REVIEW Ada Surga di Rumahmu

ada surga di rumahmu

Cita-citamu tinggi. Mungkin sekarang kau belum menyadarinya. Tapi, suatu saat kau pasti tahu. Jangan jadi orang yang menggagalkan cita-citamu sendiri. (hlm. 43)

Ramadhan adalah tujuh bersaudara. Raniah, Ramadhan, Raihan, Raziq, Ruzain, Rifqi, dan Raudah. Bayangkan betapa riuhnya kehidupan Ramadhan dan saudara-saudaranya. Padahal mereka hanya menumpang di rumah kakek nenek mereka. Berbekal seadanya, Abuya dan Umi memutuskan pindah dan ‘membangun’rumah sendiri yang dulunya adalah kandang ayam. Demi membuang ‘aroma’ bulu ayam yang masih menempel, Umi tidak mematikan tungku agar wangi pandan ‘mengusir’ aroma bulu ayam tersebut.

Ridha Allah itu adalah karena ridha orangtua. (hlm. 54)

Saya percaya banget dengan kutipan di atas. Sehebat apa pun, sekeras apa pun atau segigih apa pun kita dalam melakukan sesuatu, jika tanpa ridha orangtua niscaya akan sia-sia. Sebaliknya, jika kita melakukan sesuatu yang orang lain meremehkan atau terkesan mustahil, jika mendapat ridho dari orangtua, insyallah Allah pasti akan melancarkannya.

Begitu pula dengan perjuangan Ramadhan. Kisahnya yang serba hidup dalam keterbatasan materi tapi kaya iman dengan ridho baik dari Abuya maupun Umi. Membaca kisah Ramadhan ini mengingatkan saya akan keponakan yang juga memiliki saudara banyak seperti Ramadhan. Ramadhan justru lebih beruntung masih memiliki Abuya dan Umi yang lengkap dan menuntunya danjuga saudara-saudaranya sampai dewasa. Keponakan saya ini punya adik banyak, ditinggal Abi-nya yang meninggal karena kecelakaan. Adik-adiknya cukup banyak seperti saya, ada empat. Entah kenapa, setiap melihat anak yatim hati langsung terenyuh. Padahal saya juga yatim :’)

Banyak kalimat bertebaran dalam novel ini:

  1. Di mana ada kemauan, di situ ada jalan. (hlm. 19)
  2. Kalau sampai sekarang belum juga dibukakan jalan, berarti mungkin kemauannya yang kurang kuat, doanya yang kurang kuat, atau mungkin keduanya. (hlm. 19)
  3. Kita berbaik sangka saja kepada Allah. (hlm. 32)
  4. Tidak selamanya kita selalu bisa bersama. Ada masanya kita berpisah. (hlm. 32)
  5. Kalau kamu ikhlas mencari ilmu, ilmu yang akan datang kepadamu. (hlm. 40)
  6. Takut itu biasa, hadapi saja. (hlm. 42)
  7. Beranilah kau bertanya. Berani menjawab. Ilmu itu dekat dengan orang-orang yang berani. (hlm. 45)
  8. Lebih baik lapar di dunia, ketimbang di akhirat. (hlm. 66)
  9. Pikiran bisa menjadi doa. (hlm. 70)
  10. Tidak ada yang perlu dibalas kalau kita tidak sakit hati. (hlm. 115)
  11. Tidak ada yang bertahan lama kalau kauletakkan di atas kebohongan. (hlm. 126)
  12. Jangan pernah kau lupakan dari mana kau berasal. (hlm. 128)
  13. Jangan lakukan dosa besar yang tak bisa kau pertanggungjawabkan di hadapan Allah. (hlm. 155)

Beberapa sindiran halus dalam novel ini:

  1. Kalau kau ingin tahu kita ini miskin atau kaya, coba kau hitung berapa banyak yang Tuhan berikan pada kita yang tidak bisa kita bayar dengan uang. (hlm. 75)
  2. Percuma bicara dengan orang yang hanya memikirkan diri sendiri. Ujung-ujungnya selalu mau menang sendiri. (hlm. 153)
  3. Beberapa orang memang belum terlalu mengerti betapa berharganya seorang ibu. (hlm. 210)

Tema keluarga selalu bikin hati terenyuh. Bagian yang bikin mrebes mili adalah di halaman 33-38 saat Ramadhan dan Raniah bersusah payah mengumpulkan recehan demi recehan untuk dibelikan setengah kilo gula untuk Umi. Di perjalanan menuju rumah, getek yang mereka tumpangi bocor dan nyaris menghanyutkan mereka. Gula berharga tadi hanyut terbawa air sungai :’)

Tidak hanya membahas tema keluarga, novel ini juga membahas tentang cita-cita dan jodoh. Bagaimana kegigihan Ramadhan sedari kecil berjuang menuntut ilmu dengan segala keterbatasan yang ada. Begitu juga dengan kisah cintanya yang selalu mendapat ‘batu sandungan’. Percayalah, bahwa dibalik ujian yang berat, Tuhan selalu menghadiahkan sesuatu yang terbaik untuk kita.

Selain itu, poin lebih dari buku ini adalah mengangkat budaya Palembang termasuk bahasanya. Yang agak membingungkan cuma satu, terkadang diceritakan Ramadhan sebagai orang pertama tapi tak jarang juga dijadikan orang ketiga.

Sesungguhnya surga itu tidak perlu jauh-jauh kita mencarinya. Surga adalah rumah kita. Saya pun juga merasakannya. Sejauh-jauhnya merantau, hal yang paling dirindukan adalah rumah dan keluarga. Bagi saya, surga adalah melihat kebahagiaan adik-adik. Bagaimana dengan surgamu?😉

Keterangan Buku:

Judul                                     : Ada Surga di Rumahmu

Penulis                                 : Oka Aurora

Penyunting                         : Laura Ariestiyanty

Penyelaras aksara            : Nunung Wiyati

Penata aksara                    : Nurul M. Janna

Desain sampul                   : Fahmi Limansyah

Penerbit                              : Noura Books

Terbit                                    : Juni 2014

Tebal                                     : 232 hlm.

ISBN                                      : 978-602-1306-37-6

Dapatkan buku ini di toko buku online Bukupedia

http://www.bukupedia.com/id/book/id-32-85648/novel-fiksi-cerpen/ada-surga-di-rumahmu.html

Indonesian Romance Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/01/indonesian-romance-reading-challenge-2014/

32 thoughts on “REVIEW Ada Surga di Rumahmu

  1. Pingback: GIVEAWAY Ada Surga di Rumahmu | Luckty Si Pustakawin

  2. Sejujurnya aku kurang paham dan bisa kalo disuruh mengomentari sebuah review karena aku sendiri masih bingung kalo harus disuruh me-review sebuah karya. aku masih belajar. tapi kalo buat aku yang belum bisa mereview dengan baik, ulasan di atas bisa aku pahami dengan mudah.
    Lalu tulisan kakak: Entah kenapa, setiap melihat anak yatim hati langsung terenyuh. Padahal saya juga yatim :’) Mungkin aku bisa menjawab pertanyaan kenapa itu. Kakak merasa terenyuh melihat anak yatim karena kakak sudah mengalami hal yang sama. Kakak sudah tahu bagaimana rasanya kehilangan orang paling berharga dalam hidup kakak. Jadi melihat mereka, hati kakak seolah melihat diri kakak sendiri.

    Nama: Insan Gumelar Ciptaning Gusti
    Akun twitter: @san_fairydevil
    Kota Tinggal: Jember, Jawa Timur

  3. Ngenes ya kalo sampai harus berumah di bekas kandang ayam, mba. :’) Karena aku ngrasain pun dulu pernah kan rumahku deket sama kandang tetangga sebelum direhab. Kadang ayamnya suka masuk2 ke rumah. Jadi Ramadhan ini tokoh fiksi Ust. Al Habsy ya, mba? Subhanallah bisa jadi orang sukses seperti sekarang. Pasti perjuangannya penuh liku. Salut sama orang seperti dia.

  4. kutipan kalimat disitu selalu aku sugestiin untuk aku sendiri, hampir 90% kalimat2 itu sebagai penyemangat, sadar diri untuk aku.
    “Kalau sampai sekarang belum
    juga dibukakan jalan, berarti
    mungkin kemauannya yang
    kurang kuat, doanya yang
    kurang kuat, atau mungkin
    keduanya. (hlm. 19)” —> ini kalimat andalan aku hehe

    terus ini setting nya palembang ya,? aku aseli palembang nian/? wkwk

  5. Subhanallah..
    Alhamdulillah saya masih diberi Allah rezeki dan hidup berkecukupan.
    Ramadhan adalah sosok yang kuat ya. Pengen baca lanjutannya,

    Nama: Marisa Ulfa Vera
    twitter: @ulfavera_marisa
    kota ; Metro, Lampung

  6. Ihh, pengen bukunya……. terus mau difilmkan lagii…… pengen bangeeeeeeetttttt………
    reviewnya bikin penasaran terus…. salut buat mbak Luckty ;D
    Semoga menang,semoga menang……. >.<

  7. Bagus bangettt,,,, banyak kutipan yang menyindir saya, seperti “Kalau kau ingin tahu kita ini miskin atau kaya, coba kau hitung berapa banyak yang Tuhan berikan pada kita yang tidak bisa kita bayar dengan uang” serasa degggg…..
    sukses terus buat novelnya ya..semoga ada lanjutan kedua dari novel ini🙂

  8. Wah, review yang detail. Tak hanya mengulas sisi kelebihan dan kekurangan buku, tapi juga dilengkapi dengan kutipan bakan “sindiran-sindiran” di dalamnya. Pasti jeli nih mengamatinya. Jadi klop. Buku keren direview orang keren. ^_^

  9. Cerita seperti inilah yang mulai hilang di negeri kita. Cerita yg mengangkat pesan moral yg baik seperti ini sering tergantikan dengan kehidupan hedonistik yg serba wah.. Secara tak sadar akhirnya merusak moral bangsa,

    Dua jempol untuk yg nulis dan yang review!! Keep reading keep sharing.

    Hidup pencinta buku!!!

  10. good job mbak Luckty🙂 suka saat baca reviewannya. semakin penasaran dg isi keseluruhan novel ini karna kata-katanya itu loh😀 apalagi tema yang di angkat dari novel ini

  11. Iyaa setuju banget kalo rumah itu surga kita. Sejelek-jeleknya rumah kita, apabila didalamnya terdapat cinta pasti akan menyejukkan hati dan membuat kita betah berlama-lama menghabiskan waktu bersama orang-orang di dalamnya🙂

  12. saat idul fitri kemarin kami menyempatkan silaturahmi ke rumah saudara. seorang kyai dg 6 orang anak yg hidup sederhana. beliau mengajarkan bahwa niatkan mendidik anak karena ibadah, menyekolahkan karena ibadah. dan kini 2 anak mereka telah menjadi hufadz. hidup sederhana dg anak2 yg baik dan mulia, orang tua yg mengutamakan akhlak keluarga, serasa ada surga di rumah mereka. cocok dg buku ini

  13. aku suka banget sama genre Novel yang kaya gini. bikin hati terenyuh. novel ini benar-benar mengingatkan saya untuk selalu bersyukur kepada Allah. jika saya dalam posisi seperti Ramadhan, saya tidak tahu apakah saya masih kuat atau tidak menanggung beban yang sedemikian sulitnya. tetapi Allah selalu memberikan kemudahan dibalik kesulitan itu sendiri. tetapi itulah surga bagi mereka. kehidupan sederhana,dan tentram.
    ini benar-benar novel yang sangat inspiratif^^

  14. review sdikit nih dari kata” mba admin x ca’em😀
    Sesungguhnya surga itu tidak perlu jauh-jauh kita mencarinya. Surga adalah rumah kita. ternyata ada surga yg lbih deket dari pada rumah kita. surga yg paling dekat adalah dada / hati kita masing”.
    ceritanya menginspirasi banget nih,,, mulai dari kata” yg memberikan motifasi sampek kata” sindirannya…. mengena banget, kenanya tuh di sini.
    jadi berasa klo masih bnyak kurangnya dlm hal religius🙂

  15. Bagus menarik review nya, jadi makin penasaran untuk membaca kisah selanjutnya. Semoga saya bisa dapet buku itu, amiiinn🙂

  16. Setlh bca reviewnya jd pngen miliki novel.y., banyak pesan yang bisa dipetik didalam.y bahkan dari judulnya saja sdh bisa disimpulkan.. dan review.y membuatq teringat almarhum bapak…

  17. Yupppp aku sangat bisa memahami bagaimana menyentuhnya buku ini… karena rasanya ceritanya begitu lekat dan dekat dengan kehidupanku secara nyata. Tidak ada satu hal yg bisa didapat dengan mudah… tidak ada satu hal yg tinggal bilang dan minya dapat semua harus diupayakan dengan gigih. Disini juga banyak skali kita bisa belajar bahwa hidup ini perjuangan… satu hal yg penting kemanapun kita… mau jadi apapun sehebat apapun jgn pernah lupa kampung halaman… rumah sendiri apalagi orang tua yg berjuang mati matian demi kita karena rumah kita adalah sebenarnya syurga bila dipenuhi oleh kasih sayang…

  18. Membaca review sungguh ingin sekali membaca seluruh isinya, ingin melihat lebih jauh pelajaran yang ingin disampaikan oleh penulis, ingin mengaplikasikan nilai-nilai penambah semangat, penghilang keluh kesah. Buku ini seperti oase terhadap penuhnya ketidak syukuran dalam hidup maupun usaha yang sering tak maksimal. Seakan membangkitkan kembali arti penting sebuah perjuangan, yang bila dilakukan dengan tulus hati untuk kebahagiaan orang sekitar dan meraih ridho-Nya. Maka insyaAllah surga menantinya. Aamiin

  19. “Cita-citamu tinggi. Mungkin sekarang kau belum menyadarinya. Tapi, suatu saat kau pasti tahu. Jangan jadi orang yang menggagalkan cita-citamu sendiri.” Jleb banget😦 aq srg dlm keadaan naik turun dlm mnggapai mimpi, kdg smngat, kdg pasrah.
    Wah, cerita ttg keluarga ini sepertinya menarik, dan disebutkan bahwa mengangkat budaya Palembang *Penasaran I’m exciting w/ culture .__. Dan sekilas ngingetin aq cerita bidadari2 surga.🙂
    “Kalau kamu ikhlas mencari ilmu, ilmu yang akan datang kepadamu.” Aamiin buat kalimat ini >_<

  20. Novel nya sangat memberikan inspirasi & motivasi …
    Kita bisa ambil sedikit resuman buat cambuk motivasi ya ” Manusia itu terlahir tanpa membawa apa*, jadi berjuanglah untuk mendapatkan apa yg kamu inginkan dg Ridho Tuhan yaitu Ridho orang tua kita” resensinya membantu mbk, makasih share artikelnya ya🙂

  21. Pingback: Daftar Bacaan Tahun 2014 | Luckty Si Pustakawin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s