REVIEW Where the Mountain Meets the Moon

Jika kau membahagiakan mereka yang ada di dekatmu, mereka yang jauh darimu akan datang. (hlm. 238)

Pada zaman dahulu, nun jauh di ujung Sungai Giok, berdirilah gunung hitam yang membelah langit bagaikan lempengan logam bergerigi. Warga desa menyebutnya Gunung Nirbuah karena tidak sebatang pohon pun tumbuh disana, dan tidak seekor pun burung dan binatang hidup di sana.

Sebuah desa bernuansa cokelat pudar mengerumun di sudut tempat Gunung Nirbuah bertemu dengan Sungai Giok. Kemiskinan dan kegersanganlah yang menimbulkan nuansa itu. Untuk memancing agar padi mau tumbuh di tanah yang bandel, sawah-sawah harus dibanjiri air. Warga harus berkubang di lumpur, membungkuk, berjongkok, dan menanam seharian. Saking kerasnya mereka bekerja, lumpur tersebar ke mana-mana, dan matahari yang terik membuatnya berkerak di pakaian, rambut, dan rumah mereka. Seiring waktu, segala warna di desa itu menjadi sesuram lumpur kering.

Salah satu rumah di desa itu begitu kecil sehingga papan-papan kayu yang menyusun dindingnya, yang disatukan oleh atap, mengingatkan pada segenggam korek api yang terikat tali. Di dalamnya hanya terdapat cukup ruang untuk sebuah meja dan tiga orang yang berkumpul di sekelilingnya, karena rumah itu hanya dihuni oleh tiga orang. Salah seorang di antaranya adalah gadis kecil bernama Minli.

Minli tidak cokelat dan suram seperti segala sesuatu di desa itu. Dia berambut hitam berkilauan dan berpipi merona, dengan mata tajam yang selalu haus akan petualangan, dan senyum yang sering tersungging di wajahnya. Setiap kali melihat tingkahnya yang ceria dan sekehendak hati, orang-orang berpikir bahwa namanya, yang berarti ‘berpikiran sigap’, sangat cocok untuknya. ‘terlalu cocok’, desah ibunya, karena Minli juga memiliki kebiasaan bertindak sigap.

Ma seringkali mendesah, ungkapan kekesalan yang biasanya ditemani oleh kernyitan untuk baju mereka yang compang-camping, rumah mereka yang reyot, atau makanan mereka yang seadanya. Minli tidak bisa mengingat satu waktu pun ketika Ma tidak mendesah; itu kerap membuatnya berandai-andai dirinya diberi nama yang bermakna ‘emas’ atau ‘kekayaan’. Karena Minli dan orangtuanya, seperti desa dan tanah di sekeliling mereka, sangat miskin. Hasil panenan mereka hanya cukup untuk persediaan makanan mereka sendiri, dan uang yang ada di rumah itu hanyalah dua keping koin tembaga di dalam mangkuk nasi biru bergambar seekor kelinci putih. Koin dan mangkuk itu milik Minli, diberikan kepadanya ketika dia masih bayi, dan dia sudah memilikinya sepanjang ingatannya.

Penyebab Minli tidak kelihatan cokelat dan suram seperti segala sesuatu yang ada di desanya adalah kisah-kisah yang dituturkan oleh ayahnya setiap mereka menyantap makan malam. Wajah Minli berseri-seri karena kekaguman dan kegembiraan sehingga Ma sekalipun akan tersenyum, walaupun sambil menggeleng-geleng. Ba seolah-olah melupakan uban dan keletihan akibat pekerjaannya, mata hitamnya berbinar-binar bagaikan titik-titik air hujan yang terpapar sinar matahari.

“Ba, ceritakanlah kepadaku tentang Gunung Nirbuah lagi. Ceritakanlah lagi mengapa tidak ada tumbuhan yang hidup di sana.” (hlm. 3)

Setiap pagi, sebelum matahari terbit, Minli bersama ibu dan ayahnya, mulai bekerja di sawah. Ketika itu adalah musim tanam, yang menuntut kerja keras. Lumpur menempel di kaki mereka bagaikan lem dan setiap benih harus ditanam dengan tangan kendati menyakitkan. Ketika matahari bersinar dengan teriknya di atas kepala mereka, lutut Minli gemetar akibat kelelahan. Dia membenci perasaan yang ditimbulkan oleh lapisan lumpur pekat dan basah di tangan dan wajahnya; dan berulang kali, dia ingin menghentikan pekerjaannya lantaran letih dan kesal. Tetapi, ketika melihat orangtuanya bekerja dengan sabar, dengan punggung membungkuk, Minli menelan keluh kesahnya dan melanjutkan pekerjaannya.

Ma betul, miskin sekali kami. Setiap hari, Ba dan Ma bekerja dan terus bekerja, dan kami tetap tidak punya apa-apa. Seandainya aku bisa mengubah peruntungan kami. (hlm. 11)

Hingga suatu hari, Minli meninggalkan rumah dan meninggalkan sepucuk surat untuk orantuanya. Minli mengatakan jika dia akan berangkat ke Gunung Tak Berujung untuk bertanya kepada Kakek Rembulan tentang cara mengubah beruntungan mereka. Minli berjanji, jika pulang nanti akan memenuhi rumah mereka dengan emas dan perak.

“Tidak tahukah kamu? Ikan mas berarti banyak emas. Peliharalah seekor ikan mas di dalam mangkuk dan rumahmu akan dilimpahi emas dan batu giok.” (hlm. 12)

Kisah yang tertuang dalam buku ini memang sederhana tapi penuh makna. Betapa sebuah tema yang sederhana mampu memberikan pelajaran hidup yang dapat kita petik.

Saya membeli buku ini untuk perpustakaan kampus (tempat dulu saya bekerja) sekitar tahun 2010 akhir sebanyak tiga eksemplar. Karena waktu itu stock opname perpus berbulan-bulan, buku ini belum saya jamah. Barulah pas ada posbar BBI tema Sastra Asia, saya langsung kepikiran ama buku ini. Kebetulan bulan lalu pas dapet jatah ngawas UN SMA di sebuah sekolah yang cukup dekat dengan perpustakaan kampus. Alhasil, sambil menyelam minum air. Setelah ngawas UN, saya mampir minjem buku ini.

Beberapa kalimat favorit:

  1. Kau kini punya lebih banyak tahun kehidupan. Jalanilah dengan baik. (hlm. 61)
  2. Kau hanya kehilangan apa yang kau pegang. (hlm. 130)
  3. Hadiah dan pujian kalian memang indah, tapi aku memiliki sesuatu yang jauh melampaui semuanya. (hlm. 213)

Covernya mengikuti cover asli, sama sekali tidak diubah. Covernya cantik, kertas isinya pun tak kalah ciamik. Ditambah lagi ada beberapa selipan ilustrasi yang makin menambah kekecean buku ini. Temanya pun benar-benar memikat. Sebuah dongeng fantasi dengan alur cerita sederhana justru menjadi nilai plus buku ini. Dari halaman pertama, kita langsung kepincut dengan jalan ceritanya yang terus menerus bikin penasaran sampai di akhir cerita.

Kekayaan bukanlah rumah yang dipenuhi emas dan batu giok, namun sesuatu yang jauh lebih bermakna daripada itu. Sesuatu yang telah dimilikinya dan tidak perlu diubahnya. (hlm. 242)

Keterangan Buku:

Judul                     : Where the Mountain Meets the Moon

Penulis                 : Grace Lin

Penerjemah       : Berliani M. Nugrahani

Penyelaras          : Ida Wajdi

Pewajah isi         : Aniza

Penerbit              : Atria

Terbit                    : November 2010

Tebal                     : 261 hlm.

ISBN                      : 978-979-024-460-3

Intip website penulisnya:

http://www.gracelin.com/

Wuih…ada website khusus buku ini:

http://www.wherethemountainmeetsthemoon.com/

Where the Mountain Meets the Moon Book Trailer

The Inside Notes of “Where the Mountain Meets the Moon”

Asian American Author Series: Grace Lin

Young Adult Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/07/young-adult-reading-challenge-2014/

New Authors Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/02/new-authors-reading-challenge-2014/

5 thoughts on “REVIEW Where the Mountain Meets the Moon

  1. Reviewnya komplit…..😀
    Ceritanya bagus banget, kata-katanya juga bagus….
    Waktu nyari penulisnya di google, eh ternyata lahir di Amerika tetapi berdarah Taiwan.
    Jadi penasaran sama bukunya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s