REVIEW Bumi

 bumi

Apapun yang hilang, tidak selalu lenyap seperti yang kita duga. Ada banyak sekali jawaban dari tempat-tempat yang hilang. Kamu akan memperoleh semua jawaban. Masa lalu, hari ini, juga masa depan. (hlm. 85)

RAIB namanya. Ra adalah panggilan akrabnya. Dia murid baru di sekolah. Usianya lima belas tahun. Perempuan, anak tunggal. Untuk remaja seumurannya, tidakada yang spesial tentangnya. Dia berambut hitam, panjang, dan lurus. Dia suka membaca dan mempunyai dua ekor kucing di rumah. Dia bukan anak yang pintar, apalagi populer. Dia hanya kenal teman-teman sekelas, itu pun seputar anak perempuan. Nilainya rata-rata, tidak ada yang terlalu cemerlang, kecuali pelajaran Bahasa –dia amat menyukainya.

Di kelas sepuluh sekolah baru ini, dia lebih suka menyendiri dan memperhatikan, menonton teman-teman bermain basket. Dia duduk di keramaian kantin, di depan kelas, dan di lapangan. Sebenarnya sejak kecil dia terbilang anak pemalu. Tidak pemalu-pemalu sekali memang, meskipun satu-dua kali jadi bahan tertawaan teman atau kerabat. Normal-normal saja, tapi sungguh urusan pemalu inilah yang membuatnya berbeda dari remaja kebanyakan.

Dia ternyata amat berbeda. Dia memiliki kekuatan. Dia tahu itu sejak kecil –meskipun hingga hari ini kedua orangtuanya dan teman-temannya tidak tahu.

Mungkin secara fisik, Raib seperti halnya kebanyakan remaja pada umumnya. Tidak ada yang menonjol, apalagi istimewa. Tapi apa jadinya jika dua kucing yang selama ini dipeliharanya ternyata hanya terlihat satu bagi orang lain? Ajaibnya lagi ketika dia memiliki jerawat besar mengganggu di wajahnya pun hilang seketika ketika dia menginginkannya. Belum lagi jika dia menutup wajah dengan kedua telapak tangannya, dia takkan terlihat oleh siapa pun.

“Banyak yang bisa menghilang. Banyak yang tidak terlihat oleh mata, tapi sebenarnya ada. Setiap hari, setiap detik, kita selalu hidup dengan sesuatu yang tidak terlihat oleh mata. Udara. Kamu bernapas dengannya, tanpa pernah berpikir seperti apa wujud asli udara. Apakah udara seperti kabut? Seperti uap? Apa itu oksigen? Bentuknya seperti apa? Kotak? Lonjong? Bahkan, kamu tidak perlu jadi setipis udara untuk tidak terlihat. Jika kamu terlalu kecil atau sebaliknya terlalu besar dari yang melihat, kamu bisa menghilang dalam definisi yang berbeda.” (hlm. 31)

Seperti novel sci-fic sebelumnya yang ditulis oleh Tere Liye; Ayahku (bukan) pembohong, novel anak-anak ini juga mengambil tema yang menakjubkan. Kita diajak menelusuri petualangan kisah Raib dan kedua sahabatnya; Ali dan Seli. Ehem, ternyata mereka juga punya kelebihan yang tidak dimiliki manusia pada umumnya juga loh seperti Raib. Apakah kelebihan mereka? Baca sendiri donk…😀

“Sekali bercerita kepada orang lain, kamu bisa membuat semua di luar kendali. Semua bakat besar itu akan berubah melawan dirimu sendiri dan membahayakan orang-orang yang kamu sayangi.” (hlm. 104)

Beberapa sindiran halus dalam novel ini:

  1. Sebagian kecil pemalas di dunia ini adalah orang-orang genius. (hlm. 29)
  2. Kalau kamu dalam posisi harus mengajari anak sepintar dia, pasti kamu salah tingkah. (hlm. 37)
  3. Tidur dalam situasi banyak pikiran memang tidak mudah. (hlm. 217)

Beberapa adegan favorit:

  1. Adegan di mana Raib lupa membawa buku Prnya. Itu sama saja diartikan tidak mengerjakan PR. Hukumannya yaitu menunggu di lorong selama pelajaran berlangsung. Kisah Raib di halaman 24 ini mengingatkan saya jaman SMP, pas pelajaran sejarah lupa bawa buku PR, alhasil dihukum untuk berdiri di depan kelas. Apesnya, hari itu cuma saya yang tidak membawa buku PR x)
  2. Deskripsi guru sejarah di sekolahnya Raib. Mr. Rosihan namanya. Gurunya kocak, meski sudah beruban, sudah sepuh, hampir pensiun. Gurunya ini lebih banyak mengajar dari pengalamannya dibanding buku teks yang murid-muridnya miliki, membawa kliping-kliping koran ke dalam kelas yang tebalnya membuat para murid semakin respek padanya. Kisah Mr. Rosihan pada halaman 74 ini mengingatkan saya akan guru Sejarah saat SMA. Namanya Pak Dianto. Orangnya sungguh anti mainstream banget dibandingkan penampilan guru-guru lainnya. Selalu pake rompi, tangannya dipenuhi beberapa cincin. Di pergelangan tangannya pun ada gelang yang tak pernah dilepasnya. Oya, dia punya koleksi asbak yang unik-unik. Setiap absen nama-nama murid, selalu saja ada yang dibahas berhubungan dengan nama-nama murid tersebut. Kalo mau ujian kita tinggal pilih; gaya klasik (buka buku diam-diam dibalik meja) atau gaya terbuka (buku diletakkan di atas meja)😀
  3. Sikap mama dan papa Raib saat mereka memiliki masalah, sebisa mungkin anaknya tidak diiukutsertakan. Bagi mereka, seperti pada halaman 64, biarkan anak menikmati masa-masa terbaiknya. Tidak akan melibatkannya, membuatnya ikut memikirkan, dan cemas mengganggu jam belajarnya. Yup, anak-anak tetaplah anak-anak. Biarkan masalah hanya dipikirkan orang dewasa saja.
  4. Uwow, paling suka ama adegan-adegan di perpustakaan pada Episode 30. Namanya Perpustakaan Sentral. Tempat semua catatan dan buku disimpan, semua ilmu dikumpulkan. Tidak ada tempat lebih baik dibanding ini jika kita membutuhkan jawaban. Suka ama kalimat Av, si pustakawan di perpustakaan ini; “Aku hanya menjaga perpustakaan, bagian ini hanya menyimpan dan mengamankan benda-benda tua dan berbahaya dari rencana jahat. Kami bukan pemiliknya. (hlm. 257)

Kita akan diajak ke kehidupan lain selain di bumi, kehidupan dengan teknologi tinggi:

  1. Kamar mandinya berbentuk pintu bulat kecil. Kamar mandinya hebat. Saat kita menutup pintunya belasan lampu menyala secara otomatis. Kamar mandinya berbentuk tabung bulat besar dengan banyak kompartemen. Dindingnya terbuat dari kaca, mengeluarkan sinar lembut. Saat memasuki ruangan mandinya, ada belasan keran memenuhi dinding tabung. Saat tombol keran ditekan, bukan air yang keluar, melainkan udara segar, menerpa badan seperti memijat. (hlm. 220-221)
  2. Soal pakaian juga unik. Di kehidupan ini, memiliki teknologi benang sintetis yang dapat menyesuaikan diri secara otomatis dengan pemakainya. Jadi pakaian bisa awet dipakai meski pemiliknya bertambah dewasa, atau sebaliknya, pakaian itu diberikan kepada orang lain yang lebih kecil. (hlm. 224)
  3. Perpustakaannya juga nggak kalah kece. Ruangan depan gedung ini dipenuhi meja-meja panjang dan bangku. Lantainya terbuat dari pualam mewah. Belasan lampu kristal tergantung di langit-langit ruangan. Rak buku setinggi gedung tiga lantai memenuhi dinding ruangan. (hlm. 238)

Dari halaman pertama saja, benar-benar memikat. Lembaran demi lembaran bikin penasaran, jadi terperosok ke jalan cerita yang ditulis oleh Tere Liye ini. Sci-fic itu tidak harus yang berat-berat bahkan bikin berkerut. Sci-fic harusnya seperti novel ini. Bayangkan, kunci sebuah masalah dijelaskan hanya dari sebuah buku PR Matematika, keren kan?!? Meskipun kita akan memasuki dunia lain, kita tidak akan dibuat pusing. Sayangnya cuma satu, untuk menjabarkan satu hari saja dibutuhkan berpuluh-puluh halaman. Suka ama covernya, biru warna favorit. Terlepas dari itu, puas dengan karya Tere Liye kali ini. Novel ini sudah saya idam-idamkan di Wishful Wednesday beberapa bulan yang lalu. Aihh…jadi penasaran ama sekuelnya; Bulan😉

Dunia ini tidak sesederhana yang kamu lihat. Dunia ini seperti game yang jago kamu mainkan. (hlm. 246)

Keterangan Buku:

Judul                     : Bumi

Penulis                 : Tere Liye

Penerbit              : Gramedia Pustaka Utama

Terbit                    : April 2014 (Cet. 3)

Desain sampul   : eMTe

Tebal                     : 440 hlm.

ISBN                      : 978-602-03-0112-9

 

Indonesian Romance Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/01/indonesian-romance-reading-challenge-2014/

Young Adult Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/07/young-adult-reading-challenge-2014/

Dapatkan buku ini di toko buku online Bukupedia

http://www.bukupedia.com/id/book/id-32-81236/novel-fiksi-cerpen/bumi.html

6 thoughts on “REVIEW Bumi

  1. Pingback: Daftar Bacaan Tahun 2014 | Luckty Si Pustakawin

  2. Pingback: REVIEW Pulang | Luckty Si Pustakawin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s