REVIEW Unforgiven

 unforgiven

“Pikiran jelek hanya akan mengundang hal jelek.” (hlm. 57)

Dibandingkan rumah-rumah lain di sekitarnya, rumah hijau itu yang paling besar. Selain tanahnya paling luas, rumah itu satu-satunya yang bertingkat dua. Pagar besi hitam setinggi dagu anak remaja berjarak empat meter dari teras. Jendela dan pintu rumah yang serbapersegi di hiasi bingkai jendela kayu. Cat hijau yang buram terkikis cuasa mengukuhkan kesan rumah kuno.

Banyak cerita beredar mengenai rumah ini. Satu hal yag pasti, pemilik pertamanya tidak akur dengan istri dan kedua putranya. Alasannya ada berbagai versi, dari si pemilik rumah kawin lagi sampai ia adalah gembong perampok. Istri dan kedua putranya pergi dari rumah. Setelah si pemilik wafat, putra sulungnya mengontrakkan rumah hijau sampai sekarang.

Belakangan, rumah ini baru kedatangan penghuni lagi. Orangnya misterius banget. Kaylin dan Rico yang rumahnya dekat dengan rumah hijau itu penasaran dengan penghuni baru tersebut. Ditambah lagi mereka mengalami teror penampakan yang tidak hanya mengancam jiwa mereka, tapi juga jiwa keluarga mereka!

Rumah kosong memang selalu tampak menakutkan. Beberapa tahun yang lalu, samping rumah Pakde adalah rumah kosong. Rumput tinggi menjalar di pekarangan. Belakang kebun, depannya sawah membentang. Komplit kan aura horornya. Jadi dulu kalo saya tiap mau ke rumah pakde, selalu merem kalo ngelewatin rumah kosong itu. Macam-macam versi horornya. Sekarang udah laku di beli, dan cerita horor itu sudah hilang tak berbekas.

Beberapa bagian yang bikin merinding:

  1. Dari pintu sampai meja tamu, lantai kotor oleh tanah. Bukan tanah yang ditaburkan, melainkan yang terbawa oleh kaki-kaki telanjang. Tanah yang sebagiannya berbentuk telapak kaki manusia. (hlm. 20)
  2. Ia menuju ke ruang tengah. Acara sedang diselingi iklan. Kepala di atas sofa itu berambut pendek, berarti memang bukan Bunda. Makin dekat Rico menghampiri sofa, kepala itu makin ditelengkan ke arah lain, seolah menghindari kontak mata dengan Rico. (hlm. 26)
  3. Di belakangnya terdengar kecipak langkah di lantai. Tinju Cher membeku di udara. Mulutnya berkelu dan bola matanya terasa panas. Bunyi itu seperti orang melangkah di genangan air, padahal lantai kamar mandi kering. (hlm. 83)
  4. Tahi lalat di atas mata kanan. Rambut hitam lebat tergerai dilantai. Tiba-tiba gambaran sosok yang bersama Cher di kamar mandi menjadi jelas. Perempuan yang sama tinggi dengannya, berambut sepundak, dan berkelopak mata tebal. (hlm. 85)
  5. Tanpa bisa ditahan, Yanuar menjerit. Kepala laki-laki itu terkulai ganjil, seolah akan terputus setiap saat. Badan, bajunya, bahkan rambutnya, ternoda oleh tanah. Laki-laki itu pun memancarkan bau menyengat. Daging membusuk? Kotoran manusia? (hlm. 178)

Uwow, ada setting perpustakaan:

  1. Ketika Rico mengembalikan buku di perpustakaan, klub drama tengah menggerombol di pojok. (hlm. 30)
  2. Letak perpustakaan yang di lantai tiga membuatnya terpencil, terlebih di musim libur begini. Jika Rico terpeleset melakukan blunder, minimal tak ada saksi mata. Perpustakaan dikunci, dan rak sepatu serta keset ikut dikunci di dalam. Rico merasa kurang nyaman, terkucil, di tempat yang biasanya ramai ini. (hlm. 135)

Banyak sindiran halus dalam novel ini:

  1. Rumah cuma campuran batu dan bata, bukan monster yang bisa menerkam manusia. (hlm. 5)
  2. Asal kita enggak kena tembak atau bacok, bukan urusan kita. (hlm. 6)
  3. Biasanya anak paling gampang ngeles kalau ditanya orangtuanya sendiri. (hlm. 8)
  4. Tiap cowok punya rejeki masing-masing dan tidak semua cewek ingin punya pacar kece. (hlm. 23)
  5. Pergi sama cowok kan enaknya berdua, bukan sama orang sekampung. (hlm. 24)
  6. PDKT. Perasaan Dipendam Kemudian Ditolak. (hlm. 25)
  7. Janga sampai sekolah nunggu ada yang celaka lagi, baru perbaiki genteng. (hlm. 37)
  8. Diusahakan itu bahasanya orang malas. Harus bisa atau tidak. (hlm. 70)
  9. Semua bapak dan ibu di dunia ini merasa berhak menanyakan rapor anak mereka maupun anak orang lain. (hlm. 71)
  10. Mau masih sekolah, atau sudah kerja, ada saja masalahnya. (hlm. 71)
  11. Kata siapa di internet segalanya ada? (hlm. 76)
  12. Tinju dan tendangan tidaklah elegan. Ejekan halus lebih efektif. (hlm. 95)
  13. Kalau kalian besar nanti, jangan jadi orang berperilaku lurus. (hlm. 147)
  14. Punya pacar orang elite dan keren itu bikin bangga. Jalan sama dia, status kita bisa naik. Kadang ada juga peer presure. (hlm. 182)

Ulala…WC putri di sekolah selalu menjadi bagian horor di halaman 36 dijelaskan bahwa WC putri di Primavera High punya cerita sendiri. Lima tahun lalu, genteng di langit-langit WC runtuh, menimpa seorang anak di salah satu bilik. Setelah diselidiki, ternyata genteng yang dipakai bermutu rendah dan cepat lapuk. Dugaan para guru, pembangunan WC dikorupsi kepala sekolah yang masa jabatannya sudah akan usai. Kabar anak yang tertimpa genteng itu sendiri simpang siur. Ada yang bilang otak anak itu rusak permanen dan ia dirumahkan. Yang merasa ini kurang seru membumbuinya; keluarga anak itu mahatajir, dan memperkarakan kontraktor bangunan sampai pailit. Ada pula yang yakin anak itu kerap muncul tapi di WC putra, lalu lenyap begitu ditengok. GLEK!

Ada halaman yang berulang, bukan satu atau dua kata, tapi satu halaman. Coba cek di halaman 105 dan 106. Itu bisa sama persis gitu.

Ini buku ketiga yang ditulis oleh Eve Shi yang saya baca. Sebelumnya, Aku Tahu Kamu Hantu dan Lost. Ketiga buku ini memiliki ‘rumus’ yang sama. Mengambil tema arwah gentayangan dan meminta pertolongan pada manusia agar arwahnya tenang dengan memberikan beberapa petunjuk. Jika kedua buku sebelumnya tokoh utamanya adalah seorang perempuan, di buku ini terdiri dari dua tokoh utama; Kaylin dan Rico.

Pas baca ini sebenarnya masih sore, sekitar abis Magrib. Kebetulan di rumah sendirian; bapak kenduri tempat tetangga, adik cowok belum pulang moto orang nikahan, adik cewek belum pulang dari latihan softball. Eh, pake acara mati listrik pula. Biasanya kalo mati listrik gini sih biasa banget, tapi abis baca ini kok tiba-tiba merinding juga di rumah sendirian. Kebetulan pangkat dua, persediaan lilin pas abis. Mau beli, warung jauh. Alhasil, sekitar satu jam-an ngungsi ke rumah tetangga sebelah kanan sampai adik yang cewek pulang x)

Keterangan Buku:

Judul buku                          : Unforgiven

Penulis                                 : Eve Shi

Editor                                    : Nico Rosady

Proofreader                       : Tesara Rafiantika

Penata letak                       : Gita Ramayudha

Desain cover                      : Levina Lesmana

Penerbit                              : GagasMedia

Terbit                                    : 2014

Tebal                                     : 262 hlm.

ISBN                                      : 979-780-730-4

Indonesian Romance Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/01/indonesian-romance-reading-challenge-2014/

Young Adult Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/07/young-adult-reading-challenge-2014/

Dapatkan buku ini di toko buku online Bukupedia

http://www.bukupedia.com/id/book/id-32-85663/novel-fiksi-cerpen/unforgiven.html

6 thoughts on “REVIEW Unforgiven

  1. Pingback: Daftar Bacaan Tahun 2014 | Luckty Si Pustakawin

  2. Pingback: [BLOGTOUR] REVIEW The Bond | Luckty Si Pustakawin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s