REVIEW Point of Retreat

point of retret

Hati seorang laki-laki bukanlah hati jika tak dicintai seorang perempuan. Hati seorang perempuan bukanlah hati jika tak mencintai seorang laki-laki. Namun, hati laki-laki dan perempuan yang saling jatuh cinta bisa lebih menyulitkan daripada tidak punya hati. Karena paling tidak, kalau kau tidak memilikinya, hatimu tidak bisa mati saat tercabik. (hlm. 196)

Beberapa tahun terakhir sungguh bukan rentang masa yang Will sukai. Sudah lebih dari tiga tahun berlalu, sejak kedua orangtuanya meninggal mendadak dan membuatnya harus membesarkan adiknya seorang diri. Keputusan Vaughn –mantan Will- mengakhiri jalinan kasih mereka yang sudah berjalan dua tahun, tak lama setelah kematian orangtuanya, sama sekali tidak menolong. Kepedihannya makin sempurna, saat Will terpaksa melepas beasiswanya. Keluar dari universitas dan kembali ke Ypsilanti untuk menjadi wali adiknya, Caulder merupakan salah satu keputusan terberat yang pernah diambil, namun sekaligus keputusan terbaik.

Setiap hari sepanjang tahun berikutnya, Will jalani dengan belajar membiasakan diri terhadap segalanya; membiasakan diri dengan patah hati, membiasakan diri hidup tanpa orangtua dan menjalani hal-hal mendasar menjadi orangtua, sekaligus sebagai tulang punggung satu-satunya untuk keluarga. Jika sekilas balik, rasa-rasanya Will tidak akan sanggup menjalani semua itu tanpa Caulder. Hanya dialah yang membuat Will sanggup bertahan. Syukurlah Will memiliki kasih seperti Layken yang bernasib sama dengannya; sudah tidak memiliki orangtua dan mengurus adik.

“Kalian sama-sama tidak memiliki ibu atau ayah untuk dimintai nasihat mengenai sebuah hubungan. Kalian sama-sama tidak punya siapa pun untuk jadi tempat bersandar dan menangis bila keadaan terasa berat, padahal keadaan pasti bertambah berat. Tak seorang pun dari kalian punya seseorang untuk dituju seandainya ingin berbagi kesenangan, kebahagiaan, atau perasaan sakit hati.

Kalian sama-sama berada di pihak yang tidak beruntung jika dihadapkan pada aspek cinta ini. Kalian berdua hanya memiliki satu sama lain, dan oleh karenanya, kelak kalian harus berusaha lebih keras lagi membangun dasar yang kokoh bagi masa depan kalian bersama. Kalian bukan hanya menjadi cinta bagi satu sama lain; kalian juga menjadi satu-satunya kepercayaan diri bagi satu sama lain. (hlm. 44)

Maaakkkkk….baru di halaman awal aja bikin mrebes mili. Surat Julia, ibu Layken ini sungguh bikin nyesek. Julia tidak hanya membuat surat biasa untuk Layken dan Will, tapi juga menuliskan beberapa hal di guntingan-guntingan kertas lalu melipatnya menjadi bintang. Isinya berupa kutipan-kutipan inspirasional, lirik yang menginspirasi, atau sekadar nasihat bagus dari orangtua. Julia berpesan agar Layken dan Will membuka dan membaca pesan-pesan dalam bintang ini jika saat benar-benar membutuhkannya. Saat mereka mengalami hari yang buruk, jika mereka bertengkar, ataupun sekadar butuh sesuatu untuk mendongkrak semangat. Mereka boleh membuka satu bintang bersama-sama, boleh juga sendirian. Julia hanya ingin ada sesuatu yang bisa Layken dan Will jadikan pembangkit semangat jika dan ketika mereka membutuhkannya.

Nyesss…pesan wasiat Julia ini benar-benar #JLEBB. Langsung keinget almarhumah mama yang dulunya setiap saya ulang tahun pasti dikasih semacam surat. Semuanya sampai sekarang masih saya simpan :’)

“Seorang pemuda boleh-boleh saja mengatakan cinta pada gadis yang dicintainya sampai mukanya biru. Kata-kata itu tidak berarti apa pun bagi seorang perempuan bila kepalanya dipenuhi keraguanan. Kau harus menunjukkan cintamu kepadanya.” (hlm. 186)

Banyak kalimat favorit dalam buku ini:

  1. “Cinta itu hal terindah di dunia. Sayangnya, cinta juga salah satu yang paling sulit dipertahankan di dunia, sekaligus yang paling mudah dicampakkan.” (hlm. 43)
  2. Terkadang, dua orang harus berpisah dahulu untuk menyadari betapa mereka butuh untuk bersatu kembali. (hlm. 127)
  3. Cara untuk mendapatkan fakta adalah dengan mengajukan pertanyaan. (hlm. 130)
  4. Mungkin memang sebagian dari hal-hal itulah yang menjadi alasan kita saling jatuh cinta. Lantas, apa salahnya? Kenapa itu penting? Cinta ya cinta saja. (hlm. 193)
  5. Hidup itu keras. Dan akan semakin keras kalau kau bodoh. (hlm. 195)
  6. Hubungan cinta tidak selalu berakhir mulus. Petiklah pelajaran dari orang yang pernah mengalaminya, jangan sampai cintamu terlepas dari genggaman. Berjuanglah untuknya. (hlm. 202)
  7. Kadang-kadang dalam hidup ini terjadi hal yang tidak kita rencanakan. Yang bisa kita lakukan sekarang adalah meresapi masalah ini dan mulai memetakan rencana baru. (hlm. 207)

