REVIEW Prelude

prelude

Kita enggak bisa lihat ke belakang kalau itu hanya akan memunculkan kenangan yang enggak baik buat masa depan kita. (hlm. 196)

Tina adalah mahasiswi tahun pertama di Institut Musikologi, Universitas Leipzig, yang mendalami komposisi musik klasik barat yang selalu dicintainya sejak kecil. Dia sempat kuliah di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) selama setahun sebelum memperoleh beasiswa untuk belajar di Leipzig. Alat musik andalan Tina adalah selo. Alasan yang membuatnya terpikat untuk belajar memainkan instrumen ini adalah selain bentuknya yang menurut gadis itu sangat elegan, suara yang dihasilkan dari gesekan dawainya terdengar begitu menyentuh jiwa.

Tina sudah belajar musik sejak kecil berkat ayahnya, Hendra, yang memasukkan putrinya itu ke les musik klasik. Awalnya, dia belajar piano seperti halnya sebagian besar siswa yang baru masuk les. Namun, kesetiaan Tina pada alat itu mulai luntur setelah dia mendengarkan salah satu karya Johann Sebastian Bach, seorang komponis asal Jerman, yang dimainkan pada selo.

Tina belum pernah mendengarkan suara yang begitu merdu sekaligus menyayat hati yang keluar dari instrumen tersebut; sebuah paduan antara gema jeritan batin dan kemegahan jiwa yang meliuk-liuk begitu elok, yang mengalunkan melodi keindahan hingga napasnya yang terakhir. Sejak itu, sia pun meminta sang ayah untuk membiarkannya menekuni selo.

Cita-citanya adalah mendalami musik klasik, langsung di Jerman sana, di kota tempat Bach mengembangkan karirnya, yakni Leipzig. Bahkan, saking seriusnya, Tina ikut les bahasa Jerman begitu masuk SMP.

Tina bisa belajar hal-al baru dengan cepat. Setelah cukup menguasai bahasa Jerman, dia pun melalui tes untuk mendapatkan beasiswa belajar ke Leipzig dengan gemilang. Impiannya untuk menjadi mahasiswi di kota itu pun dapat tercapai. Sejak kecil, Tina sudah dibiasakan untuk mandiri. Jadi, dia tidak segan saat mengetahui bahwa dirinya akan hidup sendiri di negara yang sama sekali baru baginya. Meskipun demikian, Hendra menemani Tina selama hari-hari pertamanya di Leipzig, termasuk mengantarnya ke kampus barunya dan membantu menempatkan barang-barangnya di asrama yang terletak di area kampus.

Selama setahun, Tina sangat menikmati belajarnya di Leipzig, dan langsung akrab dengan teman-teman barunya. Mata kuliah favoritnya tentu berhubungan dengan Bach. Apalagi, mata kuliah tersebut dipegang dosen favoritnya yang bernama Maria Tan, seorang wanita berdarah China yang diketahuinya pernah menjadi seorang pemain selo ternama di Asia dan Eropa.

“Pernahkah kau merasakan sesuatu, semacam kedekatan batin atau yang seperti itu?” (hlm. 204)

Itulah yang dirasakan Tina di kota yang diidamkannya ini. Selain mengejar cita-citanya, nantinya dia akan mengupas masa lalunya. Akankah masa lalu ini akan mempengaruhi cita-citanya?

Seperti Festival Series sebelumnya, novel ini juga akan mengangkat tema festival khas suatu negara. Di buku ini, kita akan mengenal Festival Bach. Karya-karya terkenal Bach ditulis oleh vokal paduan suara, termasuk Misa dalam B minor yang selalu dijadikan nomor penutup di Festival Bach. Bach itu penyanyi yang luar biasa. Dia sekolah di St. Michael di Luneburg karena bakat menyanyinya kecil tidak diragukan lagi.

Ayahnya, Johann Ambrosius Bach, adalah direktur musisi kota, mengajari Johann kecil bermain biola dan hapsichord, dan semua pamannya adalah musisi profesional. Saat berusia sepuluh tahun dan sudah menjadi yatim piatu, Bach belajar musik dengan menyalin partitur para komponis besar, termasuk karya kakaknya sendiri, Johann, yang ketika itu sudah menanggung hidup Bach. Bayangkan, dia menyalin semuanya dalam waktu enam bulan tanpa penerangan cahaya, ketika semua orang di rumah tidur.

Bach menderita kebutaan total di puncak karirnya. Dan, yang terparah, kebesaran karyanya baru dikenal publik jauh setelah kematiannya. Di zamannya, dia hanya dikenal sebagai pemain organ dan guru, tapi pengakuan atas dirinya sebagai seorang komposer besar baru terjadi di awal abad ke sembilan belas. Beethoven dan Mozart termasuk pengemar Bach, dan mereka sudah mulai membuat komposisi dengan gaya kontrapung setelah mempelajari karya Bach.

Banyak kalimat favorit dalam novel ini:

  1. Tidak ada yang tidak mungkin. (hlm. 11)
  2. Memangnya, ada berapa jenis suka di dunia ini? (hlm. 44)
  3. Bila kau sudah mendedikasikan hidupmu pada pekerjaan, maka terkadang kau harus rela jauh dari keluargamu. (hlm. 54)
  4. Peluang itu ada karena tentunya ketika kita sudah siap menerimanya. (hlm. 57)
  5. Adakalanya kita harus melupakan masa lalu dan hanya menatap ke depan. (hlm. 85)
  6. Ada hal-hal tertentu yang sebaiknya enggak dibicarakan dan dilupakan saja. (hlm. 85)
  7. Lakukan saja yang terbaik untukmu, untuk masa depanmu. (hlm. 85)
  8. Mungkin saja memang ada yang namanya keajaiban. (hlm. 202)

Beberapa sindiran halus dalam novel ini:

  1. Berburu buku di toko bukanlah pekerjaan mudah. Kita bisa terperangkap di sana selama berjam-jam. (hlm. 8)
  2. Secanggih apapun teknologi, tetap tak bisa mengalahkan rasa yang dibawakan manusia saat memainkan alat musik. (hlm. 48)
  3. Soal penghargaan, itu adalah bonus. Tapi, dorongan hati saja tidak cukup kalau tidak diimbangi dengan dorongan finansial. (hlm. 49)
  4. Takkan ada yang memberikan penilaian yang kurang baik kepadamu hanya gara-gara kamu melakukannya tanpa dibayar. Bila pendengarmu suka, mau apa lagi? (hlm. 56)
  5. Apakah karena hanya tampil di YouTube, kelas mereka tidak boleh disamakan dengan mereka yang lebih beruntung karena telah mendapatkan kontrak rekaman atau sejenisnya? (hlm. 57)
  6. Setiap orang pasti pernah merasa bosan karena melakukan sesuatu yang sama setiap hari. (hlm. 137)

Ada juga deskripsi suatu tempat yang kece. Saking penasarannya, saya sampai googling beberapa tempat itu.

Pertama,  Markt atau Marktplatz. Adalah alun-alun kota Leupzig yang sangat terkenal. Areanya begitu luas, dikelilingi bangunan-bangunan megah dengan arsitektur mulai dari gaya Gotik hingga kontemporer.

Kedua, Brauerei und der Thomaskirche. Di pelatarannya, terdapat tempat untuk duduk-duduk dengan kolam kecil panjang berair mancur yang airnya terkadang memancar agak tinggi.

Penulisnya yang merupakan komponis musik, dengan apik menyajikan alur cerita yang kental dengan nuansa musik. Kita jadi banyak tahu pengetahuan musik, terutama tentang Bach lewat tokoh Tina dalam novel ini.

Keterangan Buku:

Judul                                     : Prelude

Penulis                                 : Sam Umar

Penyunting                         : Dellafirayama, Jason Abdul

Penyelaras aksara            : Fakhri Fauzi, Lian Kagura

Penata aksara                    : Nurul M. Janna

Perancang sampul           : Fahmi Ilmansyah

Penggambar ilustrasi      : Tommy Suhartono

Penerbit                              : teen@noura – Noura Books

Terbit                                    : April 2014

Tebal                                     : 267 hlm.

ISBN                                      : 978-602-1306-18-5

 

Bocoran ilustrasi unyu dalam novel ini:

Sambil baca Prelude, cocok banget sambil dengerin ini:

http://www.youtube.com/watch?v=SrQRhZVLFI0

Cocok juga dengerin ini:

http://www.youtube.com/watch?v=REu2BcnlD34

Indonesian Romance Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/01/indonesian-romance-reading-challenge-2014/

Young Adult Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/07/young-adult-reading-challenge-2014/

New Authors Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/02/new-authors-reading-challenge-2014/

3 thoughts on “REVIEW Prelude

  1. Pingback: Daftar Bacaan Tahun 2014 | Luckty Si Pustakawin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s