REVIEW The Coffe Shop Choronicles

the coffe shop chronicles

Dimulai dari sepucuk surat pendek dari seorang pengagum kepada Tuan Arsitek yang ditulis oleh @firah_39. Surat yang membuat sebuah flashfict balasan dikarang untuk menanggapi surat tersebut oleh @adit_adit. Selanjutnya beberapa penulis lain, @_raraa, @WangiMS, dan @hildabika ikut bergabung menulis flashfict berantai yang menyertakan latar sama dan interaksi dengan tokoh-tokoh yang sebelumnya ada.

Kemudian, ketika judul tersebut dihanyutkan ke linimasa, banyak teman lain yang bergabung. Pada akhirnya, 33 cerita singkat dari 22 penulis muda pun terkumpul. Keajaiban sudut pandang. Ya, ada ribuan sudut pandang dan cerita untuk mengisahkan sebuah coffe shop. Satu mata terlalu sempit untuk melihat dunia. Buka mata dan temukan kekayaan cerita di sana.

Banyak kalimat favorit yang berserakan dalam buku ini:

  1. Ketika dua orang saling mencintai begitu dalamnya, mereka akan menemukan cara berkomunikasi yang lain. (hlm. 11)
  2. Tapi, aku kan cuma punya kamu. Yang lain cuma bisa lihat, tapi gak bisa memiliki. (hlm. 14)
  3. Dia boleh menjadi pemuja rahasiamu. Namun, aku akan selalu menjadi penggemarmu yang nomor satu. Dia harus tahu itu. (hlm. 15)
  4. Kita tidak terbiasa membiarkan waktu hilang begitu saja tanpa kita tahu, selalu ada cerita di tiap menit kita, bukan? (hlm. 21)
  5. Pernah gak kamu merasa mencintai seseorang yang kamu sendiri gak yakin dia mencintai kamu sebanyak caramu? (hlm. 25)
  6. Bukankah ketika kamu mencintai seseorang, kamu belajar untuk menjadi pasangan yang cocok buat dia? Jadi, kenapa mesti dipertanyakan masalah seberapa besar dia mencintai kamu? (hlm. 25)
  7. Meskipun raga kita berjarak, namun hati kita selalu bersama? Hatiku dan hatimu? (hlm. 45)
  8. Memang itu gunanya cinta, kan? Mengubah siapa saja menjadi lebih baik. (hlm. 64)
  9.  Rindu itu adalah ketika siklus presipitasi terjadi, dan teringat, kita bersama menghitung kecepatan kilat. Menunggu waktu yang lambat, menuju sesuatu yang akan tamat. (hlm. 80)
  10. Banyak yang bilang jika perbedaan diciptakan untuk menjadi pasangan karena saling melengkapi. Jauh dan dekat. Tinggi dan rendah. Kaya dan miskin. Aku dan kamu. (hlm. 81)
  11. Cinta. Kadang tak perlu terucap dan terlihat oleh yang lain. (hlm. 119)

Kalimat-kalimat gombal #eaaa😀

  1. Seandainya aku, kamu, dan dia bisa disatukan, pasti akan senikmat kopi racikanku ini. (hlm. 71)
  2. Menunggu satu-satunya lelaku yang bisa dan mengerti cara ‘mengelas’ hatiku ke hatinya. (hlm. 61)
  3. Bolehkah kupesan hatimu? Untuk menghangatkan hatiku yang nyaris beku bila tanpamu. Atau, bolehkah kupesan senyummu saja? Senyummu yang seperti candu, membuatku sulit memejamkan mata karena selalu rindu melihat garis lengkungan manis di bibirmu itu. (hlm. 103)
  4. Saya mau pesan menu yang biasa. Mau pesan kamu, bisa? (hlm. 139)
  5. Katanya kamu sedang butuh malaikat. Masa malaikat butuh malaikat… (hlm. 135)

Mayoritas pengunjung kafe ini adalah pasangan muda, meskipun ada beberapa wanita yang sendirian. Di pojok ruangan, tampak lelaki tampan berkaus biru tua dengan topi bisbol bersama seorang wanita mungil dengan rok kuning cerah yang membuatnya terlihat hangat seperti matahari. Mereka tampak serasi meskipun tidak ada kata yang terlontar di sana.

Tak jauh dari tempat mereka, duduklah pasangan backpacker dengan ransel-ransel yang tergeletak di lantai. Bedanya dengan pasangan pertama yang menguarkan sisi romantisme dalam diam, pasangan ini kebalikannya. Mereka tampak sibuk berbincang-bincang seru diselingi dengan gelak tawa. Tak membiarkan sedetik pun waktu berlalu tanpa ada cerita yang ditukar.

Dua pasangan tadi adalah salah satu sisi dari sekian banyak yang diceritakan. Cerita paling ‘nendang’ banget tokohnya adalah Carissa yang diceritakan dalam sub judul Sepenggal Drama. Deskripsi tokohnya paling tervisualisasi dengan jelas. Mulai dari segala fashionnya yang mahal sampai karakternya yang bikin cenat-cenut. Rasanya pengen nampol Carissa kalo ada tokoh kayak gini di dunia nyata. Ada, ada banget orang kayak gini😀

Sedangkan cerita paling favorit ada dalam sub judul Kisah Si Mbah Tua yang endingnya bikin berkaca-kaca.

Keterangan Buku:

Judul                     : The Coffe Shop Choronicles

Penulis                 : Aditia Yudis, Wangi Mutiara Susilo, Yuska Vonita, dkk.

Desain sampul   : Rayi Christian Wicaksono

Tata letak isi       : AgriArt

Editor                    : Surip Prayugo

Penerbit              : ByPASS

Terbit                    : Mei 2012

Tebal                     : 197 hlm.

ISBN                      : 9786029969351

Indonesian Romance Reading Challenge 2014 https://luckty.wordpress.com/2014/01/01/indonesian-romance-reading-challenge-2014/

Short Stories Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/18/short-stories-reading-challenge-2014/

Young Adult Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/07/young-adult-reading-challenge-2014/

2014 TBBR Pile – A Reading Challenge

https://luckty.wordpress.com/2014/01/02/2014-tbbr-pile-a-reading-challenge/

2 thoughts on “REVIEW The Coffe Shop Choronicles

  1. Pingback: Daftar Bacaan Tahun 2014 | Luckty Si Pustakawin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s