REVIEW Aku Angin Engkaulah Samudera

aku angin engkaulah samudera

Barangkali pernah dalam hidupmu, engkau memiliki simpul persahabatan yang engkau percaya tak ada tandingannya. Engkau mengandalkannya kadang lebih dibanding engkau mempercayai kemampuanmu sendiri. Engkau mengenangnya seperti halnya Padi melagukan Harmoni. Engkau merasa tidak mungkin berdiri hari ini tanpa dirinya di masa lalu, meski di masa nanti, di mana dia, engkau tak tahu lagi.

Kalau ditanya siapa penulis laki-laki favorit dalam negeri? Salah satunya adalah Tasaro GK. Sejak membaca Galaksi Kinanthi, saya langsung kepincut gaya kepenulisannya. Makanya, ketika buku ini keluar, saya langsung berburu mendapatkannya dan akhirnya alam berkonspirasi mendengar permintaan ini😀

“Kata kamu dulu kalau sudah besar mau jadi pelaut.”

“Itu kata bapakku. Samudro, kan artinya laut. Makanya kalau aku besar, hidupku di laut.”

“Kalau aku bagaimana?”

“Kata bapakku, Maruto itu artinya angin. Jadi, kamu nanti hidupnya seperti angin. Pindah-pindah ndak punya rumah.” (hlm. 31)

Adalah Samudro dan Maruto yang bersahabat erat di masa kecil. Kemudian mereka berpisah saat tumbuh meremaja. Hingga takdir mempertemukan mereka kembali. Tapi sayangnya, keadaan tak lagi sama. Banyak perubahan yang terjadi dalam hidup mereka.

Dalam kehidupan Maruto saat dewasa, ada banyak sekali pengalaman pahit dan manis yang dialami. Dia juga bertemu dengan banyak orang yang memberikan pelajaran hidup baginya. Ada dua tokoh favorit yang saya pilih dalam buku ini:

  1. Husain. Dari bahasa tubuh dan mimik wajahnya, sangat kental terlihat darah Timur Tengah. Husain ini mengingatkan saya akan almarhum mama. Dimana dalam hidupnya sama sekali tidak merisaukan keadaan suatu hari nanti. Meski umurnya terhenti di angka 22, sudah banyak wujud nyata yang dia berikan kepada orang lain. Rasanya kayak tertampar, umur segitu saya baru lulus kuliah x) #ToyorDiriSendiri
  2. Eman. Anak tunggal seorang tuan tanah yang paling disegani di kampungnya. Tanah Haji Romli, ayah Eman, luasnya berhektar-hektar, dan terus bertambah setiap tahun. Tapi sesungguhnya dia adalah pemuda sederhana, baik soal penampilan maupun dalam bertutur. Eman sama sekali tidak memanfaatkan segala fasilitas yang dimiliki ayahnya. Kisah Eman ini juga nampar banget, betapa sekarang banyak manusia yang membanggakan kekayaan orangtuanya, yang belum tentu jelas halal haramnya.

Banyak banget kalimat favorit bertaburan dalam buku ini:

  1. Tidak ada masa lalu yang memberatkan. Tidak ada kenangan yang memburamkan. Hanya sebuah perjalanan menuju benderang. Maka,apa yang ada di belakang punggungmu adalah anak tangga yang mesti engkau lalui penyebab takdirmu, hari ini. (hlm. 11)
  2. Mengingat apayang engkau alami lebih dari setengah umurmu, dulu, adalah urusan yang tidak akan memudahkanmu. Lebih-lebih jika engkau harus mengira-ngira, apa yang engkau pikirkan ketika itu. Engkau rasakan hari-hari itu. (hlm. 36)
  3. Ketika sesuatu menjadi kenangan, semua terasa indah dan mendatangkan kerinduan. (hlm. 79)
  4. Semua ada risikonya. Mungkin sekarang waktunya bersenang-senang. Suatu saat dia pasti harus membayar segala kesenangan itu. (hlm. 80)
  5. Ketaatan kepada Tuhan itu satu paket. Pacaran itu tidak termasuk dalam paket itu. (hlm. 127)
  6. Untuk menjadi bahagia itu sederhana. Nggak usahlah terlalu memikirkan apa yang akan terjadi pada kita lima atau sepuluh tahun mendatang. Bahkan besok pagi tak tahu apakah kitamasih hidup atau tidak. (hlm. 131)
  7. Semua kan sudah pasti di tangan takdir. Semua yang kita jalani sudah lebih dulu direncanakan. Tidak akan meleset sedikit pun. (hlm. 132)
  8. Bukankah jika tak ada lagi mimpi-mimpi yang terlalu muluk, emosi yang menggebu-gebu, dan rasa waswas segala sesuatu, itu artinya seseorang telah menemukan kebahagiaan? (hlm. 134)
  9. Sebab kebahagiaan itu ada waktunya hanya butuh hal-hal yang sederhana. (hlm. 153)
  10. Ada sedih, tapi terbit juga harapan. Semua akan lebih baik. Esok, atau lusa. (hlm. 194)
  11. Air sumber kehidupan setiap insan. Air padamkan api dari kemurkaan. Air menghilangkan dahaga dan memberikan kesejukan. Air membenamkan ketinggian dari kesombongan dan keangkuhan. Air mengalir kerendahan untuk mengisi kekosongan dan kehampaan. Dan aku berusaha untuk menjadi bagian dari setitik air. (hlm. 231)

Lumayan banyak juga sindiran halus dalam novel ini:

  1. Orang-orang sudah lupa keindahan diksi yang eksotis dan kaya warisan para pendahulu. (hlm. 13)
  2. Orang-orang dewasa sudah mengacak-acak dunia kanak-kanakku. (hlm. 14)
  3. Wajar saja kalau pada dekade itu orang-orang mencari jawaban persoalan yang tidak terpecahkan pada hal-hal yang tidak bertemu akal. (hlm. 15)
  4. Piye tho kmu? Puasa itu untuk Allah. Minta hadiahnya ya ke Allah. (hlm. 17)
  5. Sepekan sebelum lebaran, gelombang kedatangan warga dusun yang selama satu tahun bekerja di kota-kota berdatangan. Di dusun, kebiasaan bekerja ke kota bagi para pemuda yang sudah sumpek menganggur di kampung halaman telah berlaku turun temurun. (hlm. 19)
  6. Kepala sekolah SD pada dekade itu hidup tenang oleh penghargaan orang-orang dusun karena kompetensinya sembari menjalani keseharian, kadang dengan kesulitan nyaris tak tertahankan. Memasak daun pepaya adalah usaha untuk mengakalinya. (hlm. 22)
  7. Anak-anak ‘dunia ketiga’. Mereka dipinggirkan oleh lingkungan pergaulan. Ada, sekedar pelengkap, kadang, difungsikan sebagai cemoohan. (hlm. 39)
  8. Boleh pacaran, tapi kemana-mana kamu bawa papan besar. Jadi, antara kamu dan pacar kamu tidak bisa saling melihat apalagi bersentuhan! (hlm. 64)
  9. Begitu dahsyatnya perang telah membikin seragam perangai anak-anak rencong. (hlm. 87)
  10. Tema bunuh diri tetap saja mengerikan dan bodoh. Meski para pecinta mati-matian mencari pembenaran lewat cerita-cerita klasik yang membuai. (hlm. 139)
  11. Induk ayam yang paling lemah pun akan meradang ketika anak-anaknya terancam, apalagi manusia. (hlm. 142)
  12. Tanpaharus jadi sarjana pun aku masih bisa melakukan sesuatu. (hlm. 147)
  13. Tapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. (hlm. 162)
  14. Di muka bumi ini lebih banyak orang yang tahu hukum dibanding orang yang benar-benar mematuhinya. (hlm. 177)
  15. Kritikan, meski disampaikan dengan santun, tetap saja menyakitkan. (hlm. 177)
  16. Aku tak menganggap perbedaan itu sebagai suatu masalah. (hlm. 219)
  17. Tapi ada waktunya, ketika seabrek pekerjaan menunggu untuk diselesaikan, dan otak penuh dengan rencana, justru susah bukan main untuk memulainya. (hlm. 296)
  18. Tidak harus cerdas untuk tahu keculasan penguasa negeri ini. (hlm. 324)

Lewat buku ini kita bisa melihat sisi lain Aceh, betapa sejarah mampu memporak-porandakan sebuah bangsa, bahkan kepercayaan:

  1. Bangsamu berutang sangat banyak kepada bangsa Aceh. Wajar saja kalau kami datang ke sini untuk menikmati apa-apa yang bangsamu serobot dari kami. (hlm. 82)
  2. Kamu cari dulu tentara saleh yang kamu yakini ada itu. Kenalkan kepadaku. Baru kamu berhak mendebatku. (hlm. 84)
  3. Coba lihat sekarang. Mana ada rasa terima kasih Indonesia kepada rakyat Aceh. Kami ditipu mentah-mentah. Kekayaan alam disedot, rakyat tak mendapat sepeser pun. (hlm. 89)
  4. Pa’i adalah sebutan penuh kejengkelan orang-orang Aceh terhadap TNI. Sementara bagi Nanggroe, kata ini menjadi awal segala sumpah serapah. (hlm. 95)
  5. Hitam putihnya Aceh kan orang-orang Jakarta yang menentukan. Barangkali suasana hati mereka lagi tak enak, makanya darurat sipil diperpanjang. (hlm. 322)
  6. Kakak pun khawatir kalau Mala sampai terpikat oleh tentara Jawa itu. Apa kata orang nanti? Bapakmu mati karena dikejar-kejar tentara, adikmu tewas ditembak tentara. Ibumu tak tentu rimbanya juga karena mereka. Bagaimana kau bisa tenang dan jatuh cinta kepada salah satu dari mereka? (hlm. 328)

Buku yang konon diangkat dari kisah nyata ini sarat makna kehidupan. Kita bisa melihat bagaimana perjuangan Maruto saat memilih profesi sesuai passion-nya yang penuh tantangan, juga bagaimana sejarah Aceh yang sesungguhnya. Dan yang paling penting adalah sebuah persahabatan antara dua insan manusia yang tak lekang dimakan waktu.

Selalu suka dengan gaya kepenulisan Tasaro di setiap tulisannya, di buku ini hanya agak terganggu dengan ketidakkonsistenan kata ganti orang pertama; aku, saya, kadang malah tokoh utama berganti menjadi orang ketiga. Typonya minim.

Buku ini sebenarnya semacam penyempurnaa buku sebelumnya; Di Serambi Makkah yang kebetulan saya belum membacanya. Seperti Galaksi Kinanthi yang berubah menjadi  Kinanthi Terlahir Kembali yang diterbitkan oleh penerbit yang berbeda. Terlepas dari itu, menyukai buku yang memiliki ketebalan 572 halaman ini. Selalu penasaran dengan tulisan-tulisan Tasaro yang lainnya.

Keterangan Buku:

Judul                     : Aku Angin Engkaulah Samudera

Penulis                 : Tasaro GK

Penyunting         : Indradya SP

Proofreader       : M. Eka Mustamar

Desain sampul   : Muhammad Usman

Penerbit              : Qanita

Terbit                    : 2014

Tebal                     : 572 hlm.

ISBN                      : 978-602-1637-20-3

Indonesian Romance Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/01/indonesian-romance-reading-challenge-2014/

What’s in a Name Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/07/whats-in-a-name-reading-challenge-2014/

7 thoughts on “REVIEW Aku Angin Engkaulah Samudera

  1. Reviewnya komplit banget mbak. Aku suka…
    Ini inti ceritanya tentang persahabatan yahh??? Aku suka banget novel yang genrenya persahabatan kayak gini. Kalimatnya keren-keren mbak..
    Namanya tokoh Maruto itu kukirain Naruto. ups… hihi🙂

    • Awaalnya aku juga nyangka gitu, Maruto kesannya kayak Naruto. Ternyata ada artinya, Maruto artinya angin, aku baru tau pasbaca buku ini😀

  2. Pingback: Daftar Bacaan Tahun 2014 | Luckty Si Pustakawin

  3. Pingback: [BLOGTOUR] REVIEW Tiga Sandera Terakhir + GIVEAWAY | Luckty Si Pustakawin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s