REVIEW Girl Talk

girls talk

“Cinta bukan kompetisi; siapa lebih hebat dari siapa. Kalau cinta adalah semacam kompetisi, pada akhirnya nanti akan menghasilkan seorang pemenang. Dan, tentu saja, ada seseorang yang akan kalah. Kalau sudah begini, apa itu masih disebut cinta?” (hlm. 21)

Buku ini merepresentasikan kata hati enam puluh perempuan dengan tiga puluh kisah. Beragam cerita tentang kegelisahan hati para perempuan lajang di usia matang. Memikirkan cinta dan masa depan. Bukan cinta menye-menye ala ababil. Meski di setiap cerita hanya terkesan singkat dan ringan, selalu ada selipan makna yang dapat kita ambil.

Pilihan favorit saya jatuh pada tulisan Why Do People Get Married? Ini seperti kata hati saya #eaaa😀

“Aku nggak ngerti deh, kenapa orang memutuskan untuk menikah.”

“Maksudnya?”

“Alasan-alasan mereka itu loh. Benar-benar nggak masuk akal banget.”

“Kamu bakal menghabiskan seumur hidupmu mencari jawaban-jawaban yang sebenarnya nggak pernah kamu tahu. Itu buang waktu banget, kan?”

“Tapi menikah adalah keputusan sekali seumur hidup, kan? Aku harus punya alasan yang tepat kenapa aku harus menikah.” (hlm. 7-9)

Not a Competition adalah favorit plihan kedua. Buat lelaki, punya pacar dengan posisi, jabatan dan gaji bulanan yang jauh lebih tinggi bisa bikin depresi. Mereka harusnya jadi pelindung, yang men-support pacarnya. Mereka punya ego yang tinggi untuk menjadi superior ketimbang pacar mereka. Sungguh dilema bagi perempuan-perempuan lajang dengan karir mapan:

“Jangan menyalahkan dirimu sendiri hanya karena kamu menjadi perempuan yang sukses. Ini bukan sesuatu yang patut disesali. Kalau lelaki-lelaki itu nggak bisa mengapresiasi itu, ya salah mereka sendiri.bukankah seharusnya mereka merasa beruntung karena kita nggak perlu nodongin dompet mereka saat kita butuh?” (hlm. 26)

Banyak bertebaran kalimat favorit:

  1. Setiap orang punya ruang-ruang di hatinya. Tak mutlak hanya diisi oleh satu orang saja. (hlm. 5)
  2. Janganlah kamu menikah dengan seseorang yang kamu pikir bisa hidup selamanya bersamanya. Tapi, nikahlah dengan seseorang yang tanpanya kamu tak bisa melanjutkan hidup. (hlm. 7)
  3. Terkadang, ada beberapa hal yang nggak perlu kita pertanyakan. (hlm. 9)
  4. Sadar nggak sih, kalau terlalu banyak menghabiskan waktu untuk bertanya ini-itu, kita malah lelah sendiri? (hlm. 9)
  5. Dan ketika waktu yang tepat itu tiba, kamu bakal tahu kenapa Tuhan menyuruhmu menunggu. You’ll know that God did everything for a woderful reason. (hlm. 41)
  6. Kalau elo udah yakin dengan kapasitas dan kemampuan diri elo sendiri, elo nggak bakal mengkhawatirkan apapun. (hlm. 49)
  7. Cinta dan logika itu seperti pagi dan malam. Tak bisa ada berbarengan. (hlm. 51)
  8. Jatuh cinta kayak orang yang nggak pernah bisa ngebedain mana yang benar dan mana yang salah. (hlm. 51)
  9. Cinta memang datang mengetuk pintu hatiku, tapi tidak hatinya. (hlm. 53)
  10. Tiap orang dateng dalam kehidupan kita, pasti punya misi dan tujuan. Mau nyebelin seperti apa, orang-orang itu pasti punya maksud dan ngasih hikmah setelah semuanya lewat. (hlm. 135)

Banyak juga sindiran halus yang kita temukan dalam buku ini:

  1. Kamu terlalu merendahkan dirimu sendiri. Laki-laki manapun bakal bersyukur kalau bisa ngedapetin kamu. (hlm. 53)
  2. Menunggu seseorang terlalu lama tanpa ada kepastian bisa disebut kebodohan akut. (hlm. 103)
  3. Alih-alih membuat orang lain mengerti perasaan kita, membuat orang lain berhenti, bertanya-tanya tentang hal-hal yang membuat kita gerah, mengubah mereka jadi orang-orang yang tidak sering bertanya tentang hal-hal yang sensitif. Kenapa bukan kita saja yang berubah? (hlm. 171)
  4. Some things are better left spoken. Ada baiknya kita simpan sendiri karena kita tahubanget bagaimana impact-nya kalau pasangan kita tahu. Kalau itu bakal membahayakan hubungan kalian, better not to tell anything. (hlm. 177)
  5. Cinta nggak ada urusan umur sama gelar, sama status sosial, sama apapun. (hlm. 52)
  6. Hidup yang dihantui pertanyaan-pertanyaan itu sama sekali nggak nyenengin loh. Kayak malas jalan ke depan karena tahu kamu meninggalkan sesuatu di belakang, tapi kamu sudah terlanjur memacu pedal gasmu. (hlm. 81)

Di usia dewasa, biasanya seorang perempuan memiliki sahabat yang dipercaya. Segala keluh kesah akan ditumpahkan padanya. Bisa kita lihat dari beberapa novel-novel Stiletto Book. Dalam novel The Marriage Roller Coaster, kita akan menemukan Audi yang bersahabat dengan Sonya. Sedangkan dalam novel Pre Wedding Rush, ada Menina dan Agnes yang saling percaya. Kemudian ada Athaya dan Manda yang akrab dan ketika stres selalu melampiaskannya pada belanja sepatu dalam novel Geek in High Heels. Ada juga Renata dan Diana dalam novel Seribu Kerinduan.

Ketika kita menumpahkan segala unek-unek kita, meski terkadang tidak selalu mendapatkan solusi yang tepat, setidaknya hati kita plong. Masalah yang berat jika dipikul sendiri bisa menjadi bumerang, bisa-bisa kita akan stres karena keadaan.

Suka dengan gaya penulisan Lala Purwono di buku ini. Mengalir tanpa terkesan menggurui. Meski terkadang rada rancu dengan beberapa selipan bahasa Inggris.

Keterangan Buku:

Judul                                     : Girl Talk

Penulis                                 : Lala Purwono

Editor                                    : Herlina P. Dewi

Desain cover                      : Ike Rosana & Felix Rubenta

Layout isi                             : deeje

Proofreader                       : Tikah Kumala

Fotograger cover             : Titi Kharisma

Model foto cover             : Yeni Puspita

Penerbit                              : Stiletto Book

Terbit                                    : 2012 (Cetakan Kedua)

Tebal                                     : 181 hlm.

ISBN                                      : 978-602-7572-05-8

Indonesian Romance Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/01/indonesian-romance-reading-challenge-2014/

Short Stories Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/18/short-stories-reading-challenge-2014/

4 thoughts on “REVIEW Girl Talk

  1. Pingback: Daftar Bacaan Tahun 2014 | Luckty Si Pustakawin

  2. Pingback: [LOMBA BLOG] Book Addict is the New Sexy: Virus Membaca | Luckty Si Pustakawin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s