REVIEW Priceless Moment

Mengapa selalu harus ada yang dikorbankan, atau berkorban, agar seseorang menyadari betapa berharga hal-hal yang mereka miliki? (hlm. 151)

Keseharian Yanuar dan Wira dulu tak jauh berbeda. Hidup, pekerjaan, serta kesenangan, mereka lakukan sesuai porsi seperti yang diajarkan Ibu dan Ayah. Yanuar nyaris tak ingat sejak kapan Wira jadi terlampau sering bersenang-senang, juga mulai kapan Yanuar sendiri tidak pernah melakukannya.

Bekerja masih dalam rutinitas Wira, tetapi dalam bentuk acak dan sama sekali tidak menentu –menjadi waiter kafe besar, mengurus event, atau menjadi maskot perusahaan. Suatu hari, Wira pernah datang menghibur Hafsha dan Feru dengan memakai kostum jerapah, dari acara pembukaan lembaga kursus.

Meski tidak ingin melimpahkan tugas ini kepada Wira, Yanuar sendiri sadar dia belum siap membacakan dongeng. Hafsha dan Feru tidak kehilangan keceriaan menjelang tidur. Di kamar mereka, Wira memerankan putri, raja, serta pangeran dengan begitu mahirnya.

Yanuar masuk ke kamarnya usai menengok kamar dua anak itu. Dia berbaring, bersedekap, memandang langit-langit. Esther dulu biasa menyeduhkan susu hangat, dan percakapan sebelum tidur bergantung pada seberapa lelah mereka berdua. Atau, sering kali, seberapa lelah Yanuar. Esther tidak akan mengajak mengobrol panjang lebar jika Yanuar baru pulang lembur.

Selama itu pula, Yanuar tidak pernah menduga akan kehilangan Esther secepat ini, dengan cara sepahit ini. Esther menjemput Hafsha dan Feru, memarkir mobil di seberang sekolah karena parkiran dan sekeliling sekolah sedang penuh. Saat dia menyeberang, mobil berkecepatan tinggi menabraknya.

Begitu saja, Esther meninggal seketika. Tanpa ucapan selamat tinggal atau pesan-pesan. Dia langsung tidak ada. Hilang. Lenyap.

Yanuar memejamkan mata. Sekarang, dia akan melakukan apa pun agar durasi percakapan sebelum tidur itu bisa berkali-kali lipat lebih panjang.

“Mama benar-benar nggak akan pulang lagi?”

“Mama nggak akan pulang lagi, Sayang. Tapi Mama sekarang bahagia. Karena itu, Hafsha juga harus bahagia.”

“Mama sekarang di mana, Pa? Nggak sendirian,kan?”

“Peri-peri yang Hafsha baca di buku cerita… seperti merekalah teman-teman Mama sekarang.”

“Rumah Mama bagus, kan? Kata Nenek, kayak istana, sama banyak bunganya.”

“Rumah Mama dipenuhi warna-warni yang tidak pernah Hafsha lihat di dunia. Banyak sungai jernih yang mengalirkanmacam-macam minuman lezat.”

“Ada kue-kue juga?”

“Banyak. Banyak sekali kue.”

“Acha pengen ke tempat Mama…”

“Papa juga. Tapi, nggak sekarang. Mama inginnya Hafsha, Papa dan Feru tetap di sini, dan tetap bahagia. Tapi, suatu saat nanti, kita pasti akan bertemu Mama lagi.” (hlm. 99-100)

Tidak mudah ketika seseorang kehilangan pasangan hidupnya. Begitu pula dengan yang dialami oleh Yanuar. Ditinggal oleh istrinya, dan harus mengurus segala hal tentang anak-anak mereka mulai dari sekolahnya sampai hal remeh temeh untuk memasak ikan salmon kesukaan mereka.

Membaca kisah Yanuar dalam buku ini jadi mengingatkan kisah akan orangtua sendiri. Mama meninggal delapan tahun yang lalu. Di situlah peran Papa otomatis dobel, menggantikan seluruh peran Mama. Buat sarapan, kami dimasakkan oleh tetangga sebelah yang sudah dianggap seperti keluarga. Siangnya, Papa bela-belain pulang dari kantor saat jam istirahat beli lauk pauk untuk makan siang adik-adik yang pulang sekolah. Hal itu dijalani selama setahun. Dalam setahun itu pula, Papa tampak letih karena begitu banyak yang harus diurus dan juga dikerjakan. Belum lagi ditambah pekerjaan di kantor.

Banyak banget kalimat favorit:

  1. Sekali-kali, nikmatilah hidup. Sekali-kali, berhentilah jadi robot. (hlm. 10)
  2. Pikirkan sesuatu yang berbeda. (hlm. 20)
  3. Hiduplah dengan bahagia. (hlm. 50)
  4. Kamu harus bercita-cita sesuai dengan apa yang kamu sukai. (hlm. 66)
  5. Dunia harus terus berputar. (hlm. 79)
  6. Jangan remehkan kemungkinan, sekalipun perbandingannya satu banding seribu. (hlm. 103)
  7. Pada akhirnya, yang abadi adalah yang benar-benar berkualitas. (hlm. 127)
  8. Pintu hati manusia bagaikan pinata, yang begitu diketuk dan terbuka lebar-lebar, darinya muncul pernak-pernik manis layaknya permen beraneka rasa. (hlm. 157)
  9. Beberapa orang yang mengucapkan selamat tinggal benar-benar tidak pernah terdengar lagi kabarnya. (hlm. 181)
  10. Orang yang memandang lawan bicaranya lekat-lekat berarti sedang berusaha menyembunyikan perasaannya. Sama kayak orang yang berusaha menghindari memandang lawan bicaranya. (hlm. 184)
  11. Kenangan cuma bisa diingat, nggak bisa diapa-apain. (hlm. 239)
  12. Kalau orang terlalu bahagia, jadinya nangis. (hlm. 269)

Banyak juga sindiran halus dalam buku ini:

  1. Memangnya promosi nggak butuh duit? (hlm. 20)
  2. Hal terbaik dari rapat bukanlah keputusan akhir atau hasil, melainkan siapa yang menang berdebat. Apalagi jika pelakunya dua wanita yang sama-sama tak mau kalah. (hlm. 21)
  3. Jangan terlalu formal. Mereka anak-anak, bukan CEO. (hlm. 33)
  4. Banyak orang di dunia ini yang jahat. (hlm. 48)
  5. Kepuasan? Rasa bangga? Itu tidak akan bertahan lama. (hlm. 49)
  6. Kalau kita sendiri tidak optimis, bagaimana pasar bisa percaya produk kita? (hlm. 69)
  7. Satu hari saja bisa membuat banyak perbedaan. (hlm. 69)
  8. Jangan terlalu memanjakan anak dengan uang atau benda. (hlm. 72)
  9. Cewek-cewek suka gitu ya. Selalu nggak suka cewek tertentu tanpa alasan. (hlm. 120)
  10. Harus ada yang bikin gebrakan. Kalau tidak begitu, tidak akan maju-maju. (hlm. 182)
  11. Susah sekali sih, hidup ini. (hlm. 186)
  12. Dinikmati ajalah kerja itu. (hlm. 199)

Bagian-bagian favorit dalam buku ini adalah ketika Hafsha dan Feru yang menunggu Yanuar sampai larut malam untuk menyiapkan ucapan ulang tahun untuk papanya yang tak kunjung pulang di halaman 144-145. Kemudian ketika Yanuar, Hafsha dan Feru yang memutuskan menyumbangkan semua pakaian dan aksesori Esther di halaman 276, saya pernah mengalaminya ketika sebulan setelah mama meninggal. Dan di halaman 281 yang paling bikin nyess  ketika Hafsha dan Feru yang mengikhlaskan  Yanuar, Papa mereka untuk menikah lagi.

Baca ini rasanya sesak menahan napas. Begitu banyak adegan yang bikin terenyuh. Setelah tahun lalu suka banget ama Bittersweet Love yang ditulis oleh Netty Virgiantini dan Aditia Yudis, novel bertema keluarga yang bikin mrebes mili ya buku ini.

Selain tema keluarga yang diangkat, sebenarnya ada sisi lain yang diangkat dari buku ini lewat sosok Lieselotte. Idealisme dan passion. Ketika kita saat menjadi mahasisa, idealisme begitu tinggi melekat. Tapi saat masuk ke dunia kerja, dunia yang sesungguhnya, kita harus terjun payung. Tapi jangan lupa pakai parasut, yang artinya ketika idealisme kita tidak bisa dimasukkan ke lingkungan kerja kita, kita tidak bisa memaksakan itu, tapi juga jangan lupa dengan idealisme tersebut dengan memasukkannya ke lingkungan kita tanpa terkesan frontal. Oya, pintar bukan jaminan seseorang disukai orang lain loh. Banyak orang pintar tapi tidak bisa bekerja dalam tim. Seperti halnya Lieselotte ini yang pemikirannya cukup jenius dan out of the box. Tapi punya kekurangan dalam urusan pergaulan. Itulah sebabnya ketika kita melamar suatu pekerjaan biasanya akan ditanya apakah bisa bekerja dalam tim dan di bawah tekanan. Jadi, pintar saja tidak cukup. Dengan mengikuti kegiatan berorganisasi di sekolah ataupun di kampus biasanya akan menumbuhkan semangat bekerja dalam tim.

Keterangan Buku:

Judul                                     : Priceless Moment

Penulis                                 : Prisca Primasari

Penyunting                         : Yulliya Febria

Proofreader                       : Mita M. Supardi

Desain sampul                   : Amanta Nathania

Penata letak                       : Landi A. Handwiko

Penyelaras akhir               : Gita Ramayudha

Penerbit                              : GagasMedia

Terbit                                    : 2014

Tebal                                     : 298 hlm.

ISBN                                      : 979-780-738-X

Indonesian Romance Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/01/indonesian-romance-reading-challenge-2014/

7 thoughts on “REVIEW Priceless Moment

  1. Sudah baca bukunya dan emang top banget~~ Jarang banget sekarang novel dewasa yang temanya keluarga. Kebanyakan cinta dalam arti romantis doang.

  2. Pingback: GagasMedia #TerusBergegas #KadoUntukBlogger | Luckty Si Pustakawin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s