Banyak juga sindiran halus dalam novel ini:

  1. Anak perempuan memang lebih cepat menginjak masa pubertas dibandingkan anak laki-laki. (hlm. 17)
  2. Andai semua orang cukup sering menggunakan kata-kata kasar, tidak akan lagi dianggap sebagai makian dan pasti tidak ada lagi yang merasa tersinggung oleh kata-kata itu. (hlm. 21)
  3. Terkadang sulit membuat garis batas antara menjadi penegak hukum dan menjadi saudara. (hlm. 28)
  4. Sebelas itu umur penting untuk punya pacar pertama. (hlm. 30)
  5. Kekurangan bila berpacaran dengan orang yang bersahabat, tidak ada lagi rahasia. (hlm. 31)
  6. Kadang-kadang cewek suka ditanya dulu, bukan disuruh-suruh. (hlm. 33)
  7. Pernahkah seseorang memberitahumu bahwa ingin tahu urusan orang itu perbuatan yang tidak sopan? (hlm. 57)
  8. Sesekali orang pasti mengalami satu hari yang menyebalkan. (hlm. 97)
  9. Menangis sesekali kan tidak apa-apa. (hlm. 98)
  10. Orang muda seumuranmu perlu terus berada di garis depan kalau menyangkut media sosial. (hlm. 115)
  11. Tindakanmu menggertak orang yang lebih lemah, itu hanya akan menunjukkan akan jadi manusia menyedihkan macam apa dirimu kelak. (hlm. 316)

Dari sekian tokoh, saya menjatuhkan pilihan pada Kiersten. Tingkahnya yang polos dan apa adanya meski terkesan sok dewasa ini sungguh menggemaskan. Penjabarannya tentang kupu-kupu di halaman 21 unik juga, saat minta bayaran kepada Will agar bisa berbaikan dengan Laken, belum lagi impiannya sesaat setelah kecelakaan yang ingin makan daging, pokoknya Kiersten ini tidak seperti remaja berumur sebelas tahun pada umumnya. Benar-benar kece!😀

Oya, Grandpa-nya Will juga lucu. Bayangkan seseorang yang sudah lanjut usia, sibuk main twitter. Bayangkan betapa bahagianya beliau ketika presiden mem-follownya. Belum lagi ceramahnya kepada Will tentang betapa pentingnya anak muda memiliki akun-akun media sosial. Kece ih Granpa ini😉

Dan tokoh yang paling menyebalkan tentunya Vaughn, si mantan Will ini. Meski cuma nongol beberapa kali di novel ini, tapi rasanya pengen kepruk. Ada, ada banget manusia macam Vaughn ini dalam kehidupan nyata x)

Hidup tanpa orangtua di usia muda memang tidak mudah. Belum lagi ditambah beban sebagai penopang hidup. Sama halnya seperti yang dialami Will dan Layken yang hidup tanpa orangtua ini, saya juga harus menghidupi adik-adik, tiga pula x) #NulisReviewIniSambilMrebesMili #MalahCurcol

Novel ini terdiri dari dua BAB. Di bagian bab yang kedua sungguh mengiris-ngiris, terutama di bagian Lake alias Layken saat mengalami kecelakaan mobil. Aduh, ini mirip banget ama kejadian yang saya alami beberapa bulan yang lalu. Ketika anggota keluarga kita mengalami kecelakaan, rasa sakitnya pasti akan menjalari ke relung jiwa kita juga. Ada beberapa adegan yang mirip banget saat adik mengalami kecelakaan seperti yang dialami Laken dalam novel ini, terutama pada halaman 283, 291, dan 320. #SpoilerAkut

Pokoknya novel ini juara banget. Sukses bikin mrebes mili. Ah, saya yang lebay karena ceritanya mirip ama kehidupan sehari-hari atau memang karena isi ceritanya memang mengiris hati ya? Bagaimana dengan kamu? :’)

Andai aku tukang kayu, akan kubuatkan kau jendela menuju jiwaku. Tapi akan kubiarkan jendela itu tertutup dan terkunci, agar tiap kali kau hendak melongok melaluiny, yang akan kau lihat hanyalah pantulanmu sendiri. Kau akan lihat bahwa jiwaku adalah pantulan dirimu. (hlm. 72)

Keterangan Buku:

Judul                     : Point of Retreat

Penulis                 : Colleen Hoover

Alih bahasa         : Shandy Tan

Editor                    : Ambhita Dhyaningrum

Desain sampul   : Edward Iwan Mangopang

Setting                  : Anton M.

Penerbit              : Gramedia Pustaka Utama

Terbit                    : 2013

Tebal                     : 352 hlm.

ISBN                      : 978-979-22-7876-7

 

Young Adult Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/07/young-adult-reading-challenge-2014/

New Authors Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/02/new-authors-reading-challenge-2014/

7 thoughts on “REVIEW Point of Retreat

  1. reviewnya sangat sangat…
    jadi pengen banget baca nih novel aaaaa :g
    suka sama nih kutipan. suka banget, entah kenapa :3 “Tindakanmu menggertak orang yang lebih lemah, itu hanya akan menunjukkan akan jadi manusia menyedihkan macam apa dirimu kelak. (hlm. 316)”

  2. Pingback: Daftar Bacaan Tahun 2014 | Luckty Si Pustakawin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s