REVIEW Married Because of Allah

 married because allah

Pokoknya, anak muda ini gampang bener kesetrum sama sengatan cinta. Nggak peduli siapa pun orangnya. Mau anak begajulan hingga anak pengajian sama aja. Mudah jatuh cinta. (hlm. 119)

Dalam ilmu psikologi kita sering mendengar bahwa masa remaja adalah masa pencarian jati diri, sebab katanya remaja belum punya konsep diri, model yang tepat untuk diikuti, dan pegangan hidup untuk dipedomani. Kesimpulannya, seseorang itu menjadi baik atau buruk di masa dewasanya sangat ditentukan di masa remajanya. Kalau di masa remajanya terpengaruh gaya hidup dan perilaku negatif, buruklah perangainya. Jika di fase ini bersentuhan dengan nilai positif, baiklah sifatnya.

Tujuh persiapan pernikahan tanpa pacaran yang terangkum dalam buku ini:

  1. Luruskan niat
  2. Petakan perencanaan
  3. Matangkan ruhiyah
  4. Mantapkan ilmu berumah tangga
  5. Kokohkan bekalan fisik
  6. Enggak putus ikhtiar mapankan finansial
  7. Genapkan doa dan tawakal.

Banyak kalimat favorit bertebaran dalam buku ini:

  1. Hal-hal yang baik harus diamali dengan cara yang baik. Begitu pula cinta. (hlm. 12)
  2. Allah selalu memonitor lidah setiap kali berbicara. Tak satu ucapan pun yang diucapkan kecuali ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. (hlm. 63)
  3. Buat cewek, jagalah jiwa,raga, dan kehormatanmu. Jangan buat suamimu kelak menyesal mendapati istrinya ternyata bukanlah bidadari yang masih suci. (hlm. 111)
  4. Kesenangan di dunia ini nggak ubahnya seperti air laut. Semakin banyak diminum, akan membuat kita semakin haus. Semakin kamu mencoba menikmati kegiatan pacaranmu, semakin dahaga kamu dibuatnya. Ya, dahaga untuk merengkuh lebih banyak dosa. (hlm. 146)
  5. Menikah itu berkah, menjomblo itu perjuangan mencapai berkah. Menjomblo nggak boleh lama-lama. Nanti keburu kedaluwarsa. Ataua bahayanya, kau tergelincir ke jurang nista. (hlm. 277)
  6. Pernikahan membuat iman menjadi stabil. Bila kekencangan ada yang ngerem. Bila terlalu lembut ada yang tancap gas. (hlm. 289)
  7. Jodoh tak akan pernah tertukar. Kalau memang jodoh pasti jadi. Kalau enggak jodoh, akan terhenti dengan sendirinya. (hlm. 303)

Banyak juga sindiran halus dalam buku ini, yang paling favorit:

  1. Aktivitas pacaran dengan berbagai bungkusnya jelas-jelas ngerugiin cewek. Faktanya, pacaran telah menjadikan cewek sebagai objek eksploitasi. Cewek menjadi korban, sementara si cowok hanya menikmati kesenangan. Kalau hubungannya sampai ke pelaminan, sih mendingan, tapi kalau ‘habis manis sepah dibuang”, bagaimana? (hlm. 41)
  2. Sekufu itu lebih ke faktor agama. Bukan ke ukuran kekayaan, pendidikan, atau usia. Emang sih kalau selevel lebih baik. (hlm. 215)

Seorang jomblo berkualitas memahami bahwa masa muda hanya sekali. Waktunya sangat singkat. Tanpa terasa ia akan segera berlalu meninggalkan kita. Enggak akan pernah kembali lagi. Masa muda inilah momentumnya untuk berkarya, mengukir tinta emas sejarah dengan prestasi yang membanggakan orangtua, agama, dan negaranya.

Seorang jomblo yang berkelas akan menyibukkan diri dalam ikhtiar memperbaiki diri. Harapannya ia bisa menjadi pribadi berkualifikasi tinggi yang memiliki salimul aqidah (aqidah yang bersih), shahihul ibadah (ibadah yang benar), matinul khuluq (ahlak yang kokoh), qawiyyul jismi (jasmani yang kokoh), mutsaqqaful fikr (wawasan yang luas), haritsun ala waqtihi (tertata waktunya), munazzam fii syunihi (teratur urusannya), qadirun alal kasbi (mandiri finansialnya), dan nafiun li ghairi (bermanfaat bagi orang lain). Dengan segala kebaikan ini, malaikat akan mendoakan dan Allah berikan tempat yang istimewa di Padang Mahsyar kelak. Dengan kualifikasi ini pula, langkah menuju nikah semakin mudah, dipandu cahaya hidayah. Insya Allah.

Gimana? Masih mau berkubang maksiat dalam topeng pacaran? Atau udah lebih tertarik jadi jomblo ideologis berkualitas tinggi? (‘⌣’┐) (┌’⌣’)┌ (‘⌣’┐) (┌’⌣’)┌

Setiap manusia sudah ada jodohnya. Nama kekasih yang kelak akan mewarnai hari-hari kamu dengan pelangi kebahagiaan sudah ditulis-Nya di Lauhil Mahfuzh. Nggak seharusnya seorang muslim mengatakan belum punya calon. Akidah kita yang menjamin bahwa kita sudah punya pasangan hidup. Jauh-jauh hari sudah ditentukan. Hanya saja, sampai sekarang nama itu belum diberitahukan sama kita. Kewajiban kitalah untuk mencari siapa ‘sosok’ yang dijanjikan Allah itu. PLAKK!! ~~~(/´▽`)/

Kenapa Allah belum kasih tahu? Kenapa enggak segera dipertemukan? Sabar. Jodoh belum ketemu itu memang di sengaja-Nya. Biar hidup kita makin seru. Kan nggak asyik kalau hidup kita tanpa dinamika. Memang masalah dan cobaan hidup diciptakan untuk menjadi sarana kita berlatih, sekaligus menguji kesabaran. PLAKKK!! ~~~(/´▽`)/

Waktu dapat buku ini, rasanya kayak ditampar. Ditampar ama peri buku, judulnya seperti mengingatkan bahwa masih ada kewajiban yang harus dijalankan sebagai umat manusia, yaitu menikah. Makasih banget buat peri buku, peyuk dan ketjup basah (♥̅ ⌣ ♥̅)

“Apakah manusia itu mereka bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (Al-Ankabut: 2-3)

Keterangan Buku:

Judul                                     : Married Because of Allah

Penulis                                 : Anugrah Roby Syahputra

Penyunting                         : Leyla Imtichanah

Penyelaras aksara            : Nurhasanah

Desain sampul                   : AM. Wantoro

Penerbit                              : Noura Books

Terbit                                    : Mei 2014

Tebal                                     : 310 hlm.

ISBN                                      : 978-602-1306-22-2

Dilengkapi ilustrasi-ilustrasi cantik, berikut sedikit bocorannya:

married because allah 1 married because allah 2 married because allah 3 married because allah 4 married because allah 5

3 thoughts on “REVIEW Married Because of Allah

  1. Pingback: Daftar Bacaan Tahun 2014 | Luckty Si Pustakawin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s