REVIEW Everlasting

everlasting

“Kamu tahu nggak sih, gimana rasanya kalau kamu naksir seseorang, terus ternyata orang yang kamu taksir itu nggak membalas perasaan kamu?” (hlm. 234)

Apa sih kebahagiaan itu? Kalau pertanyaan ini diajukan ke seluruh penduduk bumi, boleh jadi kita akan mendapatkan tujuh miliar jawaban berbeda.

Adalah Kayla Maharani Ilyas, yang kerap dipanggil Kayla ini, baginya kebahagiaan adalah mencium aroma yang menyenangkan, seperti aroma bunga, rumput yang baru dipotong, aroma bakery atau parfum yang biasa dipakai Aidan. Waktu berangkat ke kantor naik bus, ternyata busnya lumayan kosong dan disebelahnya duduk cowok ganteng yang tampangnya mirip Aidan. Melihat Aidan tertawa, suara tawanya renyah. Dan kalau Aidan tertawa, matanya nyaris terpejam, bibirnya terbuka memperlihatkan barisan gigi yang putih cemerlang, dan sepasang lesung pipit muncul begitu saja seolah ada seseorang di sampingnya yang selalu siap memasangkannya di pipi. Mengamati gerak-gerik Aidan itu dan menuliskannya di sebuah buku catatan rahasia, semacam diary yang berisi fakta-fakta yang berhasil Kayla kumpulkan tentang diri Aidan selama enam bulan terakhir.

Aidan, Aidan dan Aidan hanya nama itu yang ada di kepala Kayla yang sudah mabuk kepayang. Tapi hidup tak semulus jalan tol. Pertama, Aidan itu bosnya. Memang bukan atasannya langsung, tapi ia mengepalai departemen dimana Kayla bekerja. Interaksi mereka bersifat formal dan kebanyakan terjadi di ruang rapat, itu pun kalau bisa dibilang interaksi karena biasanya hanya berjalan satu arah. Kenyataan itu saja sudah menyumbang setidaknya 60% dari seluruh kerumitan. Itu biasa diibarakan seorang gadis biasa naksir seorang pangeran. Butuh keterlibatan ibu peri dan campur tangan nasib baik untuk bisa mewujudkannya. Karena hal-hal yang disebutkan barusan tergolong divine intervention, pilihan apa yang tersisa untuknya?

Kedua, Kayla benar-benar berada di luar zona nyamannya. Selama ini pacar-pacarnya adalah teman sekolah atau teman kuliah. Kurang lebih seumuran, bukan sepuluh tahun lebih tua. Lagi pula, saat seseorang berumur enam belas tahun, rasanya pria yang sudah dua puluh enam tahun itu kelihatan tua sekali ya? X)

Ketiga, Kayla bukan satu-satunya orang yang naksir Aidan. Yang membuatnya semakin parah adalah saingannya itu tak lain adalah para seniornya sendiri. Dan terus terang saja, menurut Kayla persaingannya pada level ini sudah mencapai tahap tidak masuk akal dan cenderung gila. Kayla sampai syok dibuatnya. Mereka menatap Aidan dengan semacam kebuasan di mata-mata be-eye liner tebal ini. Mengingatkan Kayla pada burung-burung nasar yang sedang mengintai mangsanya. Oke, mungkin analogi itu sangat ekstrem, tapi begitulah penggambaran Kayla terhadap para seniornya itu.

“Siapa pun yang mengatakan waktu bisa menyembuhkan semua luka, orang itu pasti belum pernah mengalaminya.” (hlm. 7)

Kayla adalah representasi perempuan lajang matang masa kini; menginginkan pasangan yang tidak hanya tampan tapi juga mapan. Hal yang lumrah jika kebanyakan perempuan memimpikan ini. Tapi perempuan terkadang lupa, bahwa sesuatu yang sempurna belum tentu yang terbaik untuk kita. Itulah yang dialami Kayla. Saking terobsesinya ingin mendapatkan Aidan, dia menempuh segala cara; menyakiti diri sendiri, nekat dan mempermalukan diri sendiri, mencurahkan perhatian sampai melebihi kewajaran. Kemudian berdoa, berharap, berkhayal, mengirimkan getaran positif.

Aku rasa nggak perlu waktu selama itu untuk jatuh cinta. Aku jatuh cinta kepadanya bahkan sebelum aku menyadari kalau aku jatuh cinta. Aku selalu merasa ingin menghabiskan waktuku bersamanya. Aku merasa bahagia hanya dengan berada di dekatnya, melihatnya, menyentuhnya atau sekadar mendengar suaranya. Keberadaannya membuatku hidupku jauh lebih berharga. Aku bangun setiap hari dan siap menghadapi dunia karena aku tahu dia menjadi bagian di dalamnya. Bagaimana mungkin aku menyingkirkan cinta seperti itu? (hlm. 255)

Dari awal, ketimbang Aidan si tampan mapan, saya malah kepincut ama Dylan yang selalu tampak unyu. Kalo Kayla nggak mau, mendingan juga Dylan buat aku… #ngarep ( ʃ⌣ƪ)

Beberapa kalimat favorit dalam novel ini:

  1. Kata orang kita cuma kesempatan satu kali untuk memberikan kesan pertama. (hlm. 15)
  2. Power bisa sangat mematikan di tangan orang yang salah. (hlm. 15)
  3. Keluarga adalah akar dari segalanya. (hlm. 119)
  4. Elo harus cari kebahagiaan lo sendiri. Gue rasa kalau lo bahagia mungkin lo bisa lebih menghargai orang lain. (hlm. 227)

Banyak sindiran halus dalam novel ini:

  1. Sekarang saatnya perempuan mengambil inisiatif dan memutuskan sendiri apa yang terbaik untuk mereka. (hlm. 11)
  2. Entah bagaimana populasi laki-laki jadi menciut tiba-tiba. (hlm. 13)
  3. Cewek mana sih yang nggak tertarik mendengar apayang sedang diobrolin cowoknya? (hlm. 14)
  4. Perempuan memang kompleks. Tapi jangan menyerah wahai kaum Adam. We are a lot of fun too. (hlm. 21)
  5. Cewek mana sih yang tidak suka dipuji? (hlm. 27)
  6. Perempuan yang beruntung memiliki bagian-bagian tubuh bagus kadang cenderung exhibionist. Cermin saja tidak cukup. Semua orang harus tahu. (hlm. 63)
  7. Banyak persoalan untuk dipikirkan, tak perlu mengundang satu persoalan baru lagi. (hlm. 77)
  8. Kecepatan perempuan dalam memproses hal-hal penampilan sangat menakjubkan. Dengan sekali sapuan mata, mereka bisa menilai kecantikanmu, menaksir berapa harga sepatumu, mengenali apakah tasmu asli atau tiruan, bahkan menghitung berapa jerawat di wajahmu. Hanya dengan sekali sapuan mata. (hlm. 109)
  9. Apa yang membuat para laki-laki ini mendapat hak istimewa untuk menyakiti kaum perempuan? Bagaimana kalau keadaan ini dibalik? Apa pikir mereka bisa bertahan seperti kami? Meskipun secara fisik mereka lebih kuat, tapi belum tentu mereka bisa bertahan menghadapi luka emosional seperti ini. (hlm. 234)

Manusia tanpa sadar memiliki kalimat jimat yang sering diucapkan berulang. Saya punya beberapa kalimat yang tanpa sadar sering terucap berulangkali, menyadarinya karena akhirnya ditiru murid-murid unyu; “Jangan kayak orang susah”. Begitu juga dengan Kayla, di saat hatinya tak karuan, kalimat “Saus kacang!” akan meluncur dari bibirnya secara spontan!😀

Nyaris tanpa typo, cuma nemu satu: Tania (hlm. 171) – harusnya Tanya. Ada beberapa hal yang agak mengganjal seperti di halaman 220 saat Pira ikut ke pesta tunangan Aidan dan Emu, padahal di halaman 210 disebutkan jika Emi hanya mengundang keluarga dan teman dekat saja. Kalau Kayla dan teman-teman sekantornya wajar jika diundang karena mereka adalah teman-teman Aidan. Pira?

Meski ada adegan amnesia (berasa kayak sinetron) menyukai buku ber-cover biru ini yang mempunyai tagline: Cinta tak akan pernah lupa. Langsung habis sekali baca😉

Keterangan Buku:

Judul                     : Everlasting

Penulis                 : Ayu Gabriel

Editor                    : Herlina P. Dewi

Proofreader       : Tikah Kumala

Desain cover      : Teguh Santosa

Layout isi             : Deeje

Penerbit              : Stiletto Book

Terbit                    : 2014

Tebal                     : 330 hlm.

ISBN                      : 978-602-7572-25-6

Indonesian Romance Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/01/indonesian-romance-reading-challenge-2014/

New Authors Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/02/new-authors-reading-challenge-2014/

Young Adult Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/07/young-adult-reading-challenge-2014/

Dapatkan buku ini di toko buku online Bukupedia

http://www.bukupedia.com/id/book/id-32-85349/novel-fiksi-cerpen/everlasting-cinta-tak-akan-lupa.html

7 thoughts on “REVIEW Everlasting

  1. Pingback: Daftar Bacaan Tahun 2014 | Luckty Si Pustakawin

  2. Luckty, makasih udah meluangkan waktu dan pikiran untuk menulis review ‘Everlasting’. Rasa romannya ketangkep banget deh. Semoga kamu bisa cepet ketemu dengan Dylan-mu sendiri (nama kamu mengandung arti keberuntungan kan, jadi lihat aja nanti)

  3. Pingback: [LOMBA BLOG] Book Addict is the New Sexy: Virus Membaca | Luckty Si Pustakawin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s