REVIEW Twiries

  twiries

Setiap individu akan bersinar dengan caranya sendiri. (hlm. 271)

Bagaimana rasanya dibanding-bandingkan? Gak enak. Kakak beradik saja tidak sama, yang kembar pun belum tentu selalu sama. Itulah salah satu pesan yang ingin disampaikan oleh dua kembar yang kebetulan sama-sama berprofesi sebagai penulis ini. Meski sama-sama menyukai bidang tulis menulis, keduanya memiliki ciri khas yang berbeda. Coba saja baca buku mereka masing-masing; Eva Sri Rahayu dalam buku Love Puzzle dan Evi Sri Rezeki dalam buku Cine Us.

Karena kembar adalah anugerah sekaligus kutukan. Sebuah perjanjian seumur hidup untuk siap dibandingkan. Orang lain mungkin menganggap itu sepele, tidak bagi mereka yang mengalaminya. Apa pun yang ada pada si kembar akan selalu dibandingkan. Seperti tak puas melihat sosok kembar sebagai satu individu yang merdeka dengan kehendak, nasib, dan takdirnya sendiri.

Seperti juga pengalaman dibandingkan dengan kakak adik, dengan saudara, dengan sahabat, dan dengan tetangga, rasanya tetap tak mengenakkan, mari berhenti membandingkan anak kembar. Mari berhenti membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Fokus pada apa yang ingin kita capai. Memang rumput tetangga selalu lebih hijau, tapi rumput punya sendiri bisa lebih berkilau.

Sejujurnya, kami tidak bisa membayangkan hidup tanpa kehadiran kembaran. Kalau boleh memilih takdir, kami akan memilih mati bersama. (hlm. 140)

Evi itu pembawaanya lebih sporty dan tomboi. Kalau Eva lebih feminim karena lembut dan ayunya. Karakter mereka saling melengkapi. Anehnya, karakter mereka kurang melekat terhadap pilihan fashion. Evi itu miss matching dan Eva penganut prinsip Harajuku, maksudnya tabrak sana-sini, benar-benar nggak nyambung. Biasanya, orang yang feminim cenderung mengerti fashion dan orang yang sporty lebih cuek. Rumus itu nggak berlaku untuk mereka.

Evi yang spontan berbanding terbalik sama Eva yang pemikir. Karena karakter pemikir itulah Evi sering meminta pendapat Eva dalam berbagai hal. Eva kadang-kadang merasa kayak kura-kura saking lambat bertindak dan Evi merasa seperti kucing saking seringnya bertindak tanpa mikir panjang alias nekat.

Kalau dianalogikan, Eva dan Evi itu seperti batu dan permen. Eva permen dan Evi batu. Eva permen yang di dalamnya batu, Evi batu yang di dalamnya permen. Evi terlihat keras dan kuat di luar, tapi lembut dan manis di dalamnya. Sedangkan Eva sebaliknya.

Kesamaan dan perbedaan mereka yang (selalu) dipertanyakan semua orang, terangkum dalam buku ini; apakah hobi mereka sama, apakah pernah bertukar sekolah, apakah pernah bertukar cowok (ups!), apakah punya telepati, dan apakah-apakah lainnya akan dikupas tuntas dalam buku ini yang disajikan dengan kemasan menarik.

Kenapa menarik?

  1. Buku ini ditulis oleh dua orang sekaligus, baik dari sisi ‘kami’ sebagai peleburan keduanya, ada juga dari masing-masing sisi.
  2. Akan menemukan scene komik-komik unyu. Dua jempol deh buat ilustratornya!😉
  3. Ada pengetahuan seputaran anak kembar
  4. Banyak pesan moral yang akan kita dapatkan. Misalnya, definisi cantik yang tertulis di halaman 35-40. Suka banget ama pesan moral di halaman ini.
  5. Ditulis dengan gaya bahaya personal literature. Jadi ya kayak intip buku diary seseorang😀

