REVIEW Anakku Matahariku

  anakku matahariku

Ketika engkau meminta pada-Nya dan waktumu sudah tepat, kau akan mendapatkannya. (hlm. 8)

Menjadi ibu membuat seseorang mendadak jadi sentimentil. Membuat seseorang selalu ingin menelepon sang mama. Menjadi ibu membuat seseorang mengenal lebih dalam bagaimana pengorbanan ibu kita di tahun-tahun yang silam untuk kita. Menjadi ibu membuat seseorang mengerti amarah dan kecewanya ketika saat dulu membangkang. Menjadi seseorang membuat mengenal betapa luhur betapa cinta ibu yang sungguh tidak terbatas.

Lewat buku ini, penulisnya menuturkan kesehariannya bersama sang putri, Sekar. Mereka punya saat khusus yang namanya Girl’s Time. Pada saat itu,hanya dia dan anaknya berdua saja. Tidak ada orang lain, termasuk papanya. Mereka bisa melakukan Girl’s Time dengan berjalan-jalan sore 10-15 menit di kompleks rumah atau belanja di mall, atau malam menjelang tidur akan membacakan buku cerita, atau bermain boneka dengan sang anak tercinta.

Saat Girl’s Time adalah kesempatannya untuk mengisi tangki cinta anaknya dengan kata-kata positif. Bahwa sang anak berharga bagi dirinya dan suami yang sangat mencintainya. Ia ingin sang anak tahu dan merasa bahwa sang anak dicintai dan aman bersama orangtuanya. Anak yang merasa dicintai orangtuanya akan lebih kuat menghadapi masalah yang ia temui sehari-hari.

Itu adalah salah satu penggalan cerita yang termuat dalam buku ini. Paling favorit adalah tulisan dengan sub judul Happy Mother’s Day. Saya langsung teringat almarhumah mama. Dulu, beberapa minggu setelah mama meninggal, saya dan dibantu bude beserta bulek, kami membereskan lemari mama yang lemarinya memang terpisah dengan lemari papa. Mama begitu rapi mengarsip semua berkas-berkas dari yang penting bahkan sampai yang tidak penting sekalipun, seperti list belanjaan untuk acara syukuran rumah saat pertama kalinya ditempati. Surat-surat dari keponakan (yang waktu itu) sering curhat pas kuliah jauh. Masih banyak arsip lainnya. Dan ada laci bawah khusus berisi semua yang pernah saya berikan kepada beliau, meski hal itu cuma remeh-temeh seperti sobekan-sobekan kecil atau ucapan ulang tahun dan hari ibu. Dari jaman SD, saya memang selalu menyisihkan uang jajan untuk dua momen tersebut. Ah, rasanya rindu sudah delapan tahun tidak mengalami momen-momen tersebut. Begitu juga Sekar, sang buah hati penulis dalam buku ini. Love you pake banget, Sekar (♥̅ ⌣ ♥̅)

anakku matahariku 1 anakku matahariku 2

Selain itu, favorit kedua adalah sub judul Sekolah Anak Kita. Baca bagian ini, saya yang bekerja di sekolah rasanya ketampar banget. PLAKK! Suka banget ama penjabaran penulis tentang definisi sekolah di halaman 122-123. Setuju banget sama tulisan di sub judul ini. Dibuat kita merenung dengan sistem sekolah di Indonesia selama ini. Ahh..seadainya semua sekolah menerapkan sistem seperti sekolah Sekar, pasti nggak ada lagi problematika yang dihadapi generasi muda kelak! ( ʃ⌣ƪ)

Banyak kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Memang sudah kodrat perempuan, sakit waktu melahirkan. (hlm. 23)
  2. Manusia hidup dari momen. Angka tidak lagi signifikan. (hlm. 34)
  3. Masa kecil kita yang hilang tidak pernah kembali. Namun, rasanya tetap bisa mengisi potongan yang hilang tersebut saat ini, dengan memberi pada siapa saja, kapan saja. (hlm. 36)
  4. Anak-anak adalah pemberi yang tulus. Menjadi apakah dia kelak, tetap pemberi yang tulus atau tidak, akan banyak bergantung dari peranan lingkungan yang membentuknya. (hlm. 40)
  5. Kadang, butuh orang lain untuk membantu kita menemukan harta karun diri. (hlm. 45)
  6. Anak-anak adalah pengamat yang baik. Terkadang mereka lebih jeli daripada kita. (hlm. 46)
  7. Senyuman dan pelukan sayang dari anak tercinta adalah yang paling berharga untuk para orangtua. (hlm. 53)
  8. Tulisan anak-anak kita tidak bisa dibeli dengan uang. (hlm. 56)
  9. Agar dapat mencintai, kamu perlu mengerti, karena cinta lahir dari pengertian. Jika kamu tidak mengerti seseorang, kamu tidak dapat mencintainya. (hlm. 60)
  10. Mencintai anak memang penting. Tapi yang lebih penting adalah membuat anak merasa dicintai. (hlm. 68)
  11. Anak bukanlah mahluk bodoh. Mereka punya perasaan ingin dihargai. Terkadang, saat keinginannya tidak dipenuhi, mereka akan marah. Sementara orangtua punya persepsi yang berbeda. (hlm. 70)
  12. Anak-anak adalah guru yang murni. Kadang hanya dalam satu kesempatan bicara, mereka bisa membuat kita takjub. (hlm. 93)
  13. Harta bisa kita dapatkan, sepanjang kita mau, niat, bersedia, sungguh-sunguh bekerja keras. Namun soal jodoh dan anak, selain perlu usaha dari kita, keputusannya ada pada Yang Di Atas. (hlm. 103)
  14. Untuk hal-hal tertentu, kita perlu mempertimbangkannya. (hlm. 113)
  15. Terkadang orang dan anak memandang sesuatu dari sisi yang berbeda. Hanya kesabaran, cinta, waktu dan hati yang bisa menyelaraskannya. (hlm. 114)
  16. Memang butuh kesabaran kalau mau menjadi orangtua yang bisa mengerti anak. (hlm. 82)

Ini adalah buku kedua tentang hubungan manis antara ibu dan si buah hati. Sebelumnya saya pernah membaca Don’t Worry to be a Mommy-nya Meta Hanindita. (reviewnya: https://luckty.wordpress.com/2014/01/20/review-dont-worry-to-be-a-mommy/)

Lewat buku ini kita bisa merasakan bahwa menjadi ibu memang tidak mudah, tapi jika kita menikmatinya, semua proses itu akan terasa indah😉

Keterangan Buku:

Judul                     : Anakku Matahariku

Penulis                 : Priska Devina

Penerbit              : Gramedia Pustaka Utama

Terbit                    : 2014

Tebal                     : 148 hlm.

ISBN                      : 978-979-22-9969-4

Ehem, dapet tanda tangan dari penulisnya;

anakku matahriku 2

 

One thought on “REVIEW Anakku Matahariku

  1. Pingback: Daftar Bacaan Tahun 2014 | Luckty Si Pustakawin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s