REVIEW The Way We Were

the way we were

Jangan manjain hati elo. Biarkan dia luka sesekali, supaya dia bisa belajar untuk menghargai kebahagiaan. Supaya dia bisa belajar untuk bangkit kembali setelah sesuatu membuatnya terluka. Biarkan dia dewasa. (hlm. 241)

LAUT

Hubungan Laut dan Bunda memang tidak seakrab hubungan Marina –kakak sulung Laut- dengan Bunda. Akan tetapi, semenjak Ayah mulai sering bertengkar dengan beliau, hubungan mereka semakin merenggang. Bunda dan Ayah mungkin mengira mereka bisa menyembunyikan pertengkaran-pertengkaran mereka. Mereka baru mulai beragumen saat malam sudah larut.

Sejak kecil, Laut selalu melihat Bunda lebih banyak menghabiskan waktunya dengan kakak-kakaknya; Marina dan Dennis. Laut sebetulnya tidak pernah benar-benar menganggap hal itu sebagai sesuatu yang mengganggu. Toh, ia memang lebih dekat dengan Ayah. Akan tetapi, semenjak Ayah mulai sering bertengkar dengan Bunda, Laut bisa merasakan hubungan dirinya dengan Bunda padanya semakin dingin karena beliau mengira Laut akan lebih memihak ayahnya.

Sejujurnya, Laut benar-benar tidak tahu pada siapa ia harus memihak. Ia bahkan tidak mengerti mengapa –atau apa- yang menyebabkan keretakan di dalam keluarganya. Kakak-kakaknya juga seakan menutup mata akan hal itu. Tidak sekali pun Laut pernah diajak berbicara mengenai masalah itu oleh kakak-kakaknya. Mungkin kakak-kakaknya mengacuhkan dirinya karena mengira ia masih terlalu kecil untuk bisa mengerti.

Namun, Laut bukanlah anak kecil lagi. Ia bisa menangkap bahwa telah terjadi kerenggangan dalam keluarganya. Ayah dan Bunda tidak banyak lagi bertukar kata. Mereka bahkan terlihat berusaha untuk menghindari satu sama lain ketika keduanya sedang sama-sama berada di rumah. Laut tidak mengerti mengapa atau apa yang menyebabkan keretakan di dalam keluarganya. Sesungguhnya, jauh di lubuk hatinya, Laut ingin sekali mengetahui apa yang sebenarnya tengah terjadi dalam keluarganya. Namun, ia juga tidak tahu kepada siapa ia harus bertanya.

OKA

Tidak butuh waktu lama bagi para guru untuk menyadari bakat Oka dalam seni lukis dan gambar. Ia pun mulai sering dikirim untuk mewakili sekolahnya. Lemari piala dari kayu jati yang berdiri di ruang tamu rumah ini terisi oleh piala-piala Oka, menandakan bahwa karya lukisnya menaruh kesan tersendiri di hati para penikmat lukisan.

Namun, jujur saja, Oka merasa bahwa sebetulnya lukisannya tidaklah sebagus itu. Ya, ia memang tahu bagaimana mengolaborasikan warna dengan tema lukisan yang diberikan di setiap lomba-lomba yang diikutinya. Ia tahu apa yang ingin dilihat para juri. Ia tahu rumus yang harus ia olah untuk bisa meraih juara di setiap kompetisi lukis yang ia ikuti.

Namun, ia tidak pernah tahu apa yang sebetulnya ingin ia lukis. Ketika ia lulus dari SMA, ia tak pernah lagi diminta untuk mengikuti lomba apa pun. Dan ia mendapati dirinya pun kehilangan arah saat dihadapkan pada sebuah kanvas kosong. Tidak ada lagi tema yang diberikan oleh panitia yang bisa membantunya untuk menemukan titik dimana ia harus memulai karyanya.

Ya, tanpa disangkanya, tema-tema yang diberikan para juri dulu telah ia jadikan pedoman dalam melukis. Pedoman untuk membuat lukisan yang akan memberikannya juara satu. Tanpa ia sadari, ia tidak pernah benar-benar melukis untuk dirinya sendiri. Ia melukiskan sesuatu yang ingin dilihat oleh orang lain.

Dan kini, setelah ia memasuki dunia kerja, ia mencari tema itu lewat apa yang kliennya inginkan. Ia mengerjakan apa yang diminta, memeriksa hingga detail agar para kliennya puas akan hasil kerjanya. Tapi apakah ia memasukkan unsur yang ingin ia lihat dari pekerjaannya? Tidak. Ia bekerja layaknya sebuah komputer bekerja mengikuti serangkaian perintah dan kode yang diberikan kepadanya.

Alam selalu berkonspirasi menunjukkan jalan menuju takdir kita. Adalah Laut dan Oka yang awalnya tidak saling mengenal satu sama lain akan bertemu pada suatu titik. Hidup ini tidak ada yang namanya kebetulan. Laut dan Oka yang sama-sama memiliki permasalahan pribadi, akan mengisi ruang satu sama lain.

Dibandingkan Laut yang terkesan tipikal perempuan lemah, cengeng dan rendah diri, saya lebih suka Oka yang cowok banget #eaaa😀

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Cinta seharusnya tidak egois dan tidak melukai banyak orang. (hlm. 104)
  2. Perasaan cinta terkadang tidak pernah bisa diredam. (hlm. 104)
  3. If you don’t like something, change it. If you cannot change it, change your attitude. (hlm. 114)
  4. Banyak orang yang tanpa sadar berubah menjadi egois ketika mereka tengah berjuang untuk meraih kebahagiaan mereka. (hlm. 114)
  5. Bukankah kita semua berhak untuk bahagia? (hlm. 114)
  6. Kedewasaan nggak bisa dinilai sekilas. (hlm. 123)
  7. Kita nggak akan benar-benar tahu kedalaman seseorang hingga kita terlibat di dalamnya. (hlm. 123)
  8.  Tapi yang namanya cinta tidak harus saling memiliki. (hlm. 202)
  9. Seseorang yang benar-benar elo bakal nerima elo apa adanya, meskipun elo lagi nyebelin senyebelinnya. (hlm. 241)

Waktu pas baca awalnya, ada aroma Dipati Ukur. Ihiy, saya langsung berekspetasi bakal berasa Bandung yang kental. Ah, ternyata keliru. Coba Bandungnya dieksplorasi lebih mendalam tentu akan menambah nilai plus buku ini. Ditambah lagi ada sedikit keganjilan jika ini bersetting Bandung;

  1. Minah si pembantu ibu kost. Kalo untuk nama orang Sundah mah cocoknya bernama Neneng, Neng, Nining. Kalo Minah terkesannya orang Jawa😀
  2. Bang Sulis, penjual siomay langganan Laut karena siomaynya pulen plus sambal kacang yang luar biasa sedapnya. Selama saya pernah tinggal di Bandung, pemanggilan kata buat orang yang berjualan adala Mang atau A’ x)

Kesannya memang sepele sih hal-hal tadi, tapi imajinasi kita tentang aroma Bandung langsung buyar. Belum lagi percakapan yang ada sama sekali tidak ada aroma Sundanya, seperti; mah, atuh, cenah, meuren. Pokoknya selipan kata-kata yang familiar dalam percakapan orang Bandung, sekalipun orang kota.

Terlepas dari itu, suka ama covernya. Suka juga ilustrasi yang ada di dalamnya. Ah, coba saja sisi cerita dari Oka lebih digali, pasti lebih menarik. Dari buku ini kita bisa memetik pelajaran bahwa ketika suatu keluarga, terutama hubungan antara ayah dan ibu tidak harmonis, sedkit banyak akan mempengaruhi perkembangan si anak sampai dia dewasa kelak. Bahkan bisa juga menimbulkan trauma meskipun itu kecil.

Keterangan Buku:

Judul                     : The Way We Were

Penulis                 : Sky Nakayama

Editor                    : Mita M. Supardi

Proofreader       : Patresia Kirnandita

Penata letak       : Landi A. Handwiko

Desain sampul   : Cecilia Hidayat

Ilustrasi isi           : Wening Insani

Penerbit              : GagasMedia

Terbit                    : 2013

Tebal                     : 257 hlm.

ISBN                      : 979-780-536-7

Indonesian Romance Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/01/indonesian-romance-reading-challenge-2014/

Young Adult Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/07/young-adult-reading-challenge-2014/

New Authors Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/02/new-authors-reading-challenge-2014/

4 thoughts on “REVIEW The Way We Were

  1. Pingback: Daftar Bacaan Tahun 2014 | Luckty Si Pustakawin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s