Beberapa selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Dan orang yang lagi galau biasanya senang ada yang memperhatikan. (hlm. 201)
  2. Cewek mana sih yang nggak mau direbutin dua cowok keren? (hlm. 216)
  3. Orang bilang, pacar pertama bukan berarti cinta pertama. (hlm. 220)
  4. Biar jomblo, harus tetap sombong. Itu prinsip. Sekalian menguji, cowok itu serius suka atau cuma khilaf? (hlm. 226)
  5. Cewek mana pun suka diperjuangkan; kalau ada cowok yang mengejar mati-matian, membuat cewek merasa sangat dicintai dan diinginkan. (hlm. 228)
  6. Hidup tidak pernah mudah. Mungkin itulah sejatinya sebuah petualangan. Penuh gelombang dan badai, memenuhi hasrat kita agar tidak pernah bosan. (hlm. 237)

Hal yang agak mengganggu adalah dari segi teknis. Pertama, jenis font yang berubah-ubah agak bikin puyeng pas baca. Kemudian soal cover, warna hijaunya udah cucok banget, tapi kenapa baju twiries hijau trus background-nya juga hijau? Jadi ya agak tumpang tindih, alhasil tulisan endorsement di bagian bawah dengan font warna putih sekilas hampir tak terbaca. Lainnya udah bagus, bahkan menurut saya justru inilah buku terbitan de TEENS yang paling menarik dari segi isi, bahkan nyaris tanpa typo😀

Setiap kita ingin punya tempat untuk pulang. Pastinya ke suatu tempat bernama rumah. Apa itu rumah? Apakah sebuah kata? Apakah itu sebuah kota? Seandainya ya, ketika suatu kota telah berubah, tak ada lagi ruang-ruang bermain, tak ada lagi sudut-sudut nyaman, dan tak ada lagi orang-orang yang kita kenali, apakah kota itu masih akan kita sebut rumah?  Apakah rumah itu berbentuk bangunan? Seandainya ya, ketika bangunan itu hancur, digusur, terjual, terbakar, apakah bangunan itu masih akan kita sebut rumah? Apakah rumah itu adalah seseorang? Bisa orang tua, pasangan, atau saudara. Seandainya ya, bukankah setiap anak niscaya akan meninggalkan orantuanya? Pasangan bisa saja mengkhianati kita, dan saudara akan membentuk keluarga kecilnya sendiri.

Kakak beradik, suatu hari nanti akan saling meninggalkan. Tapi ketika salah satu di antara kita pergi, terluka, dan ingin pulang, salah satunya akan membuka pintu kembali, melindungi. Apa yang disebut rumah adalah hati. Tempat pulang adalah hati yang saling mencintai, hati yang penuh maaf, dan hati yang penuh penerimaan. Dan tentu saja, tempat pulang yang sejati adalah Tuhan.

Keterangan Buku:

Judul                                     : Twiries: The Freaky Twins Diaries

Editor                                    : Ainini

Komik & ilustrator            : Zamal Matian

Inker                                     : Anton Gustian

Desainer cover                  : Ann_Retiree

Layouter                              : Fitri Raharjo

Pracetak                              : Endang

Penerbit                              : de TEENS – Diva Press

Terbit                                    : Mei 2014

Tebal                                     : 303 hlm.

ISBN                                      : 978-602-255-577-3

Bocoran potongan komik dalam buku ini:

twiries 1 twiries 2 twiries 3 twiries 4 twiries 5 twiries 6 

 

Inilah sebabnya kenapa gosip cewek selalu mudah bocor x)

twiries 7 twiries 8

 

Coba tebak, mana Evi dan mana Eva?!?😀

twiries 9 twiries 10

TwiRies: The Freaky Twins Diaries Book Trailer

Book on Cam – Eva Sri Rahayu – Evi Sri Rezeki (Bandung) | Novel Twiries (deTeens, 2014)

 

 

 

One thought on “REVIEW Twiries

  1. Pingback: Daftar Bacaan Tahun 2014 | Luckty Si Pustakawin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s