOGTOUR] REVIEW The Bond | Luckty Si Pustakawin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s