REVIEW Tears in Heaven

tears in heaven

Hidup ini kan, bukan negeri dongeng. Bukan juga kisah shojo manga apa pun yang lo baca. (hlm. 316)

Kurang lebih sebulan, Nathan selalu merasakan rasa tidak nyaman di perutnya. Kondisi itu sering kali diperparah dengan demam yang tak kunjung hilang. Bahkan beberapa kali juga mengalami mimisan, sesuatu yang sudah tidak lagi dialaminya semenjak kelas 2 SD.

Namun, Nathan tidak terlalu ambil pusing dengan kondisi kesehatannya. Ia mengira penyakit itu hanyalah penyakit biasa yang akan sembuh sendiri dengan minum obat sakit maag dan parasetamol. Lagipula aklau ibunya sampai tahu, ia pasti dilarang ikut latihan basket setiap pulang sekolah.

Sebagai kapten, tentu Nathan tidak mau meninggalkan timnya di detik-detik terakhir menjelang lomba basket se-provinsi yang akan mereka ikuti. Meski dalam keadaan sakit, ia selalu memaksakan diri mengikuti setiap latihan sampai selesai.

Nathan memang berhasil membawa tim-nya mempertahankan gelar juara pertama yang mereka menangi tahun lalu. Namun, sepulang dari pertandingan final, mendadak ia mimisan lagi. Tidak seperti sebelum-sebelumnya, kali itu darah yang keluar dari hidungnya sangat banyak dan sulit berhenti.

Sore itu juga, ia dilarikan ke rumah sakit dan harus diopname selama seminggu. Pagi ini, ia baru saja diperbolehkan keluar dari rumah sakit. Namun, sebelum pulang, ia dan ibunya diminta berbisa berkonsultasi dengan seorang dokter spesialis penyakit dalam terlebih dahulu.

Setelah dokter itu membaca beberapa lembar kertas yang merupakan hasil dari tes darah yang dijalaninya, Nathan diminta keluar ruangan agar dokter itu bisa berbicara secara pribadi dengan ibunya. Detik itulah Nathan yakin ada sesuatu yang tidak beres dengan tubuhnya.

“Hasil tes darah perifer menunjukkan gambaran sel-sel blast yang seharusnya tidak ditemui pada orang normal. Jumlah leukosit dalam darahmu juga sangat tinggi. Sebaiknya kamu melakukan pemeriksaan lebih lanjut pada onkologis.” (hlm. 9)

Akhir-akhir ini, saya jadi banyak membaca buku-buku bertema sick-lit. Entah kenapa, belum ada satu pun yang menggerakkan hati sampai meneteskan air mata. Begitu juga dengan novel ini. Apa mungkin karena jalan ceritanya seragam, ditambah lagi endingnya selalu mirip. Meskipun begitu, kelebihan novel ini ada satu kejadian tak terduga yang tak terbayangkan sebelumnya. Tokoh Kayla yang disajikan mulai pertengahan novel ini menjadi sesuatu yang surprise. Benar-benar gak kepikiran siapakah sosok Kayla ini sesungguhnya.

Beberapa kalimat favorit:

  1. Ada untungnya lho punya badan pendek. Nggak kelihatan guru karena ketutup orang yang duduk di depan. (hlm. 109)
  2. Semua orang juga kemungkinan besar nggak bisa. (hlm. 113)
  3. Being strong is not about being fearless. It’s about admitting your fears and deal with it. (hlm. 189)
  4. You’re not alone, we will do this together. (hlm. 190)
  5. Setiap orang, segala sesuatunya di dunia ini punya tujuan sendiri, nggak ada yang terjadi begitu saja. (hlm. 287)
  6. Somewhere, somehow, I believe there’s somebody for everyone. (hlm. 317)
  7. Kadang kala semua hal memang tak berjalan sesuai harapan kita. (hlm. 337)

Keterangan Buku:

Judul                     : Tears in Heaven

Penulis                 : Angelia Caroline

Penyunting         : Alit Tisna Palupi

Proofreader       : Jumali Ariadinata

Desain sampul   : Levina Lesmana

Penata letak       : Landi A. Handwiko

Penerbit              : GagasMedia

Terbit                    : 2013

Tebal                     : 346 hlm.

ISBN                      : 979-780-661-8

Indonesian Romance Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/01/indonesian-romance-reading-challenge-2014/

Young Adult Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/07/young-adult-reading-challenge-2014/

New Authors Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/02/new-authors-reading-challenge-2014/

One thought on “REVIEW Tears in Heaven

  1. Pingback: Daftar Bacaan Tahun 2014 | Luckty Si Pustakawin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s