REVIEW (Bukan) Salah Waktu

 bukan salah waktu
Manusia bersedih lebih karena merasa bahwa ia sendirian menghadapi kehidupan. Saat ia sanggup membagi kisahnya kepada orang lain, sesungguhnya ia telah menyelesaikan sebagian dari masalah yang dihadapinya saat itu. (hlm. 181)

Prabu dapat memahami bagaimana ibunya melihat Sekar sekarang. Jobless. Sepenuhnya menjadi tanggungan suami. Namun, Prabu juga berusaha mengerti keinginan Sekar sebagai wanita. Mungkin istrinya lelah dengan tumpukan tugas dan deadline yang sering tidak masuk akal dalam kapasitasnya sebagai manajer pemasaran di kantornya. Belum lagi jika dihadapkan pada persaingan agar terlihat paling berprestasi dalam melakukan pekerjaan di kantor. Bekerja di bidang yang sama dengan istrinya membuat Prabu lebih mudah memahami jalan pilihan Sekar. Sekar tentunya tidak gegabah mengambil keputusan berhenti bekerja. Prabu percaya istrinya mampu menghadapi perubahan dalam hidupnya. Prabu berharap istrinya juga percaya kepada keputusan yang dibuatnya sendiri. Setidaknya, seperti itulah yang Prabu rasakan hingga saat ini.

Tak ada kebusukan yang dapat begitu lama ditutupi. (hlm. 184)

Setiap orang memiliki masa lalu. Beberapa diantaranya adalah pengalaman pahit, bahkan kelam. Tidak terkecuali Prabu dan Sekar. Pasangan yang sudah menikah beberapa tahun ini, ternyata masing-masing memiliki rahasia yang ditutup rapat-rapat. Seperti api dalam sekam, suatu saat pasti akan terkuak.

Beberapa sindiran halus dalam novel ini:

  1. Banyak hal terlewatkan selama dirinya bekerja di sebuah perusahaan pelayanan internasional. Jam mengharuskan ia meninggalkan rumah pukul 05.30 dan baru sampai rumah pukul 20.00. (hlm. 7)
  2. Perempuan tidak sesederhana yang dipikirkan lelaki. Ingin segera punya anak setelah menikah, kemudian berhenti melakukan yang disukainya dan mengabdikan diri sepenuhnya untuk keluarga dan keturunannya. (hlm. 12)
  3. Anak baik-baik akan tumbuh dari keluarga baik-baik pula. Meskipun, pada kenyataannya tidak semua hal berlaku seperti itu. (hlm. 32)
  4. Lebih baik ia belajar bagaimana memasak lauk-pauk yang memang sudah menjadi selera keluarganya daripada mempelajari hal baru yang belum tentu sesuai dengan selera ora-orang di sekitarnya. (hlm. 38)
  5. Seperti ini rupanya menjadi mahluk yang bergantung kepada orang lain. Harus terima untuk dipandang sebelah mata. (hlm. 44)
  6. Setiap anak selalu dirindukan ibunya. Sayangnya, tidak semua ibu dikaruniai keinginan untuk dekat dengan anaknya. Sebagian karena bekerja, sebagian untuk alasan yang tidak dimengerti. (hlm. 88)

Banyak kalimat favorit bertebaran:

  1. Keterusterangan bukan soal berguna atau tidak berguna, sekarang atau nanti. Semua bergantung niat. (hlm. 29)
  2. Karakter seseorang dibentuk oleh lingkungan dan keluarganya. (hlm.  32)
  3. Hidup itu yang dicari kan, ya makan, pakaian, tempat tinggal saja. Selebihnya buat orang lain. (hlm. 135)
  4. Urusan masa lalu tidak usah dipikirkan lagi. Nggak bisa diulang, lalu diperbaiki juga, kan? Buat apa dipikir terus. Malah jadi dendam. Ngerusak badan sendiri. (hlm. 135)
  5. Setiap orang dewasa akan rela menyerahkan segalanya untuk keturunannya. Segalanya. Bila perlu seluruh kesedihan anak dan cucunya menjadi kesedihannya saja. Menyakiti keturunannya akan jauh lebih membuat dirinya sengsara ketimbang menyakitinya langsung. (hlm. 183)
  6. Tuhan punya caranya sendiri untuk memberi kebahagiaan kepada tiap umatnya. Cinta ada di mana-mana. Selalu dapat kita raih selama kita tak enggan menjemputnya. (hlm. 209)
  7. Cinta terkadang memang sederhana memaafkan masa lalu. (hlm. 244)

Saat Sekar ketika bergaul dengan teman-teman sosialitanya:

  1. Pakaian kerja tak jauh dari Zara atau Guess keluaran terbaru. Sementara untuk tas kerja, menurut Sisie, Louis Vuitton memberikan sensasi tersendiri pada penampilannya. Sisi hanya bekerja untuk mendapatkan lingkungan sosial, bukan untuk mendapatkan penghasilan. Perbedaan tujuan itulah yang akhirnya membuat Sekar lebih dekat dengan Miranda daripada Sisie. (hlm. 24)
  2.  Selesai menyantap beragam menu makan siang di Urban Kitchen, Sekar dan dua orang temannya berjalan perlahan menyusuri deretan toko baru di Lantai 2. Sesekali salah seorang dari mereka mampir kesebuah toko pakaian atau gadget. (hlm. 29)

Bandingkan dengan Sekar yang beralih menjadi perempuan full di rumah:

  1. Sekar merasa seperti tidak sedang menjadi dirinya sendiri. Bangun kesiangan, tak sempat menyiapkan bekal yang dijanjikan kepada suaminya, lupa dengan acara yang disampaikan kepadanya baru dua hari yang lalu. (hlm. 8)
  2. Sekar seharusnya berterima kasih kepada Marni. Namun, entah mengapa dirinya merasa kehadiran Marni terlalu banyak dalam hidupnya. Ia pernah merasakan demikian bergantung kepada pembantunya yang satu ini. (hlm. 10)
  3. Semenjak berhenti bekerja, ia selalu melihat suaminya sebagai seorang eksekutif muda yang bergairah dengan hidup dan karirnya, sedangkan ia adalah wanita berbalut daster batik dengan rambut diikat ke belakang agar tak mengganggu kegiatannya sehari-hari di rumah. (hlm. 24)
  4. Di luar urusan memasak, tentunya masih ada mencuci pakaian, menyetrika, menyapu, mengepel, memelihara halaman yang tidak seberapa, tetapi tetap saja menuntut perhatian sehari dua kali, dan lainnya yang mungkin saat ini belum terdaftar di ingatan Sekar. Tubuh Sekar kian lunglai membayangkan itu semua. Namun, ia tak ingin putus asa. (hlm. 38)

Beberapa hal yang agak mengganjal:

  1. Sekar ini kan baru kenal sama Bram, tapi gampang aja diajak kesana-sini, padahal kan Sekar ini udah menikah? Ditambah lagi Bram adalah orang sedang ditaksir sahabatnya.
  2. Oya, di ending tidak jelas gimana nasib Laras? Pergi aja gitu dari kehidupan Prabu?
  3. Sebegitu gampangnyakah Sekar menerima kehadiran Wira dalam kehidupannya dengan Prabu?
  4. Dimanakah keberadaan orangtua Sekar yang sesungguhnya?
  5. Seno si tokoh antagonis terkesan hanya sekedar numpang lewat. Sebenarnya lumayan banyak juga tokoh yang numpang lewat dan tidak terlalu penting dalam inti cerita.
  6. Ketika Sekar ditimpa masalah, kemanakah sahabat-sahabatnya? Apakah seseorang yang dikatakan sebagai sahabat hanya ketika ngopi-ngopi bareng atau cuci-cuci mata liat merk-merk dengan harga selangit?

Ada banyak pelajaran yang dapat kita petik dari novel ini:

  1. Ketika berumah tangga, harusnya tidak ada lagi rahasia diantara sepasang suami istri. Agar dikemudian hari tidak timbul kekecewaan, bahkan penyesalan dari pasangannya.
  2. Perceraian selalu menimbulkan rasa trauma pada si anak, bahkan sampai mereka dewasa kelak. Ternyata perpisahan tidak membuat segalanya menjadi lebih baik.
  3. Ketika sebuah hubungan di luar pernikahan, anaklah yang kelak akan menjadi korban. Lagi-lagi anak yang tak berdosa yang harus menanggung beban masa lalu orang tua.
  4. Jangan terlalu percaya dengan orang yang baru dikenal. Ketika seseorang bersikap manis, bahkan kelewat manis terhadap kita, bisa jadi orang tersebut menyimpan maksud yang tidak baik terhadap kita.
  5. Pelajaran hidup tidak hanya bisa kita ambil dari orang-orang hebat, tapi bisa jadi dari orang kecil yang bahkan terkadang kita anggap tidak penting. Seperti halnya tokoh Mbok  Ijah, perempuan tua sederhana yang kisah hidupnya justru menampar kegelisahan di hati Sekar  selama ini.

Terlepas dari beberapa keganjilan dalam cerita, menyukai tema dan cover novel ini yang memiliki benang merah; terperangkap dalam lingkaran masa lalu. Saya berharap ada sekuelnya, karena inti cerita yang merupakan masa lalu baik dari pihak Prabu dan Sekar, sebenarnya sama-sama belum terkuak, bahkan di ending novelnya.

Novel ini sangat cocok bagi pasangan muda yang baru merajut rumah tangga. Bahwa ketika menikah, akan ada banyak rahasia-rahasia yang selama ini tak terjamah.

Keterangan Buku:

Judul                                     : (Bukan) Salah Waktu

Penulis                                 : Nastiti Denny

Penyunting                         : Fitria Sis Nariswari

Perancang sampul           : Citra Yoona

Ilustrasi sampul                 : Shutterstock & Dreamstime

Pemeriksa askara             : Intari Dyah P. & Septi Ws.

Penata aksara                    : Endah Aditya

Penerbit                              : Bentang

Terbit                                    : 2013

Tebal                                     : 248 hlm.

ISBN                                      : 978-602-7888-94-4

 

bukan salah waktu 1

Indonesian Romance Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/01/indonesian-romance-reading-challenge-2014/

 

New Authors Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/02/new-authors-reading-challenge-2014/

REVIEW ini diikutsertakan dalam

Lomba Review (Bukan) Salah Waktu

2 thoughts on “REVIEW (Bukan) Salah Waktu

  1. Pingback: [WRAP UP] New Authors Reading Challenge 2014 | Luckty Si Pustakawin

  2. Pingback: Daftar Bacaan Tahun 2014 | Luckty Si Pustakawin